#23 - Makan Malam

1324 Words
"You're perfect, honey! Aku tidak bisa menahan diriku saat melihatmu memakai ini!". James meraih tubuh Kinara membelai tubuh sintal Kinara dengan tangannya yang lihai dari pangkal pahanya hingga kepunggung Kinara lalu dengan cepat dia meraih tengkuk Kinara dan melumat bibirnya rakus. "Stop it! James!!" Bentak Kinara saat James sedikit melonggarkan lumatannya karena kehabisan nafas. "Kamu membuat make up-ku berantakan!" "Mungkin kita akan terlambat nanti" Ucap James sambil menyeringai seperti seekor singa lapar yang melihat mangsa empuk didepannya. James dengan semangatnya membawa kembali Kinara naik ke lantai atas dengan gendongan ala bridal dan memasuki kamar Kinara. Kinara menurut tanpa perlawanan. Percuma saja berontak. Disekitarnya berjejer bodyguard James yang kapan siap saja ikut menerkamnya. Disisi lain kediaman James. Seseorang memperhatikan mereka dengan wajah tidak suka. 'Sialan kamu, James. Setelah puas mempermainkanku, kamu kembali membawa mainan baru. Tunggu saja pembalasanku!' ** Di kediaman Cakradhana. Setelah beberapa menit, dia keluar dari kamar mandi dengan memakai bathrobe. Dia memperhatikan baju yang dibawa oleh pelayan itu dan segera memakainya. 'Baju ini bagus banget! Terkesan terlalu elegan. Apa tidak apa-apa aku memakainya?' Sebuah dress polos selutut berwarna pink coral lengan kutung dengan sedikit aksen mutiara berwarna maroon yang menambah kesan elegan. Walaupun sederhana tetapi dia yakin bahwa harganya tidak sesederhana tampilannya. Kirana sengaja memakai kembali jas kerjanya karena menurutnya dress ini terlalu terbuka di bagian belakang dan memakai kembali sepatu kerja high heels 5cm nya. Dia hanya memakai make up tipis dan mengoleskan liptint warna soft red kesukaannya. Dia segera menuju ruang makan menghampiri Dewi dan Windi yang sudah menunggunya. "Wah.. Benar kan kataku. Kamu cocok sekali memakai baju ini, nak!". Puji Dewi pada Kirana. "Terimakasih, Oma. Bajunya yang terlalu bagus" "Tidak-tidak! Kamu yang membuat bajunya menjadi lebih indah. Benar kan, Win?" Windi menoleh kepada Dewi dan tersenyum dengan paksa. "Iya, mi. Desain dari Fransiska memang yang terbaik" Windi enggan memuji kecantikan Kirana yang dia benci. 'Gaun itu pasti akan lebih cocok jika Allena yang memakainya'. Pandangan Kirana beralih pada Windi. "Em.. Malam, tante Windi. Maaf Kiran belum sempat menyapa tante dengan benar tadi". Kirana merasa tak enak hati pada Windi karena Rey langsung menariknya ke kamar. Windi hanya meliriknya dan menyuruhnya segera duduk. "Hm.. Duduklah. Sudah hampir dingin makanannya karena menunggumu". Ucap Windi sedikit ketus. Dewi yang melihat sikap Windi merasa aneh dengan perlakuan Windi pada Kirana. Seharusnya dia lebih menghargai Kirana karena dia adalah putri Erik, bukan orang lain lagi bagi mereka. "Duduk, Ran". Dewi mempersilahkan duduk Kirana di kursi dekat dengannya di seberang Windi. Kirana celingukan mencari entah siapa. "Rey itu sudah berangkat dari tadi, Ran" "Ah begitu..". Kirana mengangguk tanda mengerti. 'Untunglah Rey sudah pergi'. Merekapun melanjutkan makan malam bersama hanya bertiga. Nira dan Allena hari ini pulang kerumah nenek Allena, ibunda sang ayah yang masih hidup sendiri dirumahnya. Ayah Allena sekarang masih belum diketahui keberadaannya. Dia melarikan diri dari jeratan hutang yang membuntutinya kemana-mana. Sebenarnya ebih aman bagi Nira dan Allena untuk berada di kediaman Cakradhana yang tidak diketahui oleh depkolektor. Setelah acara makan malam mereka, Kirana sungkan hendak izin pulang. Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. 'Pasti kak Zayn sudah pulang' Batin Kirana. Dia mengecek dan membuka pesan masuk terpampang di layar ponselnya. From : Laoge Aku masih menunggumu, Ran. Cepatlah datang jika urusanmu sudah selesai. Aku sharelok tempatnya. Kirana terbelalak membaca pesan dari Zayn. Dewi yang melihat sikap Kirana seolah mengerti keadaan Kirana. "Kamu sedang ditunggu seseorang ya, nak?" "Ah.. Emm.... I-iyaa, oma. Sebenarnya malam ini Kiran ada janji makan malam dengan teman Kiran" "Hah? Lalu kenapa kamu masih disini?" "Maafkan Kiran ya, oma. Kiran harus pergi. Lain waktu Kiran akan mampir lagi" "Sudah sana cepat kamu susul dia. Takutnya malah dia marah sama kamu!" "Iya. Maaf ya, oma. Kiran pamit dulu. Salam untuk tante Windi" Kirana segera pergi menuju tempat Zayn menunggunya untuk makan malam. Meninggalkan Dewi yang masih berada di ruang duduk keluarga. Windi yang sedari tadi ke dapur mengambilkan camilan untuk Kirana baru saja kembali menghampiri Dewi. "Kirana mana, mi?" Ucap Windi sambil membawa sebaki camilan dan minuman dingin. "Dia sudah pamit tadi. Dia ditunggu temannya". "Pasti teman laki-laki" Ucap Windi ketus. "Kamu ini ada masalah apa sih, Win? Kenapa sikapmu ketus begitu pada Kirana?" "Mm.. Tidak kok, mi. Windi tidak begitu. Perasaan mami aja mungkin" Windi mengelak. 'Kiran memang cantik, tapi aku sangat tidak menyukainya' ** - Flashback - "Kiran kemana, bu?" Rey menghampiri ibunya yang sedang membantu pelayan memasak di dapur. "Dia sedang mandi di kamar tamu" Windi melirik Rey yang mengamati pintu kamar tamu yang dipakai Kirana. "Apa yang kalian lakukan tadi di kamarmu?" "Emm.. Rey sengaja membuatnya datang kemari untuk mengulur waktunya, bu. Aku tau dia sedang ada janji dengan seorang lelaki. Aku ingin membuatnya membatalkan janjinya malam ini" "Rey!! Ibu sudah bilang kan sama kamu untuk segera melupakannya! Lalu kenapa kamu masih saja mencampuri urusan dia!?" "Ibu! Aku masih belum rela dia bersama lelaki lain! Setidaknya biarkan Rey membuat dia menyesal telah bersikap seperti ini pada Rey". "Ibu harap kamu tidak perlu lagi mencampuri urusannya dan mulai fokus untuk mencari kebahagiaanmu sendiri, Rey!". 'Bagaimana Rey bisa bahagia, bu. Jika kebahagiaan Rey ada pada Kirana'. Rey hanya menjawab dalam hatinya. "Iya, bu. Rey akan berusaha melupakannya". Rey merapikan bajunya kembali dan segera berpamitan dengan ibunya. "Bu, Rey pamit pergi dulu ya, tolong sampaikan oma kalau Rey tidak bisa makan malam dirumah" Ucapnya sambil mencium punggung tangan Windi. "Hati-hati dijalan, nak!" Ucap Windi dengan pandangannya yang masih tertuju pintu dimana Rey menghilang. 'Ibu harus segera mendekatkanmu dengan Allena. Ibu tidak mau kamu terus-terus mengharap cinta dari wanita seperti itu'. Padahal jauh di dalam lubuk hati Windi, dia menyukai Kirana terlebih dia putri dari Erik. Tetapi mengingat sikapnya pada Rey dimasa lalu membuatnya juga membenci Kirana. Seperti yang Rey rasakan. ** Tanpa banyak bertanya, Kirana segera memasuki restoran yang di tunjukkan oleh sopir ojolnya sesuai lokasi yang telah diberikan Zayn. Dia memasuki restoran mewah bintang lima yang berada dilantai bawah sebuah hotel. Kirana tersenyum ketika ada dua gadis yang tampak modis dan sexy itu berjalan berpapasan dengannya dan membicarakan sesuatu. Paling mudah bagi Kirana untuk menemukan lokasi dimana Zayn duduk. Lelaki paling tampan yang selalu menjadi perhatian wanita-wanita yang melihatnya. "Gilaa..! Lu lihat kan cowok yang duduk sendirian di meja 5!? Itu cowok made in import kali ya? Bening bangett sumpah!! Mata gue sampe silau liatnya!" "Ehh ya kalii import! Itu mah serpihan berlian bangett!! Udah kaya ca en wu kw superr!!" Celotehan para gadis itu secara tidak langsung berhasil memberi tau Kirana yang berdiri kebingungan di depan pintu masuk. Dia langsung saja menuju tempat duduk Zayn berada. Kirana kembali menyunggingkan senyumannya ketika netranya tertuju pada seorang lelaki tampan sedang sibuk menatap layar ponselnya. "Zayn Gege!" Kirana mendekati Zayn dengan sedikit terengah-engah. Lelaki yang dibicarakan para gadis disekitarnya itu dan dirinya kini juga menjadi perhatian satu restoran. "Maaafff!!!!" Ucap Kirana sambil menyatukan kedua telapak tangannya dan menatap Zayn dengan wajah memelas. Zayn menatap Kirana yang baru saja datang dan berdiri disamping tempatnya duduk itu dengan wajah datar tanpa ekspresi. Tangannya menunjukkan ke jam rolex hitam yang dipakainya. Hampir 1 jam Zayn menunggu kedatangan Kirana. "Hehe.. Sorry, please!" Ucapnya sambil terus memohon, sedikit mengintip dari celah netranya yang sengaja dia pejamkan. "Ck... Hmmh...!". Zayn mendengus kasar lalu tersenyum manis. "Paling ga bisa marah deh kalo sama kamu! Gih duduk!". "The besstt!!!!!". Kirana tersenyum lebar dan menyodorkan kedua jempolnya pada Zayn. Dia segera duduk di kursi tepat di depan Zayn duduk. Dia baru sadar bahwa dia dan Zayn menjadi pusat perhatian pengunjung yang datang di restoran itu. Matanya beredar ke seluruh penjuru ruangan. "Menunya sudah ku pesankan. Kamu mau tambah apa?" Zayn yang menyodorkan daftar menu kepada Kirana terdiam menatap Kirana yang sibuk sendiri dengan pikirannya. "Aii!!?" "Kak? Orang-orang kog pada liatin kita sih!?" "Dari tadi kamu ga dengerin kakak!?" Kirana cuma nyengir. "Hehe" "Biarin aja! Mereka baru pertama kali liat cewek cantik yang didepanku ini sih!" "Apaan sih kakak! Bukan aku tau! Tapi pada heran tuh sama makhluk aneh kayak kakak!" "Aneh??" Zayn mengernyitkan dahinya. "Kok bisa?" - Bersambung - 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD