Sayup-sayup suara tawa maskulin terdengar. Melisa membuka dua kelopak mata miliknya dengan perlahan. Ia belum dapat mengingat apa-apa, apalagi ketika disuguhi langit-langit ruangan yang sangat asing di penglihatannya. Langit-langit yang kini dipandanginya berlatar putih dengan gambar laba-laba di bagian tengahnya. Dan di bagian tengah gambar laba-laba terdapat lampu. Jelas sekali jika di rumahnya tidak ada ruangan yang memiliki langit-langit seperti ini. Dari gambarnya, ruangan ini cocok dimiliki oleh seorang pria. Tiba-tiba saja sebuah pemikiran membuat tubuh Melisa menegang, apalagi ketika suara tawa dari sudut ruangan kembali terdengar. Bisa dipastikan itu adalah suara tawa seorang pria. Tubuhnya bangkit menyebabkan atensi orang lain yang berada di sana teralih padanya. Dan Melisa

