Ibu Tumini

1423 Words
Ilham berlalu, dia sendiri bingung hendak kemana sekarang? Ingin mengejar Dela, tapi dia sudah kehilangan jejak sang istri. Bahkan warna angkutan yang tadi dinaiki Dela pun, tak sempat dia perhatikan. Dia tak bisa asal mengejar karena tak tahu jalanan kampung dan seluk beluknya. Ini kampung, bisa jadi kejahatan di sini lebih meraja daripada di kota. Ilham tak bisa kalau harus mengambil tindakan sejauh itu. Bisa-bisa bukan ketemu Dela, malah dia yang celaka. Selain itu, jalan di kampung ini tak semuanya bisa dilalui mobil. Masih banyak jurang dan tebing tinggi yang menguasai pinggir jalanan. Ilham melihatnya saat tadi dia dalam perjalanan masuk ke kampung ini. Jauh di dekat gunung, ada jalan menanjak yang sepertinya hanya cukup dilalui satu mobil dan di kiri kanannya terdapat jurang yang sangat dalam. Hii ... Ilham tak bisa bayangkan kalau dia tersesat ke tempat itu. Lalu kalau harus kembali, Ilham pun tak bisa, dia sungkan kalau harus kembali ke rumah mertuanya, apalagi jika ia kembali tanpa Dela, tentu hal itu hanya akan menimbulkan pertanyaan dari Ambu Indun dan juga Pak Faris. Secara, sepasang suami istri itu tampaknya sangat menyayangi anak mereka. Ilham tak ingin hanya membuat mereka khawatir kalau tahu Dela pergi tanpa Ilham. Tapi bisa jadi mereka justru menunjukkan tempat-tempat yang biasa Dela kunjungi. Ah, tapi bagaimana kalau di tempat yang biasa didatangi Dela, perempuan itu tak ada. Pasti Ambu Indun dan Pak Faris akan khawatir, Ilham tak mau itu terjadi. Pada akhirnya, dia memilih untuk mencari tempat yang kata Dela wisma kampung, tempat dia dan Dela menyewa kamar di sana. Suasana kampung yang tidak seramai di kota, tentu akan membuat Ilham kesulitan mencari orang untuk bertanya. Tapi di jalan raya sana, pasti akan ada orang melintas, dan Ilham bisa bertanya dan meminta ditunjukkan arah ke wisma itu. Ilham pun menggerakkan mobilnya menuju ke jalan tempat Dela naik angkutan tadi, di sana ada seorang ibu yang tampak kerepotan dengan sekeranjang belanjaan di tangannya. Melihat ibu itu, Ilham jadi teringat dengan ibunya. Tumben sekali perempuan yang sudah melahirkannya itu tidak menghubunginya sejak kemaren. Lantas, dia mengeluarkan ponsel dari dashboard mobilnya. Dia cari kontak ibunya untuk dia hubungi. Tak terdengar nada sambung atau sejenisnya. Ilham mencobanya lagi sampai tiga kali. "Haih ... Pantesan ga bisa nelepon, ga ada sinyal." Ilham melihat tanda X di bagian atas layar ponselnya. Dia pun memasukkan kembali ponselnya ke dashboard, dan dia bersiap menggerakkan mobilnya lagi, tapi matanya tak sengaja menangkap sosok ibu yang tadi masih ada di tempatnya yang tadi. Belanjaan yang dibawanya membuat dia kerepotan. Lantas Ilham memilih mendekatkan mobilnya ke sisi si ibu, "maaf, Bu. Saya mau tanya, arah ke wisma kampung itu kemana, ya?" Pilihan terbaik untuk saat ini adalah menunggu. Bukan karena Ilham tak peduli, tapi dia tak ingin menambah masalah kalau nanti justru dia yang nyasar entah kemana, dia sama sekali tak paham dengan jalanan kampung. "Wisma kampung? Kayaknya saya baru liat kamu, kamu orang baru, ya?" si ibu meletakkan keranjang belanjaannya sembari memandang wajah Ilham lekat. Lelaki di depannya ini pasti bukan penduduk di sini, bahkan dia bicara pun tidak dengan bahasa Madura. "Iya, saya baru di sini dan gak akan lama juga, sih, Bu." Ilham menjawab apa adanya. "Wisma kampung itu cuma untuk mahasiswa dan mahasiswi. Kamu mahasiswa baru ya?" tanya si ibu lagi. "Oh, nggak, bukan. Kebetulan istri saya kenal baik dengan pemilik wisma itu, jadi dia menyewa satu kamar untuk beberapa hari," terang Ilham. "Istri?" Si ibu belum pernah dengar tentang teman pemilik wisma yang bersuamikan orang kota. Dan sejauh yang dia tahu, Teman dari pemilik wisma itu juga sudah pergi merantau ke kota tapi belum ada kabar bahwa dia sudah menikah. Si ibu terlihat berpikir, dia mengelap keringatnya dengan punggung tangannya sebab matahari yang amat terik menyengat. Ilham yang melihat itu jadi tak tega. "Bu, saya antar, ya. Sama sekalian nanti ibu kasih tahu arah jalan ke wisma," ucap Ilham kemudian. "Iya iya. Ayok," ucap si ibu bersemangat. Huft ... akan sangat melelahkan pastinya kalau dia masih harus menunggu angkutan di sini untuk bisa sampai ke rumahnya. Mana hari mulai sudah sangat panas, padahal sekarang belum siang! Ilham turun, membantu si ibu mengangkat belanjaannya dan memasukkannya ke dalam bagasi mobilnya. "Makasih loh, Dek. Ini kalo ga ada Adek ... " Si ibu memandang Ilham, menggantung kalimatnya dengan penuh tanya. "Ilham." "Adek Ilham, saya Tumini. Kalo ga ada Adek Ilham, saya tuh pasti nunggu angkutan buat pulang sekarang," ucap si ibu penuh syukur. Ilham tersenyum menanggapi, "di depan, kanan apa kiri?" "Kanan, trus masuk jalan kecil nanti, jadi saya turun pas pertigaan nanti." Si ibu menyandarkan kepalanya, lelah di wajahnya seolah bicara. Tak butuh waktu lama, pertigaan yang dimaksud si ibu sudah terlihat di depan sana. Ilham mulai menepi dan lalu berhenti. "Masih jauh ya, Bu?" tanya Ilham kasihan. Karena sejauh jalan yang ia lihat, hanya penuh dengan sawah dan ada pohon bambu yang rimbun di ujung pematang tepat di sisi kanan dan kiri jalan di depan. "Rumah saya masuk di situ." Si ibu menunjuk jalan yang dikelilingi pohon bambu. Untungnya, ini bukan novel horor, jadi meski rumahnya terpelosok dan masuk kebun bambu, Ilham sekali tidak merasa takut. Dia justru khawatir karena ternyata ibu ini masih harus berjalan cukup jauh dengan membawa keranjang penuh belanjaan ini. "Adek Ilham kalau mau ke wisma nanti tinggal lurus trus belok kiri di belokan kedua setelah masjid," terang si ibu. Menepati janjinya untuk menunjukkan arah ke wisma. "Oh iya, Bu. Makasih, tapi sepertinya saya nggak tega kalau membiarkan ibu bawa belanjaan ini sendiri." Ilham berjalan lalu berhenti tepat di depan si ibu, tangannya masih menenteng keranjang belanjaan yang penuh sesak dengan aneka sayur dan barang lainnya. "Aduh, saya jadi ga enak. Nggak papa, Dek, saya udah biasa setiap seminggu sekali bawa beginian." Si ibu tak enak hati, sudah diantar pulang masih dibantu bawa belanjaan. Ahh ... Sungguh laki-laki yang baik! Saya jadi penasaran sama istri Dek Ilham ini. "Ayo ibu duluan." Sekarang Ilham tengah mengekor Ibu Tumini, membawakan belanjaannya, melewati jalan setapak yang cukup panjang, di sisi kanan dan kirinya terdapat sawah yang dipenuhi dengan pohon padi yang masih kecil. Warna hijau membentang sebab sejauh mata memandang hanya ada pohon padi yang sepertinya baru berumur setengah bulan. Begitu Ilham sampai di kebun bambu, barulah terlihat sebuah rumah dengan halaman luas penuh buah-buahan. Hampir semua pohon buah di sini hanyalah buah yang batang pohonnya kecil. Pohon mangga-lah satu-satunya pohon besar di sini, letaknya ada di sudut halaman menempel pada pagar bambu yang di cat biru. Sejuk, itulah yang langsung dirasakan Ilham begitu masuk ke pekarangan rumah yang sangat sederhana ini. Rumah dengan gaya yang tak pernah Ilham lihat di kota bahkan di kampung ini juga. Atapnya yang tak terlalu tinggi, membuat Ilham bisa dengan mudah menggapainya. Dindingnya dicat putih dipadukan dengan warna biru muda, sangat serasi dengan warna pagar di depan. “Taruh di sini aja, Dek.” Ibu Tumini menunjuk sebuah meja bulat dengan warna natural tanpa polesan cat. Bahkan serat dari kayu itu terlihat jelas di sana. “Duduk dulu, Dek, biar saya ambilkan minum ke dalam,” ucap Ibu Tumini hendak masuk ke dalam rumah mungilnya. “Tidak usah, Bu. Saya mau langsung pamit saja,” tolak Ilham kemudian. Tadinya dia akan mampir dan menikmati kesejukan rumah Ibu Tumini, tapi mengingat Dela yang belum juga memberi kabar, Ilham merasa tak tenang kalau harus enak-enakan duduk di sini. “Loh, loh ... kok buru-buru sekali?” tanya Ibu Tumini melihat pemuda yang menolongnya bangkit dari duduknya. “Iya, Bu, maaf ... saya harus balik ke wisma, takutnya istri saya nungguin saya.” “Tunggu dulu, tunggu sebentar.” Ibu Tumini buru-buru masuk sebelum tamunya pergi. Tak lama, dia keluar dengan kantong plastik hitam di tangannya. “Ini, Dek, buat dimakan sama istrinya ya.” Ibu Tumini memberikan kantong hitam itu kepada Ilham. Tentu saja Ilham menolak, dia ikhlas membantu tanpa mengharapkan imbalan apa-apa, lagipula berkat Ibu Tumini, Ilham sekarang bisa tahu arah menuju wisma. Tapi sudah tipikal orang di kampung Dela, saat ada tamu yang bertandang ke rumahnya, maka tuan rumah akan memberikan sesuatu untuk si tamu bawa pulang, apalagi dalam kasus Ilham kali ini, dia tidak sembarang bertamu, dia tak hanya mengantar Ibu Tumini, tapi juga membantu membawakan barang belanjaan miliknya. Hal itu membuat Ibu Tumini memaksa agar Ilham mau menerima pemberiannya. Namun, Ilham sendiri kekeuh menolak sebab perutnya benar-benar masih kenyang. “Tidak usah, Bu. Saya ikhlas kok, tadi saya sudah makan di rumah ambu,” ucap Ilham terus terang. “Ambu?” Satu-satunya warga di sini yang dipanggil ambu adalah Indun. Apa mungkin? Mimik wajah Ibu Tumini berubah seketika mendengar kata Ambu dari mulut Ilham.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD