bc

Akari, Dalam Bayangan Sang Mafia

book_age18+
3
FOLLOW
1K
READ
dark
age gap
forced
badboy
mafia
heir/heiress
bxg
serious
city
enimies to lovers
like
intro-logo
Blurb

~~Content Warning (21+)~~

Cerita ini ditujukan untuk pembaca dewasa. Mengandung unsur kekerasan, kedewasaan atau situasi sensitif. Pembaca diharapkan untuk membaca dengan bijak dan bertanggung jawab.

Dari balik bayangan, dia mengajariku arti kepemilikan yang tak bisa kutolak.

“Kau adalah milikku.”

Tubuh Akari membeku. Suara hujan seakan lenyap. Lalu segalanya menjadi hitam.

Kehidupan Akari Hana Putri berubah saat pertemuan tanpa sengaja menyeretnya masuk ke dalam rahasia yang seharusnya tak pernah dia lihat.

Sejak saat itu, hidupnya bukan lagi miliknya. Adrian menjadikan Akari candu terlarang yang ingin dia kuasai sepenuhnya.

Semakin Akari berusaha melawan, semakin kuat jerat yang mengikatnya. Antara cinta dan pengekangan, pesona dan bahaya, Akari harus memilih… menyerah pada api yang membakarnya atau menemukan jalan keluar sebelum segalanya hancur.

chap-preview
Free preview
Pertemuan Berdarah
UJUNG lancip sepatu hak tinggi tersangkut di celah besi penutup selokan jalan, membuat langkahnya terhuyung hampir kehilangan keseimbangan. Seperti boneka kertas yang tertiup angin, dia menjadi lepas kendali setelah keluar dari tempat gemerlapnya dunia malam. “Eh… ada yang narik kaki aku!” serunya dengan nada manja bercampur panik. Suara tawa teman-temannya menyusul dari belakang. “Lo ngapain sih, Kar?” tegur Cindy yang baru saja keluar dari gedung yang sama. “Dia udah oleng banget sumpah,” gumam Doni yang terlihat biasa saja dengan pemandangan ini. Lalu dia berjongkok, mencoba melepaskan sepatu Akari yang tersangkut. Akari masih sibuk menarik-narik kakinya. “Akh!” Akari terhuyung ke depan dan jatuh tepat di trotoar. Bibirnya cemberut, wajahnya memerah, mata setengah tertutup sambil mengelus pantatnya yang sakit. Memperlihatkan wujud sempurna seorang pemabuk cantik. Orang-orang yang lewat sempat menoleh, menikmati tontonan gratis. Cindy mendengus kesal lalu menepuk-nepuk mini dress Akari yang kotor, sambil membantunya berdiri. “Lagi-lagi lo bikin heboh orang-orang. Doni! Bantuin gue papah dia!” Doni tertawa lepas, “Udahlah Cin, biarin aja. Dia emang cantik, pantes diliatin orang.” ucap Doni sambil menahan lengan Akari. Cindy menghela napas. “Iya, iya… tapi kalo dibiarin gini, nanti ada yang nyulik beneran.” Suara gumamam kecil terdengar, bibir kecil yang berwarna merah muda terlihat mengejek keduanya, “Pas!... Le... pas!” gerutu Akari mendorong Doni. “Woy! Lo barusan aja nyungsep. Mau gue anterin pulang, apa gimana?” Cindy menegur tajam. “Hah?” Akari mengangkat wajahnya menatap Cindy. Dia berusaha berdiri tegak sendiri. “Santai! Aku bisa jalan sendiri kok… nih, liat. Hehe… bisa kan?” unjuknya dengan langkah yang masih goyah. “Idih, najis banget gue dengarnya. Mau sampai kapan sih dia ngomong sok imut gitu?” protes Cindy. Doni hanya bisa tertawa, lalu menunduk menatap ponselnya. “Udah, gua pesenin ojol aja ya. Biar lo bisa pulang dengan selamat.” Akari hanya mengangguk dan melambaikan tangannya dengan sisa tenaga, “Kalian aja yang naik, aku mau jalan kaki.” Dia berbalik tanpa memperdulikan teman-temannya. Dengan sisa kesadaran, dia berjalan meninggalkan tempat itu tanpa menoleh sedikit pun ke belakang. Berjalan tanpa arah, dengan langkah yang masih tidak sempurna. Mungkin dengan berjalan bisa mengurangi rasa mabuknya, pikirnya. Namun gadis keturunan Jepang–Indonesia itu tidak pernah tahu seberapa menyeramkannya perkotaan terhadap gadis mabuk dan sendirian sepertinya. Untuk kali ini, dia mendapat keberuntungan karena tidak ada pengganggu yang biasa berdiri di samping jalan untuk menahan langkahnya. Lampu-lampu jalan yang dilewatinya, semakin redup. Hingga bayangan yang terlihat perlahan menghilang. Lampu jalanan padam, diganti dengan cahaya rembulan yang remang. Kini hanya kegelapan dan sunyi yang menemaninya. Langkahnya terhenti. Matanya mulai beradaptasi dengan lingkungan. Akari mendongak, “Sejak kapan di Jakarta ada tempat sesunyi ini?” Langkahnya tak lagi lunglai, meski pusing masih mendera. Namun semakin jauh dia melangkah, jalan itu kian sunyi dan gelap. Mungkin ini menjadi alasan, kalau sekarang dia baik-baik saja. Terdengar suara rintihan disertai suara hantaman dari kejauhan. Akari terkejut. matanya melihat sekitar dengan takut, karena tidak ada siapa pun di sana selain dirinya. Dengan memegang erat tas kecilnya, dia bergeser ke sisi paling pinggir jalan sambil melihat ke sana kemari. Kesadaran Akari kembali setelah menyadari apa yang terjadi. “Aku tersesat,” gumamnya pelan. Dia melihat ke belakang, sudah tidak terlihat cahaya di jalan sebelumnya. Membuatnya terjebak di tengah kota yang tiba-tiba hening. “Nggak ada jalan lain, aku harus jalan terus.” “Akh—hmpptt!” Akari hampir berteriak, begitu melihat tikus tiba-tiba melewatinya dan menyeberang jalan. Tidak ada siapa pun dan bangungan yang ada di dekatnya juga jelas seperti tak berpenghuni. Membuat hawa dingin terasa lebih jelas malam ini, seakan berbisik di telinganya. Baru saja dia merasa baik-baik saja, padahal justru saat itulah segalanya mulai salah. Setiap langkah cepatnya, mencoba melewati jalan itu. Suara rintihan itu berubah menjadi jeritan, dan suara hantaman itu semakin keras. Bergema di tengah kota yang sunyi dan gelap ini. Tubuh Akari bergetar. Ingin kembali, namun dia sudah terlalu jauh berjalan. Kakinya terasa lemas karena sisa jejak alkohol masih membayangi langkahnya. Suara itu semakin dekat, membuat langkah Akari terasa berat dan lunglai. Dia terduduk, berusaha sekuat tenaga berdiri lagi, berharap bisa pulang. Hingga di persimpangan lorong sempit diapit dua bangunan tinggi, telinganya mendengar lebih jelas suara hantaman itu. Sudah tidak ada jeritan, namun menyisakkan erangan tidak berdaya. Akari mencoba menengok di balik kegelapan, yang menjadi sumber suara. Entah keberanian dari mana, namun itu akan menjadi pilihan terburuk yang akan Akari rasakan. Terlihat siluet seseorang yang sedang memukul, Akari memicingkan matanya, memastikan. Siluet itu mengarahkan pukulan berkali-kali ke bawah dengan memegang sebuah benda di tangannya. Siluet itu terus mengayunkan suatu benda, hingga Akari melihat siluet lain yang berada di bawah. Itu orang. Tangannya bergerak mencari pertolongan. Benturan itu kembali menghantam ruang sempit, berdentum, berulang, seakan menghajar juga detak jantungnya. Satu pukulan. Dua. Tiga. Suara erangan itu begitu menyakitkan dan pukulan terus menggema di lorong gelap. Mata Akari bisa melihat dengan jelas aksi dan suara yang dikeluarkannya. Nafasnya tercekat, tubuh kaku bagai patung. Hingga suara itu berhenti, di saat itulah Akari tersadar dan ingin pergi. Namun sebelum pergi, Akari kembali melihat orang itu melayangkan pukulan terakhirnya, ada percikan cairan berwarna merah yang mengenai sepatu hak Akari. Dadanya terasa dicekik udara dan membeku. Wajah merahnya mendadak pucat. Dia mundur panik dan berusaha menutup mulutnya agar tidak teriak. Siluet itu berhenti. Melepaskan benda di tangannya hingga berdecing nyaring. Dia menoleh. Tatapannya menusuk. Akari menutup matanya, dan rasa pusing mulai merayap. Di saat itulah Akari baru sadar, kalau saat ini dia sedang mabuk dan mungkin saat ini dia sedang berhalusinasi. Tapi Akari berusaha untuk berlari, meski tubuhnya kembali oleng. Karena rasa takut sebelumnya terasa nyata. Ketakutan ini nyata. Nyawanya seakan bisa putus begitu saja jika berhasil tertangkap. Sepatu hak yang masih melekat di kakinya ia paksa untuk berlari. Langkah penuh ketakutan dan goyah itu, berbarengan dengan langkah mengintimidasi seseorang yang mengikutinya dari belakang. Tenang, namun langkah lebarnya seakan terus mengintai langkah Akari. “Aku mohon... lepaskan aku!” teriak Akari di tengah pelariannya. Ujung sepatu itu akhirnya patah. Akari terjatuh, hingga akhirnya dia melepas sepatu itu dan melemparnya begitu saja. Dia berlari kembali dengan bertelanjang kaki. Sampai telapak kakinya yang seputih s**u itu terluka dan berdarah, karena kerikil-kerikil tajam yang mencuat di aspal. Di saat itulah, langkah kaki berat itu berhenti. Sepasang sepatu pantofel yang berlumuran darah itu, berdiri diam. Menyaksikan pelarian Akari yang baginya tidak berguna dan sangat mudah tertangkap. Penuh ketakutan dan ketidakstabilan. Orang itu hanya diam, seakan memperhatikan mangsanya yang sengaja dilepas untuk mencari tahu di mana sarangnya berada. Lihatlah... langkah yang goyah itu masih berusaha kuat untuk berlari. Dia pikir, itu berguna? Setiap jejak darahnya seperti tanda naif yang menuntun maut. Namun sosok yang terdiam di kegelapan itu justru membuat Akari semakin ketakutan. Dia terus berlari sambil menahan rasa perih di kaki dan menjadi sadar sepenuhnya, berkat rasa takut itu. Hingga langkahnya membawa pada keramaian yang kontras dari suasana sebelumnya yang sudah seperti kota mati. Keramaian itu, membuat Akari bernapas lega. Namun itu tidak membuat dia lega sepenuhnya, karena Akari merasa keberadaannya sudah diketahui. Gadis itu berjongkok dan menangis. Tubuhnya gemetar, sampai menarik orang-orang untuk mengerumunnya dan membantunya pergi dari sana. “Apa perlu kami bereskan, Tuan?” Datang seorang pria berjas mendekati sosok yang berdiri di kegelapan itu. Pria misterius itu mengangkat tangannya yang terpasang sarung tangan karet dan melepaskannya. Namun tatapannya tidak lepas pada cahaya perkotaan yang ramai. Hingga melihat gadis itu digiring oleh orang-orang tidak penting, yang haus validasi untuk menolong seorang gadis yang mencolok sepertinya. “Tidak perlu.” “Ya?” Seakan bingung dengan pernyataan tuannya. Pria itu menatap wajah dan tubuh yang gemetar ketakutan, masih terbayang jelas di benaknya. “Biar aku yang membereskannya. Jadi kau…” pandangannya yang dingin dan penuh kuasa jatuh pada anak buahnya. “Cukup cari tahu siapa dia. Aku ingin tahu… dan melihat wajah ketakutan itu lagi.” Bibirnya melengkung tipis. “Menggelikan.” Lalu, seolah berbicara langsung pada bayangan Akari, dia berbisik, “Seharusnya aku tidak melihat itu, Nona.”

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
41.0K
bc

Beautiful Pain

read
13.6K
bc

Revenge

read
35.5K
bc

MY LITTLE BRIDE (Rahasia Istri Pengganti)

read
19.3K
bc

Oh, My Boss

read
387.0K
bc

Penghangat Ranjang Tuan CEO

read
33.9K
bc

Hati Yang Tersakiti

read
6.8K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook