“SIAPA KALIAN?!”
Teriakan penuh tanda tanya itu berasal dari seorang lelaki yang sudah terjerembab jatuh dari kursi kerjanya. Pelaku yang mendorong lelaki itu sampai demikian adalah pria-pria dengan tubuh yang kekar mengelilingi Tristan, dia kini maju mendekat dan memperlihatkan wajahnya begitu kaca mata hitam model aviatornya dilepas. Setelan jas mahal berwarna biru navynya tampak membuatnya berbeda kini, tapi sekaligus memberinya efek mengintimidasi.
“KAMU?!” pekik William ketika menyadari siapa pria di hadapannya ini. Pria yang dia lihat di apartemen Karina, yang kekasihnya itu kenalkan sebagai tetangganya.
Tristan menyimpan kaca mata tadi ke dalam saku jasnya, lalu menggerakkan tangannya untuk menarik kerah kemeja pria yang dia kenal sebagai kekasih dari Karina, William Benigno.
“APA MAUMU, HAH?!” William kembali berteriak tapi terdengar rasa takut juga di dalam suaranya.
Tristan hanya tersenyum miring lalu mengambil sebuah kantong kertas dari salah satu anak buahnya. Dia merogoh kantong itu dan melemparkan berlembar-lembar bukti foto tidak senonoh yang diambil oleh pria maniak di hadapannya ini.
Sedangkan William terperangah tidak percaya ketika dia dilempari benda begitu saja oleh Tristan. Tapi kemudian dia segera merasa panik saat menyadari apa yang Ttristan berikan padanya.
“Ini-ini,” ucap William dengan panik. Dia ingin menyembunyikan semua foto itu tapi Tristan menginjak telapak tangannya. “ARGHHH!” rintihnya kesakitan.
Senyum miring tercetak di wajah Tristan sambil menatap puas pada William yang sudah dia tangkap basah. Salah satu anak buahnya menyita laptop yang sedang William gunakan untuk mengunggah foto-foto korbannya. Ini sudah cukup untuk dijadikan bukti, tapi pria maniak ini tetap harus diberikan pelajaran, apalagi setelah kemudian Tristan mengetahui fakta lain tetang hubungan William dan Karina.
“Kamu menipu Karina dengan mengatakan memiliki koneksi besar yang bisa membantunya dalam bidang model. Ah... maksud saya, kamu mengenalkannya pada pria-p****************g yang kamu bilang relasi dan tanpa biaya apapun sebagai sogokan,” ujar Tristan. Dia menghentikan kalimatnya lalu menarik dagu William. “Tapi sebagai imbalan, kamu harus memberikan mereka foto-foto telanjang Karina tanpa dia ketahui,” sambungnya.
Saat mengetahui hal ini, Tristan tentu sangat marah. Dia merasa kesal juga pada Karina yang meski kelihatan sangat independen, tapi sangat mudah dikelabui karena terlalu polos. Kini jika Tristan mengungkap identitas dari p****************g itu, maka Karina juga yang akan terkena imbasnya. Bukan tidak mungkin mereka akan menjual bebas foto Karina di situs porno.
Karir Karina akan mengalami goncangan jika demikian sudah terjadi. Tristan harus hati-hati menuntaskan kasus ini jika tidak ingin ada efek lain yang timbul di kemudian hari.
“Ampuni, saya... maafkan saya....” William langsung memohon pada Ttristan sambil berlutut karena kejahatannya sudah diketahui orang lain.
“Sudah terlambat kamu meminta ampun,” ujar Tristan tanpa melihat ke arah William.
“Habisi dia, tapi jangan sampai mati,” ucap Tristan, memberikan titah pada anak buahnya yang berjumlah 4 orang.
Dia sendiri berjalan menjauh seraya kembali memasang kaca matanya. Tapi begitu dia akan membuka pintu apartemen William, pintu itu sudah terbuka lebih dahulu dan menampakkan wajah Karina.
Karina hari ini datang untuk menemui William karena mereka janjian untuk menghabiskan waktu bersama. Kebetulan keduanya sedang tidak ada jadwal apapun sehingga ingin menikmati waktu luang yang ada. Namun Karina tidak mengerti akan alasan keberadaan pria yang kini mewarisi lebih dari sebagian kekayaan kakeknya ini di apartemen kekasihnya.
Matanya pun memincing, menatap curiga pada Tristan yang berdiri sangat santai di hadapan Karina. Dan dia terperanjat ketika mendengar suara rintihan seseorang dari dalam apartemen William.
“ARGHH!!”
Karina segera menyingkirkan keberadaan Tristan dan menerobos masuk ke dalam tempat tinggal William. Matanya membulat sempurna begitu melihat ada orang lain lagi di dalam apartemen kekasihnya dan sedang memukuli seseorang yang sudah berteriak tidak berdaya.
“CUKUP!! WILLIAM!! CUKUP HENTIKAN!!” teriak Karina. Tangannya berusaha menarik salahs atu tubuh kekar anak buah Tristan agar menjauh, tapi dia tidak sanggup.
“APA YANG KAMU LAKUKAN, HAH?!” tanya Karina pada Tristan. Satu-satunya orang yang dia tuduh atas semua ini tentu saja Tristan.
“Memberinya pelajaran,” ujar Tristan.
“APA?!” Karina menatap Tristan tidak percaya. Sebab pria ini dengan mudahnya mengatakan hal tersebut sebagai jawaban pertanyannya. Emosinya pun mulai meluap, dia segera menampar Tristan untuk memberi balasan.
“Segitunya kamu ingin aku setuju dengan tawaranmu sampai memukuli orang yang aku sayangi?!” tanya Karina dengan nada marah.
Tristan melepaskan kembali kaca mata yang dia gunakan lalu menatap Karina dengan wajah datarnya. “Ini bukan soal tawaranku, tapi keselamatanmu yang harus aku jaga atas permintaan kakekmu,” ujarnya.
“OMONG KOSONG!” pekik Karina. Dia tidak mengerti apa maksud kalimat Tristan.
Keselamatannya? Memang apa yang harus diselamatkan dari dirinya? Dan kenapa pula sampai William dipikuli begitu?! Batin Karina.
Tristan tidak menjawab lagi, sebagai gantinya dia memberikan tab yang dia ambil dari anak buahnya pada Karina. Di sana Tristan sudah merangkum semua tindak kejahatan William menjadi satu, termasuk yang terbaru tadi. Saat ini Tristan bisa melihat kalau perlahan ekspresi Karina berubah. Perempuan ini bahkan mengumpat pelan dengan bibir tebalnya yang menjaddi fokus Tristan sejak tadi.
“Kamu memacari pria maniak, kamu tahu?” tanya Tristan, dia ingin sedikit memprovokasi Karina supaya sadar siapa sebenarnya William.
Karina mendongakkan kepalanya menatap Tristan dengan amarah yang jelas terperangkap dalam matanya. Tapi Tristan tahu kalau amarah itu bukan untuknya, melainkan William yang kini sudah tidak berdaya setelah dipukuli oleh anak buahnya.
Benar kalau nyatanya Karina marah, tapi lebih dari itu, rasa kecewanya lebih mendominasi. Dia tidak percaya kalau pria yang dia sayangi ini dan menjadi tempatnya bersandar selama ini, ternyata pria b******k juga maniak. Salah satu jenis pria mengerikan di dunia ini karena dengan tega melakukan hal tersebut pada wanita yang berstatus sebagai pacarnya.
Karina juga merasa sangat malu, tubuhnya, wajahnya dan bagian terdalam darinya, kini terekspos juga ke hadapan orang lain. Dia tidak tahu apakah Tristan memberikan bukti kejahatan ini kepada orang lain, semisal polisi, karena Karina merasa dirinya seperti p*****r.
“Tapi seharusnya kamu tidak memukulinya seperti itu,” kata Karina yang membuat Tristan gantian merasa tidak percaya.
Tristan tentu keheranan, sebagai wanita yang tubuhnya sudah dieksploitasi untuk konten porno, kenapa bisa berpikir membela penjahat seperti William? Apa karena mereka berpacaran?
“Kamu membelanya?” tanya Tristan dengan nada heran. “Dia sudah menjualmu pada p****************g dan artinya karirmu bisa hancur kalau mereka membukanya ke publik,” sambungnya.
Karina menggertakan giginya menahan marah. Dia sama sekali tidak ingin membela William. Dia hanya tidak mau ini akan semakin panjang. “Kalau pun saya membelanya, itu juga bukan urusanmu—“
“Itu urusan saya,” tandas Tristan, dia memotong kalimat Karina yang mulai membuatnya kesal. “Kakek Briyan menitipkanmu pada saya. Dia ingin saya menjagamu selama saya hidup.”
“Saya bukan anak kecil yang harus selalu dijaga! Saya bisa melakukan semua ini sendiri!” pekik Karina. Dia juga emosi.
“Nyatanya kamu tidak bisa. Kamu bahkan tidak bisa membedakan pria yang baik atau tidak,” ujar Tristan.
“Saya hanya salah sekali, dan kamu ingin meremehkan saya?” tanya Karina.
Tristan menghela napasnya lelah. Dia sama sekali tidak suka berdebat seperti ini. “Saya sama sekali tidak meremehkanmu. Saya hanya ingin kamu tahu, ada baiknya untuk belajar lebih banyak lagi tentang mempercayai seseorang... karena sekarang kamu lihat sendiri bagaimana kamu sudah menjadi korban dari orang terdekatmu. Dia yang mengusik kerja kerasmu, bukan saya,” jelas Tristan.
Karina terdiam usai mendengar penjelasan Tristan yang mampu menohoknya. Rasa malunya semakin membuatnya merasa tidak ada muka lagi untuk berhadapan dengan Tristan. Maka segera saja dia membalikkan tubuhnya untuk pergi dari tempat tinggal William. Tab milik Tristan dia lemparkan ke sofa tanpa memberikan perkataan apapun pada si pemilik.
“Ikuti dia, pastikan dia aman sampai pulang ke tempat tinggalnya,” titah Tristan pada salah satu anak buahnya.
///
Tiba di kediaman pribadinya, Karina langsung masuk ke kamar dan menangis. Tumpukan rasa kecewa sekaligus malu, membuat air matanya tidak kunjung berhenti meski dia tidak ingin. Dia harusnya tidak perlu sampai menumpahkan air mata seperti ini karena sama sekali bukan salahnya. Dia adalah korban dari William.
Tapi karena William sendiri adalah pria yang selama ini ada untuknya ketika memulai meniti karir di bidang model, tentu setiap ingatan kebersamaan mereka justru menjadi kenangan menyakitkan. Kalau ternyata pacarnya selama ini hanya ingin memanfaatkannya untuk menambah pundi-pundi kekayaannya.
Tidak ada cinta apalagi kasih sayang. Semua itu palsu. Hal itu yang makin membuat air mata Karina tidak kunjung berhenti.
“Dasar b******k!” umpatnya lalu melemparkan sebuah piguran berukuran 10 cm ke atas lantai.
Kacanya pecah dan berhamburan namun tidak Karina pedulikan. Dia sendiri mengambil sebuah foto yang merekam moment saat Karina melakukan run away pertamanya dengan William yang memeluk pinggangnya. Foto yang dia pajang di dekat nakas tempat tidurnya selama ini, karena dia sangat berterima kasih kepada William yang membantunya kuat selama menggapai mimpinya ini.
“William b******k!” umpatnya lagi sambil merobek-robek foto itu hingga menjadi potongan kecil dengan emosi.
Saat ingin meraih pigura lain di meja kopi dekat jendela kamarnya, langkah Karina terhenti karena kakinya tertusuk pecahan kaca dari pigura yang dia lempat tadi. Tangisannya kini berubah menjadi tangisan kesakitan karena ada banyak pecahan kaca di kedua kakinya.
Sementara itu di luar tempat tinggal Karina, Tristan terus mencoba menekan bel pintu apartemen. Tristan ingin menemui Karina untuk melihat keadaan wanita itu dan menjelaskan tentang bagaimana baiknya kasus William di lanjutkan. Sebab Tristan berpikir kalau lebih baik keputusan soal ini menjadi milik Karina, bukan dia.
Tapi sejak 5 menit yang lalu Karina tidak kunjung membuka pintu apartemennya, padahal anak buah Tristan mengatakan kalau Karina tidak kemanapun sejak masuk ke dalam tempat tinggalnya.
“Karina!” teriak Tristan, tapi jelas itu tidak membuahkan hasil.
“Tuan, ini password yang saya dapatkan.” Seorang anak buah Tristan muncul dan menyerahkan sebuah kertas pada Tristan.
Dengan melanggar privasi Karina sekali lagi, Tristan memang harus mengetahui kata sandi tempat tinggal Karina. Sebab jika dalam keadaan seperti ini tidak baik meninggalkan Karina sendirian.
Setelah berhasil masuk ke dalam tempat tinggal Karina, Tristan segera berjalan menuju kamar Karina dan tanpa ragu membuka pintu berwarna putih ini. Helaan napas tidak bisa Tristan tahan saat melihat Karina yang masih menangis dengan kaki yang berdarah. Dia pun tidak jadi masuk ke dalam kamar Karina karena ingin mencari kotak obat lebih dulu.
Benda itu Tristan temukan dengan mudah di dapur, lantas dia bawa kembali bersamanya menuju kamar Karina. Tanpa berkata apapun, Tristan langsung berjongkok di depan Karina setelah sebelumnya melepaskan jasnya dan menggulung lengan kemeja hitamnya.
“Ah....” Karina merintih karena kakinya yang sakit dipegang oleh Tristan, tapi dia juga terkejut melihat keberadaan pria itu yang baru dia sadari kini.
“Saya bisa melakukannya sendiri,” kata Karina. Dia menepis tangan Tristan dari kakinya, tapi pria di hadapannya ini tidak menghiraukan penolakannya.
Dengan hati-hati juga sabar, Tristan mencabuti pecahan kaca yang tertancap di telapak kaki Karina. Terdengar rintihan Karina setiap dia mengambil satu kaca walau sudah sepelan mungkin. Tristan pun berpikir, jika tadi dia tidak nekat masuk ke dalam apartemen perempuan ini, tentu Karina akan lebih lama mendapatkan pengobatan karena lebih memilih menangis meratapi nasibnya kini.
“Ck!” tanpa sadar Tristan berdecak saat melihat Karina mungkin tidak akan bisa berjalan dalam waktu beberapa hari, terkecuali dia mampu menahan sakit di kakinya untuk menapak pada lantai.
Karina cuma bisa memalingkan wajahnya tidak mau melihat Tristan yang sedang menolongnya. Tangisnya sudah berhenti kini, tapi rasa malunya kembali muncul bersamaan dengan wajah Tristan yang menatapnya dengan tatapan datar. Seolah pria itu ingin mengatakan betapa bodohnya dirinya saat ini.
Sudah dikecewakan oleh pacar, menangis tapi hasilnya begini.
Sungguh bertolak belakang dari apa yang Karina banggakan selama ini, yaitu kemandiriannya. Nyatanya tanpa bantuan Tristan dia tidak akan tahu betapa busuknya seorang William. Karina juga tidak akan tahu kalau bisa saja foto nude-nya akan menjadi boom suatu saat nanti ketika dia putus dengan William. Sungguh sangat beruntung dirinya sudah mengetahui itu semua saat ini.
Jadi, bukankah Karina harusnya berterima kasih kepada Tristan?
Tapi sayangnya masih merasa gengsi juga malu untuk mengucapkan itu pada Tristan yang akhirnya selesai mengobati lukanya.
“Kamu mau apa?” tanya Karina saat Tristan mendekat ke arahnya. Pria itu bahkan sudah melingkarkan tangannya di sekeliling pundak Karina.
“Menggendongmu. Tapi kalau kamu bisa bangun sendiri, maka akan saya biarkan,” jawab Tristan, wajahnya masih tidak berekspresi.
Karina dengan rasa gengsinya tentu mencoba bangkit berdiri sendiri, tapi hasilnya dia jatuh dengan rasa ngilu di kakinya. Tristan yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya.
“Butuh bantuan?” tanyanya.
Wajah Karina langsung cemberut, tapi dia menganggukkan kepalannya kemudian.
“Dalam beberapa hari kamu akan saya bantu, tapi kalau kammu keberatan saya akan sewakan perawat untuk membantu,” ujar Tristan sambil menggendong Karina dengan kedua tangannya.
Dengan lembut dia membaringkan Karina ke atas tempat tidur yang membuat Karina salah tingkah. Setelah itu Tristan membereskan kekacauan yang dibuat Karina dan mengembalikan kotak obat ke tempat semula. Dia kembali lagi ke kamar Karina dan melihat perempuan itu sudah kembali duduk di atas ranjangnya, tampak berusaha berdiri.
“Apa yang kamu butuhkan?” tanya Tristan, dia mendekat ke arah ranjang.
Karina melirik pada Tristan lalu kembali menunduk. “Saya ingin ke kamar mandi,” ucapnya pelan. Dia sangat malu karena meminta bantuan ini, sayangnya rasa kebelet sudah tidak bisa lagi ditahan.
Tristan akhirnya menggendong Karina lagi. Dalam kurun waktu 15 menit ini, keduanya sudah melakukan skinship yang sangat dekat, padahal sebelumnya mereka seperti ayam aduan. Berdebat dan beberapa kali saling melempar kalimat mengandung emosi.
Di depan kamar mandi, Tristan menunggui Karina. 5 menit kemudian dia sudah mengangkat tubuh Karina dengan kedua tangannya.
“Saya butuh bantuan lagi,” cetus Karina, menahan langkah kaki Tristan yang hendak keluar dari kamar.
“Apa?” sahut Tristan.
“Tolong ambilkan pembersih make up saya,” pinta Karina.
Tristan mau tidak mau menuruti apa yang Karina pinta. Dia mendekat ke arah meja rias dan menemukan begitu banyak botol yang tidak dia mengerti kegunaanya. Ini seperti jelmaan salah satu stand make up di mall yang pernah Tristan lihat, karena saking banyaknya benda yang terpajang di sana.
“Yang ini?” Tristan menunjukkan satu botol berwarna biru yang dia kira gunanya untuk membersihkan.
Namun Karina menggelengkan kepalanya. “Bukan, itu moisturizer. Yang ada tulisannya cleaning....”
Tristan pun mencari lagi. Tapi dia tidak menemukan apa yang Karina minta padahal sudah semua botol dia tunjukkan pada perempuan itu. Alhasil karena kesal, Tristan memutuskan menggendong tubuh Karina untuk mencari dan mengambil sendiri barang yang dia butuhkan.
“Ambil yang kamu cari,” katanya dengan masih menahan kesal.
Karina menggigit bibirnya karena merasa bersalah pada Tristan, dia sudah banyak merepotkan pria ini dalam satu jam saja. Dan dari pada membuat Tristan semakin kesal padanya, Karina mengambil pembersih make up beserta produk skincare untuk malam hari sekalian. Tapi salah satu botolnya terjatuh sehingga Tristan harus berjongkok dengan Karina yang masih dalam gendongannya.
Keduanya merasa salah tingkah saat posisi mereka menjadi semakin menempel. Tristan sendiri harus menahan gairahnya yang tiba-tiba bangkit karena merasakan d**a Karina menempel pada dadanya. Sedangkan Karina juga salah tingkah karena dirinya hampir saja mencium rahang Tristan. Untung saja dia cepat-cepat menengok ke arah lain tapi malah sejajar dengan leher pria ini, sehingga parfum Tristan bisa sangat jelas dia hirup aromanya.
///
Karena kejadian tadi, interaksi antara Tristan dan Karina bukan diliputi oleh emosi lagi, melainkan kecanggungan. Mereka sama-sama bergerak kikuk di ruang tengah saat menikmati makan malam.
“Saya hanya bisa sampai rabu di sini. Jadi jika kamu masih butuh bantuan, harus menyewa perawat,” ujar Tristan di sela makan malam mereka.
Karina menoleh pada Tristan yang ada di sebelahnya, sama-sama duduk di karpet warna putih di apartemennya ini. “Hm. Tapi kalau kamu ingin kembali besok juga tidak masalah. Saya bisa menangani ini,” timpalnya.
Tristan menoleh juga pada Karina, dia menghela napas lagi karena perempuan ini lagi-lagi ingin menunjukkan kalau dia bisa segalanya. “Saya di sini bukan khusus untuk jadi perawatmu. Tapi karena saya harus menuntaskan masalah pacarmu itu, mengerti?”
Karina yang tadi sudah melunak pada Tristan kembali menatap pria itu dengan kesal. “Dia mantan pacar saya.”
“Oh, bagus kalau begitu. Ternyata kamu sadar untuk tidak melanjutkan hubungan dengannya,” ujarTristan.
Kini Karina yang menghela napas. Dia harus menahan emosi demi semua kebaikan Tristan hari ini. “Hm. Saya sadar saya memang bodoh karena terlalu percaya padanya. Tapi apa kamu harus terus mengungkitnya?” tanya Karina dengan heran.
“Saya hanya ingin kamu mengerti, bahwa lebih baik tidak bergantung pada orang lain jika kamu memang memutuskan menjadi seorang yang mandiri. Karena hanya ada kekecewaan dari setiap kepercayaan yang kamu berikan pada seseorang,” ujar Tristan yang kembali membungkam Karina.
Keterdiaman Karina membuat Tristan sedikit merasa bersalah. Dia rasa sudah sedikit keterlaluan pada Karina yang notabennya perempuan. Tapi dia rasa Karina tidak akan mempermasalahkan soal gender seperti ini. Jadi kata-kata yang lugas dan tegas pasti bisa lebih cepat menyadarkannya.
“Cepat habiskan makanmu sehingga bisa beristirahat,” sambungnya.
Karina sendiri masih termenung akan kalimat Tristan yang memang benar adanya. Konsep kemandirian yang dia junjung belum kuat, atau setidaknya masih butuh banyak belajar memahami dunia yang keras ini.
Lagi-lagi air matanya turun. di lututnya, Karina menyembunyikan wajahnya agar Tristan tidak melihatnya. Tapi isakan tangis Karina terdengar jelas oleh Tristan yang kemudian memilih menyingkir dari ruang tengah. Membiarkan Karina meluapkan perasaannya dengan menangis.
.
.
///
.
.