Bucin?

2618 Words
Sudah hampir lima belas menit Ilham menunggu. Tapi masih seperti sebelumnya, yang terdengar justru suara air yang tak kunjung berhenti dari dalam. "Del ...." Ilham pada akhirnya berteriak memanggil sang istri. "Eh, Mas. Kebetulan banget, aku pikir kamu udah tidur loh." Dela sedikit berteriak, namun kemudian dia mematikan kran air yang sejak tadi dibiarkan menyala. Suara air yang tadi amat berisik itu pun berhenti. "Aku nungguin kamu." Ilham menjawab, kini dia merasa dipermainkan oleh sang istri. Tadi nyuruh sholat buat anu, biar puas. Sekarang malah mikir aku udah tidur. "Mas, aku boleh minta tolong, nggak?" tanya Dela kemudian, dia tak lagi berteriak sebab sudah tak berisik seperti sebelumnya. Pintu kamar mandi pun terbuka sedikit, memperlihatkan wajah Dela yang menyembul di sana. "Apa?" Ilham menjawab kesal. "Akutuh kedatangan tamu. Tolong dong beliin aku roti kering." Dela berucap lagi. "Aduh, Del. Beli di mana coba? Balik ke sini aja, aku mesti nanya sama orang." Ilham sungguh malas untuk keluar kamar sekarang, apalagi harus membeli barang yang amat Ilham benci. Ilham teramat benci dengan yang namanya Roti kering yang dimaksud perempuan. Dulu, dia pernah disuruh ibunya ke warung untuk membeli roti kering. Sesampainya di warung tempat langganan ibunya, roti kering tak ada. "Ini ibu kamu yang suruh, ya?" si ibu warung bertanya. Barang ga ada malah diwawancara, Ilham sedikit dongkol dibuatnya karena saat itu hari tengah terik-teriknya. "Iya," jawab Ilham singkat. Si ibu warung lantas mengambilkan batang berbungkus orange dan memberikannya ke Ilham sesuai jumlah uang yang diterimanya dari sang ibu. Ilham tentu saja menolak, roti kering yang biasa ibu beli kemasannya tidak seperti ini. "Itu tadi ibu kamu mau beli roti kering sekalian pas belanja beras, tapi katanya duitnya ga cukup. Jadi roti keringnya yang itu, bukan roti kering yang biasa." Si ibu warung menjelaskan. "Ooh, roti keringnya varian baru ya, Bu? Jadi ga sabar mau nyobain," ucap Ilham seraya menerima dua bungkus roti kering yang dibelinya. Si ibu tertawa, entah apa yang lucu menurutnya. Ilham tak terlalu peduli. Saat dia akan berbalik pulang, dia membaca tulisan di kemasannya, "kembali ke balik ke bentuk semula, anti bocor." Dahinya berkerut, dia tekan isi di dalamnya. "Nggak keras. Ini mah roti tawar." Ilham berbalik dan berniat menukarnya. "Kok balik lagi, Ham?" "Bu, ini roti tawar. Saya teken nggak keras isinya. Lagian, di kemasannya ada tulisan kembali ke bentuk semula. Roti kering mana bisa balik ke bentuk semula, Bu?" protes Ilham. Ibu warung tertawa terpingkal-pingkal. Ilham justru dibuat heran, dia baca sekali lagi kemasan di sana. "Anti bocor." Si ibu tak henti tertawa dan berkata masih sambil tertawa, "kamu bercandanya total banget. Ibu sampe sakit perut." Eh, sejak kapan Ilham suka bercanda. Dia kan selalu serius dengan siapapun. Terkecuali dengan orang yang benar-benar dekat dengannya. Meski masih sedikit bertanya-tanya, Ilham lantas kembali ke rumahnya. Sesampainya di rumahnya, Ilham memberikan barang yang dibelinya pada sang ibu. Lalu dia duduk di meja makan menunggu disuguhkan roti tawar yang entah mau disulap menjadi makanan seperti apa oleh Ibunya. "Ham, kok nggak dimakan? Bapak nggak usah ditungguin. Nanti habis kelar benerin kamar mandi, bapak mau makan." Ibu Ningsih melihat anaknya yang diam di meja makan, padahal semua makanan sudah tersedia di sana. "Aku pengen nyobain roti yang dibeli tadi, mau dibikin apa, Bu?" Plak ... "itu tuh bukan roti tawar, itu roti kering buat dipake ibu." Bu Ningsih memukul pundak anaknya. "Loh, Ilham ga kebagian, dong?" Ibu Ningsih lantas masuk ke dapur dan mengambil dua pembalut yang dia suruh putranya untuk membelinya tadi. "Kamu mau makan ini?" Bu Ningsih membuka bungkusan orange itu dan memperlihatkan isinya. Ilham melongo, seketika dia teringat dengan kebodohan yang dilakukannya di warung tadi. "Pantesan tu ibu-ibu ngakak." Sungguh itu adalah pengalaman terburuk bagi Ilham. Semenjak itu, dia tak pernah mau lagi kalau ibunya menyuruhnya membeli roti kering, sekalipun itu roti kering sungguhan, bukan yang jadi-jadian. Dan sekarang, istrinya yang meminta padanya untuk dibelikan benda keramat itu. Arkh ... membuat dilema saja. Namun pada akhirnya, Ilham memutuskan untuk membelikan benda yang sudah hampir tujuh belas tahun itu Ilham keramatkan. Cuaca di Madura ternyata sangat panas. Terlebih, dia dibuat menunggu sangat lama. Dan ternyata yang ditunggu hanyalah sesuatu yang semu. Gagal sudah harapan kecil Ilham untuk mencapai nikmat di tempat sederhana tak layak huni ini. Sudah tak dapat jatah malah disuruh-suruh. Ini semua gara-gara benda keramat itu! "Ga jauh kok, Mas. Kamu tinggal keluar trus liat ke kanan. Ada toko di pojok, keliatan dari depan pintu." Ilham menghela nafas, lalu pergi tanpa menjawab Dela. Kalau bukan karena dia cinta Dela, ogah sekali dia kalau harus keluar beli pampers buat selang bocor Ilham mengikuti petunjuk yang diberikan Dela. Katanya hanya perlu keluar kamar lalu liat ke kanan. Ilham bisa melihat warung yang dimaksud sang istri, sebuah jendela terbuat dari kayu yang disulap menjadi warung mini terlihat di sana. Ada barang dagangan yang menggantung menunjukkan bahwa itu adalah sebuah warung. Ke sanalah Ilham sekarang, berdiri cukup lama hingga dia memutuskan mengintip ke dalam dengan memasukkan kepalanya guna melihat kalau-kalau ada orang di dalam. Tapi ternyata kosong, ilham kebingungan harus memanggil apa dan siapa sebab dia tak tahu sama sekali tentang pemilik warung ini. Cukup lama hanya diam, Ilham pun mulai bersuara, “mbak ... permisi. Ada orang?” lelaki itu mengintip sekali lagi namun tetap saja, di dalam tak ada siapa-siapa. Pada akhirnya, Ilham memilih untuk kembali ke kamarnya. Namun saat dia sudah akan masuk ke dalam, sekali lagi menoleh ke arah warung, dan di sana ada seorang perempuan yang –sepertinya- sedang membeli sesuatu. Haih ... tadi ga ada orangnya! Rupanya saat Ilham memanggil ibu warung tadi, si ibu berpikir bahwa suara orang di luar warungnya adalah suara orang yang mengunjungi salah satu penghuni wisma. Ilham pun urung masuk, dia berjalan kembali menuju warung mini itu. “Suaminya Mbak Dela, ya?” perempuan itu menyapa Ilham. Kepalanya tertutup hijab panjang bahkan sampai menutupi pinggulnya. “Iya, Ilham,” ucap Ilham menyebutkan namanya sembari mengulurkan tangannya kepada perempuan di depannya. “Nisa,” ucap perempuan itu sembari menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya. “Ma’af ... saya sedang punya wudhu’. Tanggung, mau nunggu azan ashar.” Terus terang, dia tak bermaksud untuk menolak berjabat tangan dengan Ilham. Ilham tersenyum, memaklumi. Wajar saja kalau Nisa menolak bersalaman, sebab dilihat penampilannya hampir semuanya tertutup, Ilham saja yang sangat bodoh untuk membaca situasi. Huft ... lagi-lagi lingkungan menjadi alasannya berlaku demikian. Dia sungguh merasa seperti berada di planet asing. “Yu, kalangkong*,” ucap Nisa sembari memberikan selembar uang dua puluh ribuan kepada si penjual yang masih belum juga Ilham ketahui namanya. Si penjual yang tampaknya sudah berumur empat puluhan itu menjawab, “iye.” Artinya iya. Beralih dari Nisa, perempuan yang hanya kelihatan separuh badannya itu kini memandang Ilham. “Eng ... saya mau beli pembalut,” ucap Ilham dengan menggunakan bahasa indonesia tentunya. “Kok tak ngarteh**.” Perempuan yang merupakan pemilik warung ini mengerutkan alisnya. Aih ... aku nggak ngerti dia ngomong apa. “Saya mau beli charm.” Merk pembalut satu-satunya yang Ilham tahu dia sebutkan. Itupun karena dia sering melihat iklannya di TV. Semoga ibu ini paham ama omongan gua. “Nisa nisa!” Bukan mengambilkan barang yang dimaksud Ilham, ibu ini justru memanggil Nisa yang kamarnya ada di nomer dua dari pintu warung ini. Si ibu melambaikan tangan dengan maksud agar Nisa bisa segera ke tempatnya sekarang. Dan tanpa menjawab dengan kata-kata, Nisa langsung datang lagi ke warung, bahkan barang belanjaannya masih menggantung di tangan kanannya. Sesampainya Nisa di sana, dia mengobrol dengan ibu warung, lalu setelahnya dia menanyakan apa yang hendak dibeli Ilham. “Akutuh mau beli pembalut, serah deh mau merek apa aja.” Shit, malunya aku! “Ooooh ... melleya softex can, Yu***.” Nisa berali berbicara dengan ibu warung lagi. “Jangan softex juga, kata Dela dia nggak cocok kalo sama merek itu.” Dela pernah meminta tolong Ilham untuk membelikannya obat alergi, tak hanya itu, perempuan yang dulu statusnya masih tunangan Ilham itu juga minta dibelikan paladin cair. Dan saat Ilham bertanya untuk apa, Dela menjawab bahwa dia menjawab salah pakai pengaman. Tentu saja dulu Ilham berpikir yang bukan-bukan saat Dela mengatakan kata pengaman. Hinga mau tidak mau, perempuan itu pun menjelaskan pengaman yang dia maksud dan untuk apa sebenarnya obat-obatan itu. “Bukan, di sini udah ga ada merek softex kok.” Nisa menjelaskan sembari tertawa. Ada yang tidak Ilham tahu, bahwa di kampung ini merek pertama yang masuk maka merek itulah yang akan mereka pakai. Contohnya air mineral, karena merek yang pertama kali masuk dan dikenal adalah merek aqua, maka hingga sekarang kalau ada orang ingin membeli air mineral akan bilang aqua sekalipun air meneral yang ignin mereka beli bukan yang merek aqua. Club misalnya. Lagi, detergent pencuci pakaian, yang masuk pertama ke kali kampung adalah rinso, jadi kebanyakan masyarakat kampung ini akan mengucapkan Rinso saat mereka hendak membeli detergent pencuci pakaian. Tapi mereka tidak akan komplain meski oleh si penjual diberikan merek so klin misalnya. Karena sejatinya yang ingin mereka beli adalah detergent. Arkh ... gara-gara Ilham nih, author jadi keluar jalur. Si ibu penjual yang sekarang sudah mengerti apa yang Ilham ingin beli, lalu mengambilkan softex arkh ... keikut orang madura kan jadinya. Si ibu penjual memberikan kepada Ilham pembalut berbungkus warna orange. “Ya ... ini yang aku bilang tadi. Tapi ibu ini ga ngerti,” ucap Ilham pada Nisa. “Ya udah, aku balik ya ... nggak bakalan ada drama lagi, kan?” ucap Nisa sengaja mencandai Ilham. Lelaki itu menggeleng sembari ikut tertawa. Setelahnya Ilham membayar dan mendapat kembalian, dan dia langsung pergi tanpa mengucapkan kata apapun lagi karena takut malah jadi drama nantinya. “Hu ... makasih.” Si ibu mengucapkan kalimat singkat padat dengan maksud mengejek Ilham karena menurutnya tak tahu sopan santun. Haih ... sedikit merepotkan ya orang kampung ini! Wait, apa katanya tadi? Makasih? Kok dia bisa ngomong indo? “Gun makasih, nkoq taoh****.” Ibu itu berucap dengan sombongnya. Saat dia baru melayani Ilham, cucunya datang dan meminta jajanan. Awalnya ibu itu tampak keberatan dengan yang diminta oleh cucunya, namun karena si kecil akan menangis, ini itu memberikan yang diminta cucunya. Lalu cucunya yang sudah mendapatkan yang dia inginkan lantas pergi, dan sebelum pergi dia mengucapkan terimakasih kepada Mbah-nya. Oh, pantes ibu itu ngerti untuk kalimat yang satu itu. Ilham sekarang sudah masuk ke kamarnya. Dia mendapati Dela tengah mengganti pakaian. Dan karena Ilham sudah kembali, Dela membawa pakaian yang belum selesai dia kenakan semuanya ke kamar mandi. "Ee ... Mas, roti keringnya!" Dela menyembulkan kepalanya sedikit diikuti dengan tangan kirinya. Huft ... Ilham memberikan benda keramat pesanan istrinya itu lalu berbalik ke kasur dan rebahan di sana. Artinya kegagalan sudah di depan mata! Begitu Dela selesai, Ilham langsung bangkit dari posisi tidurnya. "Kamu kok lama sih, Mas, tadi?" tanya Dela dengan duduk di pinggiran kasur. Shit, wangi banget, Ya Allah .... Ilham takut tak bisa mengontrol dirinya kalau Dela terus ada di dekatnya. "Ya, ibu warungnya nggak paham omonganku. Untung ada yang bantuin." Ilham menjawab sembari meletakkan ponselnya sembarang di kasur. Otaknya sudah mulai panas dan hanya ingin memandangi Dela sekarang, syukur-syukur kalau bisa mencicipi bibir ranum istrinya. "Siapa?" "Katanya namanya Nisa." Ilham menjawab cepat. Tubuhnya dan tubuh Dela sudah tak lagi berjarak. "Oh, dia sepupunya Lila, tapi ya ... Dia meminta untuk diperlakukan sama seperti penyewa wisma yang lain." Dela seperti biasanya, tak paham situasi. Dia menjelaskan siapa Nisa dengan santainya. "Del, ke rumah Ambu lagi, yuk." Ilham merasa bahwa dia tak kan bisa bertahan lebih lama kalau terus-terusan berduaan di kamar dengan Dela. Dia tak ingin semakin tersiksa kalau nantinya hanya boleh menikmati Dela sebatas d**a. Biarlah dia tahan sampai Dela selesai dengan tamu bulanannya, agar nanti dia bisa berpuas melakukan, menikmati dan mencapai puncak tertinggi kenikmatan yang disebut syurga dunia. Kalau setengah-setengah, Ilham takut malah tak bisa berhenti dan kebablasan. "Aduh, mau ngapain sih, Mas? Besok aja, deh." Dela tampak tak suka dengan ajakan Ilham. "Besok aku berencana buat ajak ambu dan bapak jalan-jalan," ucap Ilham mengutarakan rencananya. "Aku ga ikut, deh, Mas kalo gitu." Entah karena apa, Dela tiba-tiba langsung menolak ikut, padahal itu baru sebatas rencana, belum Ilham utarakan pada Ambu maupun bapak. "Kamu kenapa sih, Del? Mereka kan orang tua kamu. Iya, bapak emang bukan orang tua kandung, tapi aku liat dia tulus sayang sama kamu." Ilham mencoba melunakkan hati sang istri. "Duuuh ... Udah deh, Mas. Akutuh capek mau istirahat." Dela meremas rambutnya. "Kamu mending turun, deh. Tadi pagi kan aku udah tidur di bawah. Sekarang gantian." Dela bahkan sampai mengusir Ilham dari kasur yang tadinya akan dia tempati untuk tidur siang. Huft ... Jujur saja, perut Ilham lapar. Kalimat Dela juga raut wajahnya yang seperti berselimut api kemarahan itu membuat Ilham mengalah dan turun. Haish ... Hasrat terpendamnya pun seketika menghilang, surut tersiram kemarahan yang diperlihatkan sang istri. Dela bukan tidur, dia hanya bolak balik di atas kasur, pikirannya menjadi tak tenang. Apa perlu dia ke tempat itu lagi? Tapi apa dokternya praktek kalo hari Sabtu begini? Sudah lama semenjak Dela berangkat ke Jakarta, dia tidak pernah ke tempat itu lagi. Cukup lama hanya membolak-balik badannya, Dela merasa kecapean. Dia mengintip ke lantai ke tempat Ilham berada. Lelaki itu tidur membelakangi Dela, untungnya terdengar suara dengkuran halus hingga Dela tak perlu merasa cemas untuk keluar kamar sekarang. Dia membuka pintu kamarnya dengan sangat hati-hati. Bahkan langkah kakinya pun dia buat se-pelan mungkin. Saat pintu berhasil terbuka, Dela menoleh ke arah Ilham, takut-takut kalau ternyata suaminya terbangun dan menyadari kepergiannya, tapi ternyata suaminya itu tidak merubah posisinya. Dela bisa keluar dengan tenang sekarang. "Hei." Dela hampir saja berteriak karena kaget, Lila tiba-tiba muncul dan mengagetkannya. "Huft ... Ngapain, sih?" Tentunya obrolan mereka memakai bahasa Madura, ya. Tapi author malas sekali kalau harus buat catatan kaki banyak-banyak. Wkwkwk Dela memukul bahu Lila. "Sorry sorry ... Habis kamu keluarnya ngendap-ngendap, kayak orang mau maling." Lila tertawa. Ekspresi sahabatnya benar-benar lucu. Keduanya lantas masuk ke dalam rumah Lila yang sedang tak ada orang. Niat Dela untuk menyelinap pergi dia urungkan. "Banyak banget yang mau aku tanyain." Lila bersiap mendengarkan semua yang sudah Dela lalui di Jakarta, hingga sahabatnya ini memilih menikah. Dia duduk dengan memangku bantal kecil miliknya. "Banyak yang mau aku ceritain, tapi tenggorokan aku kering, kayaknya ga bakal bisa cerita semuanya." Dela mengusap tenggorokannya, dia dengan sengaja melakukan itu di depan Lila, sahabatnya. "Iya iya. Paham akutuh. Bentar ya." Dari dulu, sahabatnya ini memang tak pernah berubah. Selalu butuh minuman untuk teman ngobrol. "Ada pisang goreng buatan Ibuy, ga?" Ibuy adalah nama pembantu Lila. Dia biasa membuatkan pisang goreng saat Dela datang bertamu ke sini. "Ibuy udah meninggal, Del." Lila menjawab sembari meletakkan minuman yang diambilnya tadi di meja depan Dela. "Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un." "Aku ga tau. Sorry." "Nggak apa-apa, Del." "Jadi gimana, kamu kenapa bisa merit sama Ilham? Tapi betewe, dia lumayan loh." Lila berucap sembari memelankan suaranya. Entah kenapa dia berbisik-bisik mengucapkannya. Padahal di rumah ini tidak ada siapa-siapa. "Lumayan apa, nih? Lumayan ganteng apa lumayan item?" Dela menyeruput minumannya dengan tenang, seolah dia tidak merasa sedang mencela suaminya. "Lumayan ganteng lah, Dela ...." Lila membuat panjang kata terakhir saat dia menyebutkan nama Dela. Sungguh, dia tak habis pikir, suami sendiri dikatain. "Makasih loh, tapi aku lebih suka kalo kamu jawab lumayan item," ucap Dela lagi. "Wait ... Jangan bilang kamu nggak ada perasaan apa-apa sama Ilham." "Heh, siapa yang bilang?" "Aku barusan," sahut Lila santai. "Aku nggak suka aja kalo ada orang yang muji dia," ucap Dela. Lila paham sekarang, bahwa sahabatnya ini sudah melanggar sumpahnya sendiri. Bahwa Dela yang katanya tak akan pernah mungkin jatuh cinta itu sudah menunjukkan bahwa hatinya telah memilih jalan lain. Melihat Dela yang seperti ini menandakan bahwa sahabatnya ini sudah bucin dengan pria kota itu. Mendengar suaminya dipuji saja, dia tak suka. Itu adalah salah satu tanda cemburu!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD