Dengan sangat kesal Nina terpaksa mengikuti kemauan sang ayah, Bayu telah mengertak Nina akan segera membawa Dini, dan mungkin mengantarkan anaknya ke panti asuhan. Nina tak bisa melihat putri kecil lagi jika ayahnya sudah membawa putrinya ke panti asuhan. Bayu meminta Nina agar menemani Rey jalan malam ini, itu membosankan bagi Nina, tapi ia tak punya pilihan lain lagi.
"Kamu jangan ge'er karena aku mau diajak jalan. Sebenarnya juga aku malas, apalagi jalannya sama kamu." Nina menunjukkan kekesalan pada Rey.
"Jangan marah-marah dong, cantik." Balas pria itu justru dengan nada jahil. Nina menghela napas berat tanpa menatap Rey yang tengah menyetir, ia lebih memilih untuk melihat kearah jendela daripada melihat muka Rey yang sok ganteng itu.
Sesaat Nina teringat akan suaminya, setiap pekan Aldio selalu meluangkan waktu untuk mengajaknya berjalan-jalan bersama Dini, meski ia tahu Dio sangat lelah dengan pekerjaan. Tapi itu tidak membuatnya bosan untuk membahagiakan keluarga kecilnya. Nina sadar Aldio juga jahil, tapi dibalik kejahilannya ada sosok suami terbaik di matanya. Sulit Nina jelaskan perasaannya saat dia tahu ada wanita mengaku telah hamil anak Aldio, ia sangat menyesal terbawa emosi dan percaya begitu saja dengan seluruh kalimat wanita itu. Bahkan membuat Aldio pergi dari rumah hasil jerih payahnya sendiri, usaha Aldio untuk membahagiakan keluarga sangat Nina banggakan selama ini. "Sebenarnya kita mau kemana?" sungut Nina jengkel. Melihat tidak ada tujuannya pasti.
"Keliling Bandung. Aku udah lama nggak menikmati kota Bandung." Jawaban Nina semakin membuatnya jengkel. Seenaknya sekali laki-laki dihadapannya ini, menyiakan waktunya saja. Untuk apa juga keliling Bandung, bukankah tidak jelas.
"Kamu kerjaan, lebih baik kita pulang. Aku nggak mau buang waktu di jalan." Rey tampak biasa saja. Bahkan malah terkekeh melihat Nina mengomelinya. "Kamu tuli." lanjut Nina semakin menggerutu penuh emosi.
"Ngapain juga kita balik lagi. Kamu pasti akan bosan hanya diam di kamar. Kalau jalan sama aku, kamu nggak akan kesepian. Berhenti marahnya, muka kamu semakin cantik, aku nggak kuat iman lihatnya." Bermaksud untuk menggoda, malah mendapat tatapan iblis dari Nina. Wanita itu seperti sudah naik pitam.
"Aku peringatkan sama kamu, Rey. Aku wanita bersuami, sampai kapanpun aku nggak akan tergoda sama kamu." Rey menghentikan mobilnya, ia menepi. Nina tertegun, ia memegang kuat selfbeatnya.
Nina ketakutan jika Rey melakukan hal yang tidak bermoral, apalagi tempat ini begitu sepi. Bagaimanapun Rey seorang pria, tentunya kekuatan lebih besar dari Nina. "Kalian akan bercerai, untuk apa kamu bertahan dengan seseorang yang gak setia." Nina mengerdipkan matanya seiring menghela napas panjang.
"Yang jelas suami aku lebih baik dari kamu. Jangan bermimpi aku akan setuju dengan perjodohan bodoh ini." Cecar Nina. Rey tetap tenang, ia malah mengelus pucuk kepala Nina dengan lembut. Bukannya terhibur, Nina justru merasa jijik.
"Aku tahu ini hal tersulit untuk kamu, akan susah bagi kamu lupakan dia. Tapi setidaknya biarkan aku membuktikan, jika aku lebih baik dari dia." Nina tertawa geli, bagaimana mungkin Rey melontarkan kalimat yang menyedihkan seperti ini, Nina bingung Rey ini tuli atau apa. Bisa-bisanya dia menggoda wanita yang telah bersuami.
Dasar bodoh!!!
Sedetikpun Nina tidak akan mengambil keputusan untuk meninggalkan Aldio. Rey selamanya akan bermimpi mendapatkannya, karena anggannya tidak akan pernah terjadi.
"Lebih baik kamu buang semua mimpi itu, karena aku dan Dio gak akan pernah berpisah." Kalimat itu berhasil memancing kekesalan Rey, namun ia tetap menahannya dengan ketenangan sendiri. Sisi lain Rey penasaran dengan sosok suami Nina, apa yang membuat Nina sangat mencintai pria itu dibanding dirinya yang ada segalanya.
Ternyata dari sejak dulu, hingga hari ini sulit sekali mendapatkn hati Nina. Dan sekarang dia harus berjuang lagi. Ia menghempaskan napas berat, lalu berharap Nina akan menjadi miliknya nanti.
"Maksudku cobalah pahami perasaanku, dulu kamu pergi dari London karena perjodohan kita. Kali ini aku mohon jangan pergi lagi." Nina tersenyum tak perduli menanggapi kalimat Rey yang sama sekali tak ada artinya bagi Nina.
"Dengarkan!! biar aku perjelaskan, aku Nina Kharisma Dewi memperingatkan, jangan berharap mendapatkan cintaku. Walau hanya sekecil buah kurma, karena gak akan pernah menginginkan pria yang tak berguna sepertimu menjadi suami dan ayah untuk anak-anakku." Rey merasa sangat terhina dengan semua celaan Nina, tapi ia hanya bisa menelan amarah dengan tersenyum tipis pada wanita itu.
Bagi Nina Rey memang tak berguna sejak dulu. Karena pria itu hanya dapat bergantung dengan kedua orang tuanya, seperti boneka yang selalu nurut, tidak akan pendirian.
"Sekarang kita lanjut jalan saja. Untuk masalah perjodohan kita bisa pikirkan nanti."
"Jangan banyak berpikir, jawabanku tatap sama." Nina tampak menelisik muka Rey yang tak bersemangat, memang sudah seharusnya ia bersikap tegas pada Rey agar laki-laki itu tidak percaya diri akan menikahinya.
"Kita sekarang mau kemana?" alih-alih Rey menutup topik pembicaraan mereka.
"Terserah mau kemana." Nina sengaja mengajak Rey ke sana, itu tempat kenangannya bersama Aldio. Ia tak perduli akan menyakiti Rey, lebih baik dia
Sementara Rey telah memikirkan rencana mencari tahu tentang Aldio, dia akan pastikan kali ini Nina akan jadi miliknya.
"So.. Kita akan tetap keliling Bandung atau lebih baik aku bawa kamu kabur ke London." Nina mendengus kesal, rasanya Rey selalu memancing amarah seolah sengaja.
"Aku pastikan kau akan menyesal berani melakukan itu." Ancam Nina. Laki-laki itu tak menjawab, ia fokus dengan setirannya.
Nina sudah merasa risih berlama-lama dengan Rey, ia ingin sekali meloncat dari mobil pria ini. Menghilang dari dunia menyiksanya untuk menemui suami dan anaknya Dini. Nina sangat merindukan Dini, dia sama sekali tidak sempat menemui putrinya sejak Bryan membawanya. Dan sekarang pasti Dini telah bersama Nadia. Ia ingin menelpon Nadia, namun takut ketahuan sang ayah, bisa-bisanya ponselnya akan diambil ayahnya. Sudah cukup ayahnya memisahkan dirinya dengan suami dan putri kecilnya Nina.
***
Aldio saat ini berdiri di depan pintu apartemen Stefi, ia tak punya pilihan lain lagi, selain mengikuti saran dari Kaffa. Berada di tempat ini, sangat berlawanan sekali dengan kemauan Aldio. Berat hatinya ia harus pasrah seperti sekarang.
Aldio menekan bel apartemen Stefi, ia tahu apartemen Stefi sangat elite. Ia semakin bingung motif Stefi mendekatinya untuk, jika karena uang sepertinya tidak mungkin.
"Aldio." Stefi membukakan pintu untuk Aldio. Ia awalnya kaget melihat kehadiran pria itu, namun Stefi menyematkan senyum yang penuh arti. Aldio sendiri tak mengerti arti senyum itu.
"Boleh aku masuk." Ucap Aldio datar. Laki-laki itu berusaha tetap baik, meski dalam hatinya ia ingin muntah melihat wanita yang telah merusah rumah tangganya.
"Silakan." Stefi mempersilahkan Aldio masuk.
"Kamu tau darimana apartement aku." Aldio malas harus menjelaskan hal tak penting itu.
"Aku kemari bukan untuk berbasa-basi. Tapi untuk menyelesaikan masalah kita." Stefi menggandeng tangan Aldio dengan manja. Secepat mungkin Aldio melepaskan tangannya, ia melangkah menjauh dari Stefi seperti menjaga jarak. Aldio tak bisa berdekatan dengan wanita lain selain Nina.
"Baiklah. Apa yang ingin kamu bicarakan?" Aldio menghela napas berat, kemudian duduk di sofa sambil mengumpulkan semua rencananya yang telah ada di otaknya.
"Aku akan bertanggung jawab." Stefi tak percaya akhirnya Aldio bisa menjadi laki-laki sejati. Wanita itu langsung tersenyum lebar.
"Akhirnya aku tidak perlu malu menanggung anak dalam kandunganku sendiri." Aldio muak melihat ekspresi wajah Stefi yang begitu bersemangat, berbeda dengan dirinya yang menahan emosinya dalam-dalam.
"Iya... Tapi aku sudah tidak memiliki apapun lagi. Harus kamu tahu aku sekarang sudah miskin, saudaraku tidak bisa menerimaku lagi." Stefi tak perduli ia masih tampak bahagia.
Aldio bingung sulit sekali menebak pikiran wanita ini, tujuan Stefi apa, jangan-jangan memang dia yang telah menghamili Stefi. Ah pikir apa dia, tak mungkin Dio meniduri Stefi, ia yakin bukan dia orangnya. Jika benar akan berdampak buruk untuk masa depannya nanti. Apa yang harus ia katakan dengan Nina.
"Kamu yakin bisa menerima aku. Lalu aku memiliki syarat, kita menikah setelah anak itu lahir. Karena aku masih suami Nina." Stefi mengkerut dahinya.
"Kenapa harus menunggu lahir?" tanya wanita itu. Aldio sudah mengira Stefi akan protes.
"Aku masih sah suami Nina, tidak akan mudah langsung nikah atau kamu mau nikah sirih." Stefi tentu saja tidak akan terima nikah sirih, itu akan mudah untuk Aldio kelak meninggalkannya.
"Gak bisa gitu dong! kita akan nikah setelah urusan perceraian kamu selesai." Protes Stefi yang tak terima begitu mudah.
"Enggak! keputusannya tetap diawal, kita akan nikah selesai perceraian aku atau tidak sama sekali." Stefi tampak kesal mendengarkan keputusan Aldio, masa dia harus menunggu perceraian untuk menjadi istri Aldio. "Kamu tidak perlu khawatir tentang perawatan kehamilan, atau usg, aku akan bertanggung jawab semuanya." Tambahnya.
"Bagaimana caranya? bukannya kamu sekarang memiliki kerjaan, dengan uang apa?" Aldio tidak ingin terbawa emosi dengan penuturan Stefi, ia tetap bersikap santai.
"Kamu jangan khawatir masalah itu, aku sudah memiliki pekerjaan, walaupun pendapatannya kecil." Stefi sendiri tak butuh uang Aldio, ia hanya butuh pertanggungjawaban pria satu ini.
"Sepertinya aku akan rugi banyak, aku hidup hamil tanpa suami. Belum lagi malu yang aku dapat dari hinaan semua orang." Aldio berhasil menyulut emosi Stefi. Laki-laki itu bangkit dari sofa, ia tak mungkin mundur dari masalah yang dia harus cari tahu sendiri.
"Kalau begitu tinggal bersamaku, kau tak perlu tinggal disini dan malu karena omongan orang. Aku tinggal dengan adikku." Ucap Aldio lantang. Stefi tak bisa menahan emosinya, ia menghempaskan barang di apartmentnya. "Apa kau sudah gila!! hentikan Stefi!" bentak Aldio menahan Stefi menghancurkan barang-barang apartementnya lebih banyak lagi.
"Yah aku gila! karena kau yang buat aku begini. Ini anakmu Aldio, tapi kau perlakuan seperti sampah. Hatimu itu terbuat dari apa? hah?" Aldio tak habis pikir dengan wanita ini, ia pandai sekali berdrama hingga dia tak bisa berbuat apapun. Sungguh membuatnya terjebak.
"Nggak perlu seperti ini, kamu butuh tanggung jawab, kan. Aku akan tanggung jawab, tapi aku butuh waktu untuk berpisah dengan Nina, sekarang aja aku nggak tau keberadaan Nina. Bagaimana bisa aku menceraikannya." Aldio meninggikan suaranya, agar Stefi mengerti. Jika Stefi berdrama dia juga bisa. "Gimana caranya aku nikahi kamu, sekarang juga akan bisa menikahi kamu, kalau kamu mau. Tapi kita nikah sirih." Tentu Stefi tak bisa terima, mana mungkin dia mau nikah sirih.
"Gak perlu! aku akan tunggu perceraian kamu. Tapi aku juga punya syarat, kamu harus ada setiap aku butuh."
"Oke... Aku akan penuhi itu. Tapi aku tidak bisa malam hari karena harus bekerja. Kapanpun kamu butuh, aku akan datang." Stefi membanting tubuhnya di sofa, ternyata sulit sekali untuk membuat Aldio langsung segera menikahinya. Sepertinya dia harus membantu mencari keberadaan istrinya, agar semuanya prediksi akan tepat sasaran.
Stefi tak perduli kesusahan Aldio karena ulahnya, ia butuh Aldio bertanggung jawab. Mau laki-laki itu hidup miskin atau apa, dia tetap ingin satu hal dari Aldio tanggung jawab. Dia harus menelan bulat semua amarah yang menerkamnya seketika, ia tahu Aldio menderita dengan semua terjadi. Selama ini ia selalu memantau Aldio, bahkan mengetahui tempatnya bekerja.