Otewe

1009 Words
Perjalanan berubah menyenangkan sebab Ilham menceritakan masa kecil neneknya yang pernah dia dengar dari sang nenek. Jangan lupakan bahwa mereka menjadi seperti sekarang itu berkat neneknya, Hindun. Itulah sebabnya Ilham menjadikan neneknya sebagai objek obrolan dengan sang istri. Ilham teringat dengan detik terakhir kematian sang nenek. Tapi bukan menyesalinya melainkan mengenang kejadian pilu yang menjadi awal kebahagiaan untuknya. Dulu, tepat setelah proses pemakaman sang nenek, ibunya, Bu Ningsih memberinya nasihat bahwa permintaan yang diucapkan seseorang tepat sebelum kematiannya adalah sebuah wasiat yang harus ditunaikan. Karenanya Ilham memutuskan untuk ke terminal tepat di hari ketujuh kematian neneknya. Namun sesampainya di sana dia tidak menemukan orang yang dicarinya. Memang hari yang sangat sial untuknya kala itu. Ilham merasa sudah menjalankan wasiat neneknya saat datang ke terminal. Dan dia sudah tak punya kewajiban untuk itu. Sebab itulah seminggu setelahnya, Ilham seperti biasa pergi ke kantor tanpa merasa terbebani dengan tugas menjemput Dela seperti sebelumnya. Dan seperti biasanya pula, ibunya menelpon tepat di jam pulang kantor. Menyuruh Ilham untuk langsung pulang karena katanya ada tamu spesial yang sudah menunggu kedatangannya. Malam itu, lagi-lagi teman-temannya mengajaknya untuk mampir ke club. Dan seperti malam sebelumnya, Ilham menolak, kali ini alasannya karena ada saudara jauh yang datang berkunjung ke rumahnya. Anak rumahan langsung tersemat padanya. Berbagai julukan sudah biasa Ilham terima, dan itu sama sekali bukan masalah, karena ternyata kemarahan ibunya jauh lebih mengerikan daripada julukan sesaat yang diberikan teman-temannya. Ilham sampai di rumahnya tepat di saat semua penghuni rumah sedang makan malam. Dan dia langsung bergabung dengan ibu bapak dan perempuan yang pasti dialah tamu spesial itu. "Habis dari luar nggak mandi dulu, Mas." Perempuan yang tak lain adalah Dela menyapa. Perempuan itu terbiasa mandi setiap selesai beraktifitas di luar. "Nggak. Dan lagi, aku bukan penjual ketoprak." Ilham menjawab dengan ketus. Bagaimana tidak, perempuan ini bahkan belum mengenal Ilham tapi sudah berani mengomentarinya. Mana manggilnya mas, Abang penjual ketoprak yang sering mangkal di perempatan depan itulah yang selalu ingin dipanggil mas karena dia berasal dari Jawa. Sebab itulah Ilham tak suka karena panggilan Dela tadi. "Haam ... Kok jawabnya gitu? Dela kan cuma berusaha buat jalin komunikasi sama kamu." Bu Ningsih menegur anak lelakinya. "Tapi bener loh, Bu kata Ilham, abang-abang ketoprak yang di depan itu kan maunya dipanggil mas." Pak Rosyid tertawa mengingat ucapan ketus Ilham yang membawa Si Mas ketoprak yang mangkal di perempatan depan. Ilham terlanjur kesal karena seminggu yang lalu dia membuang-buang waktu dan tenaga di terminal. Tapi siapa sangka, ternyata Dela mampu membuatnya luluh dan bahkan jatuh hati. Seperti halnya kali ini, perjalanan jauh yang mereka lalui hampir sehari semalam itu semata-mata karena cinta Ilham yang begitu besar untuk Dela. "Jadi waktu nenek masih di kampung, dia suka manjat pohon? Dan Ambu malah kebalikannya?!" Dela mengulang cerita Ilham tentang masa kecil nenek dan saudara kembarnya yang tak lain adalah Ambu Dela. Ilham mengangguk sembari tertawa. Obrolan mereka berlangsung lama, tapi begitulah yang namanya berada dalam perjalanan, meski hanya duduk saja tetap terasa sangat melelahkan. Dela mulai mengantuk dan pada akhirnya tertidur. Sementara Ilham, memilih menepi saat dirasanya dia pun merasa lelah menyetir. Huft ... kalau tahu akan seperti ini, Ilham akan memakai jasa supir. Tapi ya sudahlah, sudah setengah perjalanan dan akan sulit menemukan supir yang bisa dipercaya di tempat asing seperti ini. Di rest area, Ilham memberhentikan mobilnya. Dia tidak langsung turun, sebab tak tega kalau harus meninggalkan Dela atau membangunkan istrinya yang sedang terlelap itu. Langit sudah mulai menunjukkan warna jingga di ufuk barat sana. "Udah sore, laper banget lagi." Ilham melirik Dela. Ingin rasanya dia turun dan membeli makan. Tapi karena ini pertama kalinya dia melakukan perjalanan jauh dengan menyetir sendiri, Ilham merasa was-was kalau harus turun dan meninggalkan Dela. Dia khawatir kalau Dela bangun dan mencarinya. Ilham teringat dengan bekal yang pemberian ibunya. Dia lantas turun, mengambilnya lalu memakannya dalam mobil di sisi Dela. Huft ... Efek keseringan ngumpet di bawah ketek emak, Ilham yang besar di kota malah seperti seorang pemuda desa. Namun justru hal itulah yang membuat Dela menjatuhkan pilihan kepadanya. Karena mencium aroma makanan, Dela mulai membuka matanya. Dia mendapati suaminya tengah makan dengan lahap di sisinya. "Emang enak, Mas? Dingin gitu?!" tegur Dela begitu matanya sempurna terbuka. "Enak ga enak ditelen ajalah, Sayang," sahut Ilham dengan polosnya. Tak heran teman-teman kantornya memberinya julukan anak mami. Huft ... Banyak sekali julukan untuk Ilham, dan semuanya menunjukkan kalau Ilham tidaklah seperti lelaki pada umumnya. Dela suka itu! "Kamu kenapa ga turun dan beli?" tanya Dela dengan tertawa melihat kepolosan suaminya. "Kasian kamu akutuh." Lagi-lagi Dela tertawa, "aku bukan anak kecil, Mas. Lagian kan ada ini." Dela mengangkat tangannya sejajar dengan dadanya. Di tangannya ada ponsel Dela yang kini menyala menunjukkan jam lima belas empat puluh tiga. "Oh iya!" Ilham merasa bodoh sekarang. Tapi ya sudahlah, toh ... Perutnya tetap terasa kenyang meski makanan yang dia makan sudah dingin. "Kamu mau kopi?" tanya Dela kemudian. "Kamu pasti ngantuk kan tadi. Makanya berhenti di sini." Ilham mengangguk, dia meletakkan sisa makanan dan air yang memang selalu tersedia di dalam mobilnya. "Ya udah, aku beliin." Dela melepaskan seat belt dan hendak turun. "Nanti ketemu di sana, ya." Ilham menunjuk bangku kosong di depan restoran yang ada di rest area. "Aku mau mandi bentar biar seger," tambah Ilham. Dela mengangguk setuju. Dia dan Ilham bisa gantian menyegarkan badan sebelum melanjutkan perjalanan. Sesuai permintaan Ilham, Dela pun membeli kopi, dia membeli dua, satu untuk Ilham dan satu lagi untuk dirinya. Sembari menunggu kedatangan Ilham, Dela memesan makanan, sebab sejak membuka mata tadi, perutnya terasa keroncongan minta diisi. Tak lama makanan datang bersamaan dengan Ilham yang datang dengan wajah yang sudah segar. "Mas, kamu mau makan lagi ga?" Ilham tentu menggeleng, perutnya sudah kenyang. Dia hanya minum kopi yang ada di depannya. Sementara Dela melahap makanan yang sudah dipesannya. Keduanya melepas penat dengan versi masing-masing. Dela yang sudah makan bukan langsung mandi seperti yang dikatakannya, tapi justru memainkan ponselnya. Sedangkan Ilham, memilih rebahan di bangku panjang yang ada di sebelah mejanya. Beristirahat sejenak saat menempuh perjalanan panjang itu penting, itulah sebabnya Ilham memanfaatkan waktunya untuk memejamkan mata walau hanya sebentar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD