MATA Akari terbuka perlahan. Cahaya pagi merembes masuk lewat kaca besar yang tak tertutup tirai, bagai lukisan tak berbingkai yang memperlihatkan langit cerah di luar sana. Dia tersentak pelan ketika menyadari dirinya masih terperangkap dalam pelukan Adrian. Lengan kekar pria itu melingkari pinggangnya erat, seakan tubuh rapuhnya tak boleh lepas barang sedetik pun. Napas hangat Adrian berembus di sisi leher, membuat bulu kuduknya berdiri. Sekilas, pemandangan itu bisa saja tampak seperti pasangan sah yang bangun bersama setelah malam panjang. Tapi Akari tahu, kenyataannya jauh lebih mengerikan. Mimpi buruk itu nyata. Dan orang yang memeluknya ini sama dengan mimpi buruk itu sendiri. Bayangan yang akan terus menghantui hingga dirinya dan tak akan berhenti sampai dirinya habis dalam gengg

