9. Imperfect Couple

1831 Words
"Dan sejak pertemuan-pertemuan kemarin, gue merasakan ada perasaan aneh saat gue ada di dekat lo. Semua pikiran gue selalu tertuju kepada lo Kia, jantung gue selalu berdetak cepat saat gue ada di dekat lo. Ada rasa nyaman tersendiri juga saat gue selalu berbagi cerita ke lo tentang apapun hal itu. Dan sekarang, gue mau mengutarakan sesuatu hal kepada lo. Gue suka dan sayang sama lo Kia, lo mau gak jadi pacar gue?" Kenzo menatap lekat Kiara seraya menggenggam kedua telapak tangan Kiara. Kiara tertegun. Dia dapat merasakan keseriusan lewat tatapan mata Kenzo. Jantung Kiara mulai berdetak tak karuan. Desiran-desiran aneh pun mulai dia rasakan. "Gue ...," ucapan Kiara terpotong karena lidahnya terasa sangat kelu. "Gue akan terima apapun jawaban lo Kia. Lo boleh menerima ataupun menolak permintaan gue kok," Kenzo tersenyum hangat. Kiara menghela napasnya berat. "Gue merasa gak pantas Ken, gue punya banyak kekurangan. Gue gak bisa berjalan dengan normal selayaknya gadis lain." Kenzo menggeleng cepat. Kedua tangannya terulur untuk menangkup wajah Kiara. "Gue gak perduli kalau lo punya kekurangan Kia, gue akan menerima seluruh kekurangan lo. Apapun itu!" Kiara terdiam. Dia tampak sedang menimbang-nimbang keputusannya. Beberapa saat kemudian, Kiara pun telah yakin dengan keputusannya. "Kia terima permintaan Kenzo," ucap Kiara seraya menatap intens Kenzo. Seketika kedua mata Kenzo memancarkan binar bahagianya. Dengan spontan, Kenzo memeluk erat Kiara. "Terimakasih Kia!" Kiara terkekeh singkat. "Iya sama-sama." "Okay, mulai sekarang kita kalau manggil pakai aku-kamu aja ya! Jangan lo-gue," Kenzo tersenyum senang. Kiara mengangguk paham. "Iya Kenzo." Mereka pun terkekeh bersama seraya menikmati suasana taman kota ini. Kini waktu telah hampir sore, tak terasa sendari tadi Kiara telah menghabiskan waktunya cukup lama dengan Kenzo. Senja pun mulai menampakkan dirinya. "Kenzo, kita pulang yuk! Mama Kiara pasti sudah khawatir sekarang," ucap Kiara lirih seraya menundukkan kepalanya. Kenzo menautkan kedua alisnya. "Memangnya kamu belum izin ke Mama kalau kamu main sebentar?" Kiara menggeleng lemah. Dia menatap Kenzo dengan tatapan sendunya. "Belum, Kiara lupa." "Astaga, bagaimana bisa kamu lupa," Kenzo menatap tak percaya kepada Kiara. Kiara kembali menunduk, jari-jari tangannya pun mulai saling meremas. Perasaan gelisah dan takut mulai menghampiri dirinya. Kenzo memperhatikan gerak gerik Kiara yang tampak sangat gelisah. Kenzo merasa iba dengan Kiara, dia mulai menghela napasnya berat. Tangan kanan Kenzo tergerak untuk mengangkat wajah Kiara yang menunduk sendari tadi untuk menatap dirinya. "Kita pulang sekarang ya," Kenzo mengulas senyuman hangatnya. Binar mata Kiara mulai terpancar. Kiara pun mengangguk cepat. "Iya!" Kenzo mulai beranjak dari duduknya, begitu pula dengan Kiara yang segera berdiri dengan bantuan walkernya. Lengan kiri Kenzo mulai merangkul bahu ringkih Kiara. Mereka segera berjalan menuju ke arah motor Kenzo terparkir dan segera pulang ke rumah Kiara. ◎◎◎◎◎ Langit telah berubah menjadi hitam dihiasi dengan kerlap kerlip bintang yang bertaburan bebas di atas sana. Kini, motor vespa milik Kenzo telah berhenti tepat di depan gerbang rumah Kiara yang menjulang tinggi. Kenzo segera turun dari motornya dan membantu Kiara untuk menuruni motornya. Tidak enak rasanya jika Kenzo tidak meminta izin kepada Mama Kiara karena telah membawa Kiara pergi tanpa izin terlebih dahulu. "Aku ikut masuk ya, mau ketemu sama Mamamu," Kenzo menatap lekat Kiara yang sedang berdiri tegak di hadapannya. Dahi Kiara sontak mengerut, tatapannya pun berubah menjadi penuh tanya. "Mau ngapain?" "Mau minta maaf karena aku belum izin buat mengajak kamu pergi jalan tadi," ujar Kenzo. "Maaf," cicit Kiara seraya menundukkan kepalanya. "Hey, kamu gak salah kok. Lupa itu manusiawi Kia," Kenzo berusaha menenangkan Kiara. Kiara mengangguk paham. "Ya sudah, ayo masuk!" "Ayo!" Kenzo mulai mendekati gerbang tinggi itu diikuti dengan Kiara yang berjalan di belakangnya. Kedua tangan kekar Kenzo tergerak untuk membuka gerbang itu sendiri di karenakan satpam di rumah Kiara mendadak izin pulang kampung kemarin malam. Grek ... Pintu gerbang itu telah terbuka sedikit, dan itu sepertinya sudah cukup untuk Kenzo dan Kiara lewat. Mereka langsung saja memasuki pekarangan rumah Kiara. Langkah panjang mereka membawa mereka ke depan pintu utama. "Biar aku yang pencet belnya," Kiara menatap ke arah bel rumah yang terletak di tepi kanan pintu utama itu. Ting tong! Ting tong! Suara bel rumah Kiara telah berbunyi nyaring. Tak berselang lama pintu utama itu pun terbuka, menampilkan sosok paruh baya dengan setelan blazer berwarna navy. Dia ada Raina, Mama dari Kiara. "Kiara sayang!" Raina langsung memeluk erat Kiara. "Kamu kemana saja sayang? Mama khawatir dengan keadaan kamu," "Maaf Ma," cicit Kiara seraya membalas pelukan sang Mama yang begitu erat. Raina mulai melonggarkan pelukannya dari tubuh Kiara. Kini tatapan Raina jatuh kepada sosok pria muda yang berdiri tegak di samping kiri Kiara. Kenzo yang menyadari tatapan Raina, dia segera menyalami tangan kanan Raina. "Selamat malam Tante," ujar Kenzo seraya menyalami telapak tangan kanan Raina. "Malam, kamu siapa ya?" Dahi Raina mengerut, dia menatap Kenzo dengan penuh tanya. "Saya Kenzo Tante, pacarnya Kiara," Kenzo menatap sekilas Kiara yang berdiri di sebelahnya. "Pacar?" Raina menatap penuh tanya ke arah Kiara. Kiara tertunduk, rasa takut dan gelisah mulai menghantui dirinya. Dia tidak tahu harus menjelaskan apa kepada sang Mama sekarang. "Iya Ma," cicit Kiara seraya menunduk dan meremas-remas jari tangannya. "Iya sudah, kita masuk dulu ke dalam. Tidak enak jika ada tamu dibiarkan di depan pintu saja. Ayo masuk!" Ajak Raina seraya kembali melangkah mundur ke dalam rumahnya untuk memberikan akses jalan bagi Kiara dan Kenzo. Mereka mulai memasuki rumah itu, kini mereka telah tiba di ruang tamu. Raina segera mempersilahkan Kenzo untuk duduk. "Silahkan duduk dulu," Raina menatap ke arah Kenzo. Kenzo mengangguk singkat dan tersenyum tipis. Dia mulai menduduki sofa abu-abu di ruang tamu itu. Begitu pula dengan Raina yang ikut serta menduduki sofa itu. "Kia ke kamar dulu ya Ma, Ken. Kia mau membersihkan diri dulu," pamit Kiara seraya menatap Kenzo dan Raina secara bergantian. Kenzo hanya mengangguk saja menanggapi Kiara. "Iya sayang, kamu mandi pakai air hangat ya. Udara malam ini sangat dingin sekali," ujar Raina seraya menatap lembut sang Putri. Kiara mengangguk paham, dia mulai berjalan ke arah tangga yang menghubungkan antara lantai satu dan lantai dua. Sepeninggalnya Kiara, kini hanya ada Raina dan Kenzo saja yang berada di ruang tamu itu. "Ah iya! Saya lupa menyajikan kamu minuman, mau minum teh atau yang lainnya Nak?" tanya Raina seraya menatap Kenzo. "Tidak perlu repot-repot Tante, saya juga sebentar lagi akan pulang kok," tolak Kenzo halus. "Loh? Kok buru-buru sekali, tinggallah sebentar ya. Ada beberapa hal yang mau Tante tanyakan," ucap Raina seraya tersenyum hangat. Kenzo mengangguk paham. "Iya Tante." "Sebentar ya saya panggil asisten rumah tangga saya dulu," "Bi Asih!" Raina mulai memanggil nama asisten rumah tangganya. Tak berselang lama, muncullah sosok wanita paruh baya yang berjalan ke arah ruang tamu dengan tergopoh-gopoh. "Iya Nyonya!" "Ada apa Nyonya?" tanya Bi Asih setibanya di hadapan Raina. "Tolong buatkan teh hangat ya Bi, untuk saya dan tamu saya," pinta Raina dengan tersenyum hangat kepada Bi Asih. Bi Asih mengangguk paham. "Baik Nyonya, saya buatkan." Bi Asih mulai beranjak meninggalkan ruang tamu itu. Kini hanya ada Kenzo dan Raina saja. "Kamu satu sekolah sama Kiara?" tanya Raina seraya menatap Kenzo dalam. Kenzo menggeleng singkat. "Tidak Tante, saya sudah lulus SMA." Kedua bola mata Raina sontak membulat sempurna. Tatapan mata Raina mulai meneliti penampilan Kenzo. Jaket jeans biru, celana jeans hitam, kaos putih polos serta telinga kanan yang tertindik hitam. Itu sepertinya sudah cukup menggambarkan sosok urakan yang Raina lihat. "Lalu? Kamu kuliah?" "Iya Tante, saya kuliah," Kenzo tersenyum tipis menatap Raina. Raina mengangguk paham. "Okay kuliah ya, Orang tua kamu bekerja sebagai apa?" Seketika Kenzo terdiam. Dia merasakan gejolak rasa sesak di dadanya mengingat orang tuanya yang telah tiada. Tetapi, secepat mungkin Kenzo berusaha menyingkirkan rasa sesaknya itu. "Orang tua saya sudah meninggal Tante," Perasaan iba serta rasa bersalah mulai menghantui diri Raina. Tatapannya pun berubah menjadi sendu. "Ma ... maafkan Tante ya, Tante tidak bermaksud untuk mengingatkanmu kepada mereka." "Iya Tante, Kenzo paham kok," Kenzo tersenyum hangat. "Kamu tinggal sendiri atau dengan kerabat?" "Kebetulan saya tinggal di sebuah kontrakan Tante, pada awalnya saya tinggal bersama kakek saya," balas Kenzo. Raina mengangguk paham. "Kenapa kamu tidak tinggal dengan kakekmu? Dan siapa nama kakekmu? Barang kali saja saya mengenalnya." "Saya hanya ingin hidup mandiri Tante," bohong Kenzo. "Namanya Brama Xaviero Tante, apakah tante mengenalnya?' Seketika tubuh Raina menegang. Dia menatap ke arah Kenzo dengan tatapan tidak percayanya, memori ingatan sepuluh tahun silam mulai terputar kembali diingatan Raina. Rasa sesak dan perih di hatinya mulai menghantam hatinya. Melihat reaksi Raina, Kenzo pun turut merasa kebingungan. Kenzo merasa apakah ada yang salah dengan ucapannya tadi? Sepertinya tidak, bahkan tidak ada yang salah sama sekali. Lalu Raina sebenarnya kenapa? "Tante?" panggil Kenzo. Lamunan Raina membuyar, dia kembali menatap Kenzo yang sedang berada di hadapannya. "Ah iya maaf Tante tadi melamun, sepertinya Tante tidak mengenal kakekmu," bohong Raina, dia tetap berusaha tersenyum walau hatinya di penuhi berbagai macam pertanyaan. Tak berselang lama, Bi Asih kembali mendatangi ruang tamu itu seraya membawa nampan yang berisi dua cangkir teh hangat. "Silahkan di minum Nyonya," "Terima kasih Bi," "Silahkan di minum Den," "Terimakasih banyak Bi," Kenzo tersenyum menatap Bi Asih. Bi Asih mengangguk singkat. "Iya, kalau begitu bibi pamit ke dapur lagi ya." "Iya Bi, terima kasih ya," Raina tersenyum hangat kepada Bi Asih. Bi Asih hanya tersenyum, lalu dia mulai beranjak pergi dari ruang tamu itu lagi. "Ayo silahkan di minum, mumpung masih hangat tehnya," tawar Raina kepada Kenzo. Kenzo mengangguk singkat, seulas senyuman masih terukir jelas di bibirnya. Tangan kanan Kenzo mulai meraih cangkir teh itu dan meminumnya. "Kalau begitu saya pamit pulang dulu Tante, sudah hampir larut malam," ujar Kenzo seraya meletakkan kembali cangkir teh itu di meja. "Loh, gak mau sekalian makan malam disini saja?" tanya Raina basa basi. Kenzo menggeleng singkat. "Lain kali saja Tante." "Baiklah kalau begitu, terima kasih ya sudah mengantarkan Kiara pulang dengan selamat," Raina mulai berdiri dari duduknya. Kenzo pun turut berdiri dari duduknya. "Ah iya Tante sama-sama. Seharusnya saya yang meminta maaf karena telah membawa Kiara pergi tanpa izin." "Tidak masalah, asalkan dia pulang dengan selamat saya sudah tenang," "Ya sudah kalau begitu, saya pamit pulang dulu Tante. Terima kasih atas jamuan tehnya, dan titip salam buat Kiara ya," Kenzo mulai menyalami punggung tangan kanan Raina. Raina tersenyum hangat, dia juga mengangguk paham. "Iya pasti Tante salamin kok." Kenzo tersenyum menatap Raina. "Selamat malam Tante." "Selamat malam," balas Raina seraya menatap kepergian Kenzo dari rumahnya. Beberapa saat setelah kepergian Kenzo, Raina pun kembali terduduk lemas di sofa itu. Pikiran Raina kembali tertuju kepada nama sang Kakek dari Kenzo. "Brama Xaviero," gumam Raina. Tangan kanan Raina mulai merogoh saku rok navynya untuk mengambil handphone miliknya. Setelah menemukan handphonenya, jari-jari kurus Raina mulai menekan beberapa digit nomor di ponselnya. Tak lama kemudian, Raina pun menelpon nomor tadi. "Halo Nyonya, apakah ada yang bisa saya bantu?" sapa seseorang dari seberang sana. "Saya minta kamu kumpulkan semua data-data menyangkut Tuan Brama Xaviero," balas Raina dengan nada tegas. "Cari juga tentang nama anggota keluarganya," lanjut Raina. Oh Tuhan! Mengapa Kau hadirkan seseorang yang menghancurkan segalanya di masa laluku lagi? Jagalah Kiara Tuhan, aku tidak ingin dia terluka. Hanya dia harta berharga yang ku miliki sekarang. - Raina -
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD