Load - dunia yang sesungguhnya
Benar apa yang ada di dalam pikirkannya. Ketika dia berhasil mengalahkan lizardman yang ternyata adalah kepala suku the king of lizardman, dia mendapat sebuah kenyataan dan gambaran di kepalanya begitu dia melahap tubuh menggunakan skill predator yang dia miliki.
Dan kini, dengan langkah ringan dia berhasil mengusir gue seperti yang ada di kepala ya, lorong, yang membawanya ke sebuah lubang dengan cahaya terang masuk dari sana.
Erix yakin jika itu adalah pintu keluar dari tempat gelap berbau anyir ini. Jujur saja Erix sebenarnya sudah tidak betah dan ingin segera berlari keluar, tapi langkahnya terhenti ketika dia mendengar suara orang berbincang dari arah pintu keluar itu.
Seketika Erix memilih menyembunyikan diri untuk melihat sebuah jelas lagi siapa sosok itu sebenarnya.
Karena pada kenyataannya, kali ini dia bisa mendengar dan mengerti hampir semua bahasa ras yang ada di dalam gua setelah dia melahap tubuh para monster itu untuk mengambil skill yang mereka miliki.
"Apa kau yakin di tempat ini hawa keberadaan naga kehancuran itu menghilang?"
Samar suara seorang pria terdengar di telinganya, dan Erix yakin, suara yang di dengarnya kali ini adalah suara manusia, karena dari intonasi dan cara pembicaraan jelas terdengar seperti manusia pada umumnya. Berbeda dengan para monster yang memiliki ciri khas mereka ketika bersuara, seperti contohnya saja lizardman yang memiliki ciri berdesis ketika mereka bersuara di sana.
"Menurut dari skill yang aku miliki, di sinilah sang naga kehancuran itu menghilang." Ucap seorang wanita dengan intonasi lembut di sana.
"Dan lagi guild juga memberikan misi ini kepada kita untuk menyelidiki tempat di mana hilangnya keberadaan naga kehancuran." Lanjut wanita itu.
Erix hanya bisa memantau dari kejauhan, lalu menggunakan penglihatan tajam yang dia dapat dari lizardman untuk melihat kearah pintu masuk, di mana ada tiga orang berdiri dengan persenjataan lengkap dan baju zirah yang terlihat luar biasa di sana.
Sepertinya Erix benar-benar di hidupkan kembali di dunia fantasi tempat yang selama ini hanya ada di dalam bayangannya saja. Lihat saja bagaimana penampilan para manusia itu dan para monster yang dia lawan selama ini. Mereka benar-benar terlihat dari peradaban yang berbeda dengan dirinya.
"Aku tidak terlalu yakin dengan apa yang mereka katakan." Ujar si pria dengan zirah besar serta sebuah tameng di belakang tubuhnya.
"Tapi hadiah yang ditawarkan oleh guild benar-benar lumayan untuk sebuah misi penyelidikan saja." Balas pria bertubuh ramping yang menyerupai assassin di sana.
"Tentu saja! Apa kau bodoh? Misi yang kita jalankan kali ini adalah menyelidiki sang monster penghancur yang mengerikan di negri ini, jadi bayaran yang kita dapat tentu setimpal dengan apa yang akan kita kerjakan." Balas pria bertubuh besar itu.
Di tempatnya Erix terdiam, apalagi ketika mendengar pembicaraan mereka barusan, apakah yang mereka lakukan itu ada kaitannya dengan naga yang baru saja dia lahap beberapa waktu lalu, di mana sudah menelan hawa keberadaan yang cukup mengerikan di sana.
Erix tidak pernah berpikir jika hilangnya sosok naga itu sangat berpengaruh dan membuat para manusia sampai menurunkan beberapa orang untuk menyelidikinya.
Lalu ingatan tentang perkataan naga itu kembali teringat, apakah ini ada kaitannya dengan kota Lacembrok? Apakah mereka ini dari kota yang pernah naga katakan?
Ck, jika memang seperti itu, sepertinya Erix harus mencari tahu lebih lanjut lagi, karena janji adalah janji, dan dia akan memegang perkataanya untuk menggantikan sang naga untuk melindungi kota itu. Entah kota seperti apa yang akan dia temui nanti.
Erix masih mengawasi ketiga manusia yang mulai berjalan masuk di sana, dari tempatnya dia bisa melihat dan mendeteksi seberapa kuat mereka hingga berani masuk ke dalam gua yang memiliki banyak monster di dalamnya. Sepertinya mereka memiliki mental yang patut diacungi jempol karena berani masuk hanya dengan tiga orang saja.
Lalu sebuah skill membuat Erix terkejut, apalagi ketika melihat tiga manusia itu mulai menggila dan hawa keberadaan mereka benar-benar tak bisa Erix rasakan. Hanya tepak kaki mereka yang tertinggal di sana.
Erix menghela napas pelan, bahkan setelah mereka pergi, dia langsung menyelinap keluar dengan kecepatan tinggi, berlari menuju cahaya terang itu hingga setelah dia keluar.
Matanya langsung silau dengan cahaya yang dia dapatkan kini, cahaya matahari memang benar-benar menyilaukan, terlebih untuk dirinya yang sudah terlalu lama berada di dalam kegelapan yang membuat dia harus berusaha keras untuk menyesuaikan diri dengan cahaya itu.
Sialan! Aku tidak pernah menyangka sinar matahari hampir saja membuat penglihatan ku rusak!
Desis Erix yang kini mengedarkan pandangannya untuk melihat seluruh tempat itu. Sebuah hutan yang membentang dengan begitu banyak pepohonan adalah sesuatu yang pertama kali dia lihat. Lalu suasana Daman dan hembusan angin yang membelai lembut kulitnya membuat dia sedikit dasar, sepertinya dia terlalu lama tidak merasakan suasana seperti Inis sebelumnya.
Karena pada dasarnya, dia hanya menghabiskan dirinya di dalam kamar dengan ditemani sebuah game saja, dan hal itu membuat dia benar-benar lupa bagaimana damainya ketika berada di tengah-tengah hutan yang memiliki udara segar seperti ini.
Yah, inilah seharusnya yang bisa dia nikmati selama di kehidupan sebelumnya, tapi karena satu kondisi yang membuat dirinya tak bisa melakukan semua itu di dalam kehidupan sebelumnya, dan sekarang, apakah dia akan mengulangi masa-masa di mana dirinya tak bisa menikmati kehidupannya?
Tidak. Jangan sampai hal seperti di kehidupan masa lalunya terjadi di kehidupannya sekarang, karena bagaimanapun juga dia harus bisa menikmati tiap hembusan napas yang dia hirup. Karena ada begitu banyak kisah dan sesuatu yang membuat dirinya begitu penasaran di dunia ini. Apalagi dengan kekuatan yang dia miliki sekarang, hal itu benar-benar membuat dirinya merasa mendapatkan kembali kehidupan yang lama dia tinggalkan.
Menyesal?
Tentu saja tidak, jika di kehidupan sebelumnya dia merasa menjadi orang bodoh karena terjebak dengan keadaan yang mengharuskan dirinya terkurung di dalam kamar, kini dia akan menjelajahi dunia ini dari ujung hingga ujung. Sampai kakinya benar-benar merasa lelah untuk melangkah lagi.
Yah, itulah yang akan dia lakukan saat ini, tidak peduli apa yang akan menghalanginya, dia akan menerjang semua penghalang yang ada di depannya.
Dan lagi, dia juga memiliki janji untuk membalaskan dendam raja iblis yang sudah mengurung sang naga di dalam gua itu.
Lalu... Dari mana dia akan memulai?
Erix terdiam untuk sesaat, dia mengedarkan pandangannya untuk melihat seluruh hutan yang ada di sana. Melihat dengan penglihatan tajam miliknya untuk menentukan kemana dia akan pergi kali ini.
Dan suara pertikaian dari sisi barat membuat dirinya tertarik saat itu juga. Apakah di sana ada sebuah pertarungan atau bahkan peperangan?
Sepertinya ini akan menarik!
Erix menyeringai, lalu dengan cepat dia melesat berlari melalui tiap ranting pohon yang ada di depan sana, hingga kaki ya berhenti pada sebuah pohon besar di mana dari posisi itu dia bisa melihat apa yang sebenarnya terjadi.
Dari tempatnya, dia melihat sekumpulan babi dengan tubuh kekar dan persenjataan lengkap, sedangkan di sisi lain ada sekumpulan makhluk hijau dengan persenjataan yang lengkap juga. Erix yakin, jika memang ini persis seperti dunia game, maka monster itu adalah goblin, makhluk yang biasanya menjadi monster lemah di setiap permainan game mmorpg yang sering dia mainkan.
Namun saat ini, sosok yang dianggap lemah itu terlihat cukup kuat dan mampu untuk menghadapi pasukan babi atau biasa disebut orge di sana.
Entah apa masalah yang terjadi di antara kedua ras itu, karena Erix juga baru datang, maka dia sedikit penasaran dengan permasalahan yang terjadi di tempat ini.
Dia memilih duduk, menghilangkan hawa keberadaanya untuk bisa menikmati pertarungan serta mengumpulkan informasi tanpa ada gangguan dari pihak lain.
"Kalian babi sialan, jangan pernah menyentuh daerah kekuasaan kami di tempat ini!" Desak suara petarung dari kubu goblin, jika dilihat dari postur tubuh, goblin itu terlihat sebagai seorang pemimpin di sana. Atau bisa saja dia menjadi seorang kesatria dalam pertarungan ini, karena ketika dia membandingkan sosok goblin itu dengan goblin yang lain, maka kekuatan goblin petarung itu jauh lebih tinggi dari para pasukan goblin di belakangnya.
"Daerah kekuasaan katamu?" Tanya pemimpin orge dengan persenjataan lengkap di sana. "jangan bermimpi dengan semua itu, karena ketika sang naga penghancur menghilang, maka kami, yang terkuat di tempat ini bebas memilih tempat untuk kami kuasai, dan tempatmu adalah tempat yang akan kami kuasai!"
"Apa kau pikir dirimu mampu?"
"Kenapa tidak?" Tanya orge itu dengan suara meremehkan. "Jika hanya banyak bicara maka tidak akan membuktikan siapa yang terkuat dan siapa yang berhak menguasai tempat ini, untuk itu!" Dia meraih pedangnya tinggi-tinggi, "serang!" Terima orge pemimpin yang di sambut dengan sorak gembira dari para orge di bawahnya.
Mereka berlari dengan cepat menyerbu ke arah para goblin yang terlihat sedikit gentar di sana.
"Jangan takut! Kita pertahankan tempat yang seharusnya menjadi milik kita!" Petarung goblin itu berteriak dengan kuat, lalu mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. "Serang!"
"Orreee!" Teriak para goblin yang kini ikut berlarian dan mengangkat persenjataan mereka. Dalam kondisi seperti ini, mereka mulai pertarungan, walau dilihat dari segi kekuatan, goblin tetaplah menjadi makhluk paling lemah di setiap permainan yang di suguhkan, dan biasanya para goblin hanya akan ditemukan oleh pelayar pemula yang akan merintis karir mereka di dunia game.
Tapi kondisi saat ini tentu terlihat berbeda, walau goblin di sana terlihat begitu lemah dan tak sebanding dengan pasukan para orge, tapi semangat juang mereka seolah tak bisa di kukus walau sudah ada begitu banyak korban berjatuhan.
"Jangan pernah menyerah, kita harus mempertahankan wilayah kita demi anak cucu kita kelak!" Teriak sang petarung dari pihak goblin.
Di sisi lain, mendengar hal itu Erix sedikit tercengang, apalagi ketika dia mendengar anak dan cucu di sana. Apakah para goblin memiliki pemikiran serta kesadaran seperti manusia pada umumnya? Ataukah mereka memang ras yang memiliki pemikiran dan berbeda seperti monster yang dia temui di dalam gue.
Hem... Menarik ....
Erix ingin melihat lebih lama lagi, bagaimana alur pertarungan itu berlangsung, dan siapa yang memiliki semangat juang tinggi hingga tak terkalahkan walau hanya dengan sebuah bilah pedang tajam saja.
Apakah goblin yang akan menang, ataukah para orge yang memiliki kekuatan serta fisik kuat di sana.
Walau sejatinya pertarungan ini berat sebelah, tapi semangat yang dimiliki oleh para goblin bukanlah hal yang mudah di kalahkan begitu saja.
Walau dari segi tubuh dan fisik mereka terlihat kalah, tapi dari kelincahan dan kelenturan tubuh, goblin tentu saja memimpin, jumlah pun terlihat berpengaruh di sini.
"Hancurkan mereka semua, habisi siapapun yang menghalangi kita untuk menguasai hutan ini!" Teriak pemimpin orge sembari menebas pedang besar yang dia miliki hingga memotong beberapa tubuh para goblin di sana.
"Osh!" Balas liar pasukan orge yang mulai bersemangat dan mulai menyerang balik.
Melihat hal itu, pemimpin goblin langsung melesat dan berlari ke arah pemimpin orge, setelahnya dia mengayunkan pedangnya dengan kecepatan tinggi, dan tentu saja, pemimpin orge seolah menunggu momen itu datang, bahkan ketika tebasan pedang itu menghunus kearahnya. Dia langsung menarik perisai di punggungnya dan langsung menepis serangan dari pemimpin goblin itu.
"Hanya ini saja kemampuanmu?" Ucap pemimpin orge dengan senyum mengejek di wajah jeleknya itu.
"Apa kau berpikir aku hanya menyiapkan ini saja untuk menghadapi mu?"
Pemimpin orge mengerutkan keningnya dalam-dalam, lalu tanpa dia tahu, pemimpin goblin tadi mengambil sebuah belati kecil dari punggungnya dan menebas lengan kanan pemimpin orge hingga membuat sayatan yang berhasil merobek armor serta kulit tebal dari pemimpin orge itu.
"Ugh!" Dia sedikit meringis kecil, lalu mendorong prisia miliknya hingga membuat pemimpin goblin terpental kebelakang.
Pemimpin goblin tersenyum penuh arti. "Apa itu menyenangkan?" Tanyanya dengan nada pelan, lalu dengan tangan kirinya dia memainkan belati yang baru saja melukai lengan pemimpi orge tadi.
"Aku sedikit memberi hadiah ucapan selamat datang untukmu, dimana di dalam belati ini terdapat racun yang mungkin saja akan membuat dirimu merasa senang setelah kau merasakannya." Ucap pemimpin goblin dengan tenang.
"Kau...." Pemimpin orge mendengkus kuat, dia berusaha mengambil pedangnya dan siap untuk berlari, tapi tiba-tiba dadanya mulai berdetak dengan kuat dan membuat pergerakannya mulai melambat, pandangan matanya pun mulai kabur ketika itu.
"Sialan! Apa yang sudah kau berikan kepadaku!" Teriak orge itu kuat.
"Hanya sebuah hadis perkenalan dariku, untuk orang sombong yang sok ingin merebut kekuasaan dari kami." Kata pemimpin goblin
"Sialan!"
Dari sisi lain, Erix melihat pertarungan itu bisa memastikan jika saat ini kubu goblin tentu diuntungkan ketika mereka berhasil melukai pemimpin orge, tapi untuk melihat siapa pemenang dari pertarungan ini. Erix tidak bisa menyebutkan itu semua, karena pertarungan tidak di sadari oleh keberuntungan semata, dan bukan juga dari kekuatan saja. Karena pemikiran cerdas tentu bisa membuat mereka menentukan alur mereka sendiri.
Menarik ....
Erik bergumam sembari melihat akan sejauh mana pertarungan ini berakhir.