Tangan kanan Dera tergerak untuk mengelus pelan pundak Kiara dari samping kiri. "Sabar ya, pasti ada jalan keluarnya kok."
Kiara menatap Dera sejenak lalu mengangguk. "Iya, thanks ya Der. Sorry gue gak bisa langsung cerita ke lo tentang hubungan gue sama Kenzo.
"Iya gak masalah Kia, gue paham kok posisi lo. Ini semua pasti mendadak banget ya buat lo," balas Dera seraya menyunggingkan senyuman manisnya.
Kiara mengangguk lesu. "Iya Der, gue ...."
Belum sempat Kiara melanjutkan ucapannya, seorang guru paruh baya pun mulai memasuki ruangan kelas Kiara dan kegiatan pembelajaran pun di mulai.
◎◎◎◎◎
Kring!
Bel pulang sekolah SMA Adiwijaya pun telah berbunyi nyaring. Semua siswa siswi SMA Adiwijaya telah berhamburan keluar kelas mereka masing-masing untuk menuju ke arah gerbang keluar. Begitu halnya dengan Kiara dan Dera. Mereka sedang berjalan perlahan ke arah Halte yang terletak di depan sekolah.
Sesampainya di Halte, Kiara dan Dera pun duduk di bangku Halte itu. Mereka sama-sama berdiam diri seraya menatap lalu lalang kendaraan.
"Kiara, gue mau tanya sesuatu sama lo," Dera menatap ke arah Kiara.
Kiara menatap ke arah Dera yang sedang menunggu jawaban darinya. Alis kanan Kiara terangkat. "Mau tanya apa Der?"
"Jadi gini, sebenarnya gue mau tanya sesuatu sama lo tapi gue gak enak gitu sama lo," Dera menatap cemas ke arah Kiara.
Kiara menautkan kedua alisnya. "Tanya aja kali Der, memangnya mau tanya apa sih?"
"Itu ... jadi gini, gue mau tanya tentang tindakan yang lo ambil nanti saat bertemu Kenzo. Kan kata lo dia mau jemput lo kan?" tanya Dera.
Kiara mengangguk samar. "Gue juga belum tau Der, gue masih bingung sama semua ini."
Dera menghela napasnya berat. "Loh, terus nanti lo gimana ngomongnya sama Kenzo?"
"Gak taulah Der, pusing gue," Kiara memijit pelipisnya perlahan.
"Okay, gue juga gak bisa paksa lo buat mikirin itu sekarang. Itu terserah lo nanti. Terus nih ya, itu gimana sama penjemput lo? Bukannya Mama lo gak mengizinkan lo jalan sama Kenzo?" tanya Dera.
Lagi-lagi Kiara menghela napasnya gusar. "Entahlah, gue gak mau pikirin itu dulu. Gue berharap sih dia datang setelah gue udah pergi sama Kenzo."
Dera mengangguk paham. "Terus nih Kia, seandainya aja nih. Kalau lo minta putus dari Kenzo dan dia terima permintaan lo. Lo akan sedih atau enggak?"
"Ck iya jelas lah gue sedih bego! Lo tuh ya Der ...,"
Ucapan Kiara terpotong kala mendengar deru suara motor vespa yang sangat familiar bagi Kiara. Perlahan, Kiara mulai menoleh ke asal suara itu. Tampak sosok laki-laki menggunakan jeans hitam, kaos oblong putih dan jaket jeans hitam dipadukan dengan sepatu sneakers putih merk terkenal.
Dengan susah payah, Kiara menelan salivanya. Dia sangat takut mengatakan hal yang Mamanya minta kepada Kenzo.
"Kia, itu ...," bisik Dera lirih seraya menatap kedatangan Kenzo tanpa berkedip sedikitpun.
"Mati gue Der," desah Kiara dengan tatapan mata yang masih tertuju kepada Kenzo.
"Stay calm Kia," peringat Dera.
Perlahan, Kenzo mulai berjalan mendekat ke arah bangku Halte itu untuk menghampiri Kiara.
"Hai, maaf ya lama," Kenzo tersenyum hangat ke arah Kiara dan Dera secara bergantian.
"Eh? Enggak kok, gak masalah. Kita juga baru sebentar, iya kan Der?" Kiara melirik Dera sekilas untuk memberi kode kepada Dera agar menyetujui ucapannya.
Dera yang mengerti kode dari Kiara pun segera mengangguk mantap dan menatap Kenzo. "Iya benar."
Kenzo mengangguk paham. "Syukur deh kalau begitu, kita jadi jalan kan Kia?"
