Tiba-tiba gelap

1031 Words
Dela merasa tenggorokannya kering, bersembunyi di bawah selimut terlalu lama membuatnya kehausan dan berkeringat. Mas Ilham pasti sudah tidur. Cukup lama Dela berpikir dengan masih kekeuh menahan tubuhnya di bawah selimut yang membuatnya kepanasan juga kehausan. Apa aku bangunin Mas Ilham aja terus aku ajak dia ke dapur?! Rasa haus membuatnya mau tak mau menyingkap selimut di tubuhnya pada akhirnya. Keadaan kamar tak lagi terang seperti saat sebelum Dela masuk ke dalam selimut. Ya, lampu dimatikan dan yang lebih mengejutkan bagi Dela adalah keberadaan suaminya yang tidak ada di sampingnya. Mas Ilham! Kamu di mana? Ketakutan merayap, sesuatu yang selalu dihindarinya namun kini kejadian membuat Dela masuk kembali ke dalam selimut. Ya Allah, please ... aku takut banget. Aku ga mau lagi! Tolong lindungi aku, Tuhan .... Klik, suara pintu dibuka membuat Dela semakin takut dibuatnya, terlebih setelah terdengar ceklekan itu, Dela mendengar suara langkah kaki yang mendekat ke tempatnya. Segera saja Dela membuka selimut dan sesosok tinggi ternyata tengah berdiri di sisi ranjang. Dela melangkah turun perlahan dan berjalan dengan berjinjit ke pintu. Saat tangannya meraih handle pintu, dia dikejutkan dengan suara yang menegurnya. “Del, mau kemana?” Itu jelas suara suaminya, Ilham. Perempuan yang amat takut dengan gelap itu seketika bernafas lega. Ceklek, bersamaan dengan itu, lampu kamar menyala kembali. Ilham ternyata tengah melucuti arlojinya berikut dengan kemeja yang membuatnya sedikit kegerahan malam ini. Dela masih terpaku di dekat pintu, dia bahkan belum menjawab pertanyaan Ilham sedari tadi. “Kamu mau kemana?” tanya Ilham lagi. Dia memutuskan mendekati istrinya dan memberinya pelukan hangat. Huft ... kalau bukan karena sudah berjanji tak akan menuntut haknya sebelum kembali dari rumah ambu nanti, sudah tentu Ilham akan membabat habis setiap lekukan tubuh Dela yang kini membuat Ilham seperti terkena serangan listrik. “Maaf, ya. Aku lupa kalo kamu takut gelap.” Iham memeluk sang istri, sungguh dia lupa kalau Dela phobia dengan gelap. Perempuan ini pernah menuturkan phobia nya saat dulu Ilham mengajaknya ke sebuah cafe yang sengaja dia buat gelap untuk memberi Dela kejutan. Ya, malam itu adalah tepat ketika hari ulang tahun Dela. Ilham tadinya akan memberikan kejutan romantis, tapi gagal karena Dela tiba-tiba gemetaran dan bahkan pingsan. Beruntung salah satu pelayan di sana ada yang membawa minyak kayu putih, dia juga yang menyuruh Ilham untuk menciumkan aroma minyak itu ke hidung Dela. Huft ... Ilham langsung bernapas lega karena Dela seketika siuman, jadi Ilham tidak sampai harus membawa perempuan yang dulunya masih berstatus sebagai pacar itu ke rumah sakit. “Aku phobia gelap,” tutur Dela saat sadar dari pingsannya. Kejutan gagal, namun berakhir dengan pelukan romantis yang disaksikan oleh semua pelayan cafe yang kala itu bergerombol karena mendengar ada yang pingsan. Dan lagi, kali ini kejadian hal yang sama membuat keduanya berakhir dengan saling merapatkan tubuh, bedanya dulu Ilham melakukannya karena berniat membuat kejutan untuk gadis pujaannya, sedangkan sekarang dia tak sengaja melakukannya sebab lupa bahwa sang istri memiliki phobia gelap. “Kamu kenapa bangun? Apa perlu sesuatu?” tanya Ilham dengan lembut. Sungguh dia sangat merasa bersalah karena sudah melakukan kesalahan, melupakan sesuatu yang sangat ditakuti Dela adalah sesuatu yang amat dia sesali. Bisa-bisanya dia melupakan phobia istrinya. Tapi dia berjanji hal seperti ini tidak akan terjadi lagi. Sementara Dela tak memberi respon apa-apa. Rasa hausnya bahkan seolah sirna seketika sebab sekelebat kejadian mengerikan yang baru saja ada di depan matanya, gelap. “Aku mau ke kamar mandi, gerah banget di sini.” Dela melepaskan diri dari kungkungan tubuh Ilham yang sejak tadi mendekapnya. Huft ... sesuatu yang keras di balik celana suaminya membuat Dela merasa perlu menghindar. Bau tubuhnya pun menyeruak tak sedap. Shit, pasti karena sejak tadi dia mengeram dalam selimut. Tak hanya bau asem, bahkan rambutnya pun serasa lengket di lehernya, sangat tidak nyaman Dela dibuatnya. Tak perlu menunggu jawaban Ilham, Dela lantas melangkah masuk ke kamar mandi. Di sana, dia menyirami tubuhnya dengan beberapa gayungan yang masih saja belum mampu mengguyur serta rasa tak nyaman dalam hatinya. Kegundahan, kegelisahan dan ketakutan itu masih saja menggerogoti hampir seluruh akal sehatnya. Sedangkan Ilham, justru dia yang kini mematung di dekat pintu. Otaknya masih belum bisa mencerna sepenuhnya sikap Dela yang langsung pergi begitu saja. Tapi itu tak berselang lama, sebab setelahnya dia kemudian berbalik keluar dan menuju ke dapur. “Loh, Ham, kok masih belum tidur? Katanya besok berangkatnya pagi-pagi sekali?!” Bu Ningsih yang sejak tadi menyiapkan beberapa bahan masakan untuk besok melihat anak lelakinya masih belum juga tidur, padahal katanya besok pagi-pagi sekali dia akan pergi ke kampung istrinya untuk mengunjungi ibu mertuanya yang tak lain adalah saudara neneknya. “Ilham mau ambil minum, Bu. Ibu juga belum tidur?” tanya Ilham melihat ibunya masih sibuk dengan beberapa sayuran padahal sekarang sudah sangat larut. “Iya nih, ibu terpaksa sih, habis katanya anak ibu harus berangkat pagi-pagi besok, dan ibu bakal amat sangat merasa bersalah kalau membiarkannya pergi dengan perut kosong.” Bu Ningsih menjawab dengan sedikit berkelakar. Sejujurnya, Bu Ningsih ingin sekali ikut, terlebih sudah sangat lama dia tidak bertemu dengan Budenya yang hanya dia dengar kabarnya bahwa sudah menikah lagi. Tapi, tugas suaminya yang tak bisa ditinggal tentu menjadi alasan utama untuk dia tidak bisa ikut pergi. Kasihan Pak Rasyid kalau dia ditinggal sendirian di rumah, sementara suaminya itu sama sekali tak ahli memasak. Bisa saja sih Pak Rasyid membeli makanan di warteg, tapi Bu Ningsih tetap saja tak tega, lebih tepatnya dia khawatir kalau suaminya sampai jajan di luar. Eh, namanya orang jajan kan di luar, di warteg yang sudah disebut tadi misalkan?! Duh, maklum ya authornya lagi mode ngelag luar biasah, jadi dimaklumi saja. Jajan di luar yang dikhawatirkan Bu ningsih adalah jajan dalam tanda kutip ya. Jajan dalam tanda kutip? Author makin bingung pemirsah. Mending author ambil uang lalu pergi ke warung trus bilang sama mpok-mpok warungnya mau beli jajan dalam tanda kutip, jamin deh setelah itu mpok warungnya bakal garuk-garuk kepala. Mari kita tinggalkan author yang modenya masih berantakan. Kembali ke Bu Ningsih, perempuan yang sudah menginjak usia kepala empat itu tahu betul bagaimana gilanya sang suami setiap malam, dia bahkan kadang harus meminum jamu untuk bisa mengembalikan kekuatannya yang nyaris terkuras habis karena ulah Pak Rosyid. Itulah hal yang paling ditakutkan Bu Ningsih.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD