Kakek Atmo

1733 Words
Dela menyantap sarapannya dengan sangat lahap. Selain karena makanan di sini hasil masakan ambunya, alasan bersama siapa kita makan ternyata membawa pengaruh besar. Sarapan dengan keluarga sendiri memang terasa lebih enak. Itulah yang saat ini Dela rasakan, seketika nafsu makannya bertambah. Terlebih, makan kali ini bertambah satu lagi orang yang Dela sayangi, yakni Mas Ilham. Ketiga orang itu makan sembari sesekali mengobrol, menceritakan masa kecil Dela yang kata Ambu suka manjat pohon mangga tetangga. Ilham tertawa mengetahui kemampuan terpendam istrinya. "Aku kalah loh, Ambu. Aku dari kecil kalo manjat dikit, langsung disediain rotan sama ibu." Ilham ingat bagaimana dulu dia diajak teman-temannya mengambil layangan. Karena galah yang mereka pakai terlalu pendek, pada akhirnya mereka memutuskan untuk memanjat. Siapa yang dapat layangan itu duluan, dialah pemenangnya dan berhak memiliki layangan itu. Ilham tentu ikut di dalamnya. Dia memang tak jago manjat, tapi untuk urusan layang-layang, Ilham tak akan membiarkan mainan kertas itu jatuh ke tangan orang lain. Dia ikut memanjat dan berkali-kali terperosot ke bawah. Sampai akhirnya, suara melengking ibunya membuat dia semakin bersemangat naik dan mencapai atas lebih dulu. "Ilham, turun cepat! Kamu ini bandel banget dikasih tau. Kalo jatuh terus patah, gimana?" Ibunya berteriak dari bawah dengan sebatang kayu kecil di tangannya. Ilham rasa itu adalah ranting pohon yang sembarang diambil oleh ibunya. Tapi apapun benda yang dipegang ibunya, sudah pasti akan sakit kalau dipukulkan padanya. "Ampun, Bu. Ilham janji ngga manjat-manjat lagi " Ilham kecil memohon namun masih sempat-sempatnya meraih layangan yang ada tepat di atas kepalanya. Alhasil, dia pulang dengan telinga dijewer dan layangannya pun dilempar ibunya ke sawah. Ah, itu adalah kenangan yang tak kan pernah Ilham lupa. Dela dan Ambu tertawa mendengar cerita Ilham. Saking asyiknya berbagi cerita lucu masa kecil Dela dan Ilham, mereka sampai tak ada yang menyadari bahwa Pak Faris belum juga datang bergabung bersama mereka sejak tadi. Barulah saat makanan di piring ketiganya bersisa separuh, Pak Faris datang dan langsung duduk di sisi Ambu, berhadapan dengan Dela. Namun kedatangannya, seolah membawa mood buruk di hati Dela. Entah kenapa, perempuan yang telah berstatus istri itu menjadi buruk suasana hatinya hanya karena melihat wajah Pak Faris. "Kalian nginep di sini, kan?" Pertanyaan Pak Faris telah seratus persen mengubah suasana hati Dela dalam sekejap. Ambu Indun langsung menyenggol kaki suaminya dengan cukup keras. Ilham sendiri kebingungan menjawab pertanyaan mertuanya itu. Jelas-jelas Dela sudah menyewa sebuah kamar di wisma kampung yang letaknya cukup jauh dari sini, itu artinya istrinya itu sama sekali tak ada berniat untuk menginap di rumah ini. Lelaki yang merasa salah tingkah sebab dipandangi oleh mertuanya itu pada akhirnya melirik ke arah istrinya, namun yang dilirik justru tampak asyik menyuapkan makanannya yang masih setengah utuh ke dalam mulutnya. Dela bersikap seolah tak mendengar ucapan Pak Faris, daripada nanti dia mengamuk dan pergi dari rumah ini, pikirnya. "Gimana, Ham?" Pak Faris menyebut namanya, artinya ... pertanyaan itu dijatuhkan penuh atasnya. Bagaimana ini? Kalau aku jawab iya, Dela bakalan marah nggak ya? Ilham berpikir sejenak. Mana mungkin Dela marah, kan ini rumah ambunya, justru dia bakalan senang kalau aku mau menginap di rumahnya. Pikiran polos lelaki kota itu bersikap sebagaimana dia ingin disikapi. Dia akan merasa sangat senang kalau Dela mau menginap di rumah orang tuanya, Pak Rosyid dan Bu Ningsih. Maka pasti, Dela pun demikian, begitu yang Ilham pikirkan. "Iya, Pak. Tapi nanti kami akan mengambil ...." Belum selesai ucapan Ilham, Dela langsung memotongnya. "Nggak. Kami ga akan nginep. Rumah ini terlalu sempit untuk ditinggali berempat." Dela menyelesaikan makannya. Melotot ke arah Ilham yang sekarang tengah menatapnya, lelaki itu masih tak percaya pada apa yang terucap dari mulut istrinya itu. "Kan kamarnya ada dua, Del. Kamu sama Ilham tidur di kamar kamu yang dulu. Bapak dan Ambu bakal tidur di kamar kami sendiri seperti biasa." Pak Faris tampak keberatan dengan jawaban putri angkatnya itu. Rumah ini terdapat dua kamar, meski di setiap kamarnya hanya berukuran kecil, tapi cukup untuk tidur dua orang. "Nggak." Dela meletakkan sendok yang tadi dipegangnya, bukan meletakkan, tapi menjatuhkannya secara sengaja ke piring yang ada tepat di bawah tangannya. Dia tak suka dipaksa untuk melakukan sesuatu, apalagi ini berkaitan dengan rumah yang ingin dia tempati. Ilham semakin terheran dan masih tak menyangka dengan yang dilakukan istrinya saat ini. Apa yang salah dari ajakan menginap? Semua orang tua tentu akan mengajak anak menantu mereka menginap saat anak-anak mereka datang mengunjungi mereka. "Sudahlah, Pak. Kalau Dela nya nggak mau, jangan dipaksa." Ambu Indun pun angkat bicara. Dia tak ingin kepulangan anaknya malah semakin menjauhkannya dengan sang anak. "Aku udah kenyang. Mending sekarang kita pulang, Mas. Aku capek banget, mau istirahat." Dela bangkit. Mau tak mau, Ilham menurut meski sebenarnya dia tak suka dengan tindakan istrinya kali ini. "Ambu, bapak ... Kita pamit pulang dulu, ya." Ilham berpamitan, padahal nasi di piringnya masih belum habis. Dela, Dela. Jadi nggak cuma sama orang tuaku, kamu begini. Ilham membukakan pintu mobil untuk Dela lalu setengah berlari masuk ke sisi satunya. "Aku nggak tau kamu ada masalah apa sama orang tua kamu, tapi ... Apa yang kamu lakukan tadi, pasti mengecewakan hati Ambu." Dela menoleh, menatap sarkas ke arah suaminya yang mulai menggerakkan mobilnya meninggalkan halaman kecil di depan rumah Ambu. "Del ... Orang tua menyuruh anaknya menginap itu sesuatu yang wajar. Nanti kalau kamu jadi orang tua, pasti bakal ngerasain." Ilham tahu, istrinya berhati lembut. Bisa jadi Dela seperti ini, karena dia kecapekan karena dari perjalanan sebelumnya, Dela belum benar-benar beristirahat. Dela tak menjawab, hanya menatap lurus ke depan dengan wajah yang sulit diartikan. Ilham menyentuh tangan Dela dan mengusapnya lembut, namun reaksi Dela sungguh di luar dugaan. Dia menepis kasar tangan Ilham, dan meminta Ilham menghentikan mobilnya, "aku mau turun." Ilham tak mendengarkan ucapan Dela, dia tetap melajukan mobilnya dengan kecepatan normal. "Kalo ga berhenti, aku bakalan lompat." Dela memegang handle pintu mobil, siaga melompat kalau Ilham masih belum menghentikan mobilnya. "Ya udah oke!" Ilham mengalah, menepikan mobilnya, yang di sisi kiri jalannya terdapat satu rumah penduduk. Dela turun tanpa berbicara sepatah katapun lagi. Sepertinya pilihan yang salah aku bawa Mas Ilham ke rumah, dia jadi ikut kepengaruh juga, kan sama b******n itu! Laki-laki k*****t! Ngajak nginap? Ogah!!! Dela melangkah cepat menuju jalan raya. Dia akan pergi ke balai raya kampung yang biasanya selalu ramai dengan orang berjualan masakan olahan tangan sendiri. Terlebih ini masih pagi, pasti akan ada dokar yang mangkal. Dela rindu naik dokar. Ilham sendiri belum tahu harus kemana? Haruskan dia kembali ke rumah Ambu, atau kembali ke kamar sewa di wisma kampung? Apa Ilham ingat jalan untuk kembali ke sana? Dia berpikir sembari memandangi punggung Dela yang berjalan ke depan lalu masuk ke dalam angkutan kampung yang melintas. "Mungkin sebaiknya aku ikutin Dela aja." Ilham men starter mobilnya, namun sebuah ketukan di jendela mobilnya yang di sebelah kiri membuat dia urung pergi. Bahkan dia memilih mematikan mesin mobilnya lagi saat dia melihat seorang lelaki tua di sana. "Ijinkan saya memberitahu sesuatu." Lelaki itu menyuruh Ilham turun. "Ada apa ya, Pak?" tanya Ilham kepada kakek itu. Lelaki tua itu tak menjawab, dia hanya menyuruh Ilham untuk ikut dengannya. Meski enggan sebab Ilham tak kenal kakek-kakek ini, tapi dia tetap mengekor di belakangnya. "Silahkan duduk, Cong." Kakek itu mempersilahkan Ilham duduk. Cong adalah panggilan yang biasa orang Madura pakai untuk orang yang lebih muda. Ilham duduk dengan masih menyimpan rasa penasaran. Jujur saja, Ilham merasa tak nyaman di sini, selain dia tidak mengenal kakek ini, Ilham tak sengaja melihat bekas luka di lengan si kakek. Bekas luka gores yang cukup besar itu menunjukkan bahwa sesuatu pernah terjadi padanya. Bisa jadi kakek ini bukan orang baik! "Maaf, loh. Kamu saya ajak ke sini. Perkenalkan, saya Atmo. Saya tahu Dela dari saat dia masih dalam kandungan." Kakek yang mengaku bernama Atmo ini bisa melihat rona kekhawatiran di wajah tamunya. Terlebih, mata sang tamu terus menerus mengarah pada bekas luka di lengannya. "Luka ini saya dapat saat jatuh dari pohon kelapa. Sudah jatuh, lengan saya terkena celurit yang saya songkel kan di belakang," jelas si Kakek. Songkel adalah menyelipkan senjata di balik pakaian yang dipakai. Ilham manggut-manggut mengerti, sedikit pertanyaan muncul dalam pikirannya. Kenapa kakek ini bisa fasih sekali bahasa Indonesia? Semenjak Ilham menginjakkan kakinya di tanah Madura ini, yang dia dengar setiap kali ada orang mengobrol, mereka berbicara dengan bahasa yang tidak Ilham pahami, mungkin itu bahasa daerah mereka, bahasa Madura. Tapi ya sudahlah, mungkin kakek ini pernah merantau lama ke kota. Ilham justru harus bersyukur karena dengan adanya kakek ini, dia tidak merasa sepenuhnya terdampar di planet asing. Huft ... hanya karena tak paham bahasa daerah kampung istrinya, Ilham menjadi bak orang bisu. “Mau minum? Atau makan mungkin.” Kakek itu bicara lagi, dia mencoba menjalin komunikasi baik dengan Ilham, setidaknya sebelum dia menceritakan sesuatu yang dia ketahui tentang tetangganya, tamunya ini harus yakin dulu terhadapnya. Ya, kakek tua itu tak ingin dianggap hanya sekedar membual atau bahkan dituduh hendak merusak hubungan yang setahunya baru terjalin antara tetangganya, Dela dengan laki-laki kota ini. Maklum ya, pas nikahan mereka tak ada satupun kerabat Dela yang hadir. Jangankan hadir, tahu bahwa Dela akan menikah pun tidak, sebab Dela sendiri yang meminta kepada ambunya untuk tidak memberitahu mereka. “Nggak usah, Kek. Terimakasih, saya buru-buru, bisa tolong kakek langsung saja mau bicara apa sama saya?” tanya Ilham to the point. “Ehem ... begini, Conk. Maaf loh tadi saya nggak sengaja liat Dela turun dari mobil kamu, apa kalian ada masalah?” Bukan menjawab, kakek itu justru bertanya urusan pribadinya. Jelas Ilham merasa tak nyaman ditanya begitu. “Maaf maaf, bukan begitu maksud saya. Jadi saya mau kasih tau kamu kalau ....” Sayang sekali, Ilham sudah tak ingin lagi mendengar apapun yang ingin kakek ini bicarakan. Pertanyaan di luar ranah nya tadi membuat Ilham menutup askes bagi si kakek untuk bicara. Apapun yang dia ketahui, terlepas dari benar dan salah, Ilham sama sekali tak berminat mengetahuinya. “Saya harus pergi karena Dela istri saya minta dijemput.” Ilham bangkit dan langsung pergi setelah sebelumnya dia berpura-pura memandangi layar ponselnya seolah-olah Dela mengiriminya pesan. Si kakek melongo di tempatnya, ingin menahan Ilham namun kenyataan yang baru diketahuinya barusan membuat dia justru terdiam kaku di tempatnya. Apa katanya tadi? Istri? Kakek itu sungguh tak menyangka dengan apa yang dia dengar dari mulut lelaki kota tadi. Tak ada yang bisa dilakukan lagi sebab keterkejutannya selain hanya menatap punggung Ilham yang keluar dari pekarangan rumahnya lalu menghilang masuk ke dalam mobilnya. Ilham berlalu, dia sendiri bingung hendak kemana sekarang?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD