Ke tempat sewa

1014 Words
Kini Ilham dan Dela kembali melanjutkan perjalanan. Tak lupa sebelum meninggalkan rest area tadi, Dela membelikan satu cup kopi lagi untuk Ilham. Meski tak mengantuk, Ilham selalu memberhentikan mobilnya dan beristirahat sejenak setelah dirasa cukup lama dia mengemudi. Tepat pukul tiga dini hari, mobil Ilham melewati jembatan fenomenal Suramadu. Artinya tak kan lama lagi dia akan memasuki kampung istrinya. Ilham melirik Dela sebentar, istrinya menggeliat karena jalanan yang mereka tempuh mulai bergelombang, tak lagi mulus seperti saat masih di tol ataupun di jalan kota. Sekarang, mereka benar-benar sudah memasuki perkampungan. Meski sedikit jengkel karena banyak sekali lubang di jalan, tapi ini cukup menguntungkan bagi Ilham, dia tak perlu membangunkan istrinya sebab dia terbangun dengan sendirinya. "Emh ... mas. Ini udah sampe mana?" tanya Dela. "Kalo di google map sih ini tuh masuk Bangkalan." Dela langsung melihat ke luar jendela. Area persawahan terlihat di sepanjang jalan. Segera dia ambil ponsel miliknya dan dihubungi nya nomer sang Ambu. "Del ... Tumben nelpon." Suara di seberang terdengar serak. Mungkin Ambu masih tidur. "Iya nih, Ambu ntar ke pasar ya. Beli ayam kampung sama sayuran yang banyak. Ambu bakal kedatangan tamu," ucap Dela. Dia tahu, ambunya biasa masak hanya dari sayur yang dia ambil dari kebun kecil di belakang rumahnya. Tak akan cukup untuk dia dan Ilham kalau ambunya hanya masak seperti biasa. Dela tahu, suaminya pasti lapar, sebab perutnya sendiri sudah berbunyi dan meminta diisi. Pun, Dela rindu masakan Ambu. "Tamu? Siapa, Del?" Ambu dibuat bertanya-tanya padahal dia baru membuka mata. Itupun karena panggilan pagi-pagi buta dari Dela. "Ada deeehhh ... Nanti juga Ambu bakalan tahu." Dela menjawab dan mengakhiri sambungan teleponnya, sebelumnya dia mengingatkan ambunya perkara permintaannya tadi, tak lupa dia juga mengucapkan salam sebelum tadi menutupnya. Senyum mengembang di bibir Dela. Ilham turut tersenyum, senang rasanya melihat wajah Dela berbinar seperti ini. Tidak sia-sia perjalanan jauh yang memakan waktu hampir sehari semalam. Dela memandu jalan saat mobil mereka sudah mulai memasuki kampung Dela, karena alamat rumahnya tidak masuk dalam Google map. Kalau kata temen author, kampung Dela ini ada di balik gunung. Tapi jangan salah! Dela tidak kampungan. Catat! "Di depan belok kiri, Mas." Ilham menyetir dengan fokus, sebab jalanan yang masuk kampung Dela lebih sempit dan lebih bergelombang. Dia juga membawa mobilnya dengan sangat pelan. Bukan apa-apa, selain jalanannya yang rusak dan sempit, ternyata penduduk kampung sudah beraktifitas di luar meski sekarang masih pagi buta. Inilah yang membedakan keadaan di kota dan di desa. "Nanti ada rumah cat ijo, stop di sana!" ucap Dela kemudian. Masuknya mobil ke pekarangan rumah dengan ciri yang disebut Dela, menyita perhatian tetangga di sebelahnya. Ilham melihat rumah di depannya dengan sedikit tanya. Rumah ini dipenuhi dengan beberapa pintu dan di halamannya terdapat beberapa motor yang mayoritas matic, dan hampir semuanya berwarna pink. Kedatangan mobil yang biasanya hanya sebulan sekali ke tempat ini, tentu menyita perhatian banyak orang. Ya, rumah bercat hijau yang ditunjuk Dela ternyata tak hanya dihuni oleh satu orang saja. "Ambu tinggal di sini?" tanya Ilham, dia tak bisa menahan rasa penasarannya. Terlebih, hampir semua yang sekarang memandang ke arahnya adalah perempuan. Tentu hal itu membuat Ilham merasa sedikit tak nyaman. Dela tersenyum, dia bahkan melambaikan tangan dan menganggukkan kepala, menyapa Beberapa orang dari mereka. "Masuk dulu, ayok." Dela belum juga menjawab pertanyaan Ilham. Tanpa berniat mengulang pertanyaannya lagi, Ilham mengekor istrinya masuk. Dia mengetuk pintu yang ada tepat di tengah diantara semua pintu di rumah ini. Cat berwarna cokelat dengan ukuran yang lebih besar dari pintu-pintu yang lainnya itu membuat Ilham berpikir bahwa pemilik rumah ini adalah orang yang ada di balik pintu ini. "Assalamu'alaikum, Yu." Dela mengetuk sembari mengucapkan salam. "Waalaikumussalam." Terdengar suara yang menjawab bersamaan dengan pintu yang dibuka. Perempuan dengan mukenah putih membukakan pintu. Dia tampak terkejut karena melihat Dela. "Dela?! Ayo masuk," ajaknya langsung menarik tangan Dela. Perempuan itu bahkan tidak menyadari keberadaan Ilham saking terkejutnya dengan kemunculan Dela. "Ah, iya. Dia suamiku, namanya Ilham. Mas Ilham kenalin, Lila temanku," ucap Dela memperkenalkan Ilham kepada Lila, pun sebaliknya memperkenalkan Lila pada Ilham. "Masuk, Mas. Kok nggak nelpon dulu, sih? Kan bisa aku masakin buat kamu." Perempuan itu tampak akrab dengan Dela. "Ngga usah repot-repot, La. Aku tuh udah nelpon Ambu, jadi nanti aku janjian buat sarapan di sana, jam tujuh kayaknya aku ke sana." Ilham hanya diam, menjadi penonton sekaligus pendengar antara dua wanita yang sekarang mengobrol di depannya. "Aku ke sini mau sewa kamar kek biasa. Masih ada yang kosong, kan?" tanya Dela. Mendengar penuturan Dela, Ilham dibuat tak mengerti dengan sikap istrinya kali ini. Tujuannya membawa Dela kan untuk mengunjungi ambunya, tapi kenapa dia justru mau sewa kamar?! "Masih lah, Del. Kamar di sini nggak pernah penuh. Kamu tahu sendiri, kan kalo yang nyewa di sini tuh kebanyakan mahasiswa dan mahasiswi dari luar kampung ini." "Bentar ya, aku lepas mukenah sama sekalian ambil minum buat kalian." Lila bangkit. Inilah kesempatan Ilham menanyakan maksud dibalik sewa kamar yang dilakukan istrinya. "Mas, rumah Ambu kecil, kamu ga bakalan betah. Lagian di sana cuma ada satu kamar. Makanya aku ajak kamu ke sini. Jadi selama di sini, kita kunjungi Ambu tiap hari," jelas Dela. Ilham berpikir sejenak, setelahnya dia hanya mengangguk patuh. Dela tak mungkin seperti yang dia pikirkan! Rasa cintanya lagi-lagi membuat Ilham mengalah dan hanya menurut saja pada Dela. Lila yang tadi pergi, kini datang lagi dengan nampan berisi dua cangkir teh dia tangannya. Mukenahnya sudah berganti dengan hijab lebat menutup d**a. "Ayo diminum. Kalian baru sampe?" tanya Lila mendaratkan pantatnya di tempatnya yang tadi. Dela mengangguk sembari mengambil cangkir miliknya. Dia meniup sebentar lalu menyeruput sedikit. Pagi begini memang sangat pas kalau minum teh panas seperti ini. "Ini kuncinya. Untung kamu datangnya pagi banget, siangan dikit aku udah keluar," tutur Lila. "Tumben. Kemana?" tanya Dela. "Saudara bapakku meninggal. Bapak sama ibu udah ke sana sejak kemarin. Aku sendiri yang bolak-balik karena di sini ga ada yang jaga." Lila menjelaskan. "Oh, pantesan rumah ini sepi. Biasanya pagi begini udah pada sibuk masak," ucap Dela masih dengan teh yang bersisa setengah dari cangkirnya. Keduanya mengobrol sembari mengenang kebersamaan mereka sedari kecil. Sayangnya hal itu harus terhenti sebab terdengar ketukan di pintu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD