DI ujung koridor yang panjang, Akari menutup mata sejenak, mencoba menarik napas dalam-dalam. Tangannya gemetar ketika meraih gagang pintu besar itu. Dengan tarikan penuh keberanian terakhir, pintu akhirnya terbuka dan udara luar langsung menyergapnya. Embusan angin lembap mengenai wajahnya, menusuk hingga ke tulang. Air matanya pecah tanpa bisa ditahan. Udara malam yang asing, aroma tanah basah, dan dingin yang merayap seperti sengaja menyentuh setiap luka di tubuhnya. “Aku mohon... bantu aku,” bisiknya lirih, seakan alam adalah satu-satunya yang mau mendengar doa putus asanya. Dia semakin terisak, menekap bibir agar suara tangisnya tak memecah keheningan. Flat shoes yang lama terkurung di dalam rumah itu akhirnya kembali bertemu tanah. Rerumputan basah menempel di solnya, dingin mulai

