#33 - Memuaskanmu

1264 Words
Erik membereskan dokumen yang berserakan di meja kerjanya. Hari ini dia harus kembali melapor pada Dewi seperti biasanya untuk laporan mingguan perkembangan seluruh perusahaan Cakradhana. Erik lah satu satunya orang yang dipercaya Dewi untuk melakukan pekerjaan itu. Hari masih siang dan kantor pusat tutup lebih awal karena jam kerja yang setengah hari. Seharusnya jadwal kunjungan Rey dan Kirana adalah hari Senin depan. Namun karena hal mendesak mengharuskan mereka berkunjung lebih awal. "Jadi Rey hari ini survei pabrik baru hanya berdua dengan Kiran, Erik?" Tanya Dewi setelah Erik datang dan memberikan laporan mingguan perusahaannya itu di kediamannya sendiri. "Benar, nyonya. Kiran mengatakan pada saya bahwa rekan yang seharusnya ikut berkunjung terpaksa harus izin karena kepentingan keluarga yang mendesak" Ucap Erik sambil merapihkan kembali dokumen yang dia bawa ke dalam tas kerja miliknya. "Jadi begitu.. Jujur aku lebih tenang jika Rey ditemani Kiran, Erik. Rey itu masih belum begitu berpengalaman tentang dunia bisnis" "Sebenarnya kan Kiran juga belum lama bekerja, nyonya. Dia masih fresh graduate" "Kamu percaya padaku jika aku bisa menebak karakter seseorang hanya dari wajahnya, Erik?" Dewi berusaha meyakinkan Erik. "Seperti saat dulu aku meyakinkan Mahendra tentang kamu" "Benarkah itu nyonya??" Erik tersenyum malu. "Kini saya tidak akan ragu lagi" Dewi terkikik mendengar ucapan Erik. "Kamu boleh tes jika tidak percaya" Erik tidak langsung menjawabnya "Contohnya nyonya?" "Fella, istrimu" "Dia? Ada apa dengannya, nyonya?" Erik semakin penasaran dibuatnya. "Firasatku selalu buruk saat melihatnya, Erik. Entahlah. Sepertinya kamu harus memberikan perhatian ekstra pada keluargamu. Khususnya Kiran. Bukan karena apa-apa, Erik. Statusnya adalah anak tiri bagi Fella. Bisa saja dia berbuat tidak adil pada Kiran" "Emm..." Erik tak berani menjawab jika keraguannya mengenai itu memang benar adanya. "Maaf jika membuatmu berpikir yang tidak-tidak, Erik. Kamu boleh abaikan ucapanku. Hm?" Dewi tersenyum berusaha mengalihkan ucapannya tadi. "Tidak, nyonya. Saya akan lebih perhatian lagi pada keluarga saya. Agar kegagalan saya dimasa lalu tidak terulang lagi. Terimakasih nyonya!" "Baiklah, Erik. Kamu boleh pulang setelah ini. Saya akan hubungi kamu jika ada hal penting" "Baik, nyonya. Saya permisi" Dewi mempersilahkan Erik undur diri. Dia masih kepikiran mengenai Kirana dan Rey. Apalagi mendengar cerita Bik Sani, pelayannya yang sempat melihat pertemuan keduanya saat pemakaman suaminya dulu. ** - Flashback - "Lepaskan, toloong!" "Aku tidak akan melepaskanmu, sampai kamu mengatakannya!" "Lepaskaan!" "Katakan Kiran! Katakan!" "I-iyaa benar! Benar semua katamu! Kamu puas!!!? Sekarang lepaskan aku!". Kirana melepaskan diri setelah Rey melemaskan pelukannya. Kirana berlari menjauhi Rey dan berhenti dibalik dinding. Dia terisak tanpa suara. Disisi lain, bik Sani yang melihat kejadian itu dari kejauhan bertanya-tanya. "Ada hubungan apa tuan Rey dengan wanita itu?? Lalu siapa sebenarnya wanita itu??" Bik Sani semakin terkejut dengan kenyataan bahwa Kirana adalah putri dari Erik yang juga akan menjabat sebagai sekretaris Rey pada saat itu. Hal itu lantas membuat Bik Sani semakin penasaran dan ingin segera memberitahu nyonya besarnya. Namun dia urung memberitahunya karena Dewi sendiri masih berduka karena kehilangan suami tercintanya. "Apa kamu bilang!??" Dewi membelalak mendengar penuturan rinci dari sang pelayan kepercayaannya mengenai hal yang terjadi beberapa hari yang lalu. Pelayan kepercayaannya yang sudah berpuluh-puluh tahun mengabdi padanya. "Saya tidak berbohong, nyonya! Saya melihatnya dengan mata kepala saya sendiri!" "Mengapa kamu baru mengatakannya sekarang!?" "Saya belum yakin sepenuhnya, nyonya. Karena saya takut saya salah lihat! Tapi saya semakin yakin" Sani melanjutkan ucapannya yang terjeda karena ragu ingin mengatakannya atau tidak. "Dan maaf nyonya. Setiap bekerja, tuan Rey selalu mengantar jemput non Kiran!" "Benarkah? Jika itu benar kenapa Erik tidak memberitahuku!?" "Saya rasa tuan Erik juga belum mengetahuinya, nyonya. Karena saat itu, di pagi saat nyonya meminta saya mengantarkan barang kerumah tuan Erik. Saya melihat mobil tuan Rey berhenti didepan gerbang rumah tuan Erik, dan non Kiran sudah menunggunya di luar" "Hmm.. Lalu" Dewi masih menyimak cerita dari pelayan kepercayaannya itu. "Lalu saat saya tanyakan non Kiran pada tuan Erik. Beliau mengatakan bahwa non Kiran sudah berangkat naik ojol. Saya semakin curiga mereka memiliki hubungan khusus sebelumnya" Dewi tampak berpikir keras tentang kecurigaan bik Sani pelayan kepercayaannya yang tidak pernah berbohong padanya. Kenyataan bahwa cucunya berbohong jika mengenal Kirana saat itu. 'Apa alasannya dibalik kebohongannya itu' Hari berikutnya. "Rey masuk ke kamar dulu ya, bu. Ayo cepat, Ran!" Kirana menganggukkan kepalanya pada Windi dan langsung mengikuti Rey yang sudah menaiki tangga rumahnya dengan langkah cepat. "Rey! Kenapa harus dikamar kamu? Aku bisa mengerjakannya diruang tamu". "Kamu sudah selesai mengerjakannya. Kamu tinggal menjelaskannya padaku saat aku bersiap-siap. Kamu jangan berfikiran yang aneh-aneh! Karena begini lebih cepat". Rey dan Kirana masuk kedalam kamar Rey dan menutup pintu kamar Rey. Bik Sani diam-diam memperhatikan mereka dengan penuh kecurigaan. Kemudian dia segera berlari menuju kamar pribadi nyonya besarnya. "Nyonyaaa!" Teriak bik Sani setelah menutup pintu kamar Dewi dengan sedikit berlari. "Ada apa Sani! Kamu ini bisa tenang sedikit tidak! Ini rumah. Bukan hutan!" Omel Dewi pada pelayannya yang sudah tidak muda itu. "Maaf nyonya.. Maaf!! Ini daruraaat!" "Apa? Apanya yang darurat Sani? Jelaskan dengan tenang!" "Tuan Rey membawa non Kiran masuk ke dalam kamarnya!" "Apa yang kamu yakin, Sani?" "Yakinn seribu persen, nyonya! Nyonya bisa langsung bertanya pada nyonya Windi." Tanpa banyak bertanya Dewi segera keluar dari kamarnya yang berada di lantai 1 dan menuju ruang makan, tempat dimana Windi tengah sibuk menyiapkan makan malam. "Rey sudah pulang, Win?" "Sudah, mi. Dia sedang dikamarnya sekarang" "Kenapa belum turun?" "Rey sedang bersiap-siap untuk makan malam diluar dengan kliennya, mi. Dan sepertinya masih ada pekerjaan mendesak yang harus mereka selesaikan" "Mereka?" "Kiran datang kemari, mi. Dia membantu Rey menyelesaikan pekerjaannya tadi" "Mereka sedang dikamar berdua?" "Iya, mi. Sebentar lagi mereka juga turun. Rey akan berangkat makan malam pukul 7 ini" "Biar mami yang panggil mereka, Win. Sudah hampir pukul 7 ini. Takutnya Rey terlambat" "Iya, mi" Dewi semakin yakin dengan cerita bik Sani. 'Mereka pasti memiliki hubungan khusus. Bukan cuma antara atasan dan sekretaris. Aku yakin hubungan mereka lebih dari itu sebelumnya'. Dewi menaiki tangga lantai 2 menuju kamar Rey dan menemukan Kirana disana sedang berdiri mendekap dadanya dan membelakangi pintu kamar pribadi Rey. "Kirana?" ** Rey melepaskan lumatannya pada bibir Kirana. "Jika kepuasan yang kamu inginkan, aku pastikan memberikanmu servis memuaskan lebih dari yang dapat mereka berikan, Ran!" Rey membuka paksa kemeja Kirana, menariknya kasar hingga 2 mata kancingnya terlepas. Menarik paksa bra hitamnya keatas dan menampilkan pemandangan yang sangat indah bagi Rey. Kirana yang terkejut dengan apa yang dilakukan Rey dan segera menutupi bagian tubuhnya yang sekarang terekspose sempurna. "Rey! Apa yang kamu lakukan!!" "Aku akan menunjukkan padamu kenikmatan yang sesungguhnya, Ran!" Rey menyibak kedua tangan Kirana yang menutupi bagian sensitifnya itu dan menahannya ke atas kepala. Dia beranjak dari duduknya dan mendorong tubuh Kirana hingga terdesak ke dinding pabrik yang sudah dingin. Dengan kasar Rey meremas kedua p******a kenyal milik Kirana yang terpampang jelas di depannya. Bibirnya kembali melumat bibir Kirana yang sedikit bengkak karena gigitannya. "Eummhh... R-Rey...". Desahan bibir Kirana yang tidak tertahankan akhirnya keluar. Matanya terpejam. Nafasnya tidak beraturan. Tubuhnya bergetar nikmat saat Rey menyentuh bagian tubuh paling sensitifnya itu. Dia dapat merasakan hasrat yang menggebu dalam diri Rey. "H-hhentikkan.. R-Rey..!" Seolah tidak menggubris permintaan Kirana. Rey terus meremas p******a Kirana yang sangat pas di tangannya. Hal yang sangat menggoda Rey jika terus berada di dekat Kirana. Bibirnya masih menempel pada bibir Kirana. d**a Kirana kini menempel sempurna dengan d**a bidang Rey yang mulai dingin. "Kamu harus menjadi milikku, Ran!" Tangan Rey menelusup kedalam belakang celana kerja Kirana. Dia meraih p****t mulus Kirana dengan tangan kanannya dan meremasnya. Sedang tangan lainnya masih meremas gundukan kenyal yang menempel di dadanya. Bibirnya masih bermain indah di dalam bibir lembut Kirana. Kirana terus memberontak mencoba melepaskan diri dari Rey yang terus memaksanya. "J-jangan lakukan ini, Rey! Aku mohon!"   - Bersambung -
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD