Bu Ningsih masih bergelut dengan bahan masakan yang sengaja dia siapkan untuk dimasak besok. Ibu-ibu siaga sekali Bu Ningsih ini, dia sudah terbiasa seperti ini bahkan jauh sebelum dia menikah dengan Pak Rosyid.
Sementara Ilham, lelaki itu langsung kembali ke kamar setelah dia menuang air segelas penuh.
Di dalam kamar, ternyata Dela masih belum selesai di kamar mandinya. Ilham baru tahu kalau istrinya sangat suka mandi, bahkan di tengah malam seperti ini.
Mengingat ketakutan Dela tadi, sungguh Ilham menyesal. Jelas-jelas Dela mengingatkannya tadi saat Ilham sempat mematikan lampu kamarnya. Sebab kebiasaan dari masih bujanganm saat akan keluar kamar tangan Ilham secara otomatis menekan saklar dan mematikan lampu, itulah yang terjadi tadi.
Apa Dela marah, ya?
Ilham jadi kebingungan sendiri. Bahkan gelas yang dipegangnya pun tak sadar masih dia pegangi.
“Mas, itu airnya kok dipegang doang?” Dela ternyata sudah selesai dengan kegiatan mandinya. Ya, tentu saja dia mandi, bahkan dia juga keramas, terlihat dari bagian kepalanya yang terbungkus handuk.
“Eh, kamu udah selesai?” Gugup sebab sang istri tiba-tiba berdiri di depannya. Rasa bersalah yang tadi menguasai hatinya bahkan berganti dahaga manusiawi yang sejak malam pertama belum juga terlaksana hingga detik ini.
Shit, Dela ini sengaja banget mancing apa gimana sih?!
Dia kan istriku, boleh kan aku apa-apain dia?!
Bagai ada dua makhluk ghaib berwujud malaikat dan berwujud setan memerangi naluri dan akal sehat Ilham, semua lagi-lagi karena Dela.
“Hmm ... ” sahut Dela santai.
“Buat aku ya, Mas. Aku ha ... ” Dela tak sempat menyelesaikan kalimatnya, dan justru dia melihat Ilham menenggak air itu sampai habis.
Dela, jangan goda aku malam ini, please ... bisa gagal pergi besok kalau kamu kayak gitu.
“Kamu kenapa, sih, Mas?”
“Aku ambilin kamu air dulu. Oh ya, kamu mending pakek baju deh, tar masuk angin.” Ilham berucap sebelum akhirnya dia berlalu dari hadapan Dela.
Apaan ish, Mas Ilham, aneh banget. Siapa suruh beli handuk sekecil gini?!
Dela segera mengambil pakaian Ilham, kemeja suaminya dengan warna blue sea dia kenakan.
Dia sama sekali tak punya stok baju di rumah ini, terlebih tadi sebelum berangkat, dia dan suaminya sama sekali tidak punya niat untuk menginap.
Sementara Ilham yang mengatakan akan mengambilkan air untuk Dela sekarang berjalan ke dapur. Dan di sana, sang ibu sudah tak ada yang terlihat saat dia membuka kulkas adalah beberapa bahan makanan yang sudah dipotong-potong dan siap dimasak.
Pasti ibu udah balik ke kamarnya!
Ilham menuang air ke gelas dan membawanya ke kamar seperti yang sudah dijanjikannya pada Dela.
Setidaknya itu lebih menenangkan, daripada Cuma pakek handuk mini tadi!
Ilham melihat Dela yang tengah sibuk mengeringkan rambutnya dengan handuk mini di tangannya.
Salah Ilham juga sih sebab semua handuk yang dia miliki hanyalah handuk mini, Ilham terbiasa mengeringkan tubuhnya di kamar mandi dan keluar dengan setelan yang sudah rapi.
Tak terasa, drama phobia gelap dan tubuh mulus Dela yang nyaris terekspos bagian intinya itu membuat Ilham juga ikut kegerahan sekarang.
Mau tak mau, dia pun berjalan ke kamar mandi dan melakukan mandi malam seperti yang sudah Dela lakukan tadi.
Belum ngapa-ngapain loh padahal.
Ilham mengguyur tubuhnya dengan segayung air, berharap nestapa ini segera berlalu. Sungguh, Ilham sudah tak sabar untuk segera merengkuh Dela membawanya ke dalam kenikmatan surgawi dunia yang kata teman-temannya serasa berada di awang-awang.
Selesai dengan mandinya itu, Ilham keluar dan ternyata istrinya sedang duduk di sofa memainkan ponsel di tangannya.
“Kamu ga tidur lagi?” tanya Ilham sembari mendekati istrinya.
Semerbak shampo menyeruak, padahal Dela dan Ilham memakai shampo yang sama.
Eh, kenapa jadi sewangi ini kalo Dela yang makek?
“Ngga ah, tar lampunya dimatiin lagi,” sahut Dela tanpa mengalihkan pandangannya dari ponselnya.
Shit, dia bikin aku makin ngerasa bersalah.
Ilham pun duduk di sisi istrinya. Sepertinya mood istrinya menjadi jelek karena keteledorannya.
Dengan sangat terpaksa, Ilham pun memberitahukan rencananya besok.
“Kamu serius ga mau tidur? Padahal besok pagi-pagi aku mau ajak kamu ke suatu tempat yang paling bersejarah buat kamu.”
Mendengar penuturan Ilham, barulah tangan Dela tergerak untuk melepaskan ponselnya di sisinya.
Ke tempat yang bersejarah?
Apa Dela punya tempat semacam itu? Sedangkan selama ini kebanyakan tempat yang sudah dia kunjungi, hanya bersisa pahatan luka yang sangat ingin dia kubur tanpa ada sedikitpun keinginan untuk mengingatnya.
“Aku nggak bakal bisa tidur lagi, Mas,” sahutnya kemudian. Sungguh, itu adalah kenyataan yang saat ini dirasakan Dela. Habis merasa syok yang cukup berat karena gelap di kamar Ilham, Dela masih terus digerayangi rasa takut dan khawatir, sebab itulah Dela memilih berselancar di dunia maya dan bermain dengan besi canggih berbentuk pipih miliknya. Dela tak kan mungkin bisa kalau harus tidur lagi , terlebih masih di ruangan yang sama ini.
“Ya udah gapapa, kalau gitu biar aku aja yang tidur karena kan besok yang nyetir aku,” ucap Ilham lembut. Lelaki yang statusnya sudah menjadi seorang suami ini tentu akan membuat perjalanan yang nyaman tanpa harus berdesak-desakana dengan penumpang bus nantinya.
Hish ... ga pengertian banget, deh. Aturan kan dia bilang bakal jagain aku, kok malah dia yang mau tidur?!
Inilah yang sering teman-teman Ilham katakan bahwa laki-laki akan selalu salah dan kalah saat berhadapan dengan makhluk Tuhan yang namanya perempuan.
Huft ... untung saja Dela sedang tidak dalam mode adu mulut, jadi dia hanya bergumam menumpahkan kekesalannya dalam hatinya saja.
Melihat Ilham yang berlalu menuju kasur, Dela kembali meraih ponselnya dan melanjutkan keasyikannya di sana.
Tak berapa lama Dela tersenyum.
Pfft ... syukurin, alamat nggak jadi tidur kamu, Mas, karena sekarang sudah pukul empat.
Ya, sebentar lagi adzan subuh akan dikumandangkan, tepat di jam empat lima belas menit sebentar lagi.
Dela melirik ke arah suaminya, di sana tampaknya Ilham tertidur dengan sangat pulas.
Melihat wajah teduh suaminya, Dela jadi tak tega kalau harus membangunkannya, padahal tadi dia sangat senang saat melihat jam di ponselnya.
Dela lantas masuk kembali ke kamar mandi, menyucikan hadast kecil di sana lalu keluar lagi begitu dia selesai dengan proses penyucian kecilnya.
Benar saja, tak lama setelahnya Dela mendengar kumandang adzan yang bersumber dari penjuru masjid di sini.
Tanpa membuang-buang waktu, Dela mendirikan sholat sendirian saja.
Ya, biasanya dia dan Ilham selalu melewatkan waktu sholat dengan berjamaah melaksanakan nya.