Mela menangis tersedu-sedu di kamarnya, sebuah album foto terbuka di depannya. Foto pernikahannya dengan Rayan. Foto tersebut membawa Mela ke kejadian dua bulan yang lalu, dimana ia dan Rayan memutuskan untuk menikah tanpa restu dari Maya.
Tidak ada satu orangpun yang akan mengira jika Mela akan kehilangan Rayan tepat satu hari usia pernikahan mereka. Mela mengusap wajah Rayan di foto tersebut. Air mata menggenang di pelupuk matanya, dalam sekali kedip butiran bening itu akan jatuh membasahi foto tersebut.
“Mas Rayan... aku mencintai anak kita seperti aku mencintai Mas. Aku akan menjaga buah cinta kita dengan baik. Mas jangan khawatir, meskipun Mas tidak bisa ikut membesarkannya tapi aku akan membesarkan dengan sangat baik hingga ia tidak akan pernah merasa kekurangan kasih sayang. Aku akan melakukan apapun untuk anak kita. Aku akan menjadi ibu sekaligus ayah yang baik untuk nya.”
“Aku berjanji Mas... Mas Rayan akan tetap di hati kami.”
Mela mengusap air mata yang telah jatuh di pipi dengan punggung tangannya. Tangan yang satu lagi mengusap perutnya. Siska benar, ia perlu makan agar ia punya tenaga. Mela tidak akan membiarkan tubuhnya sakit yang akan mempengaruhi kesehatan bayi mereka.
Mela mengambil satu lagi roti yang masih tersisa, ia memakannya meskipun tidak merasa lapar. Mela akan mengunjungi Rayan dan menyampaikan kabar bahagia ini karena itu ia perlu makan supaya ia memiliki tenaga yang banyak.
Mela mengganti baju kerja yang ia pakai dengan baju yang lebih nyaman untuk di bawa bepergian, ia telah mencuci muka sehingga terlihat lebih segar. Mela kemudian menyapukan spon bedak ke wajahnya, memberikan sedikit lipstik di bibirnya agar tidak tampak pucat. Mela telah siap untuk berangkat menuju makam Rayan.
**
Mela melepaskan kacamata hitam yang ia pakai ketika ia sampai di makam Rayan. Beruntung cuaca sedang tidak panas, jadi meskipun Mela datang lewat dari tengah hari, ia tidak kepanasan. Mela merasakan cuaca hari ini sangat bersahabat dengan dirinya.
Kemudian Mela duduk di samping Nisan Rayan, seperti kemaren... ia mengusap pelan nisan itu. Ada doa yang Mela ucapkan untuk Rayan di setiap sentuhan tangannya di nisan tersebut.
“Hari ini aku sangat bahagia, aku yakin jika Mas masih hidup... Mas juga akan sangat bahagia,” gumam Mela.
“Mas tau? Bahagia yang aku rasakan sama rasanya seperti Mas melamar aku waktu itu. Rasanya tidak bisa aku ungkapkan dengan kata-kata, aku menjadi orang yang sangat beruntung di dunia.”
Mela menghentikan ucapannya. Cukup lama ia terdiam, tidak ada sedikitpun kata yang keluar dari bibir Mela hingga yang terdengar kemudian hanya suara tangisan. Mela menangis.
“Mas... aku berusaha untuk tegar... aku berjanji aku akan kuat menghadapi semua ini.”
Mela berkata di sela-sela tangisnya.
“Aku tidak akan menangis lagi... aku tidak akan menangis lagi....” Bibir Mela bergetar, suaranya tercekat di tenggorokan.
“Aku bahagia, Mas! Aku sangat bahagia mendengar berita kehamilan ini. Dengan anugrah ini, ikatan antara kita tidak akan pernah terlepas. Sampai kapanpun... Mas akan tetap di hatiku... begitu juga dengan buah cinta kita yang akan hadir di dunia ini nanti. Akan aku buat ia bangga memiliki orang tua seperti kita.”
Mela mengusap pipinya yang basah, ia harus tegar seperti kata yang ia ucapkan tadi. Ia tidak boleh menangis. Tidak! Mela akan selalu bahagia biar Rayan juga bahagia di alam sana.
Tangan putih itu kembali mengusap pelan nisan Rayan. Mela menyapukan tangan nya di sana sepelan mungkin sambil membayangkan ia sedang mengusap wajah Rayan yang sedang tertidur. Selembut mungkin supaya Rayan tidak terganggu dengan belaian tangannya.
“Apa yang kau lakukan di sini?”
Mela menghentikan gerakan tangannya, suara itu suara yang ia kenal. Mela kemudian menurunkan kacamata yang tadi bertengger di kepalanya, meletakkan benda bewarna hitam itu di atas hidungnya yang mancung.
Ia kemudian berdiri, persis di samping Reyno yang telah berdiri di sebelahnya.
“Aku mengunjungi suami ku, ada yang salah?” jawab Mela tanpa sedikitpun melihat ke arah Reyno.
“Suami?!”
Meskipun Mela tidak melihat Reyno, tapi ia merasakan jika pria itu sedang tersenyum mengejek mendengar Mela menyebut kata Suami.
“Ya, Mas Rayan suami aku. Jadi aku punya hak untuk mengunjunginya kapanpun aku mau.”
“Jangan pernah bermimpi. Sampai kapanpun kau tidak akan pernah menjadi istri adikku.”
Mela mengenggam kuat jemarinya, dadanya terasa sakit ketika mendengar kata-kata tajam keluar dari mulut Reyno. Untung saja ia mengenakan kaca mata hitamg sehingga pria itu tidak melihat mata Mela yang berkaca-kaca.
“Tapi kenyataannya... kami sudah menikah. Bukankah Mas Rayan sudah menyampaikannya ketika kita bertemu waktu itu.” Mela berusaha untuk berkata dengan tegar, setegar hatinya ketika ia mendengar Reyno menyebut Mela tidak akan pernah menjadi istri Rayan.
“Bahkan pernikahan yang kalian sebutkan telah terjadi itu tidak tercatat sama sekali di kantor urusan agama. Tidak ada yang bisa membuktikan kalian menikah meskipun kau berkoar-koar ke seluruh dunia.”
Mela menelan ludahnya, Reyno sangat jauh berbeda dengan Rayan. Rayan tidak pernah berkata kasar kepada Mela, ia selalu memperlakukan Mela dengan lembut yang membuat Mela merasa disanjung sebagai wanita.
Mela kemudian melangkah mundur, ia lalu berbalik. Berdebat dengan Reyno akan membuat hatinya semakin sakit karena pedasnya kata yang pria itu ucapkan. Menghindar adalah jalan terbaik, bukannya Mela takut, Mela hanya menghindari pertengkaran yang terjadi di depan makam suaminya. Ini hanya akan membuat Rayan bersedih, karena ia juga merasakan hal yang sama.
“Aku tidak mau melihat kau ada di sini lagi!”
Mela mengehentikan langkahnya. Reyno benar-benar manusia yang tidak berperasaan dan Mela sangat gerah mendengar kata-kata tajam tersebut. Ia kemudian berbalik, hendak memberi pria itu pelajaran dengan sedikit tamparan. Namun tubuhnya tidak mengizinkan itu, Kepala Mela mendadak pusing dan ia langsung terjatuh di tempat ia berdiri.
**
Mela mengerjapkan kedua matanya, indra penciumannya menangkap aroma maskulin di sekelilingnya. Satu tangan Mela mengusap ke dua mata supaya ia bisa melihat dengan jelas dimana ia berada.
Ia memandang ke sekililing kamar, sama sekali Mela tidak mengenali kamar yang ia tempati sekarang. Ini bukan kamar rumah sakit, aku tadi pingsan, harusnya aku berada di rumah sakit. Dimana aku? Siapa yang membawa aku kesini? ucap Mela di dalam hati.
Kemudian Mela berusaha untuk bangkit dan turun dari ranjang besar, yang belum Mela ketahui milik siapa. Kamar itu sangat bersih dan rapi untuk ukuran seorang pria. Mata Mela lalu menangkap sebuah foto yang tergantung di dinding kamar, foto tiga orang pria yang sedang berada di pinggir sungai yang mengenakan baju dingin dan syal yang melilit di leher sedang tersenyum ke arah kamera. Wajah ketiga pria itu sangat mirip, satu pria yang berada di tengah sedang merangkul dua pria yang ada di sampingnya, rambut pria itu sudah memutih namun masih terlihat sangat tampan. Mela belum pernah melihat dan tidak mengenal pria tersebut, namun ia mengenal dua pria yang berada di samping pria itu.
“Tidak mungkin!” Mela menggelengkan kepalanya, ia menolak jika berada di kamar itu. Dengan sisa tenaga yang ia punya, Mela berlari keluar... Mela harus cepat keluar dari kamar tersebut, karena kamar itu bukan tempat nya.