Menuju rumah ambu

1050 Words
Suara pintu diketuk rupanya menjadi akhir dari obrolan Dela dan Lila. "Itu pasti Mang Nurdin. Dia yang dipercaya bapak untuk antar jemput aku," tutur Lila. "Ya udah, kalo gitu, aku ke kamar aja, deh. Ngomong-ngomong ini bayarnya kapan? Sekarang aja, ya. Palingan aku nginepnya cuma dua hari kok." "Nanti aja deh bahas pembayarannya. Kalian pasti capek, kan?!" "Iya, sih," aku Dela sembari tertawa. Mereka bertiga melangkah beriringan menuju keluar. "Aku usahakan sore pulang deh, banyak banget soalnya yang pengen aku tanya ke kamu, kayaknya aku ketinggalan banyak kisah tentang sahabatku ini." Lila berucap sebelum akhirnya dia naik ke boncengan Mang Nurdin. Sejak dulu, Lila memang selalu mengerti dirinya. Itulah kenapa Dela menjadi dekat dan tak segan menceritakan semua yang dialaminya kepada sahabatnya ini. Selepas Lila pergi, Dela dan Ilham menuju ke kamar yang tertulis angka tiga di sana. Dela membuka pintu itu dengan kunci yang dia terima dari Lila. "Aku mandi duluan ya, Mas. Kamu rebahan aja dulu, capek, kan?!" Dela paham betul bahwa suaminya ini pasti sangat lelah sekarang. "Banget," sahut Ilham, wajahnya tampak letih. Belum pernah di melakukan perjalanan sejauh ini, apalagi menyetir seorang diri. Sekalipun Ilham ada kerjaan di luar kota, dia pasti bergantian menyetir dengan tim kantornya. Perjalanan kali ini benar-benar melelahkan. Tapi tak apa, selama Dela bahagia, Ilham justru akan bersuka cita melakukannya. Bukan beristirahat, Ilham justru keluar mengambil koper dari bagasi mobilnya. Membawanya ke dalam kamar agar Dela bisa langsung ganti baju begitu dia keluar dari kamar mandi. Barulah setelah itu, Ilham merebahkan tubuhnya di atas kasur yang ternyata hanya muat untuk satu orang ini. Jam masih menunjukkan pukul lima. Masih bersisa banyak untuk istirahat. Tak sampai satu menit, kepala Ilham menyentuh bantal, dia langsung terlelap. Dela pun tak berlama-lama di kamar mandi, dia teramat lelah dan ingin cepat-cepat istirahat sebelum nanti pergi ke rumah ambunya. Dilihatnya sang suami yang terlelap di atas kasur. Namun Dela tak kehabisan akal untuk bisa beristirahat tanpa perlu membangun Ilham. Dela memakai piyama dan menggelar tikar di atas lantai. Meski kasur yang tersedia hanya cukup untuk satu orang, bukan berarti kamar ini sempit. Ruangan ini bahkan cukup untuk menampung lima orang di dalamnya. Dela tidur di atas tikar, berbantal selimut yang dia lipat membentuk kotak kecil. Lalu dia menutupi tubuhnya dengan jaket yang juga dia bawa dalam kopernya. Sebelum benar-benar terlelap, Dela menyalakan alarm dan menyetelnya tepat pada pukul enam empat puluh lima. Lima belas menit lebih dari cukup untuk dia dan Ilham bersiap-siap. Keduanya terlelap tidur sebab lelah yang teramat. **** Di kediaman Ambu, perempuan yang sudah menginjak kepala empat itu disibukkan dengan olahan ayam, ikan dan sayuran yang dibelinya. "Kamu yakin bakalan ada tamu ke sini?" Pak Faris tampak ragu. "Nggak mungkin Dela bohong kan, Pak?!" Ambu menjawab sembari terus memasak satu persatu bahan yang sudah dibelinya. "Tapi darimana dia tahu kalau akan ada yang datang ke sini, dia kan ada di Jakarta." Pak Faris masih mempertahankan keyakinannya bahwa Dela hanya membohongi ambunya. "Mungkin temannya, Pak. Mereka telponan, dan temannya ini ngasih tau Dela kalau dia mau ke sini." Ambu tak kehabisan jawaban untuk meyakinkan suaminya bahwa apa yang Dela ucapkan tak mungkin bohong. Wajar saja Pak Faris berpikir demikian, karena setahunya, Dela berada di Jakarta dan jarang sekali menelpon ambunya. Lalu secara tiba-tiba dia menelpon dan mengatakan bahwa ambunya akan kedatangan tamu, apakah itu masuk akal? "Lagian bapak kok tumben sih jam segini belum siap-siap, nanti mobil jemputannya datang loh." Pak Faris bekerja sebagai tukang proyek dan setiap hari ada mobil khusus yang menjemput dan mengantar pulang semua pekerjanya. Maklum, tempat kerja mereka di kota jadi tak bisa ditempuh dengan motor apalagi kalau pengendaranya tak punya SIM seperti Pak Faris. "Saking penasarannya sama tamu yang akan datang ke rumah kita, bapak jadi nggak kepingin masuk kerja," sahut Pak Faris. Ada-ada saja suami Ambu Indun ini. "Bapak mau telepon supir jemputan dulu, Bu. Biar ga perlu jemput ke sini," ucap Pak Faris seraya berlalu dari dapur. Ambu Indun hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan suaminya. Laki-laki sih, tapi suka kepo dan pemasaran. **** Alarm berbunyi membangunkan Dela yang sejujurnya dia masih ingin melanjutkan tidurnya. Tapi teringat dengan janjinya pada Ambu, mau tidak mau Dela harus bangun dan pergi ke rumah Ambu. Terlebih, di jam segini pasti bapak tirinya itu sedang keluar bekerja. Dela masih seperti biasa, sangat pintar mengatur waktu. Segitu bencinya dia dengan bapak tiri yang menurutnya sudah merebut Ambu darinya. Dela bangkit namun hanya mencuci muka. Tak lupa, dia membangunkan Ilham yang masih lelap dalam tidurnya. Tak jauh berbeda dari Dela, Ilham pun merasa masih ingin melanjutkan tidur, tapi dia paksa bangkit dan langsung masuk ke kamar mandi. Sementara Ilham mandi, Dela memakai riasan seperti biasanya, mengganti baju lalu keluar kamar untuk menyapa beberapa penghuni wisma yang dia kenal. Begitu Ilham keluar dari kamar mandi, dia tidak melihat batang hidung istrinya. Yang tersisa hanya aroma parfum Dela yang menggelitik penciumannya. Mengusir penat yang masih merayap. Terdengar suara istrinya mengobrol di luar. Segera Ilham mengenakan pakaian yang ternyata sudah disiapkan Dela untuknya di atas kasur. Memang the best lah pelayanan Dela terhadap suaminya. Hanya bersisa satu pelayanan saja yang belum Dela lakukan pada Ilham. Yang ngikutin Dela sejak awal pasti paham. Dan itu akan Ilham dapatkan saat nanti dia kembali dari rumah Ambu. Krieet ... Pintu dibuka dan Dela masuk sebab suami yang ditunggunya belum juga keluar. "Ayo, Mas. Kasihan Ambu loh kalo nunggu kelamaan," ucap Dela saat melihat suaminya belum juga selesai mengancingkan kemejanya. "Iya, Sayang. Sabar ya ... Kenapa nggak kamu telepon lagi ambunya. Bilang kalau kita bakalan agak telat," usul Ilham. Belum sempat Dela menjawab, panggilan masuk di ponselnya. Dan itu dari Ambu, namun Dela mengabaikannya. "Kok nggak diangkat?" Sekarang Ilham sudah rapi dan siap berangkat. "Dari Ambu," sahut Dela seraya merapikan rambutnya yang tidak berantakan sama sekali. Ilham mengambil kunci mobilnya dan berjalan keluar. Orang-orang yang tadinya ramai mulai sepi saat hari semakin siang. Kebanyakan dari mereka sudah pergi ke kampus yang letaknya tak jauh dari sini. "Kalo dari Ambu kenapa ga diangkat, Sayang?" tanya-nya gemas. Jauh-jauh dari Jakarta untuk menemui Ambu, tapi dia malah memilih nginep di rumah sewa yang katanya wisma ini. Lalu sekarang, ambunya menelpon pun tidak dia angkat. Dela selalu saja membuatnya terheran-heran dengan beberapa aksi estetiknya "Sengaja!" Dela menjawab dengan santainya. Dan jawaban Dela tadi sukses membuat Ilham menginjak rem dan langsung menatap tajam ke arah istrinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD