15. Tour Guide

1510 Words
Tanggal pernikahan yang jatuh pada 18 April berarti tinggal menunggu dua minggu lagi. Tapi semua itu tidak membuat seorang Tristan kelihatan sibuk mempersiapkan hari besarnya, dia justru sedang berada di Korea Selatan untuk bertemu dengan beberapa professor dan ahli tentang teknologi terbaharukan pada ponsel. Begitu mendengar tentang pertemuan ini, Tristan begitu tertarik dan sampai melupakan pernikahannya sendiri. Dia tidak didampingi oleh Anwar dan hanya sendirian di negeri gingseng ini. Alasan utama dia sampai begini adalah rasa tanggung jawab sebagai CEO perusahaan teknologi yang tentu produknya ada pada genggaman manusia. Jadi nantinya rencana Tristan menginginkan pabrik PT Youngs Tech Electronics memproduksi komponen produk buatan YTE dengan bahan semikonduktor, karena itu adalah ramah lingkungan. Sebenarnya sudah, tapi tidak menyeluruh di semua produk milik Youngs Tech, hanya di ponsel dan beberapa produk rumah tangga. Makanya dalam jangka waktu beberapa tahun ke depan Tristan berharap ini akan terwujud. “Lo nggak inget bakal nikah ya, Bang?” tanya Anwar yang baru saja menginjakan kakinya di bandar udara internasional Incheon. Tristan hanya melenggangkan kakinya meninggalkan Anwar yang sudah pasti ingin marah-marah padanya. Kedua tangannya bahkan masuk pada saku jaketnya seolah tidak peduli Anwar menyerocos di belakangnya. Dirinya juga acuh pada beberapa perempuan yang melihatnya penuh minat, padahal Tristan hanya berpenampilan casual. Jaket jeans hitam, kaus putih, celana jeans hitam dan sneakers warna hitam. Itu yang dipakai oleh Tristan, tapi rupanya dia tidak tahu saat ini dia terlihat sangat menarik. Apalagi kaca matanya memberikan kesan dia adalah ‘good boy’ yang ‘good looking’. “Karina kemarin marah ke gue karena dia yang jadi sasaran keribetan tante-tantenya gara-gara elo nggak bisa dihubungi. Dia sama sekali nggak tahu apa yang bakal dia lakuin dan gue juga harus ribet sama urusan kantor,” kata Anwar memberi laporan. Tristan menoleh pada Anwar saat mendengar keluarga Karina memberikan tekanan pada perempuan itu lagi. “Tapi mereka nggak sampe ngelakuin yang aneh-aneh, kan?” tanya Tristan sambil mengemudikan mobil pinjaman salah satu temannya untuk menjemput Anwar. “Ck! Jelas bikin yang aneh-aneh lah... mereka ngerecokin soal gaun pengantin pilihan Karina, soal makanan di nikahan nanti juga. Ah... jangan lupa sama mereka mau bikin rencana tinggal satu minggu di rumah utama buat nemenin Karina,” jawab Anwar dengan ekspresif. Dia tidak bisa menahan kekesalannya pada keluarga Sutoyo yang suka sekali membuat ulah. Dahi Tristan terkenyit mendengar itu. Dia tampak tidak setuju dengan semua perlakuan tante Karina. “Gue nggak berhak ikut campur, tapi ide buat tinggal di rumah utama itu udah berlebihan. Rumah itu bakal resmi jadi milik Karina dan dia berhak nolak soal itu,” timpal Tristan. “Gue tahu itu, Bang... gue udah kasih tahu itu ke Karina. Tapi dia kalah argumen sama tante dan sepupunya. Soalnya satu lawan banyak!” kata Anwar masih dengan kekesalannya. “Makanya elo cepet balik nggak usah sok sibuk kerja, oke?!” tambahnya mengingatkan Tristan. “Hm,” sahut Tristan dengan deheman. Dia akan pulang lusa setelah dia bertemu dnegan beberapa univeersitas juga sekolah untuk pengembangan AI di Indonesia. Namun ada agenda lain yang baru kemarin Tristan temunkan dalam otaknya, yaitu mencari banyak pendapat ahli untuk membuat teknologi AI yang digelutinya ini berlaku juga untuk bidang pertanian dan perikanan. Sebab selama ini Youngs Tech berkutat pada teknologi untuk kesehatan saja, sedangkan ada banyak cara lain untuk mendukung negara menjadi lebih maju. Salah satunya yang terpikirkan oleh Tristan adalah peluang mengembangkan teknologi pada sektor ini. Karena ketika negara lain mengimplementasikan AI pada kecanggihannya yang mungkin hanya bisa dinikmati generasi muda, Tristan ingin Indonesia berperang dengan cara yang lain. Memperkuat pertanian dan perikanan dengan teknologi ini.   ///   “Investasi dana yang gila-gilaan adalah yang paling penting dalam Research and Development (RnD). Kita tahu sendiri China memang menang dalam perang teknologi AI ini. Suka tidak suka mereka sudah bisa mengungguli Amerika Serikat,” jelas seorang ahli dan juga professor yang ditemu Tristan di sebuah universitas. “Benar, saya tahu jelas tantangan negara kami adalah itu. Peneliti banyak, yang tertarik juga banyak, tapi soal dana itu yang paling sulit. Akhirnya penelitian tertunda atau malah diambil oleh negara lain yang bisa mendanainya,” ujar Tristan. Mereka berjalan menyusuri taman dengan Anwar yang berada di belakang. Tugasnya segerti biasa mengingat apa yang Tristan obrolkan, kadang dia mencatat atau merekamnya setelah meminta izin. “Sayang sekali kalau begitu. Saya berharap kamu bisa menjadi salah satu contoh anak muda yang memajukan negara kamu, Tristan,” tutur dosen bernama Daniel Park. “Terima kasih sudah mengatakan itu, Professor,” ucap Tristan. “Saya akan berusaha semampu saya,” tambahnya. Sosok Tristan yang jika sudah fokus dengan tujuannya selalu memukau Anwar. Dia tahu dedikasi orang pilihan dari Kakek Briyan ini begitu banyak. Selama bekerja untuk Tristan pun dia tidak pernah menemukan hal seperti ingin serakah dan mengabaikan tujuan dia diangkat menjadi CEO dari Youngs Tech. Meski dia kadang tidak sopan pada atasannya ini, tapi di balik itu Anwar menghormati Tristan yang sudah berusaha bangkit dari kekalutannya, yang mendadak diangkat menjadi pemimpin perusahaan besar berskala global. Maka sesibuk apapun dia, jika Tristan membutuhkan bantuan, dia akan langsung mengiyakan. Seperti saat ini, padahal di kantor sedang sibuk memantau produksi ponsel Primrose, tapi Tristan menghubunginya untuk mendampinginya selama di Korea Selatan. Anwar pun langsung berangkat tanpa protes meski dia lelah.   ///   Tangan Tristan terlipat di depan dadanya melihat seorang perempuan yang tiba-tiba saja sudah ada di negara yang sama dengannya. Tapi perempuan itu terus membuang wajahnya dari tajamnya tatapan mata Tristan. “Berhentilah menatapku begitu!” keluhnya. Mata Tristan lantas berkedip dan dia menghela napasnya kasar. “Kenapa kamu ke sini? Aku dan Anwar akan pulang besok.” “Ya sudah sanah pulang, saya akan pulang dua hari lagi,” ujar Karina, perempuan yang dijemput oleh Anwar jam 4 pagi di bandara. Mata Tristan kembali menyorot tajam mendengar kalimat Karina. “Kamu ingin keluargamu marah, hm?” “Iya. Aku sengaja melakukan itu.” Keduanya saling berperang tatapan dalam diam setelahnya. Tidak ada yang mau mengalah. “Terserah. Tapi kamu harus benar-benar pulang dua hari lagi. Jangan gunakan kesempatan ini untuk kabur dan membuat masalah dengan kontrak yang sudah kita tanda tangani,” ujar Tristan mengingatkan. “Iya!” kata Karina dengan kesal. “Aku tidak akan kabur. Aku hanya ingin liburan, apa tidak boleh? Kamu juga liburan, kan? Sampai satu minggu....” “Aku bukan liburan ke sini,” sela Tristan. Dia tentu saja protes dianggap sedang bersenang-senang di negara ini. Tapi Karina tidak memedulikan itu dan malah masuk ke kamar mandi di kamar hotel yang akan dia tempati sampai dua hari kemudian. Tristan kembali menghela napas dan memilih keluar dari kamar itu menuju kamarnya sendiri yang letaknya bersebelahan dengan kamar ini. Dia harus mengalah, Karina mungkin sedang ingin sejenak kabur dari tekanan keluarga besarnya. Karena selama ini dia hidup mandiri dan mendadak harus kembali diatur ini dan itu.   ///   Tristan kira hari terakhirnya di Korea Selatan akan dia isi dengan beristirahat. Sebab sepanjang seminggu ini dia terus menggunakan otaknya tanpa henti. Namun yang ada dia justru menjadi sopir bagi dua orang yang datang menyusulnya ke negara ini. Anwar yang memintanya mengantar ke club malam yang bisa dia sambangi untuk mencari pengalaman. Sedangkan Karina ingin berjalan-jalan di kawasan yang ramai dikunjungi wisatawan manca negara yang menyukai K-pop. Sebenarnya Tristan bisa menyewa orang, tapi dia khawatir dua orang ini akan kenapa-napa karena kurang memahami negara ini. Alhasil waktu istirahatnya harus diisi dengan menjadi tour guide. Setelah memarkirkan mobilnya, Tristan dan Karina mulai menyusuri jalanan kota Myeongdong yang begitu ramai. Sebanyak 2 juta orang melewati kawasan ini setiap harinya, sudah jelas betapa penuh sesaknya tempat ini. Tapi ini lah daya tariknya. Beberapa kali Karina berhenti untuk melihat apa yang dijual di pinggir jalan, perna-pernik, makanan dan bahkan pertunjukan yang sengaja dilakukan di sekitar tempat ini. Karina kalap untuk mencoba banyak makanan sampai tidak memperhatikan bagaimana Tristan menjaganya dari belakang. “Ck ck....” Decakan Tristan terdengar oleh Karina, tapi dia tidak mau menggubrisnya. Tteokbokki yang sedang dia makan lebih menarik ketimbang mencari ribut dengan pria ini. Padahal Tristan juga tidak ingin berdebat dengan karina, dia cuma minta Karina tahu kalau tasnya bisa saja raib kalau Tristan tidak memperhatikannya. Mereka pindah ke stan makanan lain, kali ini ada corn dog yang antriannya cukup banyak untuk bisa mendapatkan satu tusuk saja. Setelah mendapatkannya Karina memakan dengan posisi duduk di kursi yang tersedia untuk umum. Dia memakan itu dengan wajah semringah karena akhirnya tercapai keinginannya memakan makanan yang satu ini. Tapi saat dia menoleh pada Tristan, dia ingat kalau pria ini belum makan apapun sejak tadi. “Mau?” tawarnya Tristan, merasa bersalah dia hanya membeli satu corn dog tadi. Tristan tidak bersuara, tapi langsung bertindak dengan menggigit cord dog itu besar-bear. Karina yang melihat itu pun menganga tidak percaya. “EH, jangan banyak-banyak!” protesnya. Dia memukuli lengan Tristan agar berhenti mengambil gigitan besar. Tapi Tristan tidak mewujudkan itu, dengan santai dia bahkan mengunyahnya di depan Karina yang sudah cemberut. “Ke mana lagi setelah ini? Saya lapar,” ujar Tristan setelah menelan corn dog-nya. Karina terdiam sejenak untuk berpikir. “Harusnya belanja dulu... tapi karena kamu lapar, kita makan dulu saja.”  . ///  . .
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD