13. Seluruh Kakimu

2905 Words
Mendekati peluncuran seri terbaru dari ponsel keluaran PT Youngs Tech Electronics, keadaan kantor menjadi semakin sibuk. Dari CEO-nya sampai karyawannya sudah merasakan resah karena biar bagaimana pun tanggapan publik adalah hal mereka tunggu sekaligus dicemaskan. Bukan itu saja, sifat lumayan perfeksionis Tristan menjadi momok menakutkan untuk karyawannya juga. Secara dadakan dia akan mendatangi persiapan peluncuran dari laboratorium, pabrik, galeri, juga mengunjungi tiap ruangan kantor. Tristan bukan ingin menakuti karyawannya, hanya saja dia ingin melihat semua persiapan berjalan lancar. Jika pun ada halangan, dia harap bukan hal besar dan masih bisa diperbaiki. Dia tidak akan membuat karyawannya sudah juga. Kali ini dia hampir seharian mendekam di dalam laboratorium yang ada di pabrik pembuatan ponsel perusahannya. PT Youngs Tech Electronics atau PT YTE merupakan pabrik teknologi terbesar di Indonesia dan  ketiga di Asia. Tapi produknya tetap bisa bersaing di pasar internasional dan sudah diakui kualitasnya. Maka ketika menyangkut “kualitas”, Tristan tidak akan main-main. Dia bahkan menguji berkali-kali sampai menurutnya sempurna untuk masuk ke pasar. Meski kebijakannya sempat dikritik karena menghambar proses produksi, tapi Tristan tahu itu hanya di awal saja, lama kelamaan pasti akan terbiasa kembali. “Sore, Pak. Sudah waktunya untuk kembali ke kantor karena ada rapat dengan tim pemasaran,” sapa Anwar sekaligus mengingatkan Tristan lagi akan jadwalnya yang padat satu bulan ini. “Oke, terima kasih, Anwar,” balas Tristan yang kemudian bangkit dari kursinya. Setelah meregangkan tubuhnya sedikit dari rasa pegal, Tristan berjalan keluar dari laboratorium. Tidak lupa dia berpamitan pada karyawan yang ada di sana dengan sopan namun tetap ramah. Budaya menyapa dia tekankan dengan keras untuk semua karyawan dan ada sangsinya jika tidak mau mengikuti ini. Setelah masuk ke dalam mobil, Anwar langsung berbicara santai pada Tristan. Mereka membicarakan tentang wacana membantu sekolah menengah mengenal tenologi artificial intelligence. Sehingga kemajuan soal teknologi apalagi robot bukan lagi barang yang seolah jauh dari pemikiran masyarakat luas, apalagi anak muda. Karena nyatanya itu mulai berjalan beriringan dengan manusia di jaman ini. “Wacana ini masih ditolak sama bagian keuangan. Katanya lebih baik ikut nyumbang dana dari pada jadi salah satu sponsor,” ujar Anwar yang melaporkan e-mail mengenai hasil rapat soal hal ini. “Duit terus yang jadi masalah. Padahal kita udah disindir nggak ngasih perhatian apapun ke negeri sendiri. Tapi masih aja alot diskusinya,” timpal Tristan dengan kesal. “Ya gimana lagi, bagian keuangan kan masih dikuasai sama Pak Edwin Gara,” kata Anwar. Tristan hanya bisa menghela napas sambil memijit pelipisnya karena merasa pening. Benar memang jika Edwin masih ikut campur pada perusahaan Youngs Tech. Sebab direktur keuangan, beberapa direksi masih berpihak pada keluarga Sutoyo dan tidak menyukai Tristan. Mereka seolah berkumpul untuk membuat perlawanan pada Tristan yang bahkan tidak ada niat untuk menghancurkan perusahaan. Dia hanya ingin memajukannya. “Nah, calon istri lo juga tadi sempet telepon,” cetus Anwar yang duduk di kursi depan bersebelahan dengan sopir. Tristan membuka matanya kembali dan mengernyit bingung. “Calon istri?” tanyanya tidak mengerti. Anwar dan sopir mereka langsung berpandangan. Mereka tidak habis pikir pada Tristan yang lupa akan menikahi perempuan dalam kurun waktu dua bulan lagi. “Karina. Karina Rosalind Sutoyo! Dia calon istri lo!” pekik Anwar dengan kesal. Dia jadi semakin yakin kemampuan otak Tristan itu cuma pintar soal bisnis dan teknologi. Tapi tentang cinta, nol besar! “Oh, itu....” Dan respon Tristan pun makin membuat Anwar berang. Dia ingin sekali menggeplak kepala bos nya itu supaya beres. “Kenapa dia?” tanya Tristan setelah memahami maksud asistennya. “Dia nanyain kapan lo bakal ketemu sama bapaknya dia,” jawab Anwar. Dahi Tristan kembali berkerut. “Kenapa gue harus ketemu bapaknya?” tanyanya. Kali ini Anwar benar-benar menggeplak kepala Tristan, sayangnya tidak kena. Tristan yang pintar bela diri tentu sigap menghindari serangan. “BUSET DAH! NGESELIN LO LAMA-LAMA, BANG!” maki Anwar. “Kenapa lo marah?” tanya Tristan lagi. Tidak mengerti kenapa asistennya emosi begini. “Ya elo!” Anwar menunjuk Tristan dengan jari telunjuknya. “Elo mau nikahin anak orang! Jadi elo harus ketemu bapaknya... buat apa? Buat minta izin!” jelas Anwar dengan tidak santai. Tristan hanya mengangguk saja. Dia akan melakukannya jika itu memang diperlukan. “Ini nih... efek samping berbahaya kalo gaul sama komputer dan robot doang.... jadi nggak tahu sekarang cari cewek bisa pake aplikasi!” ejek Anwar. Tristan mendelik tidak setuju pada Anwar. “Gue tahu kalau itu,” katanya mengklarifikasi. “Nah itu tahu... tapi tradisi nikahin anak orang nggak tahu... ckckck... sabar banget gue jadi temen elo, Bang....,” timpal Anwar. “Emang gue temen lo?” tanya Tristan dengan nada santai tanpa emosi. Tapi itu yang membuat Anwar sekali lagi berusaha ingin menjangkau kepala Tristan untuk digeplak dengan tangannya. Namun tidak kena meski sudah dia coba beberapa kali.   ///   Di rumah utama, kini 3 orang tengah melakukan makan malam bersama. Tristan, Karina dan seorang pria paruh baya berusia 50-an bernama Dimas Janu Anggara. Pria yang ada di tengah sepasang calon pengantin ini merupakan ayah dari Karina. Tristan sudah tahu akan ayah dari calon istrinya ini, tapi dia tidak pernah berbincang banyak seperti kali ini. Janu, panggilan akrab dari Ayah Karina, kini tengah menanyakan keseriusan Tristan pada Karina. Dia seperti kebanyakan Ayah yang sedang menginterogasi calon suami dari putrinya meski dibalut dalam percakapan yang santai. Syukur Tristan bisa menjawab pertanyaan yang diajukan dengan natural meski pernikahannya dengan Karina hanya demi kepentingan masing-masing. Tentu sebelumnya mereka telah berlatih dan menyepakati apa yang akan mereka jawab nantinya. Mulai kapan mereka jatuh cinta, hingga apa yang membuat masing-masing merasa tertarik dan nyaman untuk kemudian memutuskan menuju jenjang yang lebih serius. “Karina anak yang mandiri dan suka sekali mencoba hal baru untuk menantang dirinya sendiri... ini yang bikin Papa suka khawatir. Bahkan waktu dia memutuskan tinggal di Milan sendirian,” cerita Janu. Dia mengenang akan putrinya yang selalu ingin bebas menentukan kehendaknya sendiri. Tristan tersenyum tipis, kepalanya juga terangguk kecil menyusul otaknya yang memahami akan cerita dari Janu. “Kalau nanti dia membuat kesalahan, tolong jangan bentak dia. Papa minta kamu beritahu dengan lembut dan jelaskan apa yang salah... tapi tidak apa jika kamu memberinya ketegasan, namun tetap harus dalam jalur yang tepat,” ujar Janu, menasehati calon suami dari putri satu-satunya. “Jangan menghakimi sifatnya yang mungkin kadang tidak lembut seperti kebanyakan waknita di sekitarmu, dengan menganggap karena Karina tumbuh tanpa ibunya... Papa minta kamu untuk mengingat hal ini sampai kapan pun,” pinta Janu. “Baik, Pa. Aku akan mengingat itu,” timpal Tristan, menyanggupi permintaan yang diutarakan Janu. Tanpa sadar Karina dan Tristan saling bertatapan. Saat itu lah Tristan melihat kalau Karina tengah menahan tangisnya. Tristan menerka jika Karina mungkin tengah merindukan ibunya saat ini. Makan malam berlanjut akan masalah bisnis hingga Karina merasa bosan. Barulah ketika Janu berpamitan untuk beristirahat, semua itu percakapan itu berakhir. Tinggalah Karina dan Tristan yang duduk di ruang santai memandangi taman belakang rumah yang ada di balik pintu kaca. “Maaf kalau permintaan Papa membebani kamu,” cetus Karina tanpa menoleh pada Tristan. Tristan yang sedang mengunyah buar anggur pun tidak segera menimpali. Dia menoleh pada Karina sebentar sebelum kemudian membuang pandangan pada taman yang terawat lagi. “Itu bukan permintaan yang sangat sulit,” timpal Tristan. Giliran Karina yang menoleh pada Tristan. “Terserah kamu... lagi pula kita tidak akan pernah bersinggungan dalam kehidupan sehari-hari nantinya.” “Benar juga,” kata Tristan sekenanya. Karena dia akan tetap menyanggupi apa yang diminta oleh Janu. Bukan karena dia tengah menaruh perhatian pada perempuan yang akan dia nikahi sebentar lagi, melainkan rasa peduli. Dirinya dan Karina sama-sama tidak pernah merasakan kasih sayang dari ibu, jadi Tristan tahu persis bagaimana rasanya. Maka dari itu dia tahu juga bagaimana harus bersikap.   ///   7 Hari Sebelum Perilisan Ponsel Seri Baru Youngs Tech Tristan terlihat semakin sibuk. Dia bahkan lembur dan sempat meninap di kantor untuk menguji ponsel yang akan dia rilis dalam 7 hari kedepan. Dia ikut mengawasi juga bagian pemasaran produk yang untungnya berjalan sesuai yang dia inginkan. Tingkat rasa penasaran publik jauh lebih baik dari ekspektasinya. Apalagi setelah nama seri terbaru ponsel Youngs Tech diumumkan. Primrose. Nama seri terbaru ini menurut publik sangat akrab dan sangat cantik namun tetap elegan. Anwar langsung kegirangan begitu melihat tingkat kepuasan publik akan nama produk mereka sampai membuat kata kunci “Primrose” popular di trending twitter dunia. Teaser atau cuplikan akan rupa ponselnya tentu makin membuat khalayak ramai menggila. Mereka penasaran akan bagaimana Youngs Tech memadukan nama Primrose pada sebuah teknologi. Karena Primrose sendiri adalah nama sebuah bunga yang tumbuh banyak di Indonesia meski asalnya dari Eropa. Dalam koferensi pers, penggunaan mana ini dinilai sangat menarik. Sederhana tapi maksud di dalamnya memaknai banyak hal. Karena termasuk tanaman yang mudah ditanam, dimaksudkan bawah kemudahan dalam penggunaan ponsel seri terbaru YT semakin ditingkatkan. Selain itu manfaat bunga ini untuk kesehatan menandakan bahwa ponsel yang akan segera rilis ini, membawa peran penting menjaga kesehatan penggunanya. Banyak fitur yang ditambahkan dengan teknologi yang juga dimajukan. Semua itu semakin membuat orang-orang penasaran, di samping kabar tentang hubungan percintaan pemilik perusahannya yang terus bergulir di rubik berita hiburan. Semua itu memiliki dampak masing-masing, tapi jelas peluncuran ponsel kali ini akan penuh dengan sensasi. “Lo ngapain lagi?” tanya Tristan pada Anwar setelah dia duduk di dalam ruangannya. “Emang gue ngapain?” tanya Anwar balik. Tristan hendak marah pada Anwar, tapi dia tidak mau membuang tenaga lagi. “Lo ngasih lagi foto buat publik heboh, kan? Itu kerjaan elo?” tanya Tristan dengan kesal. “Iya. Itu tahu. ngapain nanya deh,” jawab Anwar dengan sengaja memancing emosi Tristan. Tapi karena Tristan sudah kebal, dia pun diam saja. Namun dia tetap kesal pada foto yang disebar Anwar saat dirinya dan Karina sedang mengunjungi pabrik teh yang dikelola oleh Ayah Karina. Saat itu Karina jatuh terpeleset hingga kakinya terkilir, akhirnya dia harus menggendong Karina sampai ke pusat kesehatan. Nah saat itu Anwar mengambil foto mereka berdua dengan posisi yang sama sekali tidak terjadi. Seolah saat itu dia dan Karina sedang berciuman, padahal Tristan sedang menoleh pada Karina karena perempuan itu kelilipan. “Heboh lagi gara-gara elo. Berita peluncuran ponsel kita kelelep jadinya, Warrr...,” desis Tristan. Emosinya belum turun ternyata. “Nggak papa lagi. Soalnya meski kelelep, tapi tiap ada berita kalian, selalu ditambahin narasi soal ponsel kita. Bagian representatif udah gue pesenin soal itu buat dikasi tahu ke reporter dan mereka yang nerbitin artikel gosip. Karena kalo engga, kita bakal nuntut mereka sebagai pencemaran nama baik... yaitu nyebarin foto lo lagi sama Karina ‘gitu-gitu’,” jelas Anwar. Tristan menggelengkan kepalanya heran sekaligus takjub akan ide Anwar yang selalu out of the box. Tidak salah seorang Kendrick Briyan Sutoyo mempercayakan uangnya untuk menyekolahkan dan memfasilitasi Anwar. Karena tahu Anwar akan menjadi sosok yang bisa diandalkan. “Terserah lo, asal itu nggak keterlaluan. Gue nggak mau kalau nama dia dan orang tuanya jadi jelek,” ujar Tristan menasehati. “Siap, Bos! Bakal gue pastikan itu!” sahut Anwar dengan penuh semangat.   ///   3 hari menuju peluncuran ponsel Youngs Tech, Tristan dan Karina tengah menuju butik untuk mengepas pakaian yang akan mereka gunakan dalam acara puncaknya. Warna tuxedo dan gaun yang digunakan mereka akn seragam, yaitu warna plum. Warna plum ini juga akan menjadi warna untuk warna official untuk menunjukkan kemewahan dari seri ponsel mereka Primrose. Ada juga warna lain, yaitu hitam, putih dan rose gold. Namun edisi terbatasnya akan menggunakan warna plum ini dan hanya tersedia 218 unit di seluruh dunia, sesuai angka didirikannya perusahaan ponsel ini. Tristan tentu protes saat harus menggunakan jas warna ini. Tapi karena permintaan dari pihak pemasaran, yang artinya itu adalah untuk kepentingan perusahaan, Tristan akhirnya diam. Dia menurut dan akhirnya mau mencoba pakaian ini. “Nggak terlalu jelek, kan? Makanya nggak usah protes dulu!” cibir Karina pada Tristan yang tadi terus menolak. “Diamlah,” balas Tristan dengan tidak minat.   ///   8 jam menuju puncak acara peluncuran ponsel, kini kegiatan terpusat pada sebuah ballroom salah satu hotel milik rekanan Youngs Tech. Acara ini akan berlangsung pukul 07.30 malam dengan mengambil alih semua jam sibuk televisi di Indonesia. Sudah jelas semua perhatian masyarakat dipaksa untuk mengarah apda acara ini. Tristan masih melakukan rapat bahkan saat sudah mendekati acara. Itu karena dia tidak bisa mengabaikan segala persiapa. Dia perlu tahu laporan dari semua penanggung jawab acara mengenai hal ini. Untung saja semua orang kooperatif menanggapi permintaan bos besar mereka ini. “Lo yakin semua udah aman?” tanya Tristan yang kini berdiri berkacak pinggang menatap sebuah ballroom untuk acara mereka. Anwar yang ditanyai pun menganggukkan kepalanya mantap. “Iya lah. Kalau belum mana gue bisa santai. Gue bakal digorok sama elo nanti,” jawab Anwar sesuai fakta yang ada. “Oke, kalau gitu gue bisa pulang sekarang,” ujar Tristan yang kembali menggunakan jasnya sebelum keluar dari ruangan besar ini. “Nah iya, harusnya elo udah pulang dari tadi. Ini hampir jam 5 dan elo masih di sini,” cibir Anwar. Tristan tidak ambil pusing soal itu. Dia terus berjalan menuju mobil dan langsung menyandarkan tubuhnya yang terasa lelah sekali. “Gue bakal anter lo ke rumah utama. Kelamaan kalo ke apartemen lo soalnya. Semua kebutuhan lo udah dioper ke sana, tinggal lo mandi dan makan snack sore buat ganjel perut,” jelas Anwar dengan detil. Sekali lagi Tristan tampak tak ambil pusing. Dia sudah percaya akan Anwar untuk mengatur kesehariannya kecuali di hari libur. Sampai di rumah utama, Tristan langsung bertemu Karina yang baru saja turun dari kamar. Rambutnya tampak disembunyikan di dalam gulungan handuk tanda baru saja mandi. Anwar sudah menuju dapur untuk meminta asisten rumah tangga menyiapkan kebutuhan Tristan. “Aku pikir kamu tidak akan jadi pakai tuxedo-nya,” celetuk Karina yang masih berdiri di ujung tangga. Tristan memutuskan tatapannya dengan Karina dan memilih untuk langsung masuk ke dalam sebuah kamar di lantai satu, namun dia membawa serta tuxedo-nya. “Ck! Kenapa dia sombong sekali, sih?” cibir Karina. Pukul setengah 6, dimana langit sudah menjadi gelap, Karina sudah siap dengan penampilannya. Begitu juga dengan Tristan yang sudah lebih dulu muncul di ruang tengah. Dia bahkan sudah menyantap habis snack sore yang disiapkan Anwar sebelum asistennya itu membersihkan diri. “Kita akan berangkat kapan?” tanya Karina setelah berada di dekat Tristan. “10 Menit lagi,” jawab Tristan. Saat Karina sedang mengibaskan gaunnya untuk memeriksa apakah ada kesalahan atau tidak. Barulah Tristan tahu kalau letak berbahaya dari gaun yang digunakan Karina adalah belahannya yang sampai setengah pahanya. Padahal dia mengira kalau calon istrinya ini akhirnya bisa memilih gaun yang sederhana dan tertutup. Nyatanya dia tertipu. “Apa yang kamu lihat?” tanya Karina pada Tristan yang menatapnya terlalu intens. Tristan menaikkan padangannya pada mata Karina sebelum menjawab. “Seluruh kakimu,” jawabnya  kemudian. Karina melongo mendengar itu, apalagi setelah itu Tristan bangkit berdiri tanpa mengajaknya keluar bersama karena sudah saatnya berangkat menuju tempat acara. “Jerk!” umpat Karina pada Tristan. Anwar yang melihat semua itu hanya bisa menahan tawanya.   ///   Selama perjalanan menuju tempat acara, Anwar sekali lagi memberikan training pada dua orang yang terikat pernikahan kontrak ini agar bisa bersikap natural. Masa bodoh mereka bosan mendengar, dia hanya tidak mau kalau ada celah bagi haters untuk semakin membenci keduanya. “Oke, udah sampe. Nanti waktu keluar dari mobil, tolong yaaa... tolong elo ulurin tangan ke Karina. Tuntun dia waktu turun. Kasih dia juga lengan lo buat digandeng, Bang,” kata Anwar, memberikan intruksi sebelum membuka pintu mobil mereka. Dengan salah satu koleksi mobil mewah milik Briyan, kedatangan Tristan dan Karina langsung mengundang perhatian reporter yang datang. Kamera langsung mengarah pada mereka apalagi moment saat Tristan mengulurkan tangannya membantu karina turun dari mobil. Penampilan mereka juga menjadi sorotan yang apik karena begitu serasi. Saat mereka bergandengan tangan, layaknya pangeran dan putri raja tengah menunjukan eksistensi mereka. Foto-foto mereka segera tersebar dan dikomentari banyak orang juga. Media sosial ramai oleh penampilan Karina yang sederhana namun mewah sekali. Warna plum gaunnya sangat cocok dengan make up, tatanan rambut, bahkan sampai heels model cone berwarna gold. Rambutnya yang berwarna cokelat tampak serasi dengan gaun. Anting mutiara di kedua telinganya menambah kesan mewahnya. Begitu keduanya berpose di depan booth, Karina akhirnya bisa menunjukan model gaunnya yang memiliki unsur seksi juga dengan meregangkan kakinya. Otomatis belahannya terbuka dan menampakan kakinya yang jenjang. Namun Tristan tidak suka akan hal itu, sehingga dia segera mendekati Karina dan merapatkan kakinya. Dan publik justru menganggap itu sebagai suatu yang romantis, padahal saat itu karina dan Tristan sedang saling melempar tatapan tajam dan berbisik protes. Namun posisi Tristan yang membelakangi kamera tentu tidak akan terlihat kejadian yang sebenarnya. “Apa yang kamu lakukan?!” protes Karina. Dia tentu tidak terima Tristan melakukan ini padanya. “Berhentilah mengumbar tubuhmu. Ini acara peluncuran ponsel perusahaan,” tandas Tristan. Semua orang tidak tahu apa yang terjadi di antara Tristan dan Karina. Mereka hanya tahu keduanya cantik dan tampan sehingga serasi saat berdiri bersama. Interaksi mereka yang akhirnya terlihat di publik secara resmi pun menjadi hal yang dinanti-nanti, padahal mereka bukanlah selebriti. “Kamu tidak boleh mengaturku begitu!” bisik Karina tajam saat mereka berjalan menuju ballroom. “Tidak saat kamu sedang bersamaku,” bisik Tristan juga. "Kamu semakin menyebalkan akhir-akhir ini," cibir Karina. Entah sudah berapa kali dia mencibir pria ini seharian. "Itu hanya pemikiranmu saja," timpal Tristan. mereka sudah duduk di barisan para direksi dan  orang penting yang diundang. Tampak masih banyak orang takjub akan bersandingnya Tristan dan Karina di depan publik secara resmi seperti ini. Seolah pesona bintang tamu tidak lebih menarik bagi mereka.  . /// . .
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD