Ini adalah hari pertama bagi seorang wanita cantik bernama Melisa Tiara Putri untuk mengajar. Ia telah menyelesaikan pendidikan dan baru mendapat pekerjaan sebagai pengajar di salah satu sekolah kenamaan di Jakarta. SMA Bima Karya, sekolah swasta terfavorit ke-empat di Jakarta. Padahal biaya untuk masuk ke sana sangat mahal. Namun banyak orang berlomba-lomba untuk dapat menjadi bagian dari sekolah tersebut. Entah karena ingin berprestasi, atau hanya karena gengsi.
Melisa berjalan dengan kaki gemetar memasuki area sekolah, bagaimana pun ini adalah hari pertamanya untuk mengajar. Setiap hal yang dilakukan untuk pertama kalinya selalu menciptakan rasa gugup dan khawatir. Namun begitu, Melisa tetap berusaha tenang dan tersenyum manis. Ia tidak boleh sampai tidak profesional hanya karena rasa gugup dan takutnya.
Langkah kakinya semakin cepat ketika melewati sekumpulan pelajar perempuan yang sedang mengobrol. Melisa yakin tidak lama lagi maka dirinya akan menjadi topik pembicaraan mereka. Mungkin beberapa dari mereka akan berkata, 'Wah! Ada guru baru!’ atau 'Itu guru baru bukan sih?’ atau mungkin 'Siapa itu cantik banget kayak model internasional!’.
Baiklah, abaikan kalimat terakhir. Karena itu sebenarnya adalah pujian Melisa terhadap dirinya sendiri.
Napas lega langsung keluar dari indera penciuman Melisa ketika ia berhasil sampai di kantor guru. Dengan senyum hangatnya ia berjalan memasuki kantor dengan langkah yang sangat teratur. “Selamat pagi semua,” sapanya.
Beberapa guru yang berada di sana membalas senyuman Melisa tak kalah hangat. Bahkan beberapa di antara mereka berdiri untuk bersalaman dengan sang guru baru.
“Selamat pagi, Bu Melisa. Apa kabar?” ucap Nenti Marteen.
Nenti adalah seorang guru Bidang Konseling, ia berusia sekitar 30 tahun. Sebelum melamar pekerjaan di sekolahan ini, Melisa dan Nenti sudah saling mengenal karena mereka pernah bertemu di sebuah supermarket dan saling mengobrol mengenai pendidikan. Dengan adanya Nenti di sini Melisa bersyukur, setidaknya ia memiliki seseorang yang ia kenal.
“Kabar baik, Bu.”
“Hari ini jadwal pertama buat Bu Melisa mengajar, gimana siap?” tanya Nenti.
Melisa sempat menarik napas sebelum kemudian mengangguk. Lagipula ia sudah datang ke sini. Jadi apa masih boleh untuk tidak siap? Rasanya tidak boleh.
“Saya merasa sangat siap meski sebenarnya sedikit merasa grogi,” aku Melisa. Hatinya tidak bisa tenang. Tapi ia mencoba untuk meyakinkan diri bahwa semuanya akan berjalan baik-baik saja dan lancar.
Suara seorang pria menyahut. Itu adalah Bandi Nasrudin, guru mata pelajaran Sejarah Indonesia. “Grogi itu wajar Bu, namanya juga pertama kali. Nanti kalau udah tiga atau tujuh hari pasti biasa kok.”
Melisa tersenyum dan mengangguk. Benar apa yang dikatakan oleh Bandi, grogi yang ia rasakan hanya sensasi sesaat. Setelah beberapa hari ia akan mulai terbiasa dan tidak lagi merasa grogi, gugup, atau apapun sejenisnya. Melisa mendudukkan dirinya di kursi yang kini sudah tertera namanya. Kursi itu dulunya ditempati oleh guru yang kini tidak mengajar lagi di sini karena mendapat tugas untuk menjadi pengajar di salah satu desa terpencil. Melisa juga ingin bisa berkesempatan untuk mengajar di desa terpencil, ia ingin membantu rakyat yang terkadang masih tidak terjamah oleh pendidikan.
Melisa akan mengajar mata pelajaran Bahasa Inggris. Sebenarnya berbahasa asing bukan keahliannya, bukan potensinya, bukan pula kegemarannya. Tapi ini adalah jalan yang dipilihkan oleh kedua orangtuanya. Dan Melisa tidak bisa menolak. Sejak kecil hidupnya sudah dikendalikan oleh ayah dan ibunya. Apa yang diinginkan oleh mereka maka itulah yang terjadi.
Melisa tidak pernah lagi berani menolak apapun yang diinginkan oleh kedua orangtuanya. Karena jika ia melakukan hal itu maka mereka akan memukuli Melisa. Pernah saat memasuki sekolah menengah atas dulu, Melisa nekat mengambil jurusan IPS padahal orangtuanya ingin ia mengambil jurusan IPA. Alhasil ayahnya memukuli tubuh Melisa hingga memar di banyak bagian.
Dan pada suatu ketika yang telah lalu, Melisa menolak untuk mengikuti sebuah perlombaan bahasa Inggris, saat itu ibu Melisa yang mengambil bagian untuk menghukumnya. Melisa dikurung semalam penuh di dalam kamar mandi. Semuanya terekam jelas dalam ingatan Melisa hingga ia merasa takut akan merasakannya lagi.
Lebih baik ia mengamankan diri dengan tidak lagi menolak ataupun menyanggah perkataan orangtuanya. Karena bagi mereka anak yang pembangkang adalah manusia terburuk di dunia.
“Bu Melisa, yuk saya antar ke kelas pertama hari ini. Biar saya yang memperkenalkan Ibu untuk hari ini.”
Nenti berucap dengan senyuman hangat. Jika melihat senyumannya maka Melisa tidak percaya jika Nenti adalah guru yang paling ditakuti oleh warga sekolah. Mungkin sikap tegas yang melekat pada diri Nenti diartikan sebagai 'galak' oleh banyak orang.
Melisa bangkit, ia benar-benar telah menyiapkan mentalnya. “Baik, mari.”
0o0o0o0
Tiga orang pemuda dengan baju seragam yang tak rapi berjajar di pintu masuk kantin. Mereka tidak bermaksud untuk menghalangi jalan, hanya saja mereka sedang mengobrol. Satu di antara pemuda tersebut adalah yang paling nakal di sekolah. Namanya Alfath Anderson, salah satu siswa kelas akhir.
Sedangkan dua orang lainnya adalah teman sekelas Alfath sekaligus sahabat baiknya. Yang pertama bernama Keanu, pemuda tampan yang senang bergonta-ganti pasangan. Setidaknya ia pernah memacari lebih dari dua puluh perempuan sejak memasuki sekolah ini. Terkadang dirinya sendiri heran kenapa hubungannya dengan para perempuan tidak pernah bertahan lama. Tiga bulan adalah hubungan paling lama yang pernah ia jalani.
Dan yang ke-dua adalah Fajri, ia tidak begitu tampan. Namun cukup digemari juga oleh para siswi meski tidak seperti Alfath dan Keanu. Harus Fajri akui jika terkadang ia merasa minder ketika harus berjalan bersama kedua sahabatnya. Tapi perasaan itu langsung ditepisnya ketika ia mengingat bahwa 'tampan itu relatif'.
“Gue denger ada guru baru, masih muda, cantik lagi!” ujar Keanu.
Alfath dan Fajri tidak merasa heran jika Keanu sudah mendengar berita ini sebelum mereka. Karena jika urusan perempuan cantik maka Keanu adalah orang pertama yang dengan semangat akan mencari tahu.
“Guru apa?”
Keanu nampak berpikir sejenak untuk menjawab pertanyaan Alfath, ia belum mencari tahu lebih lanjut soal itu. “Gak tahu sih, tapi kan Bu Ntut baru keluar jadi bisa aja guru yang masuk itu buat gantiin dia.”
“Berarti bahasa Inggris dong?” tanya Alfath dengan tidak suka. Padahal selama sebulan ke belakang ia merasa senang dengan posisi kosong guru mata pelajaran Bahasa Inggris. Otaknya tidak cukup mumpuni untuk mempelajari bahasa luar negeri tersebut. Jangankan bahasa asing, bahasa Indonesia sendiri saja terkadang tidak mereka gunakan dengan cara yang baik dan benar, apalagi bahasa asing.
“Padahal gue udah seneng kalau gak ada mata pelajaran bahasa Inggris. Meskipun gue udah makan roti sama keju, tapi tetep aja gak bisa bahasa Inggris!” keluh Fajri.
Sama seperti Alfath ia juga tidak menyukai mata pelajaran bahasa Inggris. Baginya mata pelajaran tersebut masuk ke dalam jajaran mata pelajaran yang sulit bersama Kimia, Matematika, dan Fisika. Sungguh Fajri membenci pelajaran-pelajaran yang menuntutnya untuk berpikir keras.
“Tapi kalau gurunya cakep sih, pelajaran sesulit apapun gue jabanin!” tekan Keanu dengan yakin. Jika dibandingkan dengan Alfath dan Fajri, maka Keanu adalah yang paling pintar. Ia satu-satunya laki-laki yang masuk peringkat ke-sepuluh besar. Hebat bukan?
Alfath mendengus, ia merasa muak dengan tingkah Keanu yang merupakan seorang pemain wanita. “Lo gak lagi mikir buat jadiin itu guru baru mainan lo kan? Ingat dia itu guru, bisa-bisa lo dikeluarin dari sekolah kalau bikin guru patah hati!”
Keanu tertawa keras. Tidak pernah sekalipun dalam hidupnya mendekati seorang guru. Karena memang ia tidak pernah menemui guru yang masih berusia muda. Tapi jika guru baru yang kini gencar diberitakan oleh warga sekolah itu benar masih muda dan cantik, maka Keanu akan mulai memikirkan cara mendekati dan akibat ke depannya. “Ya liat nanti deh, bener gak masih muda plus cantik. Kalau iya nanti gue pikir ulang deketin apa enggak. Gimana cantiknya!”
“Lo tuh gak pandang bulu ya! Pokoknya mau guru baru itu muda atau tua, cantik atau enggak lo harus tetep deketin!” tukas Fajri dengan penuh penekanan.
Keanu merotasi bola matanya. “Bisa-bisa pamor gue sebagai pangeran di sekolah ini turun karena deketin tante-tante! Gak mau! Kalau gurunya udah tua lo aja yang deketin!”
Alfath hanya diam menyimak percakapan kedua sahabatnya. Menurut Alfath tidaklah penting guru baru tersebut cantik atau tidak, apakah muda atau sebaliknya. Karena itu tidak berpengaruh padanya. Secantik apa pun gurunya ia tetap tidak akan menyukai mata pelajaran bahasa Inggris.
Lagipula ia sudah mempunyai seorang kekasih yang sangat cantik, jadi kecantikan perempuan lain tidak akan memukau di matanya. Lama-lama ia merasa bosan dengan perbincangan yang tidak penting ini. “Mending kita ke perpustakaan yok! Tidur di sana daripada ngerumpi gak jelas kayak cewek aja!”
Keanu menggeleng tegas. “No! Mending sekarang kita ke kelas!”
“Tumben banget mau ke kelas,” seru Fajri mengejek. Meski Keanu terbilang pintar, tapi ia tetap suka membolos dari kelas.
“Hari ini jadwalnya bahasa Inggris, jam pertama sama ke-dua. Kalau bener guru baru itu ngajar bahasa Inggris berarti sekarang dia masuk ke kelas kita.”