Rencana

1019 Words
Pagi telah benar-benar datang, namun pergerakan di kamar itu masih tetap saja unggul di Dela. Bagaimana tidak, Ilham masih keterusan molor di atas kasur. Hingga suara pintu itu terdengar, dan Dela, bukan bangkit untuk membukakan, malah bergerak cepat untuk pura-pura tidur. Sepertinya memang ada yang tak beres dengannya. "Ham, Del ... Bangun! Kalian ini piye to, ini sudah pagi lho, kalian pasti Ndak sholat subuh." Suara khas Bu Ningsih sembari menggedor pintu. Sungguh dia tak habis pikir dengan tingkah anak dan menantunya. Ya, memang sih mereka pengantin baru, terlalu asyik main perang-perangan mungkin membuat mereka lelah, tapi tetap saja itu tidak bisa menjadi alasan untuk mereka melalaikan tanggung jawab sholat subuh. "Ham ... " teriaknya lagi sembari kembali menggedor pintu kamar anaknya. Gedoran kali ini lebih keras dari yang tadi. Suara emaknya yang seperti biasa setiap membangunkannya, membuat Ilham menggeliat dan justru mengambil guling dan menutup telinganya. Duh, ibu apaan, sih? Orang masih ngantuk banget! Namun pada akhirnya lelaki itu bangkit meski dengan mata masih setengah terpejam. Dia membuka pintu dan mendapati raut murka sang ibu. "Kamu ini! Wes nikah bukannya makin jaga sholat kok malah makin lalai. Bangunin istrimu, waktu subuh wes mau habis." Bu Ningsih berucap dengan sedikit melotot pada anaknya. "Hmmm ...." Plak ... Ilham mendapat pukulan di lengannya, "jangan ham hem aja, wudhu' lalu bangunin istrimu." Haih ... Dasar anak jaman sekarang! Bu Ningsih melirik ke dalam kamar Ilham. Dia melihat sofa yang berantakan, kasur pun tak jauh berbeda. Hmmm, pantesan. Mainnya sampe berpindah-pindah. Ternyata anak sama bapak sama aja, Yo wajar kalo Dela kecapean sampe kesiangan. Namun matanya terhenti pada sosok yang meringkuk di atas sajadah. Eh ... Itu Dela, bukan? Luar biasa menantuku itu. Masih nyempetin sholat subuh padahal aku yakin tenan dia capek banget. Plak ... Sebuah pukulan dilayangkan Bu Ningsih sekali lagi. "Aduh, ibu aku udah melek nih. KDRT Mulu sama anaknya." Ilham mengusap bekas pukulan ibunya. "Tuh tiru si Dela. Dia nyempetin sholat subuh meskipun pasti badannya itu rasanya sakit semua." Bu Ningsih berucap dengan so tau. Alhasil, Ilham menoleh ke dalam. Melihat sang istri yang tidur meringkuk di atas sajadah. "Ya udah, ibu mau di sini atau ...." Sengaja Ilham tidak melanjutkan kalimatnya. "Pergi, pergi! Tapi ingat, jangan dilanjutin lagi perangnya. Sholat dulu, waktunya mau abis." Bu Ningsih bertingkah seolah dia memakai jam tangan, menepukkan telunjuk kanannya di lengan kirinya. Tanpa menjawab, Ilham lantas menutup pintu sebab Bu Ningsih langsung pergi dari hadapannya. Masa sih, Dela sakit? Ibu tau dari mana coba kalau badan Dela sakit semua? Ilham mendekati tubuh sang istri. Menyentuh keningnya dan tidak panas. Ini yang bego Ilham, Bu Ningsih atau Dela, ya? Satu, cuma pura-pura tidur. Satunya lagi mikir mereka habis lembur begadang menikmati masa pengantenan. Dan yang satunya lagi mikir istrinya sakit cuma karena omongan ibunya. Aku belum ngapa-ngapain, masa Dela sakit?! "Mas." Dela mengerjapkan matanya seolah dia terbangun karena Ilham yang terus menerus menyentuhkan tangannya di keningnya. "Eh, Sayang. Kamu kok gak bangunin aku? Kita kan biasanya sholatnya bareng." Ilham mengusap puncak kepala Dela dengan lembut. Istrinya ini memang cantik dengan atau tanpa penutup kepala. Ilham suka semuanya. Belum sempat Dela menjawab, Ilham berucap lagi, " kamu gapapa, kan?" Pasti karena kata-kata ibu tadi! Dela tersenyum sembari menggeleng, "aku gapapa kok. Kamu buruan wudhu' gih, kayaknya masih keburu." Dengan tanpa menjawab apa-apa, Ilham lantas masuk ke kamar mandi. Setelahnya, dia langsung menunaikan sholat subuh dengan ekor mata sang istri yang terus mengikuti setiap gerakannya. Aku beruntung memiliki kamu, Mas. Dela lantas membuka mukenahnya dan mengambil helaian baju yang dia pakai semalam. Sekali lagi, Dela dan Ilham kan tidak berencana menginap, jadi mereka tidak membawa baju ganti ke rumah Bu Ningsih. Dan sekarang, Dela sudah siap dengan tampilannya yang tanpa polesan make up. Terlihat pucat sih, tapi tentu tetap cantik bagi Ilham. “Udah rapi aja, mau balik sekarang?” Ilham mendekati istrinya. “Huum ....” Dela mengangguk mantab. “Padahal aku berencana buat ngajak kamu ketemu seseorang.” Ilham berucap dengan sengaja memancing tanya pada diri istrinya. “Ketemu seseorang?” “Nanti juga kamu bakal tahu. Ayok ah, kita sarapan dulu, soalnya ibu udah masak buat kita.” Ibu sudah masak? Sepagi ini? “Udah siap?” Dela masih saja belum paham. “Iya udah, makanya ayo makan,” ajak Ilham lagi. “Oke oke.” Dela bangkit dengan senyum yang dipaksakan. Haih ... tadinya dia ingin makan di rumah atau di luar kalau memang suaminya, Ilham sudah kelaparan. Mungkin saja makan malam yang semalam tak terlalu membuat perutnya terisi penuh, sama seperti perut Dela yang sekarang keroncongan karena semalam dia tidak benar-benar kenyang. Sekarang Dela, Ilham dan juga Bu Ningsih sudah duduk mengelilingi meja bundar di ruang makan. Semua masakan ibu kayaknya enak. Dela menelan air liurnya melihat beberapa menu yang tersaji di atas meja. Terlebih, sekarang perutnya sedang butuh banget diisi. “Ayo kalian makan duluan aja. Ga usah nungguin bapak, biar ga kesiangan.” Bu Ningsih berucap seraya mengangkat sangku nasi yang ada di tengah meja dan meletakkannya di dekat Dela. Ga kesiangan? Memangnya mau kemana, sih? Ih, Mas Ilham rese deh, masa ibu dikasih tau, aku nggak. Dela menggerutu dalam hatinya, tapi untuk sekarang hal yang paling harus dilakukannya adalah makan karena cacing-cacing di perutnya sudah mendemo untuk segera dikirimi makanan. Kesempatan emas yang saat ini ada di depan matanya tak mungkin dia sia-siakan hanya karena suaminya tidak memberitahukan kemana mereka akan pergi sepagi ini. Dela menyendok nasi dua centong. Sangat tidak biasa untuk seukuruan porsi makannya biasanya. Dela memang suka makan, tapi dia lebih suka kalau banyak makan sayur, bukan sampai dua centong nasi seperti sekarang. Sepertinya perempuan itu benar-benar kelaparan sekarang. Ilham yang melihat itu hanya tersenyum diam-diam. Dela memang penuh dengan kejutan meski sudah sangat lama dia dekat dan menjalin hubungan dengannya. Dan sejak dulu, semua hal dalam diri Dela tak ada yang tidak Ilham sukai. Sampai bau kentut Dela pun Ilham mungkin menyukainya. Acara sarapan di pagi buta terasa sangat hangat sebab Dela kini bertingkah seperti layaknya keluarga. Tak lagi bersikap seolah dia tak suka berada di tengah keluarga Ilham. Namun, seketika semuanya berubah saat sebuah suara hadir memecah kesunyian acara sarapan mereka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD