Kedatangan Kakek Atmo

1631 Words
"Ambunya Dela?” tanya Ibu Tumini memastikan. Perempuan itu masih belum percaya kalau Dela, perempuan itu sudah menikah, dengan orang kota pula. Ilham mengangguk. Sungguh berita yang sangat mengejutkan! “Yang rumahnya ada di kiri jalan, cat ijo, deket sungai?” Ibu Tumini seolah belum puas pada jawaban Ilham. “Iya rumahnya di kiri jalan, cat ijo tapi saya ga tau ada sungai atau nggak karena tadi cuma sebentar di sana,” jawab Ilham apa adanya. “K-kamu nikah sama Dela?” tanya Ibu Tumini kemudian. Lagi-lagi Ilham mengangguk. Terlihat jelas keterkejutan di wajah Ibu Tumini mendengar pengakuan Ilham. “Ya sudah, sebaiknya kamu cepat pulang,” ucap Ibu Tumini kemudian, raut wajahnya berubah tak bersahabat, bahkan dia tak lagi memaksa Ilham untuk menerima pemberiannya. Sayang sekali, pemuda sebaik sampeyan malah dapet istri seperti Dela. Perempuan yang masih tampak berkeringat itu terlihat tak bersemangat sekarang, bahkan kantong plastik hitam yang berisi makanan itu dia letakkan sembarang di atas meja. “Oh, iya, jangan diam saja kalau kamu melihat istrimu berkata tak sopan pada orang tuanya, sudah menjadi tugas kamu sebagai suami menasehatinya.” Ibu Tumini berucap saat Ilham berbalik hendak pergi. Ada apa sebenarnya? Kenapa ibu Tumini bilang kayak gitu? Ilham melangkah pergi, tentu saja dia iyakan nasehat singkat dari Ibu Tumini, meski sebenarnya karena itu dia menjadi bertanya-tanya sekarang. Apa mungkin Dela sudah dikenal orang sebagai anak yang suka melawan orang tuanya? Huft ... Ilham memejamkan mata, menarik napas panjang sebelum akhirnya dia mulai melajukan mobilnya menuju ke arah masjid yang kata Ibu Tumini cuma ada satu di kampung ini. Toa masjid berwarna emas terlihat jelas dari tempat Ilham sekarang, jadi dia tinggal lurus saja menuju ke sana. Sekarang Ilham sudah melewati masjid yang di depannya terdapat tulisan berupa nama dari masjid itu, ‘Masjid Al-mukri.’ Dia hanya tinggal mengikuti petunjuk dari Ibu Tumini tadi, dan benar saja ... dia tiba di wisma kampung yang ada banyak pintu di sana. Namun seseorang lelaki tua menyita perhatiannya, kakek yang tadi duduk di kursi dekat pintu kamarnya. Siapa sih, kakek itu? Bagaimana juga dia tahu kalau aku tinggal di sini? Bahkan dia menunggu tepat di depan kamarku. Sepertinya ada yang aku lewatkan tentang Dela. Ilham melangkah dengan pasti menuju ke tempat si kakek yang menunggu dengan tubuh rentanya yang sedikit bungkuk. “Maaf, cari siapa ya, Kek?” tanya Ilham sopan. Jujur saja, dia sedikit kurang nyaman dengan kedatangan si kakek. Si kakek bangkit, memberi sedikit senyuman memandang Ilham. “Kamu menjatuhkan ini, Nak.” Si kakek memberikan dompet berwarna cokelat yang sangat mirip dengan kepuanyaannya. Melihat itu, Ilham langsung saja merogoh semua saku celananya. Bukan mirip lagi kalau begitu, karena dompet itu ternyata benar-benar miliknya. Entah kapan benda berharga itu jatuh, tapi kali ini dia justru sangat bersyukur atas kedatangan si kakek. “Terimakasih, Kek. Saya bakalan kerepotan banget kalau masih harus ngurus surat-surat ini kalau sampai hilang,” ucap Ilham menerima dengan semangat dompet di tangan si kakek. “Sama-sama. Maaf, loh tadi saya membuat kamu tidak nyaman. Saya senang karena pada akhirnya Dela memiliki suami,” ucap kakek Atmo. Tadi kakek ini kayak mau jelek-jelekin Dela. Sekarang dia bilang seneng Dela udah nikah sama aku. Ilham memilih diam, menunggu kealnjutan kalimat si kakek daripada salah menanggapi. “Saya cuma mau ngasih tau kamu kalau Dela itu perlu disayangi sepenuh hati. Kasihan, dia sudah menderita dari masih orok. Dan sebaiknya, jangan paksa dia untuk ke rumah itu lagi, di sana ....” “Pak, aku cariin kemana-mana ternyata ada di sini. Ayo pulang!” seorang lelaki yang -sepertinya- seumuran dengan Pak Faris datang dan langsung menarik tangan kakek Atmo. “Jangan didengerin, Dek. Ini bapak saya emang suka ngawur,” ucap lelaki itu kemudian menarik pergi Kakek Atmo. “Badrul kan udah bilang, bapak jangan jauh-jauh kalo keluar. Sesekali dengerin Badrul dong, Pak. Kita ini udah susah, gak usah di tambah-tambahi dengan masalah orang. Biarin aja.” Ilham mendengar sedikit obrolan si bapak tadi dengan Kakek Atmo. “Bapak naik apa ke sini?” “Caktor.” Dan percakapan mereka tak lagi terdengar sebab keduanya sudah keluar dari halaman wisma. Caktor adalah transportasi becak yang digabungkan dengan motor, dan orang-orang di kampung Dela menyebutnya caktor, becak motor. Huft ... Ilham menyandarkan kepalanya di kursi, belum sehari di madura tapi sudah banyak kejutan yang ditawarkan takdir kepadanya di pulau garam ini. Dan sialnya, semua yang dilalui Ilham sama sekali bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Dela ... kamu kemana, sih? Udah siang loh ini. Matahari terasa terik, dan Ilham tak bisa masuk ke dalam karena kuncinya ada pada Dela. Dan Dela? Dia belum juga menunjukkan batang hidungnya sejak Ilham datang dan kembali ke sini. Rasa lelah membuat Ilham tertidur dengan posisi duduk. Dalam tidurnya, dia melihat Dela berlari ketakutan sembari menjerit dan meminta tolong, namun tak ada satupun orang yang menolongnya. Dela terus berlari hingga kemudian dia melihat sebuah rumah dan masuk ke dalamnya. Namun tak lama, terdengar teriakan yang sangat menyayat. Ilham yang mendengar itu merasa sangat kasihan dan memutuskan untuk ikut masuk ke dalam. Rumah yang terlihat besar dari luar ini ternyata hanyalah sepetak ruangan kecil, dan Dela tidak ada di dalamnya. Ilham memanggil nama istrinya sembari melihat sekeliling ruangan yang seolah semakin menyempit. Sedangkan teriakan Dela terus terdengar, membuat Ilham tak tega kalau harus keluar dari sini sendirian. “Mas mas, Mas Ilham.” Sebuah sentuhan terasa di pundaknya. “Del, Dela ....” Ilham menyebut nama sang istri. Dan sekarang, sentuhan itu berpindah ke tangannya. Suara jeritan Dela tetap terdengar namun sentuhan di tangannya yang terasa lebih nyata, membuat Ilham membuka mata dan sadar, bahwa dia hanya sedang bermimpi. “Dela.” Ilham langsung menarik tubuh Dela, memeluknya dengan kekhawatiran yang teramat. Mimpi itu seolah nyata dan sukses membuat Ilham berkeringat karenanya. “Jangan peluk-peluk, malu diliatin orang.” Dela mendorong tubuh suaminya agar menjauh darinya. Ilham tak melihat adanya makhuk hidup bernama manusia di sini. Tapi ya sudahlah, mungkin bukanlah hal yang lumrah di sini, memeluk bini sendiri di depan umum. Eh, apa mungkin Dela masih marah, ya? “Kamu ngapain tidur di sini?” tanya Dela kemudian. Ilham melihat sekeliling. Arkh ... gara-gara kecapean, dia tertidur waktu nungguin Dela tadi. “Ayo masuk, di sini panas banget. Lagian, kamu pasti belum sholat, kan?” Dela berkata lagi. Tak terlihat kemarahan di wajah istrinya, yang terlihat justru wajah bahagia di balik riasan cantik sang istri. Dela membuka pintu dengan kunci yang dia keluarkan dari dalam tasnya. Selanjutnya, dia melangkah masuk meninggalkan Ilham yang masih belum juga mengerti suasana. Lelaki itu justru melongo di tempatnya, memikirkan mimpi yang dia lihat dalam tidur singkatnya. Ah, sepertinya bertemu dengan beberapa orang baru membuat pikiran Ilham sedikit berantakan hingga bermimpi aneh seperti tadi. Dia pun bangkit, menyusul sang istri yang sudah masuk lebih dulu. Bukan langsung ke kamar mandi, Ilham malah menjatuhkan tubuhnya di atas kasur kecil di sana. Melihat suaminya yang justru sepertinya akan melanjutkan tidurnya, Dela bersuara, “Mas, kok malah tidur, sih? Sholat dulu biar puas tidurnya.” Ilham melihat ke arah istrinya yang duduk di depan cermin yang hampir semua perempuan suka duduk berlama di sana. Tangannya dengan piawai membersihkan riasan make-up di wajahnya. Rupanya dia memerhatikan Ilham dari cermin besar di depannya. Huft ... meski sebenarnya Ilham sangat ingin melanjutkan tidurnya, tapi kata puas yang terucap dari bibir Dela membuat dia bersemangat mandi. Sepertinya inilah saatnya! Dia langsung pergi ke kamar mandi tanpa membantah sedikitpun. Dela tersenyum karena lagi-lagi Ilham menurutinya. Sepertinya pilihan menikah adalah sesuatu yang tepat. Dia meneruskan kegiatannya bebersihnya sebelum nanti berlanjut ke kamar mandi. Tak lama, Ilham keluar dengan rambut yang basah. Wajahnya tak perlu ditanya, terlihat segar dan makin ganteng maksimal. Meski Ilham memiliki kulit berwarna cokelat gelap, tapi garis tegas dan ketampanannya masih bisa lah untuk saingan dengan pesinetron ganteng suami putri Marino, Chico Jericho. Melihat sang suami yang sudah selesai mandi, Dela pun bangkit dan menggantikan Ilham, masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badannya yang terasa lengket sebab berkeliling kampung naik dokar. Sayangnya, dia tak mengajak Ilham suaminya, sebab tadi saat dia pergi, hatinya diliputi kekesalan kepada suaminya itu. Ilham memakai baju Koko, sarung dan peci hitam yang tersedia di atas kasur. Seumur hidup, Ilham belum pernah memakai peci seperti ini. Tapi, karena ini Dela yang nyiapin, tentu Ilham akan dengan senang hati memakainya. Selesai dengan sholatnya, Ilham melepaskan baju Koko dan seperangkat alat sholat yang tadi dipakainya. Kecuali sarung berwarna hijau tua. Kain ini akan memudahkan urusannya sebentar lagi. Pikiran Ilham masih terpaut pada kata puas yang Dela ucapkan. Otaknya yang semula waras mendadak memanas karena satu kalimat yang Dela sendiri sudah melupakannya. Ilham tak ingin ketiduran, sebab itu dia memilih duduk menunggu dengan memainkan ponselnya. Dela lama banget! Kebiasaan perempuan satu itu, kalau mandi pasti sangat lama. Mungkin sabunannya ga cuma sekali! Ilham yang mulai bosan menunggu, pada akhirnya bangkit dan mengetuk pintu. "Del, kok lama banget, sih? Buruan dong, ntar aku ketiduran lagi loh." Dela mengernyitkan alis, mendengar ucapan suaminya. Memangnya mau kemana? "Ya udah tidur aja. Aku udah sholat kok tadi," sahut Dela dengan sedikit berteriak. Haih ... Enak saja dia ngomong. Tadi mancing-mancing, sekarang nyuruh tidur. Ga bisa! Lagi-lagi untuk urusan yang satu ini, keduanya selalu berbeda arah. Satu bicara apa? Satunya jawab apa? Salah sambung yang endingnya selalu Ilham lah yang menjadi korban dan berakhir di kamar mandi. "Aku tungguin, cepetan!" Ilham berucap sembari berlalu, kembali menuju ke kasurnya. Dia melihat sekeliling, tempat ini bukan hanya tidak mewah, memang ukurannya tidak sempit, tapi keadaan dinding dan lantainya yang sudah sedikit usang, menjadi suatu hal yang perlu dipertimbangkan kalau harus tinggal menetap di sini. Tapi tak apa, toh mereka di sini hanya sementara, dan tempat bukanlah sesuatu yang amat penting untuk pengantin baru saat akan menunaikan hajat. Yang terpenting adalah kepuasan dan kebahagiaan pasangan. Ilham akan mewujudkannya meski di tempat yang sangat penuh kekurangan ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD