Bab 2. Alana, Kau milikku!

1002 Words
Alana menahan gertakkan giginya, "Apa? Kau gila! Kau sangat gila, Tuan. Anda membuat saya seperti mainan yang kapan saja bisa di ambil dan di buang. Sangat menyebalkan sekali! Saya benci anda,” Alana rasanya ingin menangis, tapi dengan cepat dia menahannya. Moran terlihat dingin sekarang, "Kenapa? Apa kau tak senang dengan keinginanku! Oke!" Jawab Moran yang mulai melangkah dengan bayi di gendongan. “Anak bai, siapa namamu, sayang?! katakan padaku!aku adalah Raja Negeri Zarfas! Dan pastinya anyahmu juga.” Biji mata Alana hampir saja lepas mendengarnya. Dia ingin mencakar seluruh tubuh Moran yang dengan sangat santai mengatakan hal gila. "Stop! baiklah… Baiklah..." Teriaknya Alana pada Moran. “Seumur hidup saya baru kali ini bertemu dengan Raja yang berengsek seperti anda.” Alana membuka seluruh pakaiannya satu persatu! Dia duduk polos di atas ranjang. Mata Moran sama sekali tak berpindah dari gadis itu, dia menyerahkan bayi mereka pada Alana. Pelan Alana yang duduk tanpa sehelai benang pun menyusui seperti biasa! Dia tak habis pikir dengan keinginan Moran yang seperti orang gila. Pria gila, dia mempermainkan aku dan bayiku. Bisa-bisanya aku terjebak dengannya lagi di sini. Dan kedua orangtua itu?! aku tak sangka di adalah orangtua asuh Moran! Ah, aku terlalu banyak ketinggalan berita. Padahal sejak ayahnya meninggal dunia, dan Moran menjadi Raja, aku semakin merasa tidak peduli dengannya. Namun tak di sangka, rumah di tengah hutan ini masih masuk dalam wilayah istana! Dan dia ada di sini, bersamaku, di depan mataku! Moran menegang! Pangkal pahanya sudah menyempit! Rasanya bagian ujung pada pisang pria tersebut sangat nyeri karena terlalu tegang. Dia berjalan maju ke arah Alana! Saat gadis itu sedang menenangkan bayinya. Pelan Moran menyampingkan rambut Alana yang mengganggu. Dia menunduk, memposisikan dirinya! "Ikh!" Rintih Alana saat Moran menyusu seperti bayi meniru anak mereka. “Anda benar-benar keterlaluan! Perlakuan anda pada saya saat ini tidak akan sangat sulit termaafkan, Tuan!” Alana sungguh gelisah, dia merapatkan pahanya, “lepaskan saya, sudah cukup Tuan!” Moran membuat wajahnya ke tempat lain, seolah sedang menghina Aluna. “Memangnya kau mengarap permohonan maaf dariku? Coba katakan yang jelas Alana! Selain itu, aku sama sekali tidak berniat untuk membuat dirimu bebas dari genggaman ini.” Moran melumat dengan sangat cepat. Dia menikmati setiap momen itu, darahnya naik turun seolah tak hanya napsu saja, hati dan pikirannya juga menginginkan Alana. Sudah sangat lama dia merindukan hal ini, setiap malam Moran merasa bersalah atas apa yang terjadi pada Alana. Wanita ini sekarang sangat kesal, berulang kali dia membuang wajahnya, lalu memejamkan mata menahan rasa sakit yang semakin luar biasa! "Ah... Pelan, Anda menyakiti saya!” Alana mengamuk, menggoyangkan tubuhnya. “Jangan membuat saya kesal, Tuan! Lepaskan, anda tidak mengerti bahasa manusia, ya?!” Alana benar-benar geram, dia merintih lalu menepuk tangan pria tersebut dengan sangat kuat. Alana meringis, kening wanita itu mengkerut. Dia terkenal sebagi Kultivator pembantai Iblis, bisa-bisanya kini dia di permainkan oleh pria lemah yang sudah lama tidak berkultivasi. "Aw, apa kau tahu ini sangat sakit? jangan berbuat hal yang tidak aku sukai." Dia mendorong kepala Moran hingga membentur dinding. “Anda, tidak berhak seperti ini setelah membuang saya seperti sampah. Apa mata anda buta? Apa anda tidak melihatnya?! anda menyakiti saya hingga ujung buah ini terbelah seperti bakso." Alana meringis kembali, dia tak bohong! Semua ini benar-benar sakit. “Anda benar-benar serakah.” Moran menutup mulutnya dengan kepalan tinju karena tak ingin tertawa terbahak-bahak! "Kau pintar sekali mengada-ngada! Ingat Alana, aku akan selalu datang kemari menemuimu, jika kau tidak melayaniku maka kau akan tahu akibatnya! Padahal dari istana utama tempat ini sangat jauh, entah kenapa angin bisa membawa diriku sampai ke hadapanmu! Kenyataan yang menyenangkan," dia mengusap bibir Alana dengan jari jempol. Alana murka, dia ingin sekali menyobek mulut Moran, "Apa? Anda pria tapi sangat mudah mengancam orang lain, Saya sangat tidak suka dengan cara anda yang tidak pernah berubah! Anda seharusnya tahu diatas langit masih ada langit. Anda bukan Dewa, wahai Raja!" Alana sengaja menekan kalimat itu karena rasa kesal yang sudah menumpuk di dalam dadanya, “Raja, Kaisar! Apa lagi ya?! apalagi yang cocok dengan anda?!” Moran kembali mendekat, dia mengangkat dagu Alana, “Semua cocok untukku sayang! Tunggu saja sampai kau berada tepat di bawah tubuhku. Sepanjang hari tubuhmu akan aku nikmati sepenuh hati!” Moran menyentuh tubuh Alana dengan jari telunjuk. Alana yang tak suka membuang wajahnya, "cih, apakah sedang mengajakku bertengkar? membahas hal-hal yang tak penting bagiku adalah hal bodoh." Alana mengerjapkan mata, apa dia tak salah dengar?! benar-benar membuat sakit hati! "Saya sudah berusaha bersama Anda, tapi anda terus menolak saya! sekarang anda di sini dengan status luar biasa, tapi anda lagi-lagi akan membuat saya dalam keterpurukan." Alana berusaha menahan dirinya. “Bagi sebagian orang bertemu sang Raja adalah berkah, tapi bagi saya itu bencana!” Moran tersenyum, dia bersandar pada dinding. "Kau selalu melankolis saat berbicara, kau pintar dan sangat teratur dalam menyampaikan segala hal. Aku sangat berharap kau bisa menjadi selirku.” Alana mengepalkan tinju. "Anda sungguh akan melakukan ini pada saya? saya adalah ibu dari anak Anda... tolong sekali saja berikan saya kesempatan untuk hidup normal, saya tidak ingin tersiksa berada di dekat anda!" rintih Alana. “Saya tidak ingin menyakiti diri sendiri dengan berada di antara wanita anda.” Melihat tubuh Alana yang gemetar Moran kian jijik. "Hey, Sampai mati kau tidak akan pernah menjadi milik orang lain, kau akan disisiku selamanya! jangan pernah berharap bahagia, kau hanya seorang p*****r bagiku." Moran terdiam sendiri setelah mengatakan hal gila itu. Dia terlalu terbawa emosi hingga tidak bisa memisahkan diri. Tubuh Alana ambruk! Dia tidak sanggup mendengar semua kalimat yang Moran katakan. Pria ini sudah sangat menyiksanya. Hati Alana terluka parah, apalagi Moran mengatakan semua hal buruk di depan wajah anaknya. Ini tidak benar sama sekali. Apa kah aku memang harus pergi dari sini? aku ingin bertahan karena tak ada tempat yang aman bagi Kultivator seperti diriku! aku pun tidak mungkin menitipkan Ib di suatu tempat. Bayiku terlalu berharga di bandingkan nyawa ini. Sekali ini saja Dewa, tolong berpihak padaku! jangan membuat Ib dan aku hidup dalam ketakutan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD