-D e m i K i a n- Suasana di dalam mobil tidak seramai biasanya. Tidak ada ocehan Kian yang bercerita tentang keinginannya untuk melanjutkan ke SMA favorit, tidak juga tentang betapa ia sangat menyukai masakan Kinan. Gadis berkucir kuda itu diam menatap ke luar jendela kaca. Pikirannya hanya tertuju pada Kinan yang belakangan ini menjadi sosok yang terlalu berbeda di mata Kian. Ayah yang sejak tadi melihat putrinya murung mengulurkan tangannya untuk menyentuh kepala Kian. "Kenapa Sayang?" tanya Ayah fokus pada jalanan di depan sana. Kian tidak langsung menjawab. Ia menatap ayahnya sebentar sebelum kemudian membuang napasnya berat. Pikirannya kini bercabang antara sikap Kinan yang belakangan ini berubah dratis juga tentang apa yang pernah ia lihat. Kian ingin bertanya langsung pada ayah

