12. Cara Perempuan Berpikir

1594 Words
Suara dentingan alat makan terdengar jelas di heningnya suasana sebuah ruangan di restoran yang direservasi untuk pertemuan keluarga. Wajah-wajah yang ada di sana tidak mencerminkan sebuah pertemuan yang dilakukan sebuah keluarga pada umumnya. Yang ada justru aura ketegangan yang melingkupi luasnya tempat berkumpul ini. Edwin Gara Sutoyo, sebagai satu-satunya anak laki-laki dari Briyan meski bukan yang tertua, menjadi pemimpin pada pertemuan ini. Begitu makan siang selesai, dia kembali  mencoba mengintimidasi Karina dengan kata-katanya. “Jadi kamu akan mengikuti jejak ayahmu yang penjilat dan meminta harta keluarga begitu?” tanya Edwin pada Karina. Karina mengernyit mendengar pertanyaan itu. Kalau tidak salah ingat dia masih cucu sah Briyan Kendrick Sutoyo meski ibunya sudah meninggal dan ayahnya yang dikucilkan dari keluarga ini. Tapi kenapa kakak dari ibunya ini menggunakan kata-kata serendah itu padanya? “Harta keluarga yang mana, Oom? Aku akan menikah dengan Tristan bukan dengan Nino, anak tante Jovanka. Lagi pula aku masih cucu kakek di silsilah keluarga yang diterbitkan oleh pengacaranya,” jawab Karina dengan santai, namun dadanya memang berdegup kencang karena harus menahan emosi direndahkan oleh keluarga besarnya sendiri. Tadi sebelum makan siang, pengacara dari Briyan yang bernama Andi Pangestu sudah membacakan silsilah keluarga Briyan yang tidak bisa diganggu gugat meski ada salah satu yang ingin mengajukan banding ke pengadilan sekalipun. Karina dibacakan memiliki warisan juga tapi sudah diberikan dan dikelola oleh ayahnya, selain itu ada tambahan lagi yaitu warisan atas nama ibunya yang kemudian Karina tolak. “Bukankah harusnya Oom senang aku menyerahkan warisan atas nama ibuku pada kalian? Aku bermurah hati dan tidak pernah menjilat siapa pun,” sambung Karina dengan diakhiri senyum tipis. Anwar dan Tristan menoleh dengan mata mendelik, memperingatkan pada Karina. Karena Karina sepertinya sudah terpancing emosi sampai membahas soal warisan juga pada akhirnya di meja makan ini. Edwin, Jovanka dan Wendra kompak mendengus tidak percaya pada perkataan Karina yang meremehkan mereka. Karena seolah mereka baru saja bersenang hati mendapatkan sisa warisan dan mereka lah yang penjilat. Yang ada justru mereka sangat tersinggung walau artinya juga kekayaan mereka bisa bertambah. Lapangan golf, sebuah resort dan hotel bintang 4 artinya akan menjadi milik mereka bertiga. “Ya... ya... Karina.... karena sepertinya kamu bukan menjilat lagi, tapi sudah siap menjadi pemuas dari anak itu,” sindir Jovanka, anak tertua Briyan pada Karina. Dengan dagunya, Jovanka menunjuk Tristan. Perkataan Jovanka tadi disambut tawa mengejek yang menyetujui jika Karina hanyalah pemuas nafsu untuk Tristan, maka dari itu Tristan memilih Karina. Sontak saja emosi Karina memuncak karena tidak pernah dirinya mau menjadi  perempuan seperti itu. Karina hampir saja membalas perkataan tantenya dengan lebih pedas, tapi Tristan menahannya dengan menggenggam tangannya yang ada di atas meja. Dengan tatapan tajam Tristan meminta Karina untuk tidak meladeni konfrontasi dari tantenya itu. Sebagai gantinya, Tristan yang akan giliran berbicara. “Dia memang pemuas saya, sumber kepuasan saya. Hubungan orang dewasa tentu tidak selugu remaja, apalagi kami memiliki perasaan yang sama... bahkan karena suaminya tidak bisa memberikan kepuasan, seseorang pernah menyewa pemuas di luaran sana,” ujar Tristan, di akhir kalimatnya dia memberikan sindiran. Sindiran itu Tristan alamatkan pada Jovanka yang pernah menjalin hubungan dengan seorang mahasiswa yang juga berprofesi sebagai gigolo. Hubungan itu diketahui Tristan dua bulan sebelum Briyan meninggal. Dia yang mencari tahu kemana Jovanka sering menghamburkan uang karena kartu kreditnya selalu sampai limit. Ternyata kartu kredit itu diberikan pada si gigolo itu sebagai hadiah dari Jovanka. Jovanka langsung diam setelah Tristan membalasnya dengan telak. Namun dia berpura-pura bukan dirinya yang tengah di sindir, sebab hanya Briyan dan Tristan yang tahu soal ini. Suaminya yang terlalu polos dan tidak memuaskan dalam hal ranjang, tidak mengetahuinya sama sekali. Namun orang-orang di meja makan itu mengernyit dan melihat satu sama lain untuk saling mencurigai. Edwin juga melirik kakak dan adiknya serta istrinya sendiri dengan tatapan menilai. Namun dia segera mengenyahkan hal tersebut karena Tristan mungkin hanya ingin mengalihkan pembicaraan. “Jadi kalian ‘memiliki perasaan yang sama’, huh?” tanya Edwin, tentu saja dia tidak percaya akan hal itu. Jelas sekali Tristan ingin main aman dan tidak mau dikendalikan dengan cara memilih Karina. “Baguslah, itu kabar yang baik... Kalau begitu, sebagai penerus keluarga... kalian harus memiliki anak, bukan?” Tristan dan Karina langsung bertatapan. Keduanya tampak terkejut akan hal itu. Jelas kontrak mereka tidak memiliki bunyi sampai ke sana, mereka akan menikah untuk legalitas saja dengan tujuan mengokohkan posisi Tristan. Soal anak tentu tidak masuk ke dalam kontrak yang sudah dibubuhi tanda tangan oleh keduanya.   ///   Karina terus diam sambil menikmati lagu melalui earpods yang terpasang di kedua telinganya. Mood-nya terjun bebas setelah mendengar harus memiliki anak ketika dia menikah dengan Tristan nanti. Kepalanya mendadak pusing memikirkan hal itu. Tristan juga demikian, menikah saja jauh dari angan, apalagi memiliki anak. Kedua hal tersebut tidak ada dari jadwal hidupnya yang seharusnya sudah pas. Dia ingin menyalurkan seluruh hidupnya pada pengembangan teknologi yang akan membantu masyarakat secara menyeluruh. Namun dia justru memiliki batu sandungan karena hal-hal seperti ini. Dasi yang ada di lehernya seperti sangat sesak sehingga tangan kenannnya berusaha mengurai dasi itu. Tapi karena terlalu kasar dia bergerak, tidak sengaja dia menyikut d**a Karina hingga si pemilik langsung mengaduh kesakitan. Anwar yang sedang mengantuk langsung terbangun kecuali sopir yang tetap fokus mengemudi. “Ada apa? Kenapa?” tanya Anwar dengan wajah yang masih jelas menyimpan kantuk. Namun bukan jawaban yang dia dapatkan, melainkan dia melihat Karina dan Tristan yang sedang saling menatap tajam. Tapi tatapan bak sinar laser lebih terlihat jelas dari sisi Karina. Tristan sebenarnya hendak minta maaf langsung karena sudah menyikut area pribadi dari Karina. Tapi dia mendadak bingung dan sempat salah fokus karena dia baru saja merasakan sesuatu yang kenyal tadi. Dan karena itu Karina langsung mendelik marah padanya. “Sorry.” Tapi pada akhirnya Tristan tetap harus meminta maaf. Karina tidak membalas pernyataan maaf Tristan. Dia memilih untuk membuang wajahnya menatap jalanan melalui jendela mobil.   ///   Esok harinya Tristan kembali berhadapan dengan Edwin di ruang kerjanya. Dia sebenarnya memiliki jadwal yang sangat sibuk hari ini tapi seseorang datang dan menyita waktu satu jam hanya untuk membicarakan soal pernikahan. “Saya sebagai perwakilan keluarga besar Karina, menginginkan pesta mewah dan megah untuk pernikahan kalian. Kami menolak gagasan menikah secara sederhana dan tertutup,” ujar Edwin yang duduk di sofa berwarna hitam di ruang kerja Tristan. Tristan sudah pernah menduga soal ini, mana mungkin anak-anak Briyan mau pesta yang sederhana dan tertutup. Pesta ulang tahun ke 17 dari anak Edwin yang bernama Marion saja sampai menggelontorkan dana miliaran. Sungguh pemborosan dan jelas tidak ada gunanya sama sekali. Tapi demi kelancaran semua rencananya, kali ini Tristan akan menuruti apa mau paman dari Karina ini. “Baik, tapi segala pengaturannya menjadi hak saya dan Karina. Tidak ada yang bisa mencampurinya.” Edwin mengangguk setuju. “Daftar tamu dari kami masing-masing akan ditambahkan dalam daftar kalian juga. Tidak mungkin relasi kami tidak diundang, kan?” “Ya, tentu saja.” Tristan hanya bisa mengiyakan. Dia juga tidak ambil pusing soal tamu, walau pasti dia harus memperketat penjagaan karena tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi nanti.   ///   Pengumuman pernikahan akhirnya dilakukan. Melalui press conference, berita bahagia itu dibagikan kepada wartawan untuk kemudian disampaikan pada muka publik. Nama Tristan dan Karina menjad trending kembali dan mengisi rubik entertainment karena pengaruh posisi Tristan sebagai CEO dari sebuah perusahaan global dan terbesar di Indonesia. Publik pun tertarik sekali karena Tristan dan Karina sangat serasi. Di setiap foto dengan visual mereka yang tampan dan cantik akan diburu netizen dengan komentar positif, meski ada juga yang masih tetap menganggap ini hanya penikahan bisnis. Beberapa interaksi aneh antara Tristan dan Karina dirangkum sebagai bantahan kalau mereka saling mencintai. Tapi itu seperti angin lalu saja karena tidak cukup banyak yang memedulikannya. Anwar menjadi makin aktif untuk mem-blow up mempromosikan hubungan atasannya itu. Dia yang bertindak sebagai representatif juga memotret setiap persiapan pernikahan, sepeti saat sedang melakukan fitting baju pengantin. Karina dan Tristan dalam jepretan Anwar tampak mesra, padahal pada realitanya tidak demikian. Perdebatan antara Karina dan Tristan justru semakin memanas saat melakukan fitting baju karena Karina memilih gaun pernikahan yang menunjukkan belahan dadanya terang-terangan. “Aku tidak mau tahu, kamu harus mengganti gaun itu dengan yang lain,” ujar Tristan. “Kita hanya menikah kontrak! Berhentilah mengaturku!” protes Karina. Gaun yang dipilih Karina adalah rancangan salah satu desainer yang pernah menggunakannya sebagai model pakaian mereka. Karina kenal dekat dengan desainer itu dan tidak mau mengecewakannya karena tidak jadi memakai gaun tersebut. “Kamu ingin memamerkan dadamu itu? punggungmu juga akan terlihat jelas karena gaun itu!” Tristan juga ikut protes. “Itu urusanku! Aku menghargai karya teman ku ini! Jadi berhentilah sok perhatian!” sentak Karina. Dia memilih meninggalkan Tristan dan masuk ke dalam kamarnya. Tristan menghela napasnya untuk meredam kekesalannya. Dia menjatuhkan tubuhnya pada sofa ruang tengah di rumah utama yang dulu ditinggali kakek Karina, Briyan. Rumah yang sangat besar dan saat ini hanya dihuni oleh Karina sendiri dan pelayan rumah yang jumlahnya cukup banyak. “Nggak papa kali dia pake gaun itu, toh body-nya emang bagus,” celetuk Anwar. “Gue nggak suka foto bareng cewek yang umbar aset pribadinya!” tandas Tristan. Tidak mau dibantah lagi oleh orang lain. “Dih, galak! Lagian bener kata Karina kalau itu terserah dia. Ini pernikahan pertama buat dia, setidaknya dia pengen sesuatu yang indah dan sesuai keinginananya. Hal yang dilakukan pertama kali bagi seorang wanita biasanya akan sangat membekas diingatan mereka. Lo harus hargai pendapat dia, Bang,” jelas Anwar. Dia memang membela Karina, tapi selain itu dia sedang mengingatkan Tristan tentang bagaimana wanita berpikir. Sebab Tristan selama dia hidup hanya tahu cara robot berpikir. .  ///  .   .
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD