Hari menjelang pernikahan terasa lebih cepat datang dari yang Tristan dan Karina duga. Hal ini membuat keduanya merasakan tekanan karena biar bagaimana pun tidak ada dari mereka yang menginginkan pernikahan ini, jika bukan karena situasi yang ada.
Salah satu hotel bintang 5 milik Youngs Tech sudah mulai di dekorasi meski acaranya masih 4 hari lagi. Yang sibuk melakukan persiapan ini justru keluarga Karina yang akhirnya membuat Anwar ikut kecipratan juga. Dia tentu harus mengawasi semua kegiatan yang akan membuat Tristan hadir di dalamnya.
Dan Karina makin mengurung dirinya di dalam kamar setelah menyadari dia akan menikah dengan pria yang tidak dia ketahui seluk beluknya. Yang dia tahu kalau Tristan bisa dpercaya karena kakeknya juga percaya pada pria ini. Namun mengingat setelah ini dia sudah tidak akan lagi berstatus single, ada satu bujukan yang Karina rasakan kalau seharusnya dia kabur.
Membatalkan semua ini dan menuruti egonya saja.
Ini hidupnya, seharusnya dia bebas dan tidak mau terkekang kontrak.
Pemikiran ini yang akhirya membuat batin Karina terasa menggila. Dia ingin memberontak dan memutuskan datang ke kantor Tristan. Sayangnya pria itu sedang tidak ada di tempatnya tapi untungnya sedang dalam perjalanan kembali ke kantor. Jadi Karina memutuskan untuk menunggu saja.
“Ada apa menemuiku?” tanya Tristan begitu masuk ke dalam ruangannya. Giana sudah memberitahukan kedatangan Karina di kantornya melalui telepon tadi.
Karina menegapkan duduknya di sofa seraya menatap pria yang akan menjadi suaminya ini dengan serius. “Aku ingin membatalkan pernikahan kita,” tutur Karina dengan mantap.
“Uhuk!” Kopi yang sedang diminum Tristan langsung tersembur keluar mendengar penuturan Karina. Dengan cepat dia menoleh pada Karina dengan mata yang melebar tidak percaya. “Apa kamu bilang?”
“Aku ingin pernikahan kita dibatalkan,” ulang Karina. Nada suaranya tidak semantap tadi setelah melihat kilatan marah di mata Tristan yang sudah ada di hadapannya.
Tristan menelan ludahnya kasar dan mengacak rambutnya juga. Dia baru saja kembali dari pengecekan dadakan beberapa toko resmi Youngs Tech yang mendapat rating rendah, dan menemukan banyak fakta bermasalah di baliknya, sekarang dia justru harus mendengar Karina ingin membatalkan rencana yang sudah mereka sepakati.
“Jangan mengada-ada, Karina. Kita sudah sepakat dan kamu sudah menandatangani kontrak,” ujar Tristan dengan tajam. Dia berdiri di depan Karina yang masih duduk di sofa, telihat mengintimidasi jika dipandang dari sudut lain.
Maka dari itu Karina ikut berdiri hingga mereka saling berhadapan. “Aku berhak untuk membatalkannya. Aku akan menyanggupi pinalti atau tuntutan kerugian yang kamu rasakan. Tapi aku benar-benat tidak bisa melakukan ini,” jelas Karina.
Gelengan kepala Tristan menandakan bahwa dia masih tidak mengerti akan penjelasan Karina. atau lebih tepatnya dia menolak apa yang Karina sampaikan padanya. Karena Tristan pikir keputusan Karina ini sangat gila, 4 hari lagi mereka akan menikah dan ingin membatalkannya?
Bisa dibayangkan akan dikemanakan muka mereka berdua nanti setelah berita pembatalan merebak tidak terbendung?
Yang jelas orang-orang akan semakin percaya kalau tidak ada cinta di antara mereka. Lagi, Tristan takut kalau percapaian Youngs Tech bulan ini akan ikut merosot dengan pemberitaan negatif tentangnya.
“Kamu akan membayar mahal untuk pembatalan ini. Aku yakin kamu tidak akan sanggup melakukan itu,” kata Tristan masih dengan mata yang menyorot tajam pada Karina.
Namun Karina justru menganggukkan kepalanya yang berarti setuju. “Asalkan aku bisa membatalkan ssemua ini, aku akan melakukan apapun untuk membayarnya hingga lunas.”
“Kamu tidak mengerti maksud dengan ‘membayar mahal’, Karina,” ujar Tristan. Dia menarik napas sejenak lalu menghelanya pelan untuk meredakan emosinya. “Apa yang kita lakukan semua itu untuk perusahaan yang didirikan oleh kakekmu ini agar tidak jatuh pada orang yang salah. Lalu kamu ingin menyerah untuk memperjuangkan itu?” tanya Tristan.
Dia tidak sedang membujuk Karina, tapi lebih pada memberi tahu lagi bahwa niat awal mereka bersepakat bukan untuk mencari keuntungan, melainkan melindungi sesuatu yang menurut mereka berharga.
“Aku tidak akan menerima juga akan berpura-pura tidak pernah mendengar apa yang kamu katakan soal membatalkan pernikahan. Dalam 4 hari lagi kita akan tetap menikah sesuai kesepaka—“
“Aku tidak mau menikah!” sela Karina dengan suara yang memekik.
Tristan terkejut, begitu juga dengan Anwar yang baru masuk ke dalam ruangan kantor Tristan.
“Aku sudah bilang itu tidak akan terjadi, Karina!” tandas Tristan. Dia tidak mau kalah juga.
“Terserah, yang pasti aku sudah mengatakan ini. AKU.TIDAK.MAU.MENIKAH.” Dengan menekan suaranya, Karina kembali mengungkapkan apa yang dia inginkan.
Setelahnya dia mengambil tasnya yang ada di sofa, setelah itu keluar dari ruangan Tristan.
Dengan emosi yang sedang bertumpuk menjadi satu di kepala Tristan, sebuah cangkir yang terisi kopi dia letakkan ke atas meja dengan kasar. Bunyi dentingan kaca terdengar memekakan telinga setelah itu.
Anwar melihat semua itu dengan meringis, dia juga ikut beluar mengikuti Tristan yang sepertinya akan mengejar Karina. Takut terjadi sesuatu pada keduanya, seperti bertengkar di depan umum contohnya.
“Karina!”
Tristan memanggil nama Karina dengan suaranya yang jika naik pasti akan terdengar menggelegar. Orang-orang yang sedang ada di lobi kantor sampai teralihkan perhatiannya karena suara pemimpin perusahaan ini. Apalagi saat Tristan menarik tangan Karina untuk menghentikan perempuan itu keluar dari gedung kantor.
Anwar yang menyadari situasi segera memberitahu Tristan untuk tidak membuat keributan di depan umum. Merek akhirnya menggunakan ruangan kosong terdekat untuk berbicara. Ruang pertemuan dipilih untuk menjaga privasi pembicaraan Tristan dan Karina, sedangkan Anwar berada di luar.
“Jangan lakukan apapun yang akan membuat kamu menyesal karena keputusan yang gegabah ini,” ujar Tristan yang kembali memelakan suaranya. Namun dia tetap terdengar tegas.
Karina menepis tangan Tristan dari tangannya. “Ini sama sekali bukan keputusan yang gegabah,” ujar Karina tidak terima.
“Tapi kamu pasti baru memikirkan hal ini belum ada satu minggu. Jelas ini hanya keinginan yang mendadak kamu rasakan, bukan dari hasil pemikiran panjang dan hati-hati,” timpal Tristan dengan fakta yang memang benar dirasakan oleh Karina.
Bibir Karina seperti langsung terbungkam karena apa yang Tristan katakan memang benar. Pemikiran untuk membatalkan pernikahan memang datang kira-kira 3 hari yang lalu saat melihat teman-teman sesama modelnya bisa mendapatkan kesempatan besar tampil menjadi model merek busana ternama. Sedangkan dia sekarang ini hanya akan menjadi istri yang dikontrak.
Tidak ada cinta dan sudah dipastikan akan memiliki status janda dalam dua tahun ke depan.
Bukankah ini salah satu jalan hidup yang menyedihkan?
Setelah bertahun-tahun dia berjuang terlepas dari keluarga besarnya yang selalu banyak mengatur, kini dia justru memilih kembali dan menyerahkan mimpinya begitu saja.
“Aku hanya takut menjadi tidak berguna setelah menikah,” ungkap Karina dengan mata yang sudah berkaca-kaca, dari hatinya yang paling dalam. “Aku akan menjadi janda dalam dua tahun dan itu status yang aku pikir mengerikan di usia semuda ini....”
Ada kesedihan yang begitu terasa sampai ke hati Tristan, saat Karina mengatakan apa yang melandasi keputusannya untuk membatalkan pernikahan. Ketakutan Karina sangat terbaca di matanya seolah dia anak kecil yang takut ditinggalkan di taman hiburan yang ramai sendirian.
“Bolehkah aku memilih untuk meralat keputusanku yang pernak kita buat sebelum terlambat?” tanya Karina masih dengan mata yang seluruhnya tergedang oleh air matanya sendiri. “Aku masih punya banyak mimpi dan menikah bukan salah satunya....”
Dan Tristan tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Sebab setiap hal yang berkaitan dengan mimpi, akan selalu membuat Tristan merasa sangat sensitif. Dia memiliki pendirian yang teguh bahwa setiap mimpi patut untuk diperjuangkan.
Tapi, mimpi Tristan juga untuk memajukan Youngs Tech. Dan mimpi itu hanya bisa dia wujudkan jika Karina mau menikah dengannya. Untuk membuat posisinya semakin kokoh dan tidak mudah dilengserkan oleh keluarga besar Karina sendiri.
Jadi mimpi siapa yang harus diperjuangkan?
.
///
.
.