Tristan masih berada di apartemen Karina pukul 10 malam. Dia terpaksa mengerjakan pekerjaannya dari jauh dan di waktu selarut ini. Lehernya sudah terasa kaku juga matanya terasa lelah karena sejak tadi hanya bisa menatap berkas lewat layar monitor. Dia juga tidak bisa segera pulang ke tempatnya sendiri karena mungkin Karina akan membutuhkan bantuan darinya.
Benar saja, dalam suasana hening malam ini, Tristan mendengar Karina menangis lagi. Hal itu membuat Tristan sedikit terusik dan akhirnya teralih dari pekerjaannya. Punggungnya dia senderkan pada sandaran sofa setelah satu jam terus merasa tegang. Dari sini dia bisa dengan jelas mendengar suara Karina meski pintu kamar perempuan itu tertutup.
Setelah berpikir sejenak, Tristan memutuskan untuk bangkit dari duduknya menuju dapur. Dia membuatkan teh lemon tanpa gula. Dia membawa mug berisi minuman yang dibuatnya tadi ke dalam kamar Karina. Perempuan itu masih menangis di atas ranjang sampai tidak mendengar suara pintu kamarnya yang terbuka juga langkah kaki Tristan.
“Minumlah ini.”
Karina yang tengah menangis langsung menghentikannya karena mendengar suara Tristan di dekatnya. Dia bisa melihat pria itu mengulurkan tangannya yang tengah memegang sebuah mug berwarna hijau dengan gambar icon smile warna kuning. Karina sungguh tidak mengerti kenapa Tristan bisa memiliki ide untuk membawakannya teh padahal dia sedang menangis.
“Terima kasih.” Namun Karina memutuskan untuk tidak menyakan apa yang bercokol di pikirannya saat ini.
Dua teguk teh sudah masuk melewati kerongkongan Karina. Dia melirik dari posisinya dan mendapati Tristan masih berdiri di dekat ranjang dan menatap ke arahnya.Tristan sepertinya betah sekali menunggu sampai-sampai rela belum berganti pakaian sejak tadi, padahal tempat tinggal mereka bersebelahan.
“Apa kamu akan menginap di sini?” tanya Karina. Sedikit menyesal karena pertanyaan itu terlontar dari bibirnya. Karena bisa saja Tristan memaknainya lain.
“Tentu saja tidak. Untuk apa saya tidur di sofa kalau bisa pulang dan tidur di ranjang,” jawab Tristan dengan lugas.
Menjawab pertanyaan Karina dengan sangat jelas, sampai-sampai perempuan ini merasa sedikit tertampar oleh pengolahan verbal seorang Tristan.
“Ck!” decak Karina. Dia ‘kan cuma ingin mencairkan suasana dengan menanyakan pertanyaan basa-basi.
Suasana kembali hening karena keduanya tidak berbicara. Tristan sendiri masih berada di kamar Karina untuk memperhatikan jendela kamar untuk memastikan kuncinya masih berfungsi dengan baik. Setelah itu dia berbalik ke arah Karina saat wanita itu bersuara.
“Menurutmu... apa lebih baik jika seseorang menyerah pada mimpinya karena tahu akan timbul masalah... Atau seharusnya tetap berjuang meski akan ada banyak masalah yang menghadangnya nanti?” tanya Karina, dia bermaksud meminta pendapat dari Tristan.
Diajak bicara soal mimpi membuat Tristan terdiam. Dia dibuat untuk mengingat lagi akan mimpinya yang sempat kandas namun berhasil dia bangkitkan kembali saat bertemu dengan Kendrick Briyan Sutoyo, kakek Karina.
Dengan menggeret kursi yang ada di kamar Karina, artinya Tristan ingin menanggapi serius pertanyaan perempuan ini. Dia menatap Karina lurus tanpa menyadari Karina sedikit gugup karena apa yang Tristan lakukan.
“Saya tidak tahu persis untuk jawaban itu. Rasanya setiap orang punya alasan yang kuat untuk memilih salah satunya dan itu sebuah kebebasan. Tidak ada yang boleh menghakiminya walau itu sebuah keputusan yang salah...Tapi jika kamu menanyakan pendapat saya, maka lebih baik tetap berjuang meski akan ada banyak tantangan yang menghadang nanti. Sebab jika memilih menyerah, hanya akan menambah masalah baru yang kadang juga belum kita ketahui solusinya,” tutur Tristan, memberikan pendapatnya atas pertanyaan Karina.
Karina menegakkan tubuhnya di atas ranjang setelah mendengar penuturan Tristan. Dia merasa sedikit tercerahkan akan masalahnya, namun dia masih belum bisa memutuskan.
“Tapi bagaimana jika perjuangan kita hanya menjadi sia-sia setelah berbagai masalah hadir... dan akhirnya kita akan menyerah juga?” tanya Karina lagi.
Tristan menyilangkan kakinya, posisi duduknya kini seperti seorang dokter yang tengah memberikan arahan pada pasiennya.
“Kamu percaya tentang anggapan kalau usaha tidak akan mengkhianati hasil?” tanya Tristan pada Karina.
Karina segera mengangguk karena memang dia meyakini anggapan yang Tristan sebutkan. “Iya, memangnya kenapa?”
“Kalau kamu percaya, lalu kenapa harus bertanya tentang sia-sia setelah berjuang keras?” Tristan bertanya lagi, kali ini membuat Karina kembali sukses untuk terdiam.
“Maksud saya... bisa saja ‘kan kita merasa lelah karena usaha tetap tidak membuahkan hasil jika masalah terus datang,” ujar Karina. Dia jadi sedikit gugup untuk bertanya pada Tristan.
“Kalau lelah maka pilihannya dua, menyerah atau beristirahat untuk nanti kembali berjuang lagi,” timpal Tristan. Dia buat kalimatnya menjadi tegas, karena Karina tampak berada dalam posisi meragukan banyak hal dalam pemikirannya.
“Bagaimana mungkin kamu bisa menyarankan seseorang untuk menyerah?” tanya Karina heran.
Tristan langsung mendengus. Karina sepertinya ingin mengajaknya berdebat lagi. “Memangnya kenapa? Seseorang menyerah bukan berarti tidak melakukan apapun lagi. Bisa saja mereka menyerah pada satu mimpi untuk membangun mimpi yang lain,” jawab Tristan.
Seperti mendapat lampu yang terang di kepalanya, Karina mengangguk-anggukkan kepalanya paham. Tapi dia mendadak ingin tahu latar belakang Tristan yang kemudian bisa dipercayai kakeknya untuk menggantikannya dari padda anak-anaknya sendiri.
“Dari semua pendapatmu, kamu terdengar seperti sudah mengalami semuanya,” cetus Karina saat mereka kembali terdiam.
Tristan mendongakkan kepalanya menatap Karina, lalu memiringkan kepalanya sembari berpikir bagaimana menanggapi kalimat perempuan ini. “Kamu penasaran?” tanya Tristan kemudian.
Karina terkesiap ditanyai begitu oleh Tristan. Dia sampai berpikir kalau pria di hadapannya ini bisa membaca pikiran orang lain. “Ya... sedikit. Lagi pula aku belum tahu latar belakangmu. Padahal kamu mengajak saya menikah,” jawab Karina dengan menunjukkan gengsinya yang membuat Tristan tertawa.
“Latar belakang, ya... benar juga, hal itu memang dibutuhkan sebagai pertimbangan untuk menikahi seseorang. Tapi bukankah kamu sudah tahu kalau latar belakang saya adalah seorang CEO dari perusahaan bernama Youngs Tech?” ujar Tristan.
Wajah Karina langsung cemberut. Dia hampir saja melemparkan bantal pada Tristan yang kata-katanya walau sopan tapi sangat pedas terdengar di telinganya. “Kamu tahu bukan itu yang saya maksud.”
Lagi-lagi Tristan tertawa setelah melihat wajah Karina yang menahan marah padanya. “Saya tumbuh di panti asuhan. Seorang yang menyukai bidang AI dan memepelajarinya di Korea Selatan. Suatu hari saya mendapatkan tawaran dari seseorang yang mengatakan ingin bekerja sama dengan saya dan berinvestasi pada penelitian AI yang sedang saya lakukan.
“Tapi semua itu hanya tipuan. Orang itu hanya ingin menipu saya, mengambil uang saya dan menggunakan identitas saya untuk berhutan hingga setengah miliar besarnya. Saya pun terlilit hutang dengan bunga yang banyak. Singkat ceritanya saya putus asa, memilih menyerah dan memutuskan untuk bunuh diri karena hutang sebanyak itu tidak bisa saya bayar sampai mati sekalipun.
“Saya sudah membeli silet dan rencana bunuh diri saya tampak lancar, sampai kemudian saya harus menggagalkannya karena harus menyelamatkan Kakek Briyan yang sedang tenggelam di kolam villa tempat saya bekerja sebagai cleaning service. Bantuan yang saya lakukan dan tidak seberapa itu, dibalas oleh Kakekmu dengan banyak hal. Hutang yang terlunasi dan jabatan yang mapan.
“Selain itu adalah mendapat kepercayaannya. Suatu hal yang tidak pernah saya pikirkan sama sekali, karena selama saya bekerja untuknya, hanyalah terpikirkan untuk membalas budi dan hidup dengan baik,” kata Tristan, dia menceritakan secara singkat latar belakangnya sebelum menjadi seorang CEO kini.
Selama Tristan bercerita, Karina mendengarkannya dengan saksama. Dia akhirnya tahu kalau pria tengah bersamanya ini bukanlah seseorang yang memiliki sifat seperti keluarga Kakeknya yang lain. Tristan berbeda dengan latar belakangnya yang menakjubkan menurut Karina.
“Apa kamu pernah berpikir untuk tidak menerima 70 persen kekayaan Kakek saya?” tanya Karina. Dia tampak begitu tertarik setelah mendengar cerita pria ini.
“Penah. Bahkan sampai saat ini saya masih sering memikirkan hal itu. Karena saya lebih suka bekerja di laboratorium dengan dikelilingi komputer dan robot. Karena setidaknya mereka tidak pernah berbohong, tidak seperti manusia,” jawab Tristan.
///
Hari akhirnya berganti dengan Karina yang sudah membatalkan pekerjannya sampai waktu yang belum ditentukan. Semua itu dia putuskan setelah berdiskusi semalaman dengan Tristan. Pria yang mulanya dia benci kehadirannya, karena datang tiba-tiba mengajaknya menikah untuk mengamankan posisinya di perusahaan kakeknya. Tapi kini anggapannya telah berubah pada sosok Tristan, karena pria ini berbeda dan punya alasan kuat untuk menawarkan kontrak pernikahan padanya.
Soal menyerah atau berjuang pada mimpinya, Karina memilih untuk beristirahat. Kakinya yang terluka jelas tidak akan mengizinkannya berjalan di run away atau beraktivitas normal. Mungkin bisa, tapi dia nantinya hanya akan membuat orang lain kerepotan. Contohnya saja Tristan yang sudah menggendong tubuhnya berulang kali.
“Terima kasih,” ucap Karina pada Tristan yang sudah memberskan semua jadwal Karina sebagai model.
Dan untuk pertama kalinya Karina menggunakan uang Kakeknya untuk membayar penalti pada salah satu rumah mode. Karena harusnya Karina bulan ini menjalani pemotretan produknya dan sudah menandatangani kontrak. Namun karena Karina memutuskan untuk beristirahat, maka harus dibatalkan dengan memberikan sejumlah uang yaitu, empat puluh ribu Euro atau sekitar 500 juta rupiah.
Jelas jumlah uang yang tidak bisa Karina miliki dalam sekejap. Dia memang telah hidup mandiri, jadi keuangannya tidak sebaik yang orang lain kira sebagai cucu seorang Briyan Sutoyo.
“Hm. Sekarang kamu akan ke kamar atau ke ruangan lain?” tanya Tristan.
Karina memang masih berada di gendongan Tristan, karena mereka tadi baru saja keluar untuk menyelesaikan masalah William yang akhirnya dituntut oleh Karina. Setelah itu pengacara yang ditunjuk Tristan yang akan menyelesaikan sisanya.
“Saya ingin melihat televisi,” jawab Karina.
Lagi, Karina harus tersipu setiap Tristan menurunkannya dari gendongan. Karena posisi mereka menjadi sangat dekat dan mau tidak mau skinship mereka menjadi lebih luas. Karina juga akhirnya hapal bagaimana bentuk d**a dan bahu Tristan yang bidang serta lengannya yang kekar.
Cepat-cepat Karina menggelengkan kepalanya membuang pikiran tadi dari otaknya. Kini dia telah sibuk dengan ponselnya untuk menghapus foto dan apa saja yang berhubungan dengan William. Dia tentu tidak akan sudi menyimpan kenangan soal pria itu di otaknya. Mengerikan sekali dia ternyata selama ini berpacaran dengan pria maniak.
///
Karina memperhatikan pergerakan Tristan yang sedang menata belanjaan ke dalam lemari pendinginnya. Untuk ukuran pria yang hidup sendirian, Tristan adalah tipe pria yang gesit dan rapih. Dapur Karina yang selama ini bahkan jarang Karina singggahi karena sibuk dengan jadwalnya, seolah telah beralih kepemilikan menjadi milik Tristan. Sebab pria itu seolah tahu dan hapal letak barang-barang yang Karina tempatkan.
Lagi-lagi dia merasa Tristan seperti objek yang menarik. Lucunya lagi Tristan melakukan semua itu dengan masih menggunakan kemeja diru muda bergaris dan celana hitam. Karena ada meeting yang harus Tristan hadiri meski secara online, maka dia berdandan rapi. Tapi setelah melihat isi kulkas Karina yang hampir kosong, maka dia berinisiatif untuk berbelanja sekaligus menatanya.
Sambil memakan buah segar yang Tristan sajikan untuknya, Karina kembali menimbang keputusannya untuk berhenti dari dunia modelling. Dia tahu menjadi model adalah impiannya sejak lama, dia berjuang mati-matian untuk mimpinya ini. Namun keadaan telah berbeda, rasa takut akan foto tubuh telanjangnya bisa saja terkuak, membuat Karina pesimis.
Dia rasanya ingin berlari, bersembunyi dan lebih baik menuntup semua akses dunia akan dirinya. Dia takut itu akan mencoreng nama baik Ibu dan Ayahnya atau Kakeknya. Ketakutan itu yang membuat Karina merasakan dadanya seperti terhimpit oleh sesuatu, rasanya sesak. Tapi melepaskan dan merelakan mimpinya, juga membuat Karina seperti baru saja kehilangan dua kakinya. Berbagai pemikiran negatif menyerbunya saat malam dan membuatnya bermimpi buruk.
“Besok siang saya harus kembali ke Indonesia. Jadi saya harus mendapatkan keputusanmu, apa kamu ingin menyewa perawat atau tidak?” tanya Tristan yang kini duduk di hadapan Karina di meja bar.
Kunyahan Karina terhenti, dia baru ingat kalau Tristan akan pulang besok, hari Rabu. Ada sedikit kekhawatiran timbul di hati Karina setelah mengingat hal ini.
“Saya... saya ingin sendirian saja,” jawab Karina ragu-ragu.
“Kamu yakin?” tanya Tristan lagi. Dia juga ragu kalau karina bisa beraktivitas sendirian.
Namun Karina dan gengsinya menolak untuk merasa ragu. Maka dia meralat jawabanya dengan kalimat yang lebih tegas. “Tentu aku yakin. Apa kamu meragukan saya?”
Mata Tristan menatap Karina seperti sedang menilai dan itu membuat orang yang ditatapnya merasa risih.
“Lihat, kamu sedang meragukan saya, kan?” tanya Karina dengan kesal.
Dan Tristan seperti biasa akan lebih menyulut emosi Karina. “Iya,” jawabnya. Tidak memedulikan Karina yang hampir menyiramnya dengan segelas air.
“Saya ragu kamu bisa berjalan normal, mungkin kamu harus merangkak sementara waktu,” tambahnya yang makin membuat Karina meradang.
“HEY!!” pekik Karina. Kini tangannya sudah mulai menggebrak meja bar yang berbahan marmer berwarna hitam. “Kamu benar-benar ingin membuat saya marah, ya?”
“Itu kenyataan,” timpal Tristan, dia dengan cepat berhasil menghindari tangan Karina yang mungkin ingin mencubit tangannya yang tadi ada di atas meja.
Dengusan kasar terdengar dari Karina. Dia juga saat ini menatap Tristan dengan tatapan memincing. Sifat Tristan yang berubah-ubah membuatnya ingin sekali mencekik pria itu jika boleh. Tapi sayangnya Tristan sudah banyak membantunya, jadi dia punya banyak hutang budi pada pria ini.
“Vaffanculo,” kata Karina dengan wajah tersenyum.
“Kamu pikir saya tidak tahu kalau kamu baru saya memaki saya?” ujar Tristan yang membuat Karina melongo.
Karina memang tidak tahu kalau Tristan bisa cukup mengerti bahasa Italia, jadi tadi dia baru saja memaki Tristan dengan bahasa negara ini. Vaffanculo yang artinya fu*k you.
///
Sejak bangun dari tidurnya di hari Rabu waktu Italia, Tristan sudah sibuk untuk mengepak pakaian dan membereskan apartemen yang dia gunakan. Sebisa mungkin tidak ada yang tertinggal sehingga tidak perlu repot untuk mengurusnya nanti. Setelah itu dia kembali masuk ke apartemen Karina untuk membuat sarapan.
Seperti kemarin, dia mendapati kalau karina belum bangun di pukul 8 pagi. Hal yang cukup aneh bagi Tristan yang sudah terbiasa bangun saat jarum jam berada di angkat 6. Sarapan mudah dia buat karena dia harus pergi ke suatu tempat setelah ini.
“Berapa harganya?” tanya Tristan pada seorang pramuniaga di sebuah store.
Setelah Tristan cocok dengah harga yang disebutkan oleh si pramuniaga, dia langsung menuju kasir untuk membayarnya. Dengan cepat dia telah kembali masuk ke mobil untuk menuju gedung apartemen tempatnya dan Karina tinggal.
Saat Tristan membuka pintu apartemen Karina, dia bisa melihat kalau dengan tumit kakinya, Karina berjalan keluar dari kamarnya. Sungguh pemandangan yang patut dikasihani. Maka Tristan segera mendekati Karina dan menggendong tubuh langsing perempuan ini. Di sofa ruang tengah dia menurunkan Karina.
“Pakai ini.” Tristan mengulurkan sebuah papar bag pada Karina.
“Apa ini?” tanya Karina penasaran. Dia berpikir apakah Tristan memberinya sebuah hadiah perpisahan?
“Buka saja,” kata Tristan.
Karina menurut, dia membuka paper bag itu dan menemukan sepasang sandal rumah yang sangat lembut dan tebal bahan bantalannya pada telapak kaki. “Ini untuk saya?” tanyanya.
“Kamu pikir untuk saya?” balas Tristan.
Karina harus meredam emosinya karena Tristan lagi-lagi hendak mengajaknya ribut. Padahal tinggal jawab “iya”.
Sepasang sandal pemberian Tristan kemudian Karina letakkan di lantai, lantas dia pakaikan pada kedua kakinya. Di hadapannya, Tristan membantu Karina untuk mencoba berdiri.
“Wah... berhasil! Ini tidak terlalu sakit!” seru Karina senang. Dia tanpa sadar menggenggam tangan Tristan lebih erat.
Tristan juga ikut tersenyum merasa berhasil membantu Karina. Untung saja dia sempat terpikirkan mencari sandal dengan bentuk seperti ini. Setidaknya kekhawatirannya meninggalkan Karina sendirian dengan luka yang belum sembuh, kini sudah teratasi. Dia bisa pulang ke Indonesia dengan tenang.
“Kalau begitu aku akan ke bandara sekarang,” cetus Tristan. Dia melepaskan tangannya dari Karina, hal itu menyadarkan perempuan ini kalau mereka sempat bergandengan tangan.
“Oh, benar... kalau begitu hati-hati,” ujar Karina. Dia ingin mengatakan terima kasih tapi tidak tahu bagaimana mengawalinya. Rasanya canggung sekali.
“Hm.”
Setelah deheman itu, Tristan keluar dari apartemen Karina. Meninggalkan cucu Briyan yang bimbang untuk mengatakan sesuatu yang sudah dia pikirkan semalaman.
Tristan mengecek kembali barang bawaannya di dalam tas. Yang terpenting adalah identitas pribadinya yang harus selalu ada di tangannya. Setelah semua dia cek, dengan membawa kopernya, Tristan keluar dari tempat tinggalnya dan dibuat terkejut oleh Karina yang sedang berdiri di lorong tepat di depan pintu apartemen tempat Tristan tinggal.
“Ada apa? Butuh bantuan?” tanya Tristan melihat Karina sangat kebingungan.
“Itu....” Karina menggigit bibirnya karena merasa gugup. Tapi dia memang harus mengatakan terima kasih pada Tristan atau dia akan menyesal. “Terima kasih, Tristan. Kamu sudah membantu saya. Maaf juga karena sudah merepotkanmu,” kata Karina, akhirnya.
Tristan menganggukkan kepalanya dengan santai. “Ya. Sama-sama. Hubungi nomor yang tertera di kartu yang aku berikan padamu jika butuh bantuan,” balas Tristan.
Karena merasa tidak ada yang perlu untuk dibicarakan lagi, Tristan pun kemudian membalikkan tubuhnya untuk meneruskan perjalanan menuju bandara. Tapi dia harus menghentikan ayunan kakinya saat suara Karina terdengar memanggil namanya.
“Tristan!” panggil Karina. Jarak merkea kini terpaut 10 meter jauhnya.
“Hm?” sahut Tristan, dia tidak menghampiri karina dan tetap berada pada posisinya.
“Satu minggu,” ucap Karina. Tapi Tristan tidak mengerti maksudnya. “Beri saya waktu satu minggu untuk memikirkan penawaranmu dengan pikiran yang lebih jernih,” tambahnya yang akhirnya bisa Tristan mengerti.
Senyum Tristan mengembang setelah mendengar apa yang Karina katakan. Karina juga tersenyum karena berhasil mengatakan apa yang sudah dia putuskan semalam. Keduanya kemudian berpisah dengan sebuah lambaian tangan seolah melepas teman yang akan pergi. Karena tanpa sadar ikatan mereka menjadi lebih dekat kini oleh pembicaraan tentang mimpi.