Puas jalan-jalan, makan dan juga berbelanja, ketiga orang Indonesia ini langsung tepar di kasur masing-masing. Tapi beda dengan Tristan yang mendadak dirinya merasa tidak enak badan. Dia ingin meminta bantuan Anwar supaya membelikannya obat, tapi dia ingat Anwar sudah mabuk dan jelas tidak bisa diandalkan.
Karina?
Tidak, perempuan itu juga sudah kelihatan mengantuk tadi.
Jadi sepertinya dia harus turun menuju mini market untuk membeli obat pereda panas atau dia akan muntah-muntah saat besok pulang menggunakan pesawat. Hal yang selalu menjadi masalah karena dia tidak bisa naik pesawat jika sedang sakit.
Dalam waktu 15 menit, Tristan sudah kembali lagi di lantai tempat kamar hotelnya berada. Beberapa kali dia harus berhenti melangkah saat merasakan kepalanya seperti dihantam oleh sesuatu dan membuatnya sangat pusing saat itu juga. Kedua tangannya masuk ke dalam saku hoddie warna navy yang dia gunakan karena udara di sekitarnya menjadi sangat dingin.
“Ck, kenapa harus sekarang?” gumam Tristan yang kesal pada dirinya sendiri.
Sambil berpegangan pada tembok, Tristan berjalan pelan untuk sampai ke kamarnya yang letaknya ada di ujung lorong yang dia lewati.
“Kamu dari mana aja, sih?”
Sebuah suara penuh kekesalan terdengar oleh Tristan, begitu juga langkah kaki yang menghentak sampai membuatnya mendongakkan kepalanya. Ada Karina di hadapannya kini, perempuan itu dengan wajah cemberut menatapnya.
“Dari bawah,” jawab Tristan singkat. Dia ingin segera berbaring lagi tapi malah harus bertemu Karina.
Karina perlahan melembutkan ekspresi wajahnya ketika menyadari wajah pria di hadapannya ini pucat sekali. Apalagi Tristan terlihat seperti mengigil sekarang ini.
“Kamu sakit?” tanya Karina langsung, dia merasa khawatir.
“Ya,” jawab Tristan jujur. “Jadi kenapa mencariku?” tanyanya kemudian.
Mendapatkan pertanyaan itu, Karina pun segera mengulurkan tangan kanannya yang memegang sebuah ponsel yang Tristan kenali. “Ponselmu ada padaku, dan sejak tadi terus bunyi,” kata Karina.
Tristan baru ingat kalau dia memang tadi saat makan malam di restoran, menitipkan ponselnya ke dalam tas Karina. Pantas saja dari tadi dia merasa ada yang kurang, karena ponselnya memang sering sekali berbunyi bahkan ketika dia sedang libur sekalipun.
“Terima kasih,” ucap Tristan pada Karina dengan suara yang sudah serak.
Karina yang melihat itu semua pun tidak bisa tinggal diam. Dia kembali menanyakan perihal keadaan Tristan.
“Sudah minum obat? Kamu butuh bantuan atau tidak?” tanya Karina. Dia menawarkan diri dari pada melakukan secara suka rela apalagi inisiatif, takut nanti akan dinilai berbeda orang lain jika dia melakukan hal seperti ini.
“Aku sudah beli obat,” jawab Tristan tanpa tambahan apapun, yang artinya tawaran dari Karina dia tolak juga.
Karina menganggukkan kepalanya mengerti. “Ooh... kalau begitu kamu bisa istirahat setelah minum obat,” kata Karina.
Setelah itu mereka berpisah untuk ke kamar masing-masing. Tristan yang minum obat begitu sampai di kamar lalu memutuskan untuk beristirahat tanpa mengecek ponselnya. Sedangkan Karina masih merasa khawatir membiarkan Tristan sendirian dengan keadaan sakit begitu, soalnya dia tahu Anwar tadi mabuk lumayan parah.
Tapi akhirnya Karina memutuskan untuk tidak ambil pusing, dia akan melihat perkembangan keadaan Tristan besok pagi saja.
///
Keesokan paginya Anwar sudah berada di dalam kamar Tristan dengan ponsel yang ada di telinganya. Dia mengobrol dengan sekretaris Tristan yang ada di kantor untuk membatalkan jadwal atasan mereka ini setidaknya sampai besok. Alasannya jelas karena sakit dan Tristan tidak bisa kembali ke Indonesia sekarang juga.
“Benar, atur ulang jadwal Bapak buat dua hari ke depan, Giana. Nanti saya yang akan pulang dan bantu kamu urus beberapa jadwal yang sukar buat dibatalkan,” ujar Anwar pada sekretaris perempuan yang bekerja untuk Tristan.
“Baik, Pak. Akan saya lakukan segera. Hati-hati di perjalanan dan titip salam untuk Bapak. Semoga cepat sembuh,” sahut Giana dari seberang telepon.
Anwar masuk lagi ke dalam kamar Tristan setelah tadi menelepon di balkon agar tidak mengganggu Tristan yang tengah terlelap usai minum obat. Di kamar ini juga ada Karina yang duduk di sofa sambil memainkan ponsel, calon istri Tristan ini tampak ikut khawatir. Bahkan yang membangunkan Anwar pagi-pagi buta juga Karina.
“Aku harus pulang sekarang. Tristan jelas akan pulang besok dengan kamu,” kata Anwar sambil memeriksa lagi barang bawaannya dalam koper kecilnya.
Karina menurunkan ponsel dari depan wajahnya lalu menatap Anwar. “Hm, aku tahu apa yang harus aku lakukan,” katanya.
“Baguslah, kamu juga bisa sekalian latihan jadi sosok istri yang baik,” timpal Anwar dengan wajah jahilnya.
Karina langsung mendelik menatap Anwar. “Berisik!”
Anwar tertawa puas walau dengan mengecilkan volume suaranya. Dia berpamitan pergi usai memastikan Karina mengingat apa yang harus perempuan ini lakukan saat Tristan bangun dari tidurnya.
“Dia tidak mau makan apapun yang berbau amis kalau sedang sakit, jadi jangan memesankan dia makanan itu atau dia akan muntah secara live di depan matamu. Lalu paksa dia minum air mineral yang banyak karena dia suka membuat banyak alasan kalau disuruh melakukan itu,” kata Anwar yang membuat Karina muak karena sudah mendengarnya ketiga kalinya hari ini.
“Diamlah, aku belum pikun untuk mengingat itu semua,” cibir Karina.
Menjelang siang, Tristan akhirnya membuka matanya. Panasnya sudah turun tapi wajahnya masih pucat di mata Karina. Semangkuk makanan bernama seolleongtang, yaitu makanan khas Korea Selatan dengan kaldu s**u dari tulang sapi dna daging sapi yang ditambahkan nasi panas di dalamnya. Meski memang agak berat, tapi Karina tidak bisa memilih makanan yang mengandung makanan laut untuk kaldunya, jadi dia memilih memesan ini.
“Buka mulutnya,” perintah Karina. Dia menyodorkan sesendok nasi dan suiran daging sapi di atasnya.
Namun Tristan justru merebut mangkuk dan sendok yang tengah Karina pegang. “Aku bisa melakukannya sendiri,” katanya.
Karina langsung mendengus mendengar itu. Merasa kesal tapi tidak bisa meluapkannya, karena memang jika Tristan bisa makan sendiri, maka bagus untuknya. Tidak perlu harus menyuapi juga.
Karina duduk di sofa saat Tristan menghabiskan makan pagi dan makan siangnya sekaligus. Dia fokus melihat berita terbaru akan dunia model yang mendadak dia rindukan, maka sebenarnya kedatangannya ke Korea juga karena ingin melihat peragaan busana yang akan digelar sore ini. Tapi dia tidak mengatakan soal ini pada Tristan.
“Kamu tidak jalan-jalan lagi?” tanya Trisan karena dia kira Karina akan berjalan-jalan lagi untuk menghibur diri.
“Nanti sore,” jawab Karina, masih terus fokus pada ponselnya.
Alis Tristan terangkat mendengar jawaban Karina. “Ke mana?” tanyanya lagi. Karena dia harus tahu kemana perempuan ini pergi untuk berjaga saja jika terjadi sesuatu nantinya.
Diatanyai begitu, Karina langsung menatap Tristan curiga. “Kenapa? Kamu mau ikut?” tanya Karina balik.
“Boleh, lagi pula aku sudah merasa baikan,” jawab Tristan menantang.
Karina kembali mendengus. “No. Kamu tidak akan ikut dan juga tidak akan tahu ke mana aku pergi,” ujar Karina. Dia hanya tidak mau diganggu saat pergi nanti.
Tristan yang kali ini menatap Karina curiga. “Apa itu sesuatu yang sangat rahasia? beri tahu akan ke mana atau aku ikut,” tandasnya.
Dengan tatapan tidak suka, Karina menghampiri Tristan. “Lebih baik kamu istirahat saja dari pada mengurusi urusan orang lain. Di kontrak sudah ada aturan kalau kita tidak akan melakukan itu, oke?”
Tristan hanya diam sambil menatap Karina yang membuat mereka seperti sedang melakukan kontes adu tatapan mata. Tapi akhirnya Karina yang menyerah dan pergi dari kamar Tristan.
///
“Apa benar tiketnya ada di rumah, Paman?” tanya Karina dengan wajah panik pada Janadi, pria paruh baya yang sudah mengabdi untuk kakek Briyan dan kini akan berlanjut untuk Karina.
“Benar, kemarin pelayan yang nemuin tiketnya di bawah bed cover kamu waktu mau di cuci. Terus kakek simpan di laci meja riasmu,” jawab Janadi.
Karina langsung lemas saat tahu tiket undangan yang dia dapat untuk menghadiri fashion show dalam 4 jam lagi, ternyata tertinggal di rumahnya, di Jakarta.
“Aku ceroboh banget....” Karina meratapi dirinya sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam. Handuk yang sedang dia pakai untuk membungkus rambutnya pun terjatuh ke atas lantai.
“Ya sudah, terima kasih, Paman.”
Setelah menutup telepon, Karina kembali meratapi nasibnya yang otomatis tidak jadi menghadiri fashion show. Karena tanpa semua itu, dia tidak bisa mendapatkan akses masuk.
“Oh, s**t!” umpatnya saking kesal.
Setelah mengambil handuknya yang ada di atas lantai, Karina hendak masuk ke dalam kamar tapi malah melihat Tristan yang berada di balkon kamar pria itu, menatap ke arahnya sambil tersenyum mengejek. Dia pun tidak jadi masuk dan membalas tatapan Tristan dengan pandangan kesal.
“Jadi kamu mau pergi ke fashion show? Tapi tidak jadi karena nggak punya tiket?” tanya Tristan dengan nada mengejek Karina.
“Iya! Lalu kenapa? Apa itu masalah untukmu?!” jawab Karina dengan kekesalan yang hampir memuncak.
Tapi Tristan tidak memedulikan itu. Dia justru memamerkan sebuah undangan elektronik yang ada di ponselnya pada Karina.
“Itu—“
“Undangan yang sama.”
Undangan yang dimiliki Tristan secara digital adalah undangan yang sama dengan milik Karina. Tristan diundangan oleh desainer busananya langsung, karena desainer ini merupakan teman satu organisasi Tristan saat berkuliah di Korea. Namanya Ruby Lee.
Ruby tahu Tristan ada di Korea sehingga mengirimkan undangan ini, tapi waktu itu Tristan menghubungi kembali kalau dia tidak bisa hadir sebab sudah kembali ke Indonesia hari ini. Tidak disangka kalau dia masih di Korea padahal karangan bunga untuk Ruby dari Tristan pasti sudah sampai ke backstage acaranya.
“Kenapa bisa kamu punya itu?” tanya Karina tidak percaya.
Dengan sombong Tristan menjawab, “desainernya temanku.”
Karina melongo, namun juga merasa kesal akan kesombongan Tristan tadi. “Biasa saja tidak usah menyombong,” katanya.
Namun Tristan hanya mengedikkan bahunya seolah tidak memedulikan anggapak Karina.
“Kamu membutuhkan ini, kan?” tanya Tristan. “sayangnya kalau kamu pakai undangannya tidak akan berlaku. Kecuali kita datang berdua,” tambahnya, membuat kekesalan Karina akhirnya mencapai level puncak.
“Kata siapa? Aku tidak butuh itu!” elaknya.
Lalu dengan masih kesal, Karina masuk ke dalam kamarnya karena tidak mau mendengar tawa Tristan yang puas sekali mengejeknya.
///
4 jam yang lalu Tristan masih ingat betul bagaimana perempuan yang duduk di sebelahnya ini menolak mentah-mentah undangan yang dimiliki Tristan, padahal dia butuh. Namun kini mereka sudah ada di dalam mobil menuju acara fashion show digelar.
Jadi satu jam setelah penolakan Karina, Tristan mendengar pintu kamarnya diketuk sampai membuatnya terganggu. Dan muncul lah Karina dengan wajah memelas di hadapan Tristan.
“Ada apa?” tanya Tristan.
“Biarkan aku pakai undangan itu,” jawab Karina.
“Tapi aku tidak mau hadir, aku sudah menolak juga pada temanku,” timpal Tristan.
Karina makin lemas mendengar itu. Dia benar-benar ingin datang karena rindu dengan profesi yang penah dia geluti itu.
“Memangnya kenapa sampai kamu sangat ingin datang?” tanya Tristan lagi karena tidak tega melihat Karina tampak ingin sekali datang.
Karina ingin membuat alasan lain, tapi sepertinya dia harus menjawab jujur agar Tristan mau datang ke fashion show itu.
“Karena aku rindu dengan dunia model dan fashion show,” jawab Karina.
Karena kalimat itu, Tristan akhirnya tidak bisa menolak. Dia paham Karina pasti belum bisa melupakan impiannya, tapi dia harus mengorbankan itu demi bisa menyelamatkan perusahaan kakeknya. Maka meski Tristan merasa masih butuh istirahat, dia justru mengiyakan apa yang perempuan ini minta.
Secara dadakan Tristan menyewa mobil dari hotel yang akan mengantarkan mereka menuju butik milik desainer menyimpan koleksinya. Dia butuh membeli pakaian yang sesuai tentu saja, sedangkan Karina sudah menyiapkan busananya sendiri sejak dari Jakarta.
Mereka menuju salon untuk merias diri, untuk Tristan hanya rambut saja yang ditata, namun untuk Karina juga wajahnya. Dalam waktu dua jam, mereka menyelesaikan persiapan itu dan kini tengah menuju ke tempat acara yang pasti macet karena banyak orang datang.
Ada rasa gugup bagi Tristan untuk datang ke tempat seperti ini, apalagi dia mendapatkan undangan VIP yang pasti harus melewati bagian wartawan berada. Dia tidak mau tersorot oleh kamera, walau dunia hiburan Korea tidak tahu dan tidak kenal dirinya.
Tadinya wartawan menurunkan kamera saat yang muncul bukan selebriti, yaitu Tristan dan Karina. Namun tetap ada juga beberapa yang memotret karena mereka dari majalah busana. Mereka tertarik dnegan style yang digunakan keduanya karena matching dan beda dari tamu VIP lainnya.
Kedamaian itu tidak berlangsung lama saat seorang wartawan mengenali wajah Tristan, CEO dari Youngs Tech.
“Dia CEO Youngs Tech!”
Merek ponsel Youngs Tech yang sudah merambah ke Korea Selatan juga akhirnya membuat wartawan lain tertarik, mereka langsung mengambil gambar Karina dan Tristan yang cukup terkejut. Untung saja Karina bisa menenangkannya dengan berbisik bahwa tidak apa-apa untuk tampil di depan publik seperti ini.
Momen saat Karina berbisik itu yang membuat gambar keduanya tampak mesra, apalagi mereka juga bergandengan tangan saat itu. Setelah mendapatkan arahan untuk masuk ke dalam tempat acara, Tristan baru bisa bernapas lega karena bisa melewati ujian mendapatkan sorotan kamera yang membuat kepalanya pusing.
“Ternyata kamu cukup terkenal juga,” celetuk Karina begitu bisa duduk nyaman di barisan pertama dekat run away.
Tristan masih sibuk menenangkan dirinya yang seperitnya masih diambil gambarnya oleh wartawan. Dia menoleh pada Karina dan berbicara dengan bisikan karena di sini ramai.
“Karena aku seorang CEO perusahaan global,” timpal Tristan.
Satu cubitan didapatkan Tristan di pahanya setelah menyombongkan diri lagi pada Karina.
“Aku kira kamu orang yang pendiam, ternyata lebih parah dari Anwar!” cibirnya.
Tristan kembali tertawa usai membuat Karina kesal. “Aku hanya berbicara fakta,” katanya.
“Diamlah!” kata Karina sambil sekali lagi mencubit paha Tristan yang paling terjangkau oleh tangannya.
.
///
.
.