Pintu kamarnya tertutup rapat, tapi angin berembus kencang di balik tirai yang menutupi jendela. Melisa sengaja melakukannya, membiarkan jendela terbuka tapi menutup tirainya. Ia ingin menikmati sejuknya angin malam namun tidak berikut gelapnya. Lamunannya tidak dapat beralih dari kejadian sore tadi, ia tidak menyangka bahwa dirinya akan mengalami hal tersebut bersama tiga murid prianya. Apalagi ketika mengingat bagaimana ia memeluk Alfath, membuatnya harus memukul pipinya berkali-kali yang memanas. Berlari sambil menangis histeris bukan sesuatu yang baru dalam diri Melisa, itu sudah sering terjadi tapi Melisa tidak menyangka jika hal seperti itu akan terjadi di tempatnya mengajar. Yang Melisa takutkan sekarang adalah bagaimana jika hal serupa terjadi lagi di kemudian hari? Melisa jad