Kiara terdiam. Perlahan dia mulai menundukkan kepalanya. Begitu pula dengan Dera yang berpura-pura memainkan ponselnya.
"Kiara? Kenapa?" tanya Kenzo.
Masih diam.
"Kiara? Kamu kenapa? Kamu ada acara lain ya?" Kenzo menatap Kiara dengan tatapan penasaran.
Kiara menghela napasnya berat. Dia menggeleng pelan. Jari-jari tangannya mulai memilin satu sama lain. Keringat dingin pun mulai Kiara rasakan.
"Ya sudah, kita bicara di taman kota saja. Mungkin ada yang kamu mau bicarakan sama aku?" tawar Kenzo.
Kiara mendongak, tatapannya mulai bertubrukan dengan manik mata Kenzo. "I ... iya."
Kiara mulai beranjak dari duduknya. Begitu pula Dera yang turut berdiri di samping Kiara.
Kiara menoleh ke arah Dera. "Der, gue pergi dulu ya. Lo gak masalah kan disini sendirian?"
Dera tersenyum kepada Kiara, tangan kanannya tergerak untuk mengelus bahu kiri Kiara. "Iya Kia, lo pergi aja sama Kenzo. Palingan sebentar lagi jemputan gue datang kok."
"Iya deh, see you Der," Kiara tersenyum seraya melambaikan tangannya ke arah Dera.
◎◎◎◎◎
Suasana siang hari ini sangatlah terik. Panas matahari membuat Kiara berkeringat sangat banyak. Dengan sangat susah payah Kiara menelan salivanya.
Kini mereka telah duduk di bangku taman kota seraya menatap ke arah hamparan bunga warna warni yang tersusun indah di depan mereka.
"Kamu kenapa Kiara? Kok sepertinya gelisah begitu," ujar Kenzo dengan menatap cemas ke arah Kiara.
Kiara yang awal mulanya melamun, kini lamunannya pun membuyar seketika. "Eh? Memangnya aku terlihat gelisah ya Ken?"
Kenzo mengangguk pelan. Dia masih saja menatap Kiara penuh tanya.
"Huft ..., sebenarnya ada yang mau aku sampaikan ke kamu Ken," ucap Kiara seraya menunduk dan memilin jari-jari tangannya.
Kenzo menatap lembut Kiara dengan tangan kanan yang tergerak untuk merapikan anak rambut Kiara. "Apa itu?"
"Tadi Kia izin sama Mama kalau Kiara mau jalan sama Kenzo, tapi ...," Kiara sengaja menjeda perkataannya untuk menenangkan dirinya sejenak.
"Tapi kenapa Kia ?" tanya Kenzo penasaran.
Kiara menghela napasnya berat. "Tapi Kenzo harus janji dulu sama Kiara, jangan tersinggung ya."
"Iya Kia, Kenzo janji kok,"
"Mama minta ke Kiara buat mutusin Kenzo tadi pagi, jujur Kia sama sekali gak menyangka kalau Mama minta begitu ke Kiara. Kiara pikir Mama ngerestuin Kiara sama Kenzo, karena Kia tau kemarin respon Mama baik banget kan waktu bertemu sama Kenzo di rumah," Kiara tertunduk lesu.
Setelah mendengar perkataan Kiara, sontak Kenzo pun terdiam membeku. Pikirannya mulai berkelana kesana kemari memikirkan penyebab permintaan Raina kepada Kiara. Begitu pula dengan Kiara yang terlihat begitu khawatir melihat ekspresi Kenzo setelah dia mengatakan hal yang sebenarnya.
"Kenzo?" panggil Kiara dengan nada lirih.
Masih terdiam.
"Kenzo marah ya sama Kiara?"
"Kenzo tersinggung ya?"
Reaksi Kenzo masih tetap sama yaitu diam membisu. Kiara semakin khawatir, keringat dingin mulai membasahi seluruh tubuhnya. Di tambah lagi dengan semua jari tangan Kiara yang turut berkeringat dan masih saling memilin.
Perlahan bulir-bulir air mata Kiara mulai mengalir lepas di pipi putihnya. "Maafin Kiara ya Kenzo, ini semua memang salah Kiara. Mungkin saja Mama masih marah karena waktu itu Kiara pergi ke Taman Kota sama Kenzo tanpa izin dan membuat Mama Khawatir."
Suara isak tangis Kiara semakin terdengar kencang, membuat lamunan Kenzo pun turut membuyar. Hati Kenzo terasa sangat teriris kala mendengar isak tangisan Kiara. Tanpa menunggu waktu lama lagi, Kenzo membawa tubuh ringkih Kiara dalam dekapan hangatnya. Kenzo membelai halus rambut dan punggung mungil Kiara agar gadis itu segera tenang.
Beberapa menit telah berlalu, kini Kiara menjadi lebih tenang. Sorot mata yang tadinya terlihat sangat gelisah kini berganti menjadi sendu. Kenzo menatap Kiara dengan sangat lekat. Tatapan Kenzo seolah menyiratkan sebuah ketidak relaan dirinya jika mereka harus berpisah.
"Kiara minta maaf ya Ken," cicit Kiara.
Kenzo tersenyum tipis, entah mengapa pikirannya kini menebak jika Raina telah menyelidiki seluk beluk keluarganya. Dan mungkin ini bisa menjadi alasan Raina untuk meminta Kiara memutuskannya.
Kenzo menarik napasnya dalam-dalam dan perlahan menghembuskannya. Tangan kanannya tergerak untuk membelai lembut wajah Kiara. Seulas senyuman tipis Kenzo terbit.
"Kenzo sayang sama Kiara. Bahkan sangat sayang sama Kiara. Tetapi ternyata sepertinya semesta tidak menerima hubungan kita dan memberi restu kepada kita,"
"Tapi kan kita masih bisa backstreet Ken," elak Kiara.
"Itu tidak mungkin sayang," Kenzo tersenyum tipis lalu mengambil ponselnya dari dalam saku celana dan mulai mencari sesuatu di dalam ponselnya.
"Kita pulang sekarang yuk, kamu pasti sangat lelah," Kenzo tersenyum hangat lalu mengecup singkat pucuk kepala Kiara.
Kenzo mulai beranjak dari duduknya, sementara Kiara? hanya duduk terdiam seraya menatap sendu ke arah Kenzo. Tak lama kemudian Kiara ikut berdiri, dengan sigap Kenzo merangkul pinggang Kiara. Bulir-bulir air mata Kiara kembali mengalir deras.
"Ya Tuhan, mengapa semua ini sangatlah sakit?" batin Kiara.
"Mengapa Engkau sangat tidak adil kepadaku Tuhan?"
"Pertama-tama Kau memberikan aku ketidak sempurnaan, lalu mengambil Ayah. Dan sekarang? Kau jauhkan aku dengan Kenzo,"
"Apa salahku Tuhan? Hingga Kau menghukumku seperti ini?"
Keadaan Kiara menjadi sangat kacau sekarang. Air mata yang mengalir tiada henti serta hidung yang memerah. Kenzo dan Kiara segera melesat pergi dari Taman itu. Di sepanjang perjalanan mereka hanya diam, dan air mata Kiara masih setia mengalir di pipinya.
Beberapa menit kemudian, motor vespa Kenzo telah berhenti tepat di depan gerbang rumah Kiara. Kiara segera turun dan segera melepas helmnya.
Kiara menyerahkan helmnya kepada Kenzo. Dan tiba-tiba saja Kenzo mengatakan, "Kita putus saja ya Kiara. Terima kasih untuk segalanya. Semoga ini memang yang terbaik."
Seketika Kiara menggeleng keras. "Gak Ken! Kiara gak mau!"
Kenzo hanya tersenyum tipis. "Mau tidak mau kamu harus menuruti perkataan Mamamu Kiara. Ingat, menurut lah kepada orang tua selagi mereka ada."
Setelah mengucapkan itu. Kenzo segera menyalakan mesin motor Vespanya lalu pergi dari hadapan Kiara tanpa sepatah kata pun.
******
Ting tong, ting tong!
Suara bel rumah Kiara telah berbunyi nyaring. Tak berselang lama pintu utama pun terbuka lebar menampilkan sosok paruh baya asisten rumah tangga yang terlihat sangat khawatir melihat keadaan Kiara yang sangatlah kacau. Dia adalah Bi Asih.
"Loh Non Kiara kenapa?" tanya Bi Asih.
"Ayo masuk Non,"
Kiara hanya diam dan mulai memasuki rumahnya dengan langkah lemas.
"Mau Bibi buatkan teh hangat Non?" tawar Bi Asih.
Kiara menggeleng singkat. "Tidak perlu Bi, Kiara mau ke kamar saja."
Sepeninggal Kiara dari hadapannya, Bi Asih tampak menatap punggung Kiara yang berjalan menjauhinya dengan tatapan herannya.
"Non Kiara kenapa ya? Tidak biasanya seperti ini, apakah karena nilai ulangannya buruk? Ah tentu saja tidak mungkin, dia anak yang pintar," gumam Bi Asih.