Madura, I'm coming

1000 Words
Acara sarapan berlangsung hangat, meski tak ada perbincangan diantara ketiganya, tapi dengan Dela bertingkah sebagaimana seharusnya, sudah cukup membuat Ilham juga Bu Ningsih berbahagia. Bagaimana tidak, biasanya Dela tampak enggan untuk menyentuh makanan yang dimasak oleh Bu Ningsih, tapi sekarang dia tampak memakannya dengan lahap. "Masakan ibu enak," ucapnya dengan mulut masih penuh dengan makanan. "Emang dari kemaren ga enak?!" Ilham menjawab, namun hal tersebut mendapat belalakan mata dari Bu Ningsih. Tak hanya itu, Bu Ningsih juga mengucapkan kata-kata tanpa suara yang tentu tidak Ilham pahami. Tapi ... Sebab hanya melihat pelototan mata dari Bu Ningsih, Ilham langsung bungkam. Sementara Dela tampak tak peduli, dia hanya meneruskan makannya sebab perutnya memang sedang sangat butuh diisi. "Ya udah kamu nambah nih. Kalau perlu, nanti ibu bungkusin buat bekel." Bu Ningsih berucap dengan bersemangat saking senangnya karena mendapat pujian dari menantunya. Bukan, bukan hanya sebab pujian, tapi karena sikap Dela yang perlahan menghangat dan membuat adem hatinya. Buat bekel? Memang sejauh apa perjalanan yang akan ditempuh nanti? Siapa seseorang yang kata Mas Ilham akan bertemu denganku? "I-iya, Bu," sahut Dela cepat. Sedikit gugup sebab pikirannya masih memburu kepada sosok yang akan Mas Ilham-nya pertemukan dengannya. "Wah ... Kalian tega banget, sarapan ga nungguin bapak." Pak Rosyid datang dan langsung mengambil posisi di dekat istrinya, berhadapan dengan Dela, menantunya. "Kalo Ilham dan Dela masih nungguin bapak, bisa-bisa mereka kesiangan." Bu Ningsih menjawab. Pak Rosyid tak menanggapi, dia lantas menyendok nasi lengkap dengan lauk pauknya. Dia tak kalah lahapnya dari Dela tadi, sayangnya sekarang, menantunya itu sudah mengakhiri makannya. "Loh, kok uwes mangannya? Masih banyak loh Iki." Logat Jawa Bu Ningsih langsung keluar saat melihat sang menantu sudah menyuap suapan terakhir ke mulutnya. "Udah kenyang, Bu." "Ayo, Mas buruan. Aku masih perlu mampir ke rumah buat ganti baju." Dela kini beralih memandang suaminya, Ilham tampak baru makan setengah dari isi piringnya. Saking senangnya melihat Dela yang makan dengan lahap, dia sampai lupa untuk menyuapkan makanan di piringnya ke mulutnya. "Ndak usah buru-buru, Ham. Perempuan emang gitu, kalo udah kenyang sendiri mereka ngedesak." Pak Rosyid menyela. "Aku tunggu di luar, Mas." Dela langsung pergi. Dalam hatinya dia merasa tersinggung dengan ucapan Pak Rosyid. Daripada semakin dongkol mendengar ucapan-ucapan mertuanya, Dela memilih menunggu di teras rumah mertuanya. Dia mengambil benda pipih miliknya yang sudah dia letakkan dalam tas jinjingnya. Ciyeee yang udah nikah. Bulan madu ke mana, nih? Sebuah aplikasi hijau menunjukkan chat masuk dari teman sesama gurunya di Sekolah Dasar Cipta Negara. Dela hanya tersenyum tanpa berniat untuk membalas pesan itu. Diread doang. Pasti lagi sama suaminya, ciyee ... Selamat ya. Yang nikahanya nggak ngundang aku. Teman gurunya ini memang selalu saja menggodanya di setiap ada kesempatan. Dulu saja saat Dela masih belum menikah, dia selalu menggoda agar Dela buru-buru menikah sebelum nanti jadi perawan tua katanya. Lalu sekarang, saat Dela sudah menikah, dia menggoda karena Dela tidak mengundangnya. Huh ... Bisa saja dia menggodaku seperti ini, semua teman guru kan memang tidak ada yang diundang. Karena rencananya, aku ingin mengadakan resepsi di kampung dan mereka akan diundang untuk acara yang di sana. "Hei, ngapain senyum-senyum sendiri? Ayo sebelum kesiangan biar ga kena macet. Oh ya, ini titipan dari ibu." Ilham menjinjing satu kantong hitam berisi kotak makan. "Loh, ibu mana?" Terselip rasa tak enak dalam hati Dela melihat titipan ibu mertuanya. Perempuan yang sudah berjasa melahirkan Mas Ilham ke dunia ini merupakan perempuan hebat, baik dan sangat penyayang. Tak hanya kepada anak kandungnya, kepada anak menantunya pun dia bersikap sangat baik. Dela ingin sekali berbalik masuk ke dalam untuk mengucapkan terimakasih. Tapi kemudian urung sebab di saat yang sama, Mas Ilham-nya membuka kaca jendela mobilnya dan menyuruh Dela untuk segera masuk. Hening menengahi, hanya deru kendaraan yang berlalu lalang saja menjadi irama pengusir senyap yang terjadi diantara keduanya, Ilham dan Dela. "Kamu cepetan ya ganti bajunya. Sama sekalian siapin baju untuk tiga hari." Ilham berucap saat mobil yang mereka tumpangi tanpa terasa sudah tiba di depan rumahnya. Meski amat penasaran, tapi Dela tidak menuruti sifat alamiah seorang perempuan, kepo bin pengen tahu. Dia langsung masuk setelah menjawab iya tanpa bertanya hendak kemana mereka sebenarnya. Sekarang, Dela sudah siap dengan segala keperluan yang diminta suaminya. Tak hanya bajunya, baju Ilham pun sudah dia masukkan dalam koper. Haih ... Bahkan sekarang Dela menarik koper keluar rumah padahal dia sama sekali tak tahu kemana suaminya akan mengajaknya pergi. Saat masuk mobil, Ilham tengah asyik melakukan video call dengan teman-teman kantornya yang kebanyakan dari mereka tampak baru bangun tidur. Ada yang bertelanjang d**a, ada yang hanya memakai kaos oblong putih yang membungkus tubuh ketatnya. Dela tak bicara apa-apa, dia hanya langsung duduk di samping kemudi setelah meletakkan koper yang dibawanya ke dalam bagasi mobilnya. Menyadari bahwa sang istri sudah siap di sampingnya, Ilham pun mengakhiri obrolannya dengan teman-temannya. "Inget yang gua omongin tadi, elu harus praktekin biar ...." "Iya iya, cerewet banget." Ilham memutus sambungan sepihak. Tentu kawan-kawannya langsung terbahak di tempat masing-masing melihat tingkah Ilham. "Eng, mobilnya. Eee bagasinya. Ck ... Salah Mulu." Ilham hendak menanyakan kopernya sudah dimasukin bagasi atau belum? Tapi salah tingkah membuatnya mempermalukan dirinya sendiri. "Koper udah dimasukin bagasi." Dela langsung paham kemana arah pembicaraan suaminya. Dia lantas bicara dengan maksud memberitahu sekaligus menjawab pertanyaan yang tak kunjung benar diucapkan Ilham. "Oke. Kalau begitu kita let's go to ...." Ilham menghentikan kalimatnya dan memandangi Dela dengan gemas sembari tangannya mulai menstarter mobilnya. Ternyata wajah Dela begitu lucu saat sedang penasaran seperti ini. "Nanti kamu bakalan tahu sendiri," ucap Ilham lagi. Sengaja dia tidak mengatakan hendak kemana perjalanan mereka saat ini. Ilham ingin berlama melihat wajah lucu Dela. Mendengar kelanjutan kalimat Ilham, seketika Dela merengut. Perjalanan yang ternyata melewati terminal Tanjung Priok Jakarta itu membuat Dela mulai menerka arah perjalanannya. "Coba kira-kira kita mau kemana?" tanya Ilham kemudian. "Ke Madura maybe." Dela menjawab asal. Ya, sejatinya dia sempat berpikir bahwa mereka sedang menuju Madura, tapi dipikir lagi rasanya tak mungkin kalau suaminya ini akan membawanya ke kampung. "Kamu memang pintar," puji Ilham dengan mata fokus menyetir. Wajah Dela mendadak cerah namun kemudian berubah sendu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD