Salah satu jadwal Tristan untuk mengunjungi store terbesar barang-barang Youngs Tech terpaksa ditunda karena agenda mendadak. Dia kini justru tengah berdiri di depan banyak kamera yang memancarkan sinar blitz hingga membuatnya pusing. Bereda sekali dengan sosok perempuan yang kini berdiri di sebelahnya.
Tristan dan Karina tadi tengah makan siang sembari membahas bagaimana sikap yang akan mereka tunjukan ke hadapan keluarga besar Sutoyo nantinya. Namun begitu keluar dari restoran, mereka disambut oleh kerumunan orang yang tidak mereka sangka, meski ini memang sebagian telah direncanakan.
Karina menyunggingkan senyum dengan mata yang menunjukkan betapa profesionalnya dia, serta bagaimana pengalamannya sebagai model mampu membuatnya tahan pada sinar blitz yang menyerbunya. Tangannya berpegangan pada lengan Tristan tanpa dia sadari karena dia juga sebenarnya cukup gugup. Sebab dia tidak tahu bagaimana cara kerja dunia hiburan di Indonesia. Karina tidak tahu dampak apa yang akan timbul saat dia akhirnya tertangkap basah tengah bersama Tristan.
Tertangkap basah secara sengaja sebenarnya. Karena ini masuk dalam rencana mereka untuk akhirnya muncul di depan publik untuk pertama kalinya. Namun Anwar tetap membuat rencana ini sehalus mungkin, dia lagi-lagi membagikan foto Karina dan Tristan yang tengah bersama pada sebuah akun gosip. Dan ternyata keberadaan mereka mampu diketahui oleh wartawan setelah foto tersebut dibagikan di media sosial.
“Pak Tristan, tolong berikan keterangan tentang hubungan anda dengan cucu Pak Briyan Sutoyo,” kata seorang wartawan yang berdiri di depan Tristan, meminta penjelasan soal gosip yang santer beredar.
“Benar, bagaimana sebenarnya hubungan Anda dengan model sekaligus cucu Pak Briyan, CEO Youngs Tech sebelumnya?” tanya wartawan yang lain.
Pertanyaan yang hampir sama diajukan oleh wartawan lain yang entah bagaimana ceritanya bisa jadi sebanyak ini. Padahal Anwar mengira hanya satu atau dua wartawan yang datang untuk memergoki sepasang kekasih yang bersatu karena kontrak ini.
“Ini bukan hanya pernikahan bisnis, kan?” Seorang wartawan bertanya hal demikian dan langsung menyita perhatian Tristan dan Karina.
Baik Tristan maupun Karina, keduanya tidak memberikan reaksi apapun sesuai skenario dari Anwar. Namun kemudian pergerakan tangan Tristan yang merangkul Karina saat beberapa wartawan semakin merangsek maju ke arah mereka, tertangkap oleh kamera, wartawan semakin menekan tombol di kamera mereka untuk mengabadikan hal tersebut.
“Maaf dan tolong jangan begini. Nanti ada yang terluka,” cetus Tristan. Dia menatap tajam dan tegas pada wartawan, namun perkatannya terdengar lembut agar tidak menimbulkan masalah lain.
Akhirnya karena itu pula wartawan mundur dan memberi ruang pada Tristan dan Karina. Sehingga keduanya kini bisa berdiri dengan leluasa lagi. Anwar menganggukkan kepalanya setelah menerima kode dari Tristan untuk mewakili keduanya memberikan keterangan.
“Selamat siang, saya Anwar. Saya Asisten Pak Tristan dan akan mewakili beliau memberikan keterangan,” ucap Anwar dengan tindakannya yang kembali profesional.
Wartawan kemudian segera menyalakan perekam mereka untuk menyimpan suara Anwar sebagai bahan berita mereka nantinya. Namun untuk video dan foto tetap mengarah pada Tristan yang tangannya kini beralih menggenggam tangan Karina.
“Pak Tristan dan Ibu Karina sebetulnya ingin menyembunyikan hubungan mereka yang sudah terjalin beberapa waktu ini. Namun karena pemberitaan dan gosip semakin menyebar tanpa bisa dibendung, saya sebagai perwakilan menyampaikan bahwa mereka memang sedang menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih,” ungkap Anwar dengan tenang.
Namun blitz kamera kembali heboh memotret Tristan dan Karina setelah pernyataan yang dibuat oleh Anwar.
“Selamat, Pak Tristan, Ibu Karina!” teriak seorang wartawan.
“Selamat, Pak, Bu!” Yang lainnya juga.
“Maaf karena sudah menimbulkan kehebohan dan tidak langsung memberi keterangan. Tapi Pak Tristan dan Ibu Karina juga membantah kalau ini adalah pernikahan bisnis. Keduanya berbagi perasaan yang sama dan tidak ada satu pun terlintas melakukan hal tersebut,” ujar Anwar, memberi bantahan pada pertanyaan wartawan sebelumnya.
“Apakah Pak Briyan yang mengenalkan kalian berdua?” tanya seorang wartawan wanita.
Anwar segera mengangguk. “Secara tidak langsung memang betul jika mendiang yang mengenalkan keduanya. Namun secara alami perasaan mereka tumbuh untuk bisa menjalin hubungan saat ini. Beberapa kemesraan yang tertangkap kamera sepertinya sudah cukup menjadi bukti,” jawab Anwar. Dia puas sekali bisa melakukan ini.
Sementara Tristan mati-matian tidak mendengus karena mendengar cara bicara asistennya itu yang terdengar sangat formal.
“Satu lagi, kami mohon do’anya untuk hubungan serius ini,” sambung Anwar yang kemudian memberi kode pada bodyguard untuk melindungi Tristan dan Karina dari wartawan.
Tristan ingin sekali menendang kaki Anwar karena membuat wartawan mendadak heboh lagi. Pernyataan terakhir tadi menyiratkan kalau akan ada pernikahan dengan menambah kata “serius”. Mereka pun kini harus menjauh secepatnya dari wartawan lalu segera memasuki mobil.
“Gaji elo bakal gue potong!” ancam Tristan pada Anwar yang sejak tadi tertawa di kursi depan sebelah kemudi.
“Nggak papa, Bang! Gue nanti makan siang ngambil jatah punya elo aja biar hemat! HAHAHAHA!” Anwar kembali lanjut tertawa.
Karina hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan dua laki-laki yang katanya CEO dan asistennya. Sangat jauh dari penggambaran bagaimana yang dia baca selama ini di dalam sebuah novel.
Atau mungkin dia saja yang tidak tahu?
Entahlah. Kenapa dia harus memikirkan itu?
Sekarang yang terpenting, bagaimana dia akan menjelaskan hal ini pada ayahnya yang mengabari jika sudah ada di hotel tempat dia menginap.
///
Karina tampil sangat anggun setelah memutuskan menggunakan dress dengan panjang selutut warna merah muda dan berbahan lace. Lengannya model sabrina sehingga leher, tulang selangka dan bahunya tampak sedang memamerkan keindahannya pada dunia. Sentuhan kalung bermata kecil membuat bagian tersebut tampak berkelas.
Lekukan dress pada pinggangnya yang bermodel cocktail, juga ikut memberikan kontribusi untuk menunjukan bagaimana terawat tubuhnya ini. Jangan lupa ukuran dadanya yang besar ini sepertinya mengalihkan perhatian Tristan, Karina menyadari itu. Namun Karina akan bersikap biasa saja, karena dia sudah terbiasa dengan pandangan dari laki-laki soal bentuk dadanya yang lebih besar ketimbang perempuan pada umumnya.
Dia akan diam kecuali Tristan akan macam-macam padanya dan melewati batas yang sudah mereka sepakati dalam kontrak.
Dia berpenampilan seperti ini karena mengimbangi Tristan juga. Tadianya dia sudah menggunakan dress casual model vintage dengan warna cokelat muda, tapi Tristan datang ke hotel dengan setelan jas yang sangat formal. Dan akhrinya dia tahu kalau pertemuan keluarga telah berpindah dari rumah pamannya, menuju sebuah restoran yang masih dikelola di bawah naungan Youngs Tech.
“Kenapa harus di restoran sih? Apa nggak malu kalau nanti bakal ada ribut-ribut?” tanya Karina heran.
Tristan langsung mendengus mendapat pertanyaan dengan nada protes itu. “Tanyakan itu pada pamanmu setelah sampai nanti,” jawab Tristan sekenanya tanpa mengalihkan pandangannya dari tab.
“Katanya karena istrinya Pak Edwin nggak suka kalau rumahnya jadi berantakan abis pertemuan keluarga,” celetuk Anwar, dia menjawab pertanyaan Karina.
Kini gantian Karina yang mendengus. Dia tidak habis pikir dengan keluarga besarnya yang aneh. Seharusnya jika takut berantakan, tidak usah ada pertemuan sekalian, lakukan saja secara online. Lagi pula jika berantakan juga yang membersihkan adalah asisten rumah tangga, bukan tantenya itu.
Mendadak kekesalan Karina muncul hanya memikirkan hal tersebut.
“Nanti gue mohon banget kalian setidaknya nggak mancing emosi mereka, oke?” kata Anwar, mengingatkan Tristan dan Karina sekali lagi.
“Hm,” sahut Tristan sekenannya.
“Serius loh, Bang! Gue nggak mau ngeliat elo narik urat Pak Edwin dan yang lain. Misi kita kali ini cuma buat nunjukin ke mereka kalau elo udah ada pasangan yang elo cari sendiri. Mereka emang bakal nggak percaya kalian beneran pacaran, tapi setidaknya tunjukin kalo kalian membantah dan akur di depan mereka,” kata Anwar lagi. Dia sudah mengulang hal ini beberapa kali.
“Hm,” sahut Tristan tanpa niat.
Dengan tangan kirinya, Anwar mengusap dadanya sendiri agar menyetok kesabaran banyak-banyak. Untung saja Karina tampak berbeda dari Tristan yang suka membuat darahnya naik melesat cepat layaknya roket milik NASA.
///
Setibanya di restoran, ketiganya langsung disambut pelayan yang akan menunjukkan ruangan tempat pertemuan berada. Sayap kiri restoran tampak berjalan semestinya untuk melayani pelanggan, sedangkan di sayap kanan sudah di tutup dengan gorden dan pintunya diberi tanda “reservasi”.
Ketiganya masuk ke dalam pintu tadi setelah dibukakan oleh pelayan. Mereka langsung di sambut oleh mata-mata yang menatap tajam pada mereka. Tentu saja semua itu berasal dari keluarga besar Sutoyo yang tampak sudah berang dan memendam kekesalan akan tingkah Tristan yang tidak bisa ditundukkan.
Rencana anak-anak Briyan Sutoyo untuk bisa menikahkan Tristan dengan anak mereka tidak berjalan lancar. Karena ternyata yang dipilih oleh Tristan adalah Karina, cucu yang berasal dari anak bungsu Briyan yang bernama Zeline Rosalie Sutoyo. Namun karena Zeline sudah meninggal dan tinggal suaminya saja, anak-anak Briyan tidak pernah menganggap Karina dan ayah Karina sebagai bagian keluarga. Sebab tidak ada hubungan yang bisa merekatkan mereka lagi.
Edwin, anak laki-laki satu-satunya Briyan, tidak menyangka kalau Tristan akan mengambil langkah menjemput Karina kembali. Padahal dia tahu sekali kalau Karina sudah lama tidak mau berurusan soal harta keluarga. Tapi sekarang justru berdiri di hadapannya bersama seorang anak muda yang entah datang dari mana, anak muda yang mendadak menjadi kesayangan ayahnya. Belum sampai di situ, ayahnya bahkan membuat anak itu menjadi penerus tahta perusahaan besarnya.
Lalu apa arti keberadaannya selama ini?
Karena itu, dia sangat marah dan ingin sekali membunuh Tristan. Namun kewarasannya kembali, dia tidak mau mati dalam keadaan sebagai pelaku kejahatan, walau nantinya dia akan menggunakan cara licik untuk menggulingkan Tristan.
“Halo, akhirnya kita bertemu lagi, Karina?” sapa Edwin pada keponakannya.
Karina menarik napas dan menghelanya dengan tenang. Dia memang cukup gugup sampai harus berpegangan pada lengan Tristan lebih erat, namun dia tidak mau sampai terintimidasi oleh cara Edwin menyapanya.
“Halo, Om,” ucap Karina, balas menyapa.
Edwin tersenyum miring sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. “Jadi... sekarang kamu sudah butuh uang, makanya kembali ke Indonesia dan mau jadi istri anak ini, ya?” tanya Edwin dengan nada yang sayup terdengar meremehkan dan melirik malas pada Tristan.
Baik Tristan maupun Karina, keduanya diam dan tidak membalas konfrontasi itu. Anwar yang berada di sana sudah sangat khawatir kalau dua orang ini akan terpancing emosi, namun untungnya tidak.
Dengan senyum di bibir yang Karina poles dengan lipstik warna merah muda, Karina membalas kalimat pamannya. “Karir modelku tidak bisa berjalan selamanya, Om,” jawabnya santai dan tidak menyangkutkan pada uang secara langsung.
Hal itu tentu saja membuat Edwin sedikit terguncang. Dia tidak menyangka kalau Karina akan menjawab demikian. Anwar dan Tristan sama-sama bernapas lega akan hal itu. Setidaknya mereka telah mengamankan posisi dengan angka 1-0, untuk saat ini.
.
.
///
.
.