"Loh Non Kiara kenapa?" tanya Bi Asih.
"Ayo masuk Non,"
Kiara hanya diam dan mulai memasuki rumahnya dengan langkah lemas.
"Mau Bibi buatkan teh hangat Non?" tawar Bi Asih.
Kiara menggeleng singkat. "Tidak perlu Bi, Kiara mau ke kamar saja."
Kiara langsung berjalan ke arah kamarnya. Hari pun telah menggelap, kini Kiara masih saja mengurung diri di kamarnya sendari tadi.
Sepeninggal Kiara dari hadapannya, Bi Asih tampak menatap punggung Kiara yang berjalan menjauhinya dengan tatapan herannya.
"Non Kiara kenapa ya? Tidak biasanya seperti ini, apakah karena nilai ulangannya buruk? Ah tentu saja tidak mungkin, dia anak yang pintar," gumam Bi Asih.
Hingga akhirnya Raina pun pulang ke rumah.
Tok, tok, tok!
Pintu utama rumah Kiara kembali di ketuk dari luar. Dengan terburu-buru Bi Asih segera membukakan pintu utama karena Bi Asih menebak itu pasti majikannya. Di ambang pintu,
"Eh, Nyonya sudah pulang," sambut Bi Asih.
Raina tersenyum hangat kepada Bi Asih. "Iya Bi saya pulang lebih cepat kali ini. oh iya, dimana Kiara Bi? saya mau mengajak dia untuk makan malam bersama."
"Anu Nyonya Non Kiara ...,"
"Kiara kenapa Bi?" raut wajah Raina berubah menjadi khawatir.
Bi Asih menghela napasnya berat. "Tadi sepulang sekolah Non Kiara terlihat murung dan sedih Nyonya. Sendari tadi juga mengurung diri di kamar dan belum makan sama sekali."
Raina termenung, seketika dia mengingat permintaannya kepada Kiara tadi pagi. Perasaan bersalah mulai menghantui Raina. Sepertinya Raina mengetahui penyebab Kiara mengurung diri di kamar.
"Iya sudah kalau begitu biar saya bujuk Kiara untuk makan ya Bi," Raina berusaha tersenyum.
"Baik Nyonya, saya pamit ke dapur dahulu untuk menyajikan makanan untuk Nyonya dan Non Kiara," pamit Bi Asih.
Raina hanya mengangguk menanggapi Bi Asih. Dia segera menaiki satu persatu anak tangga yang menghubungkan ke lantai dua tempat dimana kamar Kiara berada. Sesampainya di depan pintu kamar Kiara, Raina menarik napasnya dalam dan menghembuskannya perlahan.
Tok, tok, tok!
"Kiara sayang, kita makan malam yuk! Bi Asih udah nyiapin tuh di bawah," ajak Raina dari balik pintu kamar Kiara.
Kiara masih terdiam. Tidak ada jawaban sama sekali dari Kiara.
"Mama masuk ya sayang," ucap Raina seraya membuka pintu kamar Kiara.
Ceklek!
Pintu kamar Kiara telah terbuka lebar. Raina dapat melihat jelas keberadaan Kiara di sudut ruangan kamar itu. Kiara masih mengenakan seragam sekolahnya kini sedang duduk di sofa sudut kamarnya seraya menatap bintang-bintang di balik kaca yang membatasi balkon kamarnya.
Perlahan tapi pasti, Raina mulai berjalan mendekati Kiara di sudut ruangan. Kamar Kiara terasa sangat sunyi hingga langkah kaki Raina pun terdengar sangat jelas memenuhi kamar Kiara.
"Sayang, kamu kok belum ganti baju?" ujar Raina seraya duduk di tepi sofa yang Kiara duduki.
Kiara masih terdiam dan tatapannya masih terpaku pada bintang-bintang yang bertaburan menghiasi malam sunyi itu.
"Kiara, kamu kenapa Nak? Ayo cerita dong sama Mama," Raina membelai lembut rambut Kiara.
Kiara mulai menatap Raina, tatapan mata Kiara seolah menyiratkan kesedihan yang cukup mendalam.
"Kiara sudah penuhi permintaan Mama," ujar Kiara.
Raina terdiam seketika. Sebenarnya Raina tau kemana arah pembicaraan Kiara kali ini. Tetapi Raina lebih memilih bersikap seolah tidak mengetahui maksud Kiara agar bisa memancing Kiara untuk menceritakan semuanya yang menyebabkan Kiara bersedih seperti ini.
"Memangnya Mama minta apa sama Kiara?"
Kiara tersenyum kecut menatap Raina. "Memutuskan hubungan Kiara dengan Kenzo."
"Kenzo menerima permintaan itu?"
Kiara tidak menjawab, dia lebih memilih memalingkan wajahnya kembali ke arah bintang-bintang itu.
Tangan kiri Raina tergerak untuk merangkul bahu Kiara dari samping. "Maafkan Mama ya sayang, Mama melakukan ini semua demi kebaikan dan keselamatanmu."
Kiara masih diam. Tanpa Raina tahu, Kiara sedang berusaha mati-matian untuk menahan air matanya agar tidak jatuh menetes di hadapannya. Tak berselang lama, Raina mengecup singkat pucuk kepala Kiara lalu mulai beranjak dari duduknya.
"Ya sudah, kita makan malam yuk!" ajak Raina.
Kiara mengangguk samar.
"Mama tunggu di meja makan ya, kamu mandi lalu ganti baju dulu,"
Kiara kembali mengangguk menanggapi perkataan Raina. Raina mulai meninggalkan kamar Kiara dan menuju ke lantai satu. Sepeninggalnya Raina, Kiara kembali menangis dalam diam. Saat Kiara sudah merasa cukup tenang, dia pun segera bergegas untuk mandi dan mengganti baju seragamnya dengan baju rumahan.
*****
Terik matahari pagi ini mulai menyinari bumi dan seisinya. Kini Kiara telah bersiap untuk pergi ke sekolah. Kiara masih saja terlihat murung, lingkaran hitam di area mata Kiara terlihat begitu jelas. Di kamar Kiara semuanya tampak sangat berantakan sekali, Kiara pun menghiraukan keadaan kamarnya yang bagaikan kapal pecah itu.
Kiara mulai beranjak turun dari lantai dua dan menuju ke arah ruang makan. Pagi ini nafsu makan Kiara benar-benar hilang. Sesampainya di ruang makan,
"Eh Non Kiara sudah turun. Ayo sarapan dulu Non!" ajak Bi Asih seraya mengelap piring di meja makan itu.
Kiara menggeleng pelan. "Kiara tidak lapar Bi. Mama dimana?"
"Nyonya sudah berangkat dari tadi Non. Kalau begitu saya bawakan Non Kiara bekal saja ya, harus di makan kalau tidak di makan saya bisa di marahi Nyonya nanti," bujuk Bi Asih.
Kiara menghela napasnya berat lalu mengangguk pelan. Mau tidak mau Kiara harus membawa bekal itu, bisa saja saat dia di sekolah dia malas pergi ke kantin saat istirahat. Setelah menerima kotak bekal darri Bi Asih, Kiara segera bergegas berangkat ke sekolah diantar oleh supirnya.
*****
Mobil sedan hitam Kiara telah berhenti tepat di depan gerbang SMA Adiwijaya. Seperti biasanya, sekolah ini sangatlah ramai. Tanpa membuang waktu lama lagi Kiiara segera turun dari mobilnya. Kiara segera bergegas menuju ke kelasnya. Setibanya di kelas, Kiara langsung menduduki bangkunya yang bersebelahan langsung dengan bangku Dera.
Dera nampak sangat terkejut sekali melihat kondisi Kiara yang tidak seperti biasanya. Baru saja Kiara menduduki bangkunya, Dera langsung meluncurkan beberapa pertanyaan untuk Kiara.
"Astaga Kiara! Lo kenapa?" tanya Dera dengan nada yang cukup keras, membuat seluruh penghuni kelas memperhatikan mereka.
Seketika Kiara pun menatap tajam ke arah Dera. Dera yang mengerti arti tatapan Kiara itu sontak membulatkan kedua matanya sempurna seraya membekap mulutnya sendiri.
Kiara menghela napasnya berat, sepertinya perhatian seluruh penghuni kelas sudah tidak tertuju kepada Kiara dan Dera.
"Jadi gimana kemarin Kia?" tanya Dera seraya menatap penasaran ke arah Kiara.
"Gue putus sama Kenzo," cicit Kiara.
"What? Demi apa lo beneran putus sama dia?"
Kiara mengangguk pelan. "Awalnya gue niatnya cuma cerita sama dia tentang permintaan Mama. Gue waktu itu mikir mau backstreet sama dia. Tetapi dia malah mutusin gue."
"Terus lo terima gitu di putusin?"
"Awalnya gue gak terima sama sekali, tetapi dia tetap kekeh sama keputusannya. Iya gue dengan berat hati nerima keputusannya. Padahal gue bener-bener masih sayang sama dia, dia itu cinta pertama gue setelah Ayah gue Der," keluh Kiara.
Lengan Dera tergerak untuk merangkul bahu Kiara. "Sabar ya Kia, mungkin Tuhan punya rencana yang lebih baik untuk kehidupan lo."
Kiara hanya mengangguk lesu. Tak berselang lama bel masuk pun berbunyi nyaring. Semua siswa siswi SMA Adiwijaya langsung berbondong-bondong memasuki kelas mereka. Jam pembelajaran pun di mulai, semua murid tampak sangatlah kondusif dan memperhatikan penjelasan dari sang guru. Tetapi sepertinya tidak dengan Kiara yang pikirannya masih berkelana kesana kemari.
*****
Dua hari kemudian, sepulang sekolah. Masih seperti biasanya Kiara dan Dera menunggu di Halte itu. Mereka tampak saling terdiam. Sudah beberapa hari ini semenjak kandasnya hubungan antara dirinya dan Kenzo, Kiara berubah menjadi sosok yang pendiam kembali. Dia tampak kehilangan semangat hidupnya.
Tak berselang lama, mobil sedan jemputan Kiara telah tiba. Kiara pun segera berdiri dari duduknya. "Der, gue duluan ya."
"Iya Kia, hati-hati di jalan ya. Kalau udah sampai rumah lo langsung ganti baju, makan terus tidur ya! Gue tahu lo pasti butuh istirahat ekstra," ujar Sera seraya mengulas senyuman tipisnya.
Kiara mengangguk pelan, senyuman tipis pun terukir di bibir tipisnya. Kiara segera memasuki mobilnya lalu pulang ke rumahnya. Sepeninggalnya Kiara, Dera kembali menunggu jemputannya. Lima belas menit kemudian, handphone Dera berdering nyaring menandakan ada satu panggilan telfon yang masuk ke handphonenya.
Dera segera mengambil handphonenya dari dalam saku rok abu-abunya. Seketika dahi Dera mengerut melihat nama kontak sang Bunda yang terpapar jelas di handphonenya. Dera pun. menjawab panggilan telfon itu.
"Halo Bunda, ada apa ya?"
"Halo sayang, kamu sudah pulang sekolah sayang?" tanya Bunda Dera dari seberang sana.
"Sudah Bunda, ini Dera lagi nungguin jemputan. Memangnya kenapa Bunda?"
"Oh begitu ya. Jadi begini sayang, Bunda minta kamu pesan taksi online saja ya? Kamu langsung menuju ke rumah sakit Citra Kasih saja. Bunda juga dalam perjalanan ke sana kok. Kakakmu sudah melahirkan sayang, keponakan kamu sudah lahir,"
"Hah? Keponakanku sudah lahir Bunda? Iya sudah kalau begitu Dera langsung ke rumah sakit ya. Di ruangan apa Bun?"
"Di ruangan nomor 69 lantai tiga ya sayang. Bunda tunggu di sana, see you!"
"See you Bunda,"
Dera memutuskan sambungan telfonnya dengan sang Bunda. Dia segera membuka aplikasi taksi onlinenya dan memesan sebuah taksi. Setibanya Dera di rumah sakit, dia langsung saja menuju ke ruangan 69 yang terletak di lantai tiga. Dera telah berkumpul dengan keluarganya di dalam ruangan itu, dia tidak henti-hentinya menatap kagum pada bayi mungil sang Kakak.
Dera mengalihkan tatapannya kepada sang Kakak yang baru saja melahirkan putri kecilnya. Tiba-tiba saja Dera ingin ke kamar mandi, Dera pun izin meninggalkan ruangan itu.
Sepuluh menit kemudian, Dera telah kembali dari kamar mandi rumah sakit itu. Di pertengahan jalan, Dera tiba-tiba melihat sosok Kenzo yang baru saja keluar dari ruangan Dokter spesialis ginjal dengan menggunakan kursi roda. Seketika Dera termenung, dia berusaha menajamkan pengelihatannya dan memastikan bahwa itu benar-benar Kenzo. Kenzo tampak di dampingi oleh dua orang berbaju hitam dan bertubuh kekar.
Tanpa membuang waktu yang lebih lama lagi, Dera segera memanggil Kenzo. "Kak Kenzo!"
Sontak Kenzo pun menoleh ke arah Dera dan para pendamping Kenzo pun turut berhenti serta ikut menatap kedatangan Dera.