13. Imperfect Couple

1526 Words
Sepuluh menit kemudian, Dera telah kembali dari kamar mandi rumah sakit itu. Di pertengahan jalan, Dera tiba-tiba melihat sosok Kenzo yang baru saja keluar dari ruangan Dokter spesialis ginjal dengan menggunakan kursi roda. Seketika Dera termenung, dia berusaha menajamkan pengelihatannya dan memastikan bahwa itu benar-benar Kenzo. Kenzo tampak di dampingi oleh dua orang berbaju hitam dan bertubuh kekar. Tanpa membuang waktu yang lebih lama lagi, Dera segera memanggil Kenzo. "Kak Kenzo!" Ya benar. Dera memanggil Kenzo dengan sebutan 'Kak' karena Kenzo lebih tua beberapa tahun darinya. Sontak Kenzo pun menoleh ke arah Dera dan para pendamping Kenzo pun turut berhenti serta ikut menatap kedatangan Dera. "Kakak ngapain ke sini?" tanya Dera dengan napas yang terengah-engah karena berlari menghampiri Kenzo. Belum sempat Kenzo menjawab pertanyaan Dera, sosok pendamping Kenzo lebih dulu menyahut. "Maaf Tuan muda kami sedang terburu-buru." "Izinkan saya bertanya sebentar ke Kak Kenzo Pak," pinta Dera. "Kakak ngapain disini? Kakak sakit? Kiara tau Kakak sakit?" Dera memberondong Kenzo dengan beberapa pertanyaan. Kenzo hanya menggeleng pelan. "Kami sudah putus Dera, dan saya rasa Kiara tidak perlu tahu akan keadaan saya sekarang." "Tapi Kak ...," ucapan Dera lebih dahulu di sela oleh pendamping Kenzo atau lebih tepatnya bisa di katakan dengan bodyguard. "Maaf Tuan muda harus segera masuk ke ruangan laboratorium, jadi tolong jangan halangi kami lagi," pinta bodyguard itu dengan nada penuh penekanan. Dera langsung terdiam dan perlahan mundur beberapa langkah. Kursi roda yang Kenzo duduki telah di dorong kembali oleh dua bodyguard itu. Dera menatap kepergian Kenzo dalam diam. Sepeninggalnya Kenzo, Dera langsung saja mengambil ponselnya di saku rok abu-abunya dan menghubungi Kiara. Sementara itu suasana rumah Kiara sangatlah sepi. Kini gadis berponi tipis itu telah terlelap dalam alam mimpinya. Dia tampak sangat kelelahan sekali, hembusan nafasnya pun terdengar sangat teratur. Tetapi kenyamanan tidurnya terganggu karena dering ponselnya berbunyi nyaring. Kringgg...! Perlahan kedua mata Kiara mulai membuka. Dia menjerjap beberapa kali lalu meraih handphonenya yang berada di balik bantalnya. Sontak kedua alis Kiara pun menaut kala melihat nama Dera terpapar jelas di panggilan telfon itu. "Tumben banget Dera nelfon gue," gumam Kiara seraya menjawab panggilan telfon itu. "Halo Der," "Halo Kia! Sorry nih gue gangguin lo siang-siang begini," "It's okay Der, gak masalah kok. Emangnya ada apa? Kok tumben banget lo nelfon gue," Dera menghela napasnya berat. Dan suara helaan napasnya pun turut terdengar oleh Kiara. "Der? Are you okay?" "Eee..., jadi gini Kia gue mau ngasih satu informasi ke lo tentang Kak Kenzo," Sontak kedua alis Kiara kembali menaut, dahinya pun turut mengerut. "Kenzo? Memangnya dia kenapa?" "Tadi gue ketemu dia di depan ruangan Dokter spesialis ginjal Kia. Gue di rumah sakit kan karena kakak gue melahirkan. Eh gue gak sengaja deh ketemu Kak Kenzo, dia pakai kursi roda tau. Dia juga sepertinya di kawal ketat sama beberapa bodyguard, gue tanya ke dia apa lo tau dia ada di rumah sakit. Tapi dia bilang kalau lo gak perlu tahu keadaanya sekarang karena kalian kan sudah putus, " jelas Dera dari seberang sana. Seketika Kiara terdiam membeku. Detak jantungnya berpacu sangat kencang. Pikirannya kembali berkelana kesana kemari. "Kia? Lo baik-baik aja kan?" tanya Dera dengan nada cemas. "Lo di rumah sakit mana Der?" "Medika Kia," "Tunggu gue disana, gue on the way sekarang," ujar Kiara lalu memutuskan sambungan telfon mereka. ***** Empat puluh lima menit kemudian, mobil sedan hitam yang Kiara tumpangi telah berhenti tepat di depan lobby rumah sakit Medika. Kiara langsung saja turun dari mobil dan menuju ke arah lantai tiga seperti yang Dera beritahu via chat tadi. Sesampainya Kiara di lantai tiga. Kiara langsung saja mencari ruang tunggu yang terletak di dekat ruang rawat inap nomor 69. Tanpa menunggu waktu yang lebih lama lagi, Kiara pun akhirnya menemukan Dera yang sedang duduk melambai ke arahnya. "Kenzo dimana Der?" tanya Kiara setibanya dia di hadapan Dera. "Tadi sih terakhir gue lihat dia masuk ke ruangan nomor 65 Kia. Di sebelah lift itu loh," Dera menunjuk ke arah lift yang Kiara naiki tadi. "Ayo kita kesana!" Kiara langsung mendekati ruangan itu. Tetapi sesampainya Kiara dan Dera di depan ruangan Kenzo, mereka telah di hadang lebih dahulu oleh dua bodyguard berbaju hitam. "Maaf kalian siapa?" tanya bodyguard itu dengan nada penuh selidik. "Saya pacarnya Kenzo Pak, jadi tolong izinkan saya masuk ke dalam ya. Saya sangat ingin mengetahui keadaan Kenzo sekarang," mohon Kiara. Bodyguard itu tampak sedang menilai penampilan Kiara dari atas sampai bawah. Tatapan serta senyuman merendahkan pun mereka berikan kepada Kiara. "Mana mungkin Tuan muda mau dengan gadis pincang sepertimu! Mustahil!" Dera menghela napasnya kasar. "Dia memang pacarnya Kak Kenzo Pak, kalau kalian tidak percaya kalian bisa bertanya kepada Kak Kenzonya langsung." "Halah sudahlah! Kalian pergi saja, kalian ini memang gadis halu! Jangan bermimpi akan menjadi pasangan dari Tuan muda kami yang tampan serta kaya raya ini! Apalagi dengan gadis pincang ini! Kau hanya akan menjadi benalu saja di kehidupannya," hardik salah satu bodyguard itu. Hati Kiara terasa sangat pedih. Bahkan dia sangat ingin menangis sekarang. Tetapi, Kiara menyampingkan semua perasaannya itu. Dia berusaha menerobos masuk ke dalam ruangan Kenzo. Tetapi sepertinya para bodyguard itu sangatlah gesit, mereka langsung menghadangi Kiara. Kiara tampak sangat kehilangan keseimbangannya kala para bodyguard itu menghadangnya. Hingga akhirnya Kiara pun jatuh tersungkur di lantai. "Kiara!" pekik Dera seraya membantu Kiara untuk berdiri kembali. Kiara hanya diam. Dia berusaha berdiri dan menerobos masuk ruangan itu. Tetapi hasilnya tetap nihil. "Sudahlah Kia, kita pergi saja dari sini," bujuk Dera. Kedua bodyguard itu sontak tersenyum sinis. "Memang sudah seharusnya kalian pergi dari sini sejak awal!" Kiara mengangguk samar. Kiara dan Dera segera pergi dari hadapan para bodyguard itu. Kini Dera dan Kiara telah berada di lobby lantai satu rumah sakit itu. "Gue mau pulang aja Der," ujar Kiara lesu. Dera menatap iba ke arah Kiara, dia pun menghela napasnya berat. "Iya Kia, lebih baik lo pulang. Tenangin diri lo dulu ya, nanti kalau ada informasi tentang Kak Kenzo gue pasti ngabarin lo kok." Kiara mengangguk samar. Dia berusaha mengulas satu senyuman tipis untuk Dera. "Gue balik dulu ya Der." "Iya, hati-hati di jalan ya. Supir lo ada di parkiran kan? Mau gue anter ke parkiran?" tawar Dera. Kiara menggeleng singkat. Dia langsung beranjak meninggalkan Dera di lobby itu menuju ke arah parkiran. Suasana jalanan sore hari ini cukup padat. Hal ini membuat mobil yang Kiara tumpangi terjebak macet. Suara klakson kendaraan saling berbunyi nyaring, tetapi tampaknya hal itu tidak mengganggu lamunan Kiara. Ditambah lagi dengan rintik-rintik hujan yang turun membasahi bumi, seakan mendukung ke gelisahan dan ke khwatiran Kiara. Sepeninggalnya Kiara dari rumah sakit tadi, pikiran Kiara tidak ada hentinya berkelana kesana kemari mencari-cari jawaban dari banyaknya pertanyaan di benaknya tentang Kenzo. "Kira-kira Kenzo sakit apa ya? Apakah sangat parah? Kok dia gak pernah cerita ya ke gue tentang penyakitnya," gumam Kiara seraya menatap ke arah luar jendela mobil. "Sebenarnya apa teka-teki kehidupan Kenzo yang sebenarnya, mengapa sekarang terlihat sangat rumit? Oh ya Tuhan, semoga tidak terjadi hal buruk kepada Kenzo. jagalah dia seperti Kau menjagaku," batin Kiara. Senja sore mulai menampakkan dirinya. Keadaan lalu lintas pun telah kembali berjalan normal. Kemacetan pun telah usai. Mobil sedan hitam Kiara mulai melaju cepat ke arah rumah Kiara. ***** Dua minggu kemudian, di sebuah kontrakan kecil. Lebih tepatnya di kontrakan yang Kenzo tinggali. Suasana siang hari terasa sangat sepi, Kenzo yang baru saja mengistirahatkan tubuhnya di kasur empuknya itu pun tiba-tiba terkejut kala suara ketukan pintu kamarnya yang begitu keras. Iya benar. Kenzo telah keluar dari rumah sakit sejak satu minggu yang lalu. Kini dia telah kembali ke kamarnya. Tok! Tok! Tok! Suara ketukan pintu itu semakin mengeras. Hal itu membuat Kenzo mengeram kesal. "Ini siapa sih yang datang ke sini di siang bolong begini!" Tok! Tok! Tok! Pintu itu kembali di ketuk keras. Dengan langkah yang sedikit menggebu, Kenzo membuka pintu kamarnya. Ceklek! Pintu kamar Kenzo terbuka lebar. Menampilkan sosok kedua bodyguard utusan sang Kakek. "Mau apa kalian kemari?" tanya Kenzo ketus. "Tuan besar memerintah kami untuk membawa Tuan muda ke rumah. Tuan besar ingin bertemu dengan Tuan muda," balas Bodyguard itu. Kenzo menaikkan satu alisnya. "Untuk apa menemui saya?" "Kami pun tidak mengetahuinya Tuan muda. Alangkah lebih baiknya Anda segera menemui Tuan besar sekarang," Kenzo tertawa hambar. Dia pun turut berdecih. "Cih! untuk apa saya menemuinya. Dia saja tidak datang kemarin kala saya terbaring di rumah sakit." "Jika Tuan muda masih bersikeras tidak ingin ikut. Maka terpaksa kami harus membawa paksa Tuan muda ke hadapan Tuan besar," "Terserah, saya tetap tidak mau," Kenzo hendak memasuki kamarnya kembali, tetapi belum ada dua langkah pandangannya pun telah menggelap. "Sial!" batin Kenzo lalu jatuh pingsan. Tubuh Kenzo seketika tumbang tak berdaya karena bius yang di berikan para bodyguard itu. Sebenarnya para bodyguard itu ingin membawa paksa Kenzo dalam keadaan sadar. Kenzo segera di bawa oleh para bodyguard itu ke rumah sang Kakek. Setibanya di kediaman Xaviero, Kenzo di dudukkan di sebuah kursi kayu ukiran yang terletak di ruangan kerja Brama. Perlahan Kenzo mulai sadarkan diri, dia tampak memijit pangkal hidungnya keras. Mungkin itu efek dari obat bius yang tadi dia terima. Setelah cukup mengumpulkan semua kesadarannya, tiba-tiba derap suara langkah kaki mulai menggema di seluruh penjuru ruangan itu. Dengan reflek, Kenzo pun mencari arah datangnya derap kaki itu. "Akhirnya kamu datang juga Cucu kesayanganku,"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD