10. Imperfect Couple

1527 Words
Beberapa saat setelah kepergian Kenzo, Raina pun kembali terduduk lemas di sofa itu. Pikiran Raina kembali tertuju kepada nama sang Kakek dari Kenzo. "Brama Xaviero," gumam Raina. Tangan kanan Raina mulai merogoh saku rok navynya untuk mengambil handphone miliknya. Setelah menemukan handphonenya, jari-jari kurus Raina mulai menekan beberapa digit nomor di ponselnya. Tak lama kemudian, Raina pun menelpon nomor tadi. "Halo Nyonya, apakah ada yang bisa saya bantu?" sapa seseorang dari seberang sana. "Saya minta kamu kumpulkan semua data-data menyangkut Tuan Brama Xaviero," balas Raina dengan nada tegas. "Cari juga tentang nama anggota keluarganya," lanjut Raina. "Baik Nyonya, apakah ada lagi yang ingin Anda cari?" "Tidak ada, silahkan kirimkan semua laporanmu satu jam lagi. Saya mau menerima laporan itu satu jam dari sekarang," ucap Raina. "Baiklah Nyonya, saya akan segera mengirimkan laporan data yang Anda minta," "Terima kasih, selamat malam," Raina segera memutuskan sambungan telfonnya. ◎◎◎◎◎ Sang mentari mulai menampakkan dirinya. Sinarnya yang terik mulai menghangatkan tubuh semua makhluk di bumi. Perlahan mata indah Kiara mulai menjerjap berulang kali. Kiara mulai terbangun dari tidurnya, kemudian bersandar di kasur king sizenya. "Eungh! Jam berapa sih ini?" gumam Kiara seraya melirik jam weker di atas nakas samping kasurnya. Waktu menunjukkan pukul enam tepat. Kiara segera meraih walker miliknya dan mulai berjalan ke arah kamar mandi untuk bersiap pergi ke sekolah. Tiga puluh menit kemudian, Kiara telah keluar dari kamar mandi mengenakan setelan seragam dengan rompi merah kotak-kotak dipadukan dengan kemeja putih bersih milik Kiara. Kiara menatap pantulan dirinya di cermin rias miliknya. Dia mulai menyisir rambut pirangnya itu hingga lurus. Tak lupa dengan bandana merah tua yang dia selipkan di kepalanya. "Perfect!" Kiara tersenyum puas menatap pantulan dirinya di cermin. "Kiara! Sarapannya sudah siap sayang!" Suara Raina mulai terdengar hingga ke dalam kamar Kiara. Kiara segera bergegas untuk meraih tas ranselnya lalu turun menuju arah meja makan. Setibanya di meja makan, tampak seorang Raina dengan setelan blazer abu-abunya sedang menyiapkan sarapan pagi ini. Senyuman hangat Raina menyambut kedatangan Kiara di meja makan itu. "Morning Ma," sapa Kiara seraya tersenyum hangat. Raina tersenyum hangat kepada Kiara. Dia mulai mengambil piring kosong lalu menyendokkan nasi goreng ke atas piring itu. "Morning sayang, ayo duduk! Kita sarapan dulu." Kiara hanya mengangguk. Dia pun mulai menduduki kursi di meja makan itu. Suasana mendadak menjadi hening, hanya terdengar dentingan sendok dan garpu yang sedang beradu di piring. "Ma, Kiara mau minta izin buat jalan sama Kenzo ya? Boleh gak Ma?" tanya Kiara sembari menatap Raina yang sedang mengunyah nasi gorengnya. Raina terdiam sejenak. Dia seolah sedang mempertimbangkan keputusannya. Semalam, dia telah mendapatkan informasi lengkap tentang Kenzo dan keluarganya. Flashback on Suara notifikasi handphone Raina berbunyi nyaring, membuat seorang Raina menghentikan aktivitasnya untuk mempelajari berkas-berkas kantornya. Dengan sedikit ragu, Raina pun meraih handphonenya yang terletak di samping kanannya. Jari panjang Raina mulai menekan notifikasi email yang masuk di handphonenya. Sontak, dahi Raina mengerut. Tatapannya pun seolah tak percaya akan informasi yang dikirimkan oleh orang kepercayaannya. "Brama Xaviero, seorang pengusaha licik dan pemilik perusahaan terbesar kedua di Asia Tenggara. Memiliki satu putra yang bernama Aji Bramantyo Xaviero yang telah meninggal bersama istrinya Miranda Savira Xaviero karena kecelakaan pesawat saat perjalanan bisnis," gumam Raina seraya membaca email yang dia buka. "Memiliki cucu yang bernama Kenzo Rajendra Xaviero, pewaris utama perusahaannya," lanjut Raina. "Pernah membunuh seorang rekan bisnisnya karena sesuatu hal yang masih rahasia," Raina tercekat, rasa sesak di dadanya mulai mendominasi dirinya mengingat kepergian sang Suami. "Tenang Raina, mungkin ini hanya kebetulan saja," batin Raina menenangkan dirinya. Raina berusaha mengusir rasa sesak itu. Pikirannya mulai teralih kepada Kiara, putri semata wayangnya yang menjalin hubungan asmara dengan Kenzo. Tangan kiri Raina terkepal kuat. Giginya mulai bergelatuk, sorot matanya pun turut menajam. "Kiara harus segera putus dengan Kenzo. Aku tidak ingin Kenzo melukai putriku, seperti kakeknya yang telah membunuh pengusaha tak diketahui identitasnya itu." Flashback off "Ma? Mama kenapa melamun sih? Gimana Ma? Kiara bolehkan jalan sama Kenzo nanti sepulang sekolah?" Kiara menggoyangkan bahu kanan Raina yang sedang termenung. Lamunan Raina membuyar seketika. Dia menatap lekat Kiara yang tengah menunggu jawaban dari pertanyaannya. "Tidak boleh, putuskan Kenzo sekarang." Hati Kiara melecos seketika. Dia menggelengkan kepalanya berulang kali. "Gak Ma! Mama kenapa sih kok tiba-tiba seperti ini?" "Mama rasa Kenzo bukan orang yang tepat untuk kamu sayang. Dia terlalu dewasa untuk kamu, sudahlah putuskan Kenzo sekarang ya. Fokuslah dengan sekolahmu," Raina mulai menyendokkan nasi gorengnya ke mulut. Kiara segera menahan tangan Raina yang hendak menyuapkan sesuap nasi gorengnya lagi. Dia masih menggelengkan kepalanya kuat seraya menatap tak percaya kepada sang Mama. "Kenzo itu baik Ma! Dia selalu menolong Kiara, bahkan dia mau bersama Kiara walaupun dia tau kekurangan Kiara. Kiara mohon Ma, izinkan Kiara dengan Kenzo bersama. Kiara juga ingin merasakan bahagianya pacaran seperti anak pada umumnya," pinta Kiara dengan menatap sendu Raina. "Jika Mama bilang tidak ya tidak Kiara! Menurutlah! Jangan menjadi anak yang pembangkang! Mama tidak pernah mengajarkan kamu untuk membantah Kiara!" bentak Raina. Kiara terkesiap kaget, jantungnya berpacu dua kali lebih cepat kala mendengar bentakan dari sang Mama. Kiara hanya terdiam dan menundukkan kepalanya saja. Suasana hening kembali menyelimuti mereka hingga akhirnya Kiara memutuskan untuk segera berangkat ke sekolahnya. "Kiara berangkat sekolah dulu," Kiara mulai bangun dari duduknya. Raina menatap Kiara sendu. Rasa bersalah mulai menghantui dirinya, karena telah membentak Kiara. Dia pun turut berdiri dari duduknya. Tangan kanannya terulur untuk menyentuh kedua bahu sang putri. "Biar Mama antar kamu ke sekolah ya." "Tidak perlu," ujar Kiara sembari menggeleng singkat. Tanpa berlama-lama lagi, Kiara segera meninggalkan meja makan itu. Kali ini Kiara sama sekali tidak mencium pipi sang Mama dan menyalaminya. Entah mengapa hati Kiara sangat terasa sakit kala sang Mama memintanya untuk memutuskan Kenzo. Sepeninggalnya Kiara, Raina kembali terduduk lemas di kursi makan itu. Pikirannya kembali berkecambuk karena perdebatan sengit antara dirinya dan Kiara. "Maafkan Mama sayang, Mama hanya ingin kamu tetap aman dan baik-baik saja," gumam Raina. ◎◎◎◎◎ Situasi jalan raya kini tampak lega. Tidak ada kemacetan yang menghampiri pagi ini. Kini mobil yang Kiara tumpangi telah berhenti tepat di depan gerbang sekolah SMA Adiwijaya. "Sudah sampai Non," ucap Warno seraya menatap Kiara yang terduduk di bangku penumpang. Lamunan Kiara membuyar. Pandangannya mulai beredar di tempat yang sedang dia tempati. "Ah iya, baiklah terima kasih Pak." Kiara mulai menuruni mobilnya seraya mengenakan walker miliknya. Langkah demi langkah Kiara jalani, kini dirinya telah tiba di ruangan kelasnya. "Hai Kia!" sapa Dera setibanya Kiara di bangkunya. "Hai Der," balas Kiara tanpa minat. Kedua alis Dera sontak menaut. "Lo kenapa Kia? Ada masalah?" "Enggak ada," Kiara mulai meletakkan tas ranselnya di kursi lalu menduduki kursinya. "Beneran? Kok tumben lo lesu gitu?" Dera kembali bertanya. Helaan napas berat Kiara mulai berhembus. "Mama gue minta gue untuk mutusin Kenzo." "What?! Putus?!" teriak Dera seraya menatap tak percaya kepada Kiara. "Sejak kapan lo jadian sama dia?" "Kok lo gak ada cerita sih sama gue Kia?" "Wah parah lo, lo tuh ja ...," Dengan spontan, tangan mungil Kiara pun tergerak untuk membekap mulut Dera. "Lo bisa gak sih kalau ngomong dijaga Der? Gak usah heboh begitu," bisik Kiara seraya menatap tajam ke arah Dera. Dera mengangguk paham, perlahan bekapan tangan Kiara mulai melonggar dan terlepas. "Jadi gimana?" Dera menatap Kiara penuh tanya. Kiara mengangkat kedua bahunya acuh. "Gue gak tahu." "Itu asal mulanya gimana sih kok bisa sampai tante Raina minta lo buat mutusin si Kenzo?" "Iya asalnya kemarin gue kan baru aja jadian sama Kenzo. Dan gue lupa ngabarin Mama kalau gue bakal pulang terlambat. Mama panik, tapi gue lihat semalam dia baik-baik aja justru dia ramah dan welcome ke Kenzo. Tapi tiba-tiba tadi pagi Mama gue jadi aneh Der," jelas Kiara. Dera mengerutkan dahinya. "Maksud lo aneh gimana?" "Saat sarapan, gue minta izin sama Mama kalau sepulang sekolah gue mau jalan sama Kenzo karena semalem udah janjian lewat chat. Nah, Mama minta gue buat putusin hubungan gue sama Kenzo," Helaan napas Kiara berhembus berat. "Lah? Kok tiba-tiba dia minta lo mutusin Kenzo sih, emangnya kenapa? Dia gue lihat juga kayaknya baik kok, cuma penampilannya aja yang terlihat urakan," ujar Dera. "Iya gue juga sependapat sama lo Der, tapi entahlah Mama gue aneh. Gue merasa dia menyembunyikan sesuatu dari gue deh," ujar Kiara. "Tapi, kalau Mama lo menyembunyikan sesuatu dari lo. Berarti Mama lo udah kenal dong sama keluarganya Kenzo? Tapi apa mereka pernah bertemu sebelumnya Kia?" tanya Dera dengan sorot mata penuh tanya. Kiara menggedikkan bahunya acuh. "Entahlah, gue pusing Der. Gue gak tahu harus gimana." Lagi-lagi Kiara menghela napasnya berat. Sorot matanya menunjukkan keputus asaan, dia tidak tahu harus mengatakan apa dengan Kenzo nanti. Dera menatap iba ke arah Kiara. Baru kali ini Dera melihat Kiara seputus asa ini. Sebelumnya Kiara sama sekali tidak ingin membicarakan atau menyukai laki-laki manapun. Tetapi kini sepertinya Kiara telah jatuh hati dengan Kenzo. Tangan kanan Dera tergerak untuk mengelus pelan pundak Kiara dari samping kiri. "Sabar ya, pasti ada jalan keluarnya kok." Kiara menatap Dera sejenak lalu mengangguk. "Iya, thanks ya Der. Sorry gue gak bisa langsung cerita ke lo tentang hubungan gue sama Kenzo. "Iya gak masalah Kia, gue paham kok posisi lo. Ini semua pasti mendadak banget ya buat lo," balas Dera seraya menyunggingkan senyuman manisnya. Kiara mengangguk lesu. "Iya Der, gue ...."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD