Bab 8

1825 Words
Dengan wajah tak bersemangat, Nina terpaksa mengikuti kemauan Bayu ayahnya. Pagi itu Nina harus terbangun di kamar yang asing, ia bahkan masih malasan di atas ranjang. Dia bingung kenapa ayahnya membawa dirinya kemari, ia merasa ada sesuatu yang ayahnya rencanakan. "Nina, bangun! kamu jam segini belum bangun juga, lihat matahari sudah tegak." Omel wanita paruh bayah sambil membuka golden jendela kamar putrinya. Nina sendiri malah menutupi wajahnya dengan selimut, ia malas berada di tempat, tidak ada satu orang yang mengerti perasaannya termasuk ibunya sendiri. "Astaga... Apa seperti ini ajaran suamimu, malas-malasan seperti tidak ada kerjaan lain." Namira menarik selimut putrinya membuat Nina cemberut, ia bersender di ranjang tanpa menatap Namira. "Jangan bawa-bawa Dio, dia suamiku. Bunda gak tau apapun tentang Dio." Namira berdiri dengan tangan berlipat di d**a, padahal ia sudah mencoba membuat Nina mengerti jika Dio bukan suami yang baik, bahkan meminta untuk melepaskannya. Tapi, lagi-lagi putrinya selalu keras kepala, tak mendengar ucapan ibunya sendiri. "Suami yang telah berselingkuh dengan wanita lain itu maksudmu, jangan lupa kalau bukan Om Reo ayah dari Kaffa, ayah dan bunda tidak akan pernah menerima Dio. Dulu saja dia berani menghamilimu, lalu kemungkinan besar dia akan melakukan hal yang sama seperti dulu." Nina rasanya tak kuat mendengar cecaran Namira, rasanya darah Nina mendidih. "Bunda dan Ayah hanya sibuk urusan di London, kalian berdua gak tau yang terjadi. Nina masih menghargai keputusan ayah dan bunda membawa kemari karena menghargai kalian orang tua Nina. Tapi jika kalian terus menghina Aldio, Nina gak bisa tinggal diam." Kalimat menantang Nina berhasil menyalakan emosi Namira, ia mendelik sini menatap putrinya yang masih berada di atas ranjang. "Apa yang kamu lihat dari laki-laki seperti Aldio, dia hanya menyusahkanmu saja. Cukup Nina jangan drama, bunda dan ayah sudah memutuskan kamu dan Dio akan segera bercerai." Ujar Namira yang tak ingin mendengar bantahan. Nina mendengar itu, ia langsung menenggelamkan wajah frustasi. Nina memukuli bantal dengan kesal, ia tak menyangka betapa tega ayah dan bundanya memutuskan sesuatu yang bertolak belakang dari dirinya sendiri. "Kenapa.. Kenapa.. Kenapa gak ada yang ngerti perasaan aku? hiks." Nina kembali meneteskan air matanya. "Bunda lakukan semua ini, agar kamu bahagia. Untuk apa kamu bertahan dengan Dio yang sudah jelas menyakiti hati kamu." Nina menegakkan kembali kepala dengan tatapan penuh amarah, ia akhirnya turun dari ranjang. "SAMPAI KAPANPUN AKU NGGAK AKAN BERCERAI DENGAN DIA SEBELUM ADA BUKTI AKURAT." Dengan berani Nina meninggikan suaranya emosi ia tahan. Untuk berpisah dengan cara ini dengan Dio udah membuatnya menderita, namun ia tidak bisa bercerai dengan suaminya. Ia akan mempertahankan Aldio semampu yang Nina bisa. "Sekarang kamu sudah mulai berani dengan bunda, hanya laki-laki sampah itu." "Cukup, bunda! aku tekankan dengan bunda, tidak ada alasan untuk meninggalkan suamiku. Hari ini aku masih suami Dio, dan itu akan terjadi selamanya." Nina menjerit. Ia sudah letih berdebat dengan bundanya lagi. Namira terdiam, ia tahu tidak akan habisnya melawan keras kepalanya Nina. Tapi satu pasti dia akan tetap memisahkan Nina dan Dio. Sebagai orang tua tentu ingin melihat anak bahagia, Namira hanya berasumsi jika Nina tak akan bahagia mendapat suami yang hanya menyakiti istrinya. *** Dengan wajah malas, Nina makan sendiri. Ia hanya melirik sesekali bunda dan ayahnya sibuk dengan ponselnya masing-masing. Tiba-tiba saat ini memainkan sendoknya, ia mendengar suara klakson mobil. Kemudian Nina yang belum selesai dari makannya, ia menghentikan aktifitasnya dengan rasa penasaran ia bergegas melihat yang datang. Bayu dan Namira menyambut seseorang yang datang. Keduanya tampak antusias dengan kedatangan orang itu. "Selamat datang, bagaimana perjalanan kalian dari London." Mata Nina terbelalak melihat kedatangan keluarga Rey Gufanord dari sudut pilar. "Rey... Kenapa ada Rey di sini? Apa maksud semua ini?" ucapnya pelan sendiri, Nina bergegas kembali ke kamarnya. Ia semakin yakin ayah dan bundanya merencanakan sesuatu yang dia sendiri tak mengetahui apa. Belum lama Nina berada di kamar dengan rasa gelisahnya. Namira datang menyusulnya, ia memandangi penuh rasa curiga. "Apa lagi mau, bunda?" lontar galak Nina. Namira tak bergeming, ia tersenyum seperti tidak ada yang terjadi. "Di luar ada Om Fajar, tante Velin dan Rey. Kamu kenal dong sama Rey, sekarang kamu ganti baju dan jangan lupa dandan yang cantik. Bunda tunggu di luar." Rey Gufanord adalah anak dari sahabat kedua orang tua Nina sekaligus rekan kerja mereka. Nina dulu pergi ke Jakarta karena tak ingin orang tuanya melanjutkan perjodohannya dan Rey. Nina sama sekali tidak memiliki rasa, dan kebetulan ketika itu ia sangat mencintai Bryan yang bodohnya hanya memanfaatkan dirinya. Nina merutuk kehadiran mereka, masalahnya akan bertambah karena kehadiran Rey. Untuk menemui mereka saja, rasanya enggan. Tapi jika dia tak menuruti keinginan ibunya, ia tahu pasti Namira tidak akan tinggal diam, apalagi sangat ayah, tentu saja semakin mencacinya. Akhirnya setelah bergelud pada dirinya sendiri, Nina keluar dengan keadaan wajah yang datar. Ia duduk mendarat samping Namira. "Nina, apa kabar?" tanya Velin ibu dari Rey menyapanya. Nina tersenyum kecil, ia menghela napas berat. "Alhamdulillah, tidak terlalu baik tante. Kalau boleh tahu kenapa tante sekeluarga mendadak kemari." Gumam santai Nina, tak perduli ia mendapat tatapan tak suka dari Namira dan Bayu. "Kami semua kemari undangan dari ayah kamu. Dulu kamu dan Rey sempat menunda pernikahan kalian, karena kamu menikah di Jakarta dengan orang lain. Dan kami dengar kamu akan bercerai dengannya. Untuk apa juga kamu mempertahankan laki-laki selingkuh, kan." Nina mendelik kearah Bayu, ia tak menduga Ayahnya malah menceritakan masalah pribadinya dengan keluarga Rey. Bahkan sepertinya merencanakan agar dia dan Rey melanjutkan perjodohannya. Sekarang Nina mengerti kenapa sang ayah dan bunda sangat menginginkan dirinya bercerai dengan Dio, jadi ini salah satu alasannya. Sangat... Sangat menjijikan bagi Nina. "Semua itu masih dugaan, suami aku akan datang membawakan bukti jika dia tidak selingkuh. Itu hanya salah paham." Ucap Nina seolah menegaskan tidak akan pernah ada perceraian antara dirinya dan Aldio. "Kamu mau bukti seperti apalagi, Nina. Sudah jelas perempuan itu mengaku hamil, itu kurang cukup." Ucap Namira malah memojokkan Aldio di depan tamu mereka. Nina menelan kekesalannya, ia masih bisa tersenyum sekilas. "Bisa aja itu kebohongan wanita itu, suami aku itu salah satu pewaris keluarga Zalfahri, wajar dong kalau ada seseorang yang terobsesi dengan Aldio." Nina sengaja mengatakan itu, agar Rey tidak berusaha mendekatinya lagi. Ia tak nantinya kehadiran Rey menjadi masalah terbesar untuknya. Lebih lagi kalau Dio malah tau hal ini, akan berdampak buruk, beberapa waktu lalu dia sendiri sempat meminta maaf atas perkataannya dengan Aldio yang pasti sangat menyinggung hati suaminya. "Aldio itu memang brensek, gak tau diri. Dulu hamili Nina, sekarang malah wanita lain." "Cukup ayah! aku nggak mau berdebat, itu hanya persepsi ayah, bisa jadi pendapat ayah salah." "Nina, jangan seperti itu sama ayah kamu." Bentak Namira kesal dengan sikap Nina. Nina yang sudah tak bisa menahan lagi keegoisan orang tuanya. Ia meninggalkan mereka semua, dan memilih untuk kembali ke kamarnya dengan membanting kuat pintu. *** Aldio baru bangun, tak seperti biasa dia bangun pagi hari. Kali ini dia bangun lebih siang dari biasa. Sejak bangun ia terus memikirkan perkataan Kaffa kemarin, mungkin rencana Kaffa bisa berjalan lebih baik dari dirinya. Pasalnya ia tak dapat informasi apapun. Laki-laki itu keluar kamar dengan muka yang masih kusut, lalu tangan seketika tangan mungil memeluknya membuat Aldio kaget, apalagi ketika menunduk melihat sosok kecil itu. Dio berjongkok agar sejajar dengan gadis cantik ini. "Papah..." Ucap Dini lucu. "Dini, sayang kamu kok bisa di sini. Kamu sama mamah? mana mamah, sayang." Aldio sangat antusias, ia pikir Dini datang dengan Nina, mungkin Nina sudah percaya padanya. "Kak Dio, tadi Nadia yang mengantar Dini kemari, katanya sih dia harus kerja jadi nggak ada jaga Dini, jadi dia titip sini." Jelas Lea. Aldio mengeryit bingung. "Egh.. Tunggu, Le." Aldio menjeda kalimatnya sejenak, sembari ia menggendong Dini. "Maksud kamu, gimana? bukannya ada Nina, untuk apa Nadia sampai titipkan Dini." Lanjutnya lagi. "Makanya dengarin dulu aku sampai selesai, katanya Nadia sih kalau Nina pengen tenangin diri karena masalahnya, makanya dia meninggal Dini bersama Nadia." Aldio tampak curiga, dia tahu istrinya sangat menyayangi Dini, melepaskan Dini bersama orang lain sulit bagi Nina. Bryan saja ayah kandung Dini, hanya beberapa kali Nina ijinkan. "Kamu yakin Nadia bilang seperti itu, Le." Gumam Aldio memastikannya lagi. "Astaga... Untuk apa juga Lea bohong sama kak Dio." Aldio merasakan gusar melanda dirinya, lalu sejenak Aldio kembali berpikir bagaimana dia bisa mencari Stefi, paling tidak dia mendapatkan ponsel perempuan itu. Karena hanya Stefi sumber masalahnya. "Ya udah, Le. Makasih ya." Lea tersenyum lalu meninggalkan Aldio bersama Dini. Aldio mencuci mukanya sebentar, kemudian ia mengajak Dini berjalan sekitar taman dekat komplek Lea. Ia tak ingin merepotkan Lea terus menerus, sekaligus ia sudah meminta tolong Donny sahabatnya mencari tahu tentang Stefi, lantaran ia yakin Alzio tahu alamat Stefi, apalagi wanita itu telah mendatanginya. "Dini, kemarin sama Om Bryan, gimana?" tanya Aldio takut posisinya sebagai ayah sambung Dini tergeser akan kehadiran Bryan. "Om Bryan baik, pah. Tapi nggak seru nggak ada papah dan mamah, Dini kangen sama mamah. Papah tau nggak, mamah kemana sih? kok pergi nggak bilang kita." Celoteh gadis yang masih berusia empat tahun itu. Aldio mengecup kening putrinya dengan matanya berkaca, ia sedih dengan pernikahannya yang saat ini, kalau dia gagal dengan perjuangannya, rumah tangganya akan hancur. "Mamah lagi marah sama papah. Dini do'ain ya biar mamah marahnya nggak lama, biar nanti kita bisa main sama mamah lagi." Ucap pelan Aldio berusaha membuat pengertian anak itu. Dini menopang kedua pipi Dio dengan tangan kecilnya. "Papah bikin mamah marah sih, nanti kita telpon mamah ya, Dini akan minta mamah pulang, biar kita bisa sama-sama terus." Aldio memeluknya kontan, dia tersentuh dengan kalimat polos dari Dini. "Iya sayang, tapi nanti ya." "Om Donny." Dini yang duluan melihat Donny, ia turun dari pangkuan Aldio. Dari dulu Donny sangat menyukai anak kecil, sampai Dini sendiri sangat menyukai Donny. "Udah lama lo?" tanya Donny. "Nggak juga. Gimana?" Donny mengerdipkan matanya memberikan tanda ia mendapatkan yang Aldio minta. "Lo satu-satunya harapan gua." Lanjutnya. "Lo santai aja. Kaffa juga udah cerita rencananya. Menurut gua rencana Kaffa benar, kalau lo perlu bantuan bilang sama gua." Aldio menepuk pundak Donny pelan, ia tak bisa berkata apapun dengan kebaikan sahabatnya selama ini, Donny termasuk orang berjasa dalam keluarganya. "Untuk saat ini, cuma ini yang gua perlukan." Donny memberikan kertas kecil yang merupakan alamat dari Stefi. "Lo nggak perlu sungkan." Aldio terkekeh kecil. "Gua nggak tau Nina sekarang dimana, dia nitipkan Dini sama Nadia. Lo tau sendiri sekarang semangat gua cuma Dini, Nina sendiri gak percaya sama gue." "Kebenaran suatu hari pasti akan terungkap. Lo sabar, masalah Nina biar gua cari keberadaan dia. Lo fokus dengan Stefi untuk cari bukti, kalau memang bukan lo yang hamili dia." Aldio termenung sejenak, ia menghela napas panjang. Beberapa waktu ini, dia lalui masalah begitu berat. Tapi karena Dini sekarang berada di samping, mungkin ia bisa lebih bersemangat agar dapat bersatu kembali dengan Nina. Apalagi orang-orang terdekat mendukungnya, kecuali saudara tertuanya Alzio yang justru malah percaya jika dia akan berbuat sekeji itu. Sadar tidak sadar, Aldio yakin dia bisa mengontrol dirinya sendiri, walaupun dalam keadaan mabuk.Kalau saja Nina tidak memiliki kebiasaan mengusirnya ketika sedang marah, ini tak mungkin terjadi. Dan bodohnya ia selalu memilih tempat maksiat untuk menghibur dirinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD