14. Opini

1509 Words
Sebagian bintang tamu pengisi acara sudah tampil, ada jeda iklan yang cukup lama dengan diisi kuis dan lain-lain. Saat itu Tristan dan Karina masuk ke back stage untuk menyapa sebagai ucapan terima kasih bagi mereka yang telah bekerja keras, tidak lupa memberi semangat karena acara masih akan berlanjut sampai pukul setengah sebelas malam. Karina memisahkan diri dari Tristan untuk membenahi penampilannya. Bak boneka, dia kini dikelilingi beberapa makeup artist. Tidak banyak yang harus berubah, tapi rambut Karina menjadi lebih rapi begitu juga dengan lipstiknya. Karena tadi sempat ada hal yang terjadi ketika dia dan Tristan berada di ruangan yang disiapkan khusus untuk mereka berdua. Mereka sedang menikmati camilan di ruangan itu, atau sebenarnya hanya Karina karena Tristan terus saja fokus pada tabletnya entah sedang apa. Karena bosan, Karina ingin keluar dari ruangan ini saja, tapi tiba-tiba rambutnya seperti tertarik ke belakang. “Aw!” pekik Karina kesakitan. Rambutnya terlilit oleh resleting gaun yang dia gunakan. Perhatian Tristan pada tabletnya teralih karen suara kesakitan Karina. Dia menatap Karina penuh tanya. “Tolong bantu aku melepaskan rambutku yang terlilit resleting,” ujar Karina meminta tolong. Tidak tahu lagi harus bagaimana karena hanya da Tristan di sini. Melihat Karina yang kesusahan, Tristan pun akhirnya bangkit dari sofa yang dia duduki untuk menghampiri perempuan itu. Dia segera berdiri di belakang Karina yang masih lebih pendek darinya itu dan tampak sulit untuk memosisikan kepalanya karena rambutnya terlilit. “Aduh, sakit! Pelan-pelan, dong…,” rintih Karina. Dia menoleh protes pada Tristan yang ada di belakangnya. Tapi Tristan segera menyuruh Karina untuk diam karena dia juga harus menyabuti satu-persatu rambut yang terlilit. Sampai karena dia tidak sabar, dia pun mengusulkan sesuatu yang membuat Karina berang. “Potong saja ya rambutnya?” usul Tristan. Karina langsung membalikkan seluruh tubuhnya untuk menghadap Tristan dengan wajah marahnya. “Aku juga akan menggunduli kepalamu sampai berani melakukan itu!” ancamnya dengan mata mendelik. Tristan menghela napas dan kembali menyuruh Karina memunggunginya. Dia harus telaten membebaskan rambut Karina ini sampai tangannya pegal. Karina juga demikian, dia Lelah beridir hingga bergerak-gerak untuk membuang rasa bosannya sekaligus. Tapi karena itu Tristan kesusahan memfokuskan matanya. Maka dengan tangan kirinya, Tristan memegangi pinggang ramping Karina dan meremasnya untuk memberi sinyal “diam, jangan bergerak” pada Karina. Benar saja, Karina langsung diam setelah Tristan melakukan itu, apalagi tadi tubuh mereka sempat saling menempel sebab Tristan menarik tubuhnya mendekat. “Hah….” Tristan menghela napas lega setelah berkutat dengan rambut Karina. Dia berhasil membantu Karina dan kini dia menyibak rambut Karina ke ke salah satu sisi bahu perempuan ini untuk kemudian dia lihat lagi apakah ada potensi untuk terlilit. Namun Tristan justru terpesona akan tengkuk Karina yang putih bersih, serta mengundangnya untuk setidaknya mengecup bagian itu barang sebentar saja. Resleting gaun Karina yang tadi sempat dia turunkan pun akhirnya menunjukan betapa mulusnya punggung Karina. Dia mengamati itu dengan detail layaknya kode alogaritma yang harus penuh ketelitian ketika dia membacanya. Matanya saat ini benar-benar terfokus untuk tidak menyia-nyiakan apa yang tersaji di hadapannya. “Bantu aku menaikkan resleting lagi, tolong,” pinta Karina. Telinga Tristan mendengar permintaan tolong itu, tapi yang terproses di otaknya saat ini adalah bagaimana caranya menyentuh punggung itu dengan indra perabanya. Kemudian muncullah ide untuk mengambil kesempatan di dalam kesempitan. Saat tangannya menaikkan reseleting gaun yang digunakan Karina, jari telunjuk Tristan sengaja menyentuh beberapa kali pada kulit punggung Karina yang nyatanya sangat lembut. Dia sampai bersumpah serapah dalam hati karena sudah melakukan hal seperti ini, mengambil kesempatan ketika si perempuan tidak tahu akan maksudnya. Shit! I’m a jerk! Rutuknya pada diri sendiri. Mengakui kalau dirinya memang b******n. Karina yang merasakan sentuhan tangan Tristan di punggungnya juga sempat menegang. Dia hampir saja memekik karena terkejut, tapi itu pasti akan membuat orang di luar ruangan akan curiga akan apa yang tengah terjadi. Dia menggigit bibirnya demi menahan perasaan aneh yang kini mengocok perutnya lebih dari saat menaiki roller coaster di taman bermain. Resleting telah kembali ke tempatnya semula untuk melakukan tugasnya menyatukan dua sisi gaun yang dikenakan Karina. Namun Tristan dan Karina sendiri masih terdiam di tempat mereka seolah menunggu sesuatu, padahal tidak ada yang perlu dilakukan lagi. Saat itulah Tristan melakukan sesuatu yang jelas akan membuat dia menyesal, tapi tetap dia lakukan karena kerja otaknya yang sedang tidak sinkron. Bibirnya menyentuh cepat pada tengkuk karina yang terpampang jelas di hadapannya, menggodanya dak akhirnya Tristan termakan oleh godaan itu. Sial! Umpat Tristan. Tapi semua itu sudah terjadi. Kecupan yang dilakukan Tristan membuat Karina sangat terkejut. Dia langsung membalikkan tubuhnya menghadap Tristan yang malah memasang wajah seolah bertanya padanya. Seharusnya dia yang melakukan itu. “Apa yang kamu lakukan?!” tanya Karina dengan nada suara yang mengandung kekesalan. Bukannya menjawab, Tristan justru hannya menaikkan satu alisnya yang menambah kesan badboy di wajah tampan yang tersembunyi di balik kacamatanya. Tapi Karina tetap saja kesal meski sempat terdistraksi oleh apa yang pria di hadapannya ini lakukan. “Kamu—“ “Minta MUA untuk membenahi rambutmu. Karena sebentar lagi kita harus kembali ke tempat acara,” potong Tristan setelah melihat pada jam tangannya. Bukannya menunggu Karina, Tristan sudah lebih dulu keluar dari ruangan itu, membuat Karina dongkol dan kesal. Tapi di balik wajahnya yang saat ini cemberut, Karina tengah mati-matian menyembunyikan perasaan berdesir akibat kecupan bibir Tristan di tengkuknya, dan bagaimana di bagian itu masih terasa terbakar untuknya.   ///   Setelah kejadian itu, keduanya memang menjadi canggung walau tetap berusaha bersikap mesra di depan kamera. Tapi kegugupan keduanya ditangkap oleh wartawan gosip yang merekam kalau Tristan tidak membukakan pintu lebih dulu untuk Karina saat pulang karena acara sudah selesai. Bukan itu saja, wartawan ini memberikan bukti kalau Karina sempat menolak menggendeng tangan Tristan. Yang akhirnya Tristan memilih berjalan lebih dulu. Video itu direkam secara sembunyi-sembunyi, sehingga Anwar kesal sekali karena kecolongan. Peluncuran ponsel seri terbaru dari Youngs Tech sukses digelar, bahkan angka pre-oerder sampai memenuhi batas yang sudah ditetapkan. Ponsel dengan casing terbatas juga sudah tidak tersisa lagi, keadaan ini membuat banyak permintaan agar edisi terbatas ini bisa restok lagi di lain waktu, atau setidaknya menambah kuotanya. Namun di samping itu ada hubungan cinta CEO perusahaan ponsel ini yang tengah menjadi trending topik. Banyak yang akhirnya semakin mengira kalau ini hanya pernikahan bisnis. Tristan dan Karina tidak sungguh-sungguh saling mencintai. Apalagi mungkin keduanya hanya melakukan setingan untuk menaikkan pamor menjelang peluncuran produk dari PT YTE. Jadi setelah peluncuran sudah dilakukan maka keduanya sudah bebas untuk tidak tampil mesra lagi. “Nih, liat.... kalian kok bisa ceroboh begini, sih?” tanya Anwar dengan frustasi. Dia bolak-balik di hadapan Tristan dan Karina yang ada di ruang tengah rumah utama. Sejak tadi mereka menerima amukan Anwar yang tidak puas dengan banyaknya berita yang justru menggiring kalau keduanya hanya berpura-pura untuk kepentingan bisnis. Publik bahkan sudah memperkirakan waktu kabar putusnya Tristan dan Karina akan terdengar sebentar lagi. “Mereka bener sih kalo ini cuma setingan, tapi kok bikin kesel, ya?” gumam Anwar yang masih saja misuh-misuh. Maka dengan ide yang menurutnya cemerlang, Anwar meminta Karina untuk mengunggah sebuah foto yang bisa menunjukan kalau keduanya tengah baik-baik saja. “Foto yang kaya gimana?” tanya Tristan tidak mengerti. “Udah... lo diem aja, Bang....” Tristan ingin menendang kaki Anwar yang suka tidak sopan padanya ini, tapi demi kelangsungan bisnisnya, dia akan menurut. Maka ketika dia disuruh untuk duduk tepat di belakang Karina, Tristan melakukannya walau harus menjadi semakin canggung pada Karina nantinya. “Deket lagi elah, nempel kek perangko, Bang! Ini tuh konsep seolah kalian lagi mesra-mesraan abis bangun pagi gitu,” ujar Anwar memberi instruksi. “Lebih baik jangan aneh-aneh, deh,” kata Karina mengomentari. “Foto selfie berdua ‘kan bisa....” Anwar menggelengkan kepalanya. “No. Kalau itu terlalu jelas ‘memaksakan’ penjelasan kalau kalian masih rukun dan bersama. Kita akan buat ini menjadi lebih natural,” timpal Anwar. Tidak mau diganggu gugat. Akhirnya Karina dan Tristan hanya bisa menurut. Karina mengambil gambar dengan posisi dirinya di depan dan Tristan ada di belakangnya,  wajah Tristan menempel di punggungnya seolah sedang bersandar manja, bahkan karena Tristan sedang memejamkan mata, itu jadi terlihat semakin menggemaskan. Pose foto itu membuat keduanya merasakan desir aneh itu lagi, tapi mereka harus bisa menahannya dan bersikap biasa saja. “Oke, sempurna, biar gue upload fotonya,” kata Anwar hyang kemudian merebut ponsel Karina. Dalam beberapa menit, Anwar sudah berhasil membuat heboh jagat maya akan foto yang diunggahnya. Merasa bangga sekali saat komentar netizen menggila, ada yang kesal, merasa kurang sreg akan pose Tristan dan Karina yang menunjukkan seolah habis brcinta. Tapi lebih dari itu, berita gosip segera kembali pulih dari penggiringan opini akan hubungan yang hanya settingan. “Kalian mau nempel terus begitu?” celetuk Anwar saat melihat Tristan dan Karina masih di posisi yang sama. Tristan dan Karina yang baru sadar pun segera menjauh. Karena tidak memperhatikan kakinya sendiri, Tristan sampai terjatuh ke atas lantai dan mengaduh kesakitan. Anwar hanya bisa geleng-geleng kepala melihat semua itu. “Seneng ya nempel begitu sampe nggak sadar?” komentar Anwar, memprofokasi atasannya. Wajah Karina sudah memerah, sedangkan Tristan menendang kaki Anwar setelah sejak tadi menahannya.  . ///  .  .
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD