“Bu Melisa tambah cantik ya kalau lagi marah,” ujar Keanu. Ia semakin menyimpan kekaguman dalam hatinya.
Tapi ucapannya tidak digubris dengan baik oleh Alfath. Pria itu masih merasa kesal kepada Melisa karena berbicara sedikit kasar kepada Najihan. Semakin bertambah kesal ketika wanita itu terus menimpali ucapannya. Jika Melisa bukan seorang wanita, maka ingin rasanya Alfath mematahkan lehernya yang jenjang.
Ketika mengajar tadi, Melisa tampak mencoba untuk menghindarinya. Sepertinya guru muda itu kehilangan minat untuk mengajarnya. Seharusnya Alfath merasa senang, tapi entah mengapa ia justru merasa kesal terhadap tingkah Melisa.
“Iya betul! Cantik banget sih emang! Cocok sama lo yang ganteng!” Fajri tidak memuji ketampanan Keanu dengan ikhlas. Ia melakukan itu semata-mata hanya untuk membuat Keanu bertambah semangat untuk mendekati Melisa. Semakin dekat antara Keanu dan Melisa, maka akan semakin mudah jalannya untuk mendapatkan nilai bagus. Setidaknya Fajri dapat memperbaiki nilai meski hanya satu mata pelajaran.
“Cantik apanya! Masih baru juga di sekolah ini tapi udah sombong!” geram Alfath.
Sejak tadi Alfath merasa muak akan pujian-pujian yang terus dilontarkan Keanu dan Fajri mengenai Melisa. Tidakkah mereka menyadari betapa menyebalkannya Melisa tadi?
“Dih! Lo tuh buta apa gimana? Jelas-jelas Bu Melisa cantik banget,” seru Keanu.
“Masih lebih cantik Jihan.”
“Ya memang menurut lo itu, karena Jihan cewek lo. Beda lagi sama gue, bagi gue Bu Melisa cantik pake banget!”
Alfath memilih mengalah dengan tidak membalas perkataan Keanu. Bagaimana pun Keanu akan tetap berada di pihak Melisa dan dirinya akan tetap berada di pihak Najihan. Jadi perdebatan mereka tidak akan menemui titik akhir.
Melisa memang cantik, tapi bagi Alfath kekasihnya lebih cantik. Mungkin dalam hal bentuk tubuh Melisa unggul. Pantas saja sebenarnya, karena Melisa berusia lebih tua dari Najihan. Tapi apa pun dan bagaimanapun, Najihan tetap lebih unggul bagi Alfath.
“Lo tadi kenapa ngomong gak sopan sama Bu Melisa?” Fajri bertanya kepada Alfath.
Sebuah jawaban langsung terdengar. “Lo gak denger dia ngomong apa sama Jihan? Jihan sampai langsung tegang gitu, tadi aja Jihan bilang kalau dia takut pas Bu Melisa ngomong gitu!”
“Perasaan Bu Melisa bicaranya biasa aja, Jihan aja yang berlebihan. Dan lo juga sama berlebihan. Kenapa pake acara ngedebat Bu Melisa coba! Segala dibanding-bandingin sama Bu Ntut. Disuruh pindah ke pelosok aja baru diem!” ejek Keanu di akhir kalimatnya.
Fajri mengangguk setuju untuk menanggapi, ia menepuk pelan bahu Alfath seraya berkata, “Kalau lo jadi pindah ke pelosok, gue sama Keanu gak ikut-ikutan ya!”
Tangan Fajri ditepis dengan kasar, ia merasa semakin kesal pada Melisa karena sekarang ia menjadi olok-olokan kedua sahabatnya. Ia harus memberikan sedikit pelajaran pada calon istrinya itu di sekolah. Hanya untuk membayarkan rasa malunya.
Sekarang, ketiganya berada di pinggir lapangan. Mereka baru saja selesai berolahraga. Bel pulang sudah berbunyi sejak satu jam yang lalu, tapi mereka memutuskan untuk menghabiskan waktu lebih lama di sekolah. Tubuhnya ketiga dibalut kaus tanpa lengan yang membuat otot-otot tangan terlihat jelas. Jika saja masih terdapat banyak siswi di sana, maka mereka akan menjadi objek pemandangan indah yang gratis untuk dinikmati.
“Itu bukannya Bu Melisa?” tunjuk Fajri pada raga yang sedang berlari tergopoh-gopoh, tampak seperti seseorang yang sedang ketakutan. Terlihat Melisa juga menolehkan kepalanya berkali-kali ke belakang.
Ketiganya langsung berdiri setelah merasa ada yang janggal dari perilaku Melisa. Mereka melihat ke belakang Melisa tapi tidak mendapati apa-apa. Jika seperti itu maka apa yang sebenarnya ditakutkan oleh guru tersebut?
Meski otaknya menolak, Alfath mengikuti kata hatinya untuk bergerak mendekati calon istrinya yang tengah berlari. Dengan sengaja ia memosisikan dirinya untuk berjalan berlawanan arah dengan Melisa dan membuat Melisa menabrak tubuhnya. Kedua tangan Alfath secara refleks menahan pinggang Melisa ketika wanita itu hendak terhuyung karena benturan yang terjadi di antara mereka.
Melisa mendongak kaget ke arah Alfath karena memang tubuhnya lebih pendek daripada Alfath meski usianya lebih tua. Menatap langsung Melisa dalam jarak sedekat ini membuat Alfath tahu jika wanita itu sedang ketakutan luar biasa. Sebelum bertanya, Alfath kembali melihat ke belakang tubuh Melisa. Tapi ia benar-benar tidak melihat apa-apa.
Mungkinkah Melisa melihat hantu?
Pemikirannya membuat Alfath merinding, bagaimana jika sekolah ini benar-benar berhantu? Tapi suatu kejadian yang tiba-tiba saja terjadi membuat tubuhnya sejuta kali lebih merinding. Melisa tiba-tiba memeluknya seraya menangis kuat.
Alfath mematung dalam keadaan masih memegangi pinggang wanita yang kini membuat bagian dadanya basah oleh air mata. Meski ia tidak mencintai Melisa, tapi tetap saja jantungnya berpacu membuat Alfath dapat merasakan laju darahnya yang berdesir.
Masih dalam kekagetannya, Alfath menoleh ke arah Keanu dan Fajri yang juga mematung melihat kejadian ini. Ia mengangkat alisnya memberikan kode kepada kedua sahabatnya agar memberikan saran mengenai apa yang harus ia lakukan. Namun keduanya mengangkat bahu pertanda bahwa mereka pun tidak memiliki ide sama sekali.
Keduanya memilih pergi untuk mengecek apakah ada sesuatu yang berbahaya hingga bisa membuat Melisa ketakutan. Alfath mengulum bibirnya ke dalam ketika melihat Keanu dan Fajri menjauhi punggung Melisa.
Sekarang Alfath merasa bingung, tangannya tidak membalas pelukan Melisa tapi juga tidak menolaknya. Melisa masih tersedu-sedu di dadanya, kedua tangannya melilit tubuh Alfath dengan erat. Alfath berharap agar Keanu dan Fajri segera kembali. Ia tidak bisa menghadapi Melisa sendirian dalam keadaan berpelukan seperti ini.
“Bu?” panggil Alfath dengan ragu. Untuk sekarang ia harus mengesampingkan rasa kesalnya terhadap Melisa karena wanita itu tidak tampak baik-baik saja. Tidak ada sahutan sama sekali, Melisa hanya terus menangis. Alfath yakin jika sesuatu yang buruk pasti telah terjadi. Jika tidak, maka Melisa yang tadi dengan berani berdebat dengannya tak akan mau memeluknya seperti ini.
Dengan perlahan Alfath mencoba untuk melepaskan pelukan Melisa, namun wanita itu terus mempereratnya. Beruntung tidak ada para pelajar atau guru di sini, jika itu terjadi maka mereka pasti akan salah paham. Jika kesalahpahaman terjadi maka berita keduanya akan mencuat, yang Alfath khawatirkan adalah bagaimana jika Najihan terpengaruh oleh berita semacam itu.
“Bu Melisa kenapa?” tanya Alfath lagi. Mencoba untuk mengorek informasi dari Melisa.
Melisa menggeleng kuat, ia mencengkeram baju yang Alfath kenakan hingga kusut. Yang sekarang ia butuhkan adalah sebuah ketenangan.
Alfath merasa jika pelukan Melisa mulai mengendur, ketika ia berpikir bahwa Melisa sudah mulai tenang, dirinya justru dikagetkan dengan tubuh Melisa yang hendak ambruk ke lantai. Beruntung tangannya dengan sigap meraih tubuh Melisa sebelum sampai ke lantai.