-D e m i K i a n- Saat satu bintang pun, tak nampak di angkasa. Saat bulan pun, sama tak menaampakkan sinarnya. Aku berbisik pada langit malam yang gelap. Didengar oleh semilir angin malam berteman gulita. Disaksikan oleh air mata yang sarat akan luka-luka. Aku ingin bahagia. Bagaimana bisa aku lupa cara untuk tertawa, sementara di dalam sini hati telah remuk karena luka? Bagaimana bisa aku tertawa, jika kebahagiaanku telah hilang di masa lalu? Lalu bagaimana caranya aku tuk kembali, jika titik kebahagiaan itu kini menjadi pusat dari segala rasa sakit? Haruskah aku kembali? Berlari untuk merampas kebahagiaan yang sempat menghilang. Atau..., aku hanya perlu berdiam diri bersama rasa sakit yang membunuh hati secara hati-hati. Bagaimana caranya aku harus bertahan di atas kerumitan yang ter

