Perkenalan

1749 Words
Nenti tersenyum penuh keramahan kepada para pelajarnya. Ia tersenyum tulus meski siapa saja yang melihatnya akan menilai itu sebagai senyum penuh kepalsuan. Sudah menjadi konsekuensi dari pekerjaannya, sejak ia menjabat sebagai guru Bidang Konseling maka imej galak langsung melekat pada dirinya. Padahal Nenti hanya berusaha menjalankan tanggung jawabnya dengan sebaik mungkin. Lagipula, jika ia menghukum seorang pelajar karena berbuat kesalahan maka itu hanya semata-mata untuk kebaikan. Jika para pelajar tidak dihukum atas kesalahan yang mereka perbuat, maka besar kemungkinan ke depannya mereka akan melakukan kesalahan yang sama bahkan melakukan kesalahan yang lebih besar. Berbeda ketika ada sanksi yang berlaku, mereka akan cenderung untuk berpikir berkali-kali untuk melakukan kesalahan. “Selamat pagi semua,” sapanya kepada seluruh siswa dan siswi di kelas. Percayalah, jika Nenti memasuki sebuah kelas maka kelas itu akan seketika menjadi senyap meski sebelumnya ramai. Tidak ada seorang pun yang berani mengeluarkan suara jika Nenti tidak bertanya. Bahkan mereka takut untuk sekedar membenarkan posisi duduk mereka. Singkat kata, mereka layaknya patung jika dihadapkan dengan Nenti. “Pagi, Bu.” Ragu-ragu semua orang menjawab. Di samping Nenti terdapat Melisa yang mencoba untuk meredam kegelisahan. Ia mencoba untuk tidak menunduk meski dia ingin. Wajahnya terangkat guna menatap satu persatu wajah-wajah belia yang akan menjadi muridnya. “Apa kalian tahu siapa yang bersama saya kali ini?” Nenti menatap wajah-wajah tegang para muridnya. Dalam hati ia menahan tawa, apakah dirinya sangat menakutkan? Padahal dirinya bertanya dengan santai dan tidak datang ke kelas ini untuk menghukum siapa pun. “Tidak Bu.” Nenti menoleh pada Melisa dan mengusap bahunya pelan. “Silahkan Bu untuk memperkenalkan diri.” Melisa mengangguk dan tersenyum. Ia menarik dan mengeluarkan napasnya dengan perlahan. Kembali menatap wajah-wajah muridnya sebelum berkata, “Selamat pagi semua, perkenalkan nama saya Melisa Tiara Putri. Kalian bisa memanggil saya dengan nama pertama, saya akan mengajar mata pelajaran bahasa Inggris menggantikan Ibu Tuti yang sebelumnya mengajar.” Melisa berhenti berkata, ia maju selangkah dengan tangan yang saling bertautan mencoba untuk menahan rasa gugup. “Ini adalah pengalaman pertama saya mengajar, jadi saya mohon kerja samanya dari kalian semua. Kita akan sama-sama belajar, saya belajar untuk menyampaikan ilmu yang saya miliki dan kalian belajar untuk memahami apa yang saya sampaikan. Jika kalian merasa kurang cocok dengan cara mengajar saya, maka kalian boleh menegur dan memberi saran. Saya akan sangat terbuka.” Melisa tersenyum dan kembali berucap. “Saya kira cukup. Any question?” Hening, tidak ada yang menyahut. Mereka terlalu takut untuk mengeluarkan suara mengingat keberadaan Nenti di sini. Menyadari hal tersebut, Nenti memutuskan untuk pergi. “Baiklah karena tugas saya di sini sudah selesai, saya pamit undur diri. Selamat belajar,” pamit Nenti sebelum pergi. Setelah kepergian Nenti kelas tiba-tiba saja menjadi ramai. Banyak yang bertanya kepada Melisa namun bukan pertanyaan yang layak untuk dijawab. Pertanyaan-pertanyaan tersebut dilontarkan oleh para murid laki-laki. “Ibu udah punya suami belum?” “Ibu kok masih muda?” “Cantik banget ibu, rahasianya apa?” “Udah ada pasangan, Bu?” Dan masih banyak pertanyaan lainnya. Melisa bahkan meringis sendiri mendengarnya. “Harap tenang semuanya! Baik akan saya jawab sedikit ya, usia saya 23 tahun dan saya belum menikah.” “Kalau pacar punya, Bu?” tanya seorang murid tampan, membuat yang lainnya bersorak menyahuti. Kali ini Melisa merasa benar-benar tidak perlu menjawab. Ia justru langsung duduk di kursi dan memilih untuk membuka buku absensi. Sebelum mengajar, ia perlu tahu nama-nama muridnya. “Sebelum kita mulai, saya ingin tahu nama kalian karena kalian pun sudah tahu nama saya. Tapi saya tidak ingin mengabsen. Saya ingin kalian memperkenalkan diri kalian sendiri. Bagi yang menggunakan bahasa Inggris akan saya beri nilai tambah nantinya.” Murid yang bertanya terakhir tadi mengangkat tangannya dengan semangat. Wajah tampannya diliputi senyuman. “Saya Bu!”  Melisa tersenyum dan mengangguk. “Silahkan.” “Hallo, good morning everyone. My name is Keanu. I'm from Jakarta Selatan. And—“ Keanu terdiam. Ia merasa bingung harus mengatakan apa lagi. “Hi, Keanu. What's your hobby?” Menangkap kebingungan di wajah muridnya, Melisa pun segera bertanya. “My hobby is make a relationship with beautiful girl.” Jawaban Keanu mengundang tawa semuanya termasuk Melisa. Dari perkenalan saja Melisa tahu jika muridnya itu sedikit konyol. “Baiklah cukup, selanjutnya silahkan.” Jari telunjuk Melisa menunjuk asal, dan orang yang ditunjuknya pun langsung berdiri untuk memperkenalkan diri. “Nama gue Alfath Anderson. Udah cukupkan?” serunya dengan malas dan langsung duduk kembali. Tidak peduli dengan Melisa yang kaget akan tingkah tidak sopannya. 0o0o0 Alfath merebahkan dirinya di perpustakaan, begitu juga dengan dua sahabatnya. Perpustakaan adalah tempat beristirahat paling nyaman di sekolah. Di sini tidak ada kursi, jika ingin membaca buku maka kita akan duduk di atas karpet. Terdapat banyak meja kecil memanjang yang tingginya hanya sekitar setengah meter. Jika biasanya perpustakaan diisi oleh para pelajar dengan tingkat kepintaran yang tinggi, maka berbeda dengan perpustakaan di SMA Bima Karya. Di sini perpustakaan lebih sering dikunjungi oleh siswa dan siswi pemalas dan nakal. Apalagi ketika waktu upacara tiba, perpustakaan berukuran besar ini bisa penuh dan disesaki banyak nyawa. “Bener kan gue? Ternyata guru baru itu cantik sama masih muda. Kalau model begitu sih gue siap beraksi.” Keanu mencairkan keheningan di antara mereka. Alfath yang semula tengah memejamkan mata kini menatap sahabatnya dengan alis terangkat. Ia tidak habis pikir jika Keanu benar-benar berani mendekati guru baru tersebut dalam artian bukan sebagai siswa melainkan sebagai seorang laki-laki. “Lo gak salah cari korban, Brother?” Bukan suatu hal yang aneh jika Keanu mengincar perempuan cantik. Tapi menjadi aneh kedengarannya jika perempuan tersebut berstatus sebagai guru. Bukankah semua itu terdengar rancu? Mungkin jika posisinya ditukar maka akan lebih masuk akal. Semisal sang guru berjenis kelamin laki-laki dan yang menjadi perempuan adalah muridnya, kemudian terlibat cinta lokasi. Keanu menelungkup seraya bermain ponsel, membalas pesan-pesan dari banyak siswi di sekolah. Kontak ponsel Keanu itu tak ubah layaknya asrama putri. Hampir seluruh isinya adalah perempuan. “Korban? Lo tuh kalau ngomong kesannya gue kayak penjahat tau gak!” “Lah emang begitu kenyataannya, kan?” timpal Fajri dengan menjengkelkan. “Yayaya, terserah deh kalian bilangnya apa! Intinya gue bukan penjahat. Selagi belum menikah, kita sebagai cowok wajar-wajar aja lagi mencari kandidat istri yang terbaik!” Alfath berseru, “Tapi cari dengan cara yang bener! Kalau dengan cara deketin semua cewek sih itu buaya namanya! Sekalian aja dari yang muda sampai nenek-nenek lo deketin. Apalagi nenek-nenek, mereka pasti udah punya pengalaman dan ilmu buat jadi istri yang baik.” Decakan kasar terdengar, Keanu merasa kesal karena selalu dipojokkan oleh Alfath dan Fajri. “Kalian berdua mending jujur kalau iri sama gue. Alfath, lo iri karena gak berani selingkuh dari Najihan 'kan? Dan lo, Fajri, lo iri karena gak laku 'kan? Ayok jujur aja kalian berdua!” Alfath sempat mendengus kasar sebelum melempar sebuah buku yang sebelumnya ia jadikan bantal ke arah Keanu. Tanpa belas kasihan Alfath melempar lagi buku yang ia temukan di atas meja yang tak jauh dari tempatnya berbaring. “Gue itu setia! Cukup satu aja!” tekan Alfath. Alfath tidak berbohong, ia memang sosok yang setia. Sudah hampir dua tahun lamanya ia menjalin kasih dengan seorang perempuan yang menjadi teman sekelasnya. Perempuan itu bernama Najihan Aulisya, gadis cantik, periang, dan pintar di kelasnya. Najihan menempati peringkat pertama di kelas. Sangat berbanding terbalik dengan Alfath. Mempunyai kekasih yang pintar tentu saja membawa keberuntungan tersendiri bagi Alfath. Setiap ulangan seringkali ia mendapat kemudahan berkat kepintaran otak Najihan. Bukan maksud hati untuk memanfaatkan Najihan, tapi gadis itu sendiri yang selalu dengan sukarela menawarkan jasanya. “Gue juga bukannya gak laku, tapi belum nemu aja. Asal lo tahu ya, meski muka gue gak seganteng lo, tapi masih ada yang demen kok!” ujar Fajri dengan jengkel. Terkadang ia kesal kenapa Keanu berwajah tampan, sahabatnya itu seringkali sombong dan mengejeknya yang berwajah standar. “Yang satu takut sama ceweknya, lah yang satu lagi gak nemu cewek. Padahal setiap hari juga ketemu banyak cewek di sini!” “Ya kalau ketemu sih banyak, tapi kalau nemu yang cocok dan pas di hati lo pikir gampang? Hati gue mah gak murahan, emangnya lo yang sekali liat bisa langsung suka!” sindir Fajri. “Iya-iya,” balas Keanu dengan malas. Lebih baik baginya membalas pesan-pesan di ponsel daripada terus berdebat. Hening sejenak, sebelum kemudian kedatangan Nenti ke perpustakaan membuat semua yang ada di sana bangkit dengan tegang. Bahkan Alfath, siswa dengan pamornya sebagai murid paling nakal itu juga takut jika dihadapkan dengan Nenti. Apalagi ketika Nenti membawa penggaris kayu seperti saat ini. Suasana semakin terasa mencekam ketika Nenti menggunakan penggaris yang ia bawa untuk memukul meja. Bahkan sangat mengherankan ketika melihat penggaris itu tak patah padahal Nenti memukul meja dengan sangat keras. “SEDANG APA KALIAN DI SINI? APA SUARA BEL MASUK GAK KEDENGARAN?” Semua terdiam karena tidak berani menjawab. Berbagai cara dilakukan untuk menyembunyikan rasa takut dan gugup. Alfath yang mencabuti bulu kakinya sendiri, Keanu yang memijat ponsel yang ia pegang, dan Fajri yang merapalkan segala macam doa yang ia hafal, termasuk doa masuk ke dalam toilet. Biarlah tidak ada sangkut pautnya, Fajri cukup tertolong karena merasa lebih tenang berkat doa itu. “JAWAB! Apa kalian semua tuli dan bisu?” Alfath menelan ludahnya kasar, ia kini menunduk seraya menghitung jumlah bulu kaki yang berhasil ia cabut. Tak jauh darinya ada Keanu yang menatap siswa dan siswi lain yang sedang merasa tegang. Tak satu pun dari mereka bernapas dengan benar. Memang ketika mereka berhadapan dengan Nenti maka mereka membutuhkan pasokan udara yang lebih banyak, juga mental yang lebih kuat. Dengan ragu-ragu ia memberanikan diri untuk menjawab, “Maaf Bu, gak kedengaran suara bell.” Nenti menatap Keanu dengan garang, namun kemudian ekspresinya terlihat lebih santai. “Keanu, kamu boleh ke kelas.” Keanu merasa tak percaya, namun tentu saja ia langsung menurut karena takut jika Nenti berubah pikiran. Dengan langkah cepat ia meninggalkan perpustakaan dengan perasaan lega. Setelah kepergian Keanu, Nenti kembali menatap murid-muridnya. Ia menghela napas kasar seraya berkeliling ruangan. Setiap murid yang ia lewati pasti langsung menunduk lebih dalam. “Saya hanya butuh pengakuan bersalah dari kalian ketika kalian bersalah. Atau kalian boleh mengatakan yang sebenarnya ketika saya salah sangka. Bukan hanya diam seperti ini. Jika kalian diam saja maka kalian tidak bisa melakukan pembelaan untuk diri kalian sendiri,” ujar Nenti dengan kakinya yang masih berkeliling. Semua muridnya semakin menunduk dan keadaan sangat hening. “Saya tidak akan menghukum kalian kali ini, kalian boleh ke kelas,” tukas Nenti seraya pergi meninggalkan perpustakaan membuat semua orang yang ada di dalamnya bisa bernapas dengan lega.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD