#4 - Kebohongan Lain

1271 Words
"Tapi aku memang bukan wanita yang kamu maks-" "Kiran please!" Rey melepaskan tangannya dari wajah Kirana dengan kesal. "Sampai kapan kamu terus berpura-pura? Aku sakit, Ran. Sakit karena kamu tiba-tiba meninggalkan aku dan sengaja melupakanku seperti ini. Sehina itukah aku sampai kamu benar-benar meninggalkan aku karena aku miskin!? Ha??" Kirana hanya menggelengkan kepalanya pelan. Dia bingung harus menjawab apa. Dia hanya mampu menghela nafas panjang dan menghembuskannya cepat. Di lihatnya raut wajah Rey yang begitu tulus. Dia tidak tega untuk menyakiti perasaannya lagi. "Lalu apa, Ran? Kenapa??" Rey memaksanya lagi untuk mengaku. Ditariknya lagi kedua tangan Kirana segera ingin dipeluknya. Namum Kirana berontak. "Lepaskan aku. Atau aku akan teriak!" "Teriaklah! Teriak sekencang yang kamu bisa!" "Hemmmph-". Belum keluar sepatah katapun, mulut Kirana tidak dapat bergerak. Rey membekap bibir Kirana dengan bibirnya. Rey sungguh hilang akal karena sikap Kirana. Kirana terdiam berhenti memberontak lagi dengan bibir Rey yang masih menempel dibibirnya. Air matanya menetes membasahi pipinya dan pipi Rey. Rey pun menghentikan ciumannya dan menatap Kirana. Dia merasa bersalah membuat Kirana menangis. "Maaf, Ran!" Rey mengusap air mata Kirana yang membasahi pipi Kirana, "Maafkan ak-" Plakkk!! Kirana menampar Rey dengan cepat. Dia mundur perlahan dan kemudian berbalik lari menjauhi Rey. "Kiranaa!" Rey berusaha mengejarnya tapi Kirana berlari lebih cepat. 'Sial' Gerutunya karena Kirana kabur, lagi. ** Dirumah Kirana. Jantungnya masih berdetak kencang. Dia bersandar pada gerbang rumahnya yang telah tertutup. Digenggamnya tangannya di d**a dengan nafas yang masih terengah-engah. 'Siapa dia? Kenapa dia selalu bersikap seperti itu padaku?' Kirana melangkahkan kakinya mendekati sebuah kaca buram yang terpasang di sisi depan rumahnya. 'Apa wanita yang dia maksud benar-benar mirip denganku? Kenapa juga dia menggunakan namaku jika dia mencintai lelaki itu?' Segera ditepis pikirannya yang membuatnya sangat frustasi itu. Dia memasuki rumahnya untuk segera membereskan dan menyimpan belanjaannya. "Hah!!??? Dompetku? Hilang dimana????" Ujarnya sambil terus membongkar plastik belanjaannya. Tidak dia temukan di manapun dia mencarinya hingga ke halaman rumah. 'Apa mungkin terjatuh di pasar?' Ditempat lain. Rey memungut sebuah dompet berwarna hijau pastel dengan aksen pita kecil di sudutnya. Dibukanya dompet itu, 'Benar, ini miliknya'. ** Sore hari, Kirana menikmati senja di teras samping rumah dekat taman bunga kecil peninggalan bundanya. Bunga-bunga tertata cantik membentuk pemandangan mata yang indah nan sejuk. Taman samping rumah ini memang tempat favorit sang bunda. Disinilah Kirana sering meluapkan rindunya kepada sang bunda jika dirinya merasa gundah. Dia sudah mencari-cari dompetnya disekitar pasar. Namun dia sama sekali tidak menemukan dompetnya dimanapun. Akhirnya dia menyerah, dan lebih memilih untuk melaporkannya ke pihak berwajib besok. Tentu bukan karena uangnya, namun lebih ke data pribadinya yang tersimpan di dalam dompetpun ikut hilang. Ditemani setumpuk berkas-berkas penting miliknya, di meja dekat taman samping rumah, dia pun mulai mengisi daftar riwayat hidup dan membuat surat lamaran pekerjaan. Semua berkas-berkas studinya selama ini akan dia sertakan dalam berkas lamaran kerjanya nanti. Kecuali KTPnya yang masih hilang. Belum terlintas dalam benaknya dimana dia akan menyerahkan surat lamaran pekerjaannya ini. 'Yang penting disiapkan saja dulu. Soal pilihan, nanti aku akan bertanya pada ayah perusahaan mana yang lebih cocok buatku sambil menunggu KTP ku yang baru'. Belum selesai menyiapkan berkas-berkasnya, bel pintu gerbang berbunyi. Kirana menoleh ke arah gerbang, seseorang memencet bel pintu rumahnya. "Bik, tolong bukakan gerbang yaa! Ada tamu datang." Bik Izah segera membukakan pintu gerbangnya. Entah siapa yang bertamu, Kirana menunggu bik Izah memberitahunya. Dia sengaja tidak membukakan gerbang karena sedang sibuk. Untung bik Izah belum pulang. Tugas bik Izah hanya membersihkan rumah dan laundry, setelah itu dia pulang. "Non Kiran, ada tamu ingin bertemu nona." "Ooh, siapa bik?" "Seorang laki-laki, non. Bibik juga tidak tau. Dia sudah menunggu di teras depan rumah." "Terimakasih ya bik." Bik Izah berlalu, meninggalkan Kirana kembali mengerjakan pekerjaannya. Kirana menumpuk berkasnya yang sedikit berserakan dan segera menuju teras depan rumahnya. Memang terdapat meja tamu di teras rumahnya yang cukup luas dengan banyak tanaman di sisi-sisi teras. Menghiasi terasnya yang nampak asri. "Siapa ya?" Kirana bertanya kepada tamu lelaki yang datang kerumahnya itu, lelaki itu berdiri membelakanginya, menghadap taman yang ada di sisi depan teras rumah Kirana. Lelaki itu lalu berbalik badan mendengar suara Kirana membuyarkan lamunannya. "Kamu? Ada apa kamu kemari?". Kirana sedikit terkejut melihat tamunya. "Mengapa terkejut sampai segitunya, Kiran?". Rey memutari tempat Kirana terdiam ditempatnya. "Apa kedatanganku sama sekali tidak membuatmu senang?". Ucap Rey berhenti di sisi samping kanan Kirana. "Apa yang kamu inginkan?" Kirana mengerutkan dahinya, menatap Rey yang berdiri di sampingnya. "Ini!" Rey mengacungkan dompet milik Kirana tepat di depan wajahnya sambil tersenyum kecut. "Dompetku!" Kirana ingin segera meraih dompet yang dipegang Rey, namun dengan cepat Rey menghindarinya. "Kembalikan dompetku, ku mohon!" Kirana mendengus panjang. Merasa dirinya sedang dipermainkan Rey. "Sekarang apa maumu?" Seolah dia mengerti apa yang Rey inginkan. "Tidak ada. Aku hanya mau mengembalikan dompetmu. Tapi jujur aku mengharapkan sesuatu." "Apalagi?" "Tolong ingat lagi siapa aku! Aku tidak tau apa kau sengaja melupakanku atau apa. Tapi cobalah kau ingat lagi momment kita saat bersama dulu! Apa sedikitpun tidak ada yang berarti bagimu? Kita sungguh bahagia saat itu. Bahkan kamu, bersedia memberikan tubuhmu padaku!" Mata Kirana membelalak. Terkejut mendengar apa yang Rey katakan. Entah apa yang dimaksud lelaki ini. Kirana sungguh tidak mengerti. "Kiran?" Rey memanggil Kirana lirih "Aku akan berusaha membahagiakanmu, aku akan menghasilkan uang yang banyak untukmu! Tolong kembalilah padaku! Aku sungguh mencintaimu!" Ucapnya sambil menggenggam kedua telapak tangan Kirana. "Hentikan, ku mohon. Aku sama sekali tidak mengenalmu dan semua yang kamu bicarakan omong kosong bagiku! Bahkan aku tidak tau siapa namamu! Mengapa kamu terus-terusan menganggap aku ini wanitamu! Aku sungguh tidak mengerti! Cepat serahkan dompetku!" Rey terdiam mendengar Kirana masih saja mengelak. Kirana merebut dompetnya yang ada ditangan kanan Rey. "Terimakasih dompetnya. Jika tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, kamu boleh pulang. Saya sedang sibuk" Kirana berbalik segera masuk kedalam rumahnya meninggalkan Rey dalam diamnya. Rey menatap hening Kirana hingga menghilang dibalik pintu. Dibalik taman, Fella menguping pembicaraan mereka dan segera menghampiri Rey yang tertunduk lesu. "Memang selalu seperti itu! Hemmh, setelah tidak berguna baginya pasti dia tinggalkan begitu saja. Berlagak amnesia!" Fella mengerutuki Kirana dengan kebohongan untuk membuat Kirana terlihat buruk. Mendengar apa yang dikatakan Fella dari sisi taman, Rey mendekati Fella, ibu tiri Kirana yang sedari tadi telah menguping pembicaraan Kirana dengan Rey. "Apa yang anda bicarakan?" Rey semakin penasaran. "Ya memang sudah wataknya sih. Memang begitulah dia. Sudah banyak lelaki yang dia bohongi dengan wajah cantiknya yang sok polos itu." "Maaf anda siapanya Kirana?" "Oh kenalkan, tampan. Saya Fella ibunya Kirana. Kamu?" "Oh, saya Rey, tante." Rey mengulurkan tangannya hendak menyalami Fella. "Apa maksud tante tadi?" "Kirana itu penggoda lelaki!" Ucapnya berbisik di telinga Rey. "Sudah banyak korbannya, nak. Kamu jangan sampai tertipu wajah polosnya lagi. Lupakan dia! Dia hanya menginginkan hartamu saja! Kalau sudah tidak suka, dia buang begitu saja." Rey makin membenci Kirana. 'Ternyata kamu benar-benar menipuku, Ran! Kamu wanita jahat yang paling busuk!' Rey mengepalkan tangannya ingin menghantam apapun yang ada di depannya, tetapi dia menahannya. "Kalau begitu Rey pamit dulu, tante. Maaf sudah membuat keributan." Rey bergegas pergi setelah menyalami Fella. "Lumayan tampan juga dia. Tapi sayang, bodoh!" Fella tersenyum puas, mencibir kebodohan Rey yang mudah dibohongi. ** Rey berjalan terhuyung-huyung dengan pikiran berkecamuk. Tanpa sadar, tubuh Rey oleng dan kehilangan keseimbangannya hingga terjatuh di trotoar jalan. Meratapi kesedihannya yang dalam karena Kirana. "Kamu tidak apa-apa, nak?" Seorang pria paruh baya menepuk bahu Rey. Rey mendongak ke atas yang dilihatnya hanya siluet matahari yang menyilaukan di sore harinya ini. Rey berusaha berdiri. Namun kedua kakinya lemas, matanya sedikit meredup. Pria itu memapahnya ke dalam mobil. "Om antarkan kamu sampai ke rumah ya, nak?" Rey hanya menganggukkan kepalanya, dapat dilihatnya seorang pria dengan wajah teduh yang membantunya itu tengah khawatir dengan kondisinya. - Bersambung -
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD