9. Memilih Pulang

2282 Words
Untuk pertama kalinya bagi Karina, langkah kakinya terasa ringan. Padahal dia baru saja melepaskan mimpinya, merelakan apa yang sudah dia perjuangkan selama ini. Dia sendiri merasa heran akan hatinya yang juga ikut lega. Lalu lalang orang-orang membuat senyum Karina lebih mengembang lagi. Kaca mata hitamnya dia naikkan sehingga dia bisa lebih jelas melihat apa yang tersaji di hadapannya. Selain itu, dia ingin merangkum semua aktivitas di Milan Malpensa Airport secara nyata tanpa terhalang apapun. Dengan terusan warna putih, Karina tampak sangat cerah seperti langit kota Ferno tempat bandara ini berada. Namun dia juga merasa sedikit gugup, sebab dia tidak tahu apa yang akan menantang dirinya nanti. Keputusan yang dia buat kali ini jelas akan membuatnya sakit kepala berkepanjangan, tapi setelah semua pertimbangan, Karina memilih menerima tawaran Tristan. Benar, dia akan kembali ke Indonesia. “Silahkan winenya, Nona,” ucap seorang Pramugari setelah meletakkan segelas wine di meja Karina. “Terima kasih,” balas Karina. Kurang dari 17 jam, dia akan menginjakkan kakinya lagi di tempat kelahirannya setelah sekian lama. Kampung halaman yang sempat dia yakini bahwa dia tidak akan kembali kemari karena tidak ingin berurusan dengan harta kakeknya. Namun sekarang dia berada dalam perjalanan untuk mematahkan keyakinannya sendiri. Berkat cairan wine, Karina merasa lebih tenang kini untuk duduk di kursinya. Namun pikirannya berkelana alih-alih beristirahat karena perjalanannya masih panjang. Bayangan akan seperti apa ekspresi keluarga besarnya, membuat Karina merasa takut. Dia bukan merasa takut untuk terintimidasi oleh mereka, namun lebih kepada rasa tidak ingin bersentuhan dengan keluarga besarnya yang Karina rasakan. “Mereka nggak akan membiarkanku hidup tenang setelah ini,” gumam Karina lalu menoleh ke arah jendela yang menampilkan awan bersih. Mulanya Karina tidak mau menyetujui tawaran Tristan. Satu minggu dia berpikir, rasanya sangat berat melepaskan mimpinya sebagai model yang telah dia rintis tanpa bantuan kekayaan keluarganya.  Dia mencurahkan keringat dan air mata juga darah untuk melalui banyak rintangan itu. Kepalaran karena diet berkepanjangan, mengalami rasis karena berwajah Asia meski dia berdarah campuran, bahkan pernah mencoba ingin mengoperasi dadanya yang memang tampak “besar” dibanding model lain. Untung saja untuk operasi itu Karina masih waras. Dia tidak mau menyesali dadanya akan menjadi rusak nanti. Dan dia percaya kalau nantinya akan ada desainer yang menyukainya tanpa harus memiliki fisik yang sama dengan model lain. Masih jelas diingatan Karina bagaimana dia menjadi korban buli ketika sekolah modelling. Semua itu dia lewati dengan kesabaran dan berbuah hasil ketika dia bisa membuktikan pada teman-temannya dengan prestasi. Dia direkrut sebuah agency model terkenal di Milan. Agency ini juga yang sempat menahan kepergian Karina. Mereka menganggap akan sangat disayangkan kalau Karina sampai melepaskan karirnya. Padahal kini Karina mulai diakui dan mendapatkan sorotan juga meski belum sebanyak yang lain. Tapi jika dilihat dari model diangkatannya, Karina yang paling menjanjikan untuk bersinar nantinya. “Apa kamu benar-benar akan berhenti?” tanya Piero, seorang dari pihak agency yang dulu merekrutnya. Dia tampak sangat terkejut saat Karina datang menemuinya setelah libur, tapi ternyata untuk mengundurkan diri. “Kamu tidak akan menyesal, Dear? Kamu sudah berusaha keras menuju tempat ini... apa itu akan sepadan jika kamu melepaskannya?” tanya Piero lagi sambil menggenggam erat tangan Karina. Karina tersanjung juga terharu karena kepergiannya ditahan oleh agencynya. Karena dia sempat merasa tidak percaya diri jika memikirkan kalau karirnya sebagai model memang belum diakui. Jadi jika pun dia berhenti tidak akan membuat orang lain pusing. “Aku minta maaf, Pi... tapi ini benar-benar keputusanku setelah cukup lama berpikir,” jawab Karina dengan perasaan bersalah. Piero menghela napasnya. Dia menepuk punggung tangan salah satu model yang dia anggap seperti putrinya. “Apa ada masalah yang serius sampai kamu harus berhenti, Dear? Karena aku benar-benar berharap kalau hal ini tidak terjadi.” Karina menyunggingkan senyumnya untuk menenangkan Piero. “Tidak terjadi apapun, Pi. Hanya saja... rasanya aku rindu ayahku. Aku ingin dekat dengannya yang semakin menua,” ujar Karina. Memang selain karena tawaran dari Tristan, Karina juga mempertimbangkan soal ayahnya. Satu-satunya seorang yang Karina anggap sebagai keluarga setelah kakeknya meninggal dunia. Karina akan merasa sangat bersalah tiap harus membiarkan ayahnya yang berkunjung ke Italia, bukan dirinya yang pulang ke Indonesia. Padahal waktu secara perlahan pasti membuat kesehatan ayahnya menjadi tergerus, juga lelah untuk melewati penerbangan yang panjang. Namun kepulangannya ini belum Karina kabarkan pada Tristan. Dia ingin beristirahat begitu berada di Jakarta, sekaligus menata pikirannya supaya siap menghadapi dirinya yang bukan seorang model lagi, melainkan calon istri dari pria bernama Dafa Tristan Kastara. Pria yang menjadi CEO setelah mendapatkan kekayaan kakeknya sebanyak 70 persen.   ///   “Jangan ngopi terus, Bang. Nggak tidur lo nanti,” tegus Anwar pada Tristan. Mereka kini berada di pusat pengembangan AI yang dulu diketuai oleh Tristan. Keduanya bersama Irza, orang yang menggantikan posisi Tristan, kini tengah berdiskusi mengenai ponsel yang akan diluncurkan waktu dekat ini. “Bang Tristan mana mempan sama kopi. Dia bakal tetep tidur kalau capek, War,” timpal Irza. “Jangan panggil gue ‘War’! Gue bukan spesies hewan malam itu!” cibir Anwar sambil menatap Irza penuh permusuhan. “Yaelah baper amat anak orang dah,” balas Irza. Perdebatan antara Anwar dan Irza berhenti ketika Tristan mendadak bangkit berdiri. Teman sekaligus bos mereka itu terlihat sangat serius juga resah. “Kenapa?” tanya Irza pada Tristan. Dengan kedua tangannya, Tristan mengusap wajahnya dengan kasar. Hal itu membuat Anwar ingin sekali menegur Tristan soal kebersihan wajah yang harus dijaga. Dia gemas sekali akan perlilaku bosnya ini. “Karina,” ucap Tristan lalu menatap dua temannya. “Dia belum juga ngehubungi gue. Ini udah hampir 10 hari dan kelakuan anak-anak Kakek makin bikin gue pusing,” ujarnya. Anwar dan Irza saling berpandangan lalu kembali fokus pada Tristan. Mereka juga bingung harus bagaimana saat ini. Satu-satunya cara menyelamatkan perusahaan jelas dengan Karina menyetujui tawaran menjadi istri Tristan. Tidak ada jalan lain yang lebih baik dari ini. “Lo coba hubungin dia deh, Bang. Kali aja dia lagi kebingungan. Lo kan jago bikin otak orang jari cerah dan bisa balik mikir lagi,” tutur Anwar. Tristan tidak segan menendang kaki Anwar karena sudah menggodanya. “Aduh... sakit, Bang!” rintih Anwar. Irza segera menggeret Anwar untuk keluar dari ruangannya. Membiarkan Tristan merenung di tempat ini sendirian. Kebiasaan Tristan saat dia merasa banyak pikiran dan belum tahu cara yang tepat untuk memecahkan masalahnya. Tristan menunggu Karina untuk berpikir selama satu minggu. Tapi setelah waktu berlalu dari 7 hari yang perempuan itu katakan, nyatanya Karina belum menghubunginya. Pesan dan e-mailnya tidak dibalas serta teleponnya juga tidak pernah diangkat. Di hari ke 8, sebuah video yang memuat wajah Briyan Sutoyo dikirimkan oleh Tristan melalui e-mail pada Karina. Tujuan Tristan mengirim video itu untuk membujuk Karina sekali lagi. Karena dalam video itu Briyan mengatakan sendiri pada Tristan bahwa dia diminta untuk menjaga Karina.  Selain itu, Tristan juga ingin menunjukkan pada cucu kesayangan Briyan ini bahwa tidak ada maksud terselubung dibalik penawaran pernikahan yang dia ajukan. Namun semua itu belum juga mendapatkan respon dari Karina. Terakhir kali dia menghubungi Karina adalah tadi sore, tapi ponsel Karina justru dalam kondisi mati dan tidak bisa dihubungi. Makanya Tristan menjadi semakin resah. “Apa dia menolak dan sedang berusaha kabur?” pikir Tristan.   ///   Pukul setengah 3 sore akhirnya Karina sampai di Jakarta. Udara yang lembab langsung menyerbunya dan membuat dia sedikit terkejut. Padahal dia juga pernah tinggal di negara ini, tapi setiap kembali rasanya tetap saja asing. Karena menurutnya tidak banyak hal yang menjadi kenangannya di kampung halamannya sendiri. Menggunakan tranportasi umum berupa taksi, Karina menuju sebuah hotel yang letaknya tak jauh dari rumah utama tempat mendiang kakeknya dulu. Sebenarnya dia bisa saja langsung ke sana, tapi dia tidak ingin kepulangannya segera diketahui oleh keluarga besarnya juga. Sehingga hotel tampaknya menjadi pilihan paling tepat menurutnya. Begitu menghidupkan ponselnya, Karina melihat ada panggilan tak terjawab dari Tristan. Pria itu menghubunginya saat sudah berada di dalam pesawat dan saat transit pun Karina tidak memedulikan ponselnya. Jadi dia tidak tahu kalau pria itu meneleponnya. “Biar aku urus soal dia nanti. Sekarang aku harus mandi lalu tidur,” gumamnya lalu mengambil peralatan mandinnya dari dalam koper.   ///   Pukul 7 malam Karina terbangun karena merasa lapar. Sejak memutuskan berhenti menjadi model dan menghentikan diet ketatnya, Karina menjadi mudah sekali lapar kalau sudah waktunya makan. Sambil mencari udara segar, Karina turun menuju restoran hotel. Dengan terusan warna hijau yang santai dan bandana berbentuk pita dengan warna senada, Karina tetap bisa membius beberapa pasang mata. Dia memilih duduk di dekat jendela untuk memberinya privasi karena dia sendirian. Setelah memilih menu dengan tidak mempertimbangkan kandungan kalorinya, Karina bermain dengan ponselnya. Jarinya menggulir layar laman i********: yang kebanyakan tentu membahas soal modeling postingannya. Hal yang kemudian membuat Karina rindu. Matanya memanas dan hampir menangis karena teringat soal dia yang juga pernah menjalani profesi ini. Namun memikirkan makan malam tanpa memperhatikan kalori yang dia masukkan ke dalam tubuh, ternyata bisa membuatnya merasa bahagia. Hal sederhana itu terbukti bisa menciptakan senyum di wajah Karina meski hatinya masih merasa sedih. “Karina?” Fokus Karina terusik saat sedang membaca berita di sebuah majalah Fashion karena seseorang memanggil namanya. Dia segera mendongakkan kepala dan menemukan Tristan dengan setelan jasnya bersama seorang pria lain. “Tristan?” Keduanya tampak sama-sama bingung. Ditambah Tristan yang tidak menyangka kalau orang yang mengganggu pikirannya karena susah dihubungi, ternyata sudah ada di sekitarnya. Hampir saja dia memerintah Anwar untuk membeli tiket ke Italia demi mengetahui jawaban Karina atas penawarannya, tapi ternyata orangnya sudah ada di sini. Di restoran yang sama dengan dia yang baru saja menemui kliennya. “Kapan kamu sampai di Indonesia?” tanya Tristan kemudian. “Saya kira kamu masih di Italia. Dan kenapa kamu susah sekali dihubungi beberapa hari ini?” tambahnya. Karina tersenyum kikuk pada Tristan. Dia seperti tersangka pencurian karena ditanyai sebanyak itu. “Saya baru sampai jam 3 sore tadi,” jawab Karina. Helaan napas Tristan terdengar oleh Karina. Entah maksudnya karena lelah atau tidak habis pikir padanya. “Kenapa tidak memberi tahu saya dulu?” tanya Tristan lagi. “Karena saya pikir akan memberitahu setelah saya siap,” jawab Karina. “Dengan tiba-tiba sudah ada di Indonesia, begitu?” “Jadi kamu ingin saya memberitahu saat masih di Italia? Kalau begitu saya bisa kembali lagi ke sana.” Tristan dan Karina saling menatap tajam. Kalau saja pelayan tidak datang, menginterupsi sambil membawakan pesanan Karina, mereka pasti sudah melanjutkan saling melempar kalimat pedas. “Apa? Kamu mau kita lanjut membicarakan yang tadi?” tanya Karina dengan ketus. Itu karena Tristan terus saja menatap ke arahnya. Tristan kembali menghela napas, dia lantas mengalihkan pandangannya dan memberikan gestur bahwa Karina bisa makan lebih dulu. Suara kunyahan kerupuk terdengar jelas di telinga Tristan sehingga dia kembali menoleh pada Karina. Tapi yang didapatinya kemudian adalah pemadangan yang membuatnya terperangah. Bagaimana tidak, Karina baru saja menghabiskan satu porsi nasi goreng ayam dalam waktu yang sangat singkat. Dia tidak habis pikir bagaimana prosesnya semua nasi itu telah tandas dari piringnya. Dia kira Karina adalah model yang terkenal ketat dalam mengatur pola makan, tapi jelas model di hadapannya ini tidaklah demikian. Tanpa sadar Tristan terus memperhatikan Karina yang tengah makan. Dia hampit tertawa melihat Karina yang tersedak karena terlalu cepat mengunyah, tapi untung saja bisa dia tahan. Dia kemudian mengulurkan air minum mineral pada Karina untuk meredakan batuknya. 20 menit kemudian Karina akhirnya selesai makan. Namun makanan terakhirnya sudah tidak bisa masuk lagi ke dalam perutnya. Rasanya sudah sangat penuh meski Karina masih ingin makan. “Jadi bagaimana?” tanya Karina untuk membuka percakapan. Tristan kembali ke mode serius. “Tergantung kamu. Kalau kepulanganmu ini karena menyetujui penawaranku, maka kita bisa segera lanjut ke langkah berikkutnya,” jawab Tristan. Karina mengangguk paham. “Saya setuju dengan penawaranmu,” ujar Karina. Kali ini Tristan tidak menahan senyum leganya. Sebenarnya dia sudah menebak kalau Karina akan setuju karena sudah ada di Indonesia. Tapi mendegar sendiri dari bibir Karina tentu akan lebih memuaskannya. “Terima kasih kalau begitu. Dan langkah selanjutnya kita akan mendiskusikan soal pernikahan kontraknya,” tutur Tristan. Terkait pernikahan kontrak, Tristan memang sudah pernah menyinggungnya ketika mereka di Milan. Karena kontrak ini pula Karina mantap untuk setuju akan penawaran Tristan. “Baiklah... bisa jelaskan bagaimana kontraknya?” tanya Karina. “Untuk isi kontraknya dari saya sendiri ingin memberi jangka waktu selama 2 tahun. Itu sudah diperhitungkan soal waktu yang saya butuhkan untuk memperkuat posisi menjadi CEO Youns Tech. Jika sebelum 2 tahun posisi saya sudah tidak goyah, maka saat itu juga kontrak bisa diakhiri,” jawab Tristan, menjelaskan hal utama dalam kontrak pernikahannya dengan Karina nanti. Karina kembali mengangguk paham. Dia menyetujui juga apa yang Tristan jelaskan. Namun dia juga harus memberikan usul dalam kontrak pernikahan mereka. “Saya juga ingin nantinya kita tidak mengurusi urusan masing-masing. Tidak tidur seranjang dan hanya akan kelihatan seperti sepasang suami-istri jika di hadapan keluarga. Kamu paham ‘kan maksud saya?” “Saya paham. Jadi itu saja?” “Iya.” “Baiklah kalau begitu. Kita akab bertemu lagi besok untuk menunjukan kontraknya setelah dibuat contohnya lebih dulu.” Setelah membahas kontrak itu, Tristan pamit bersama pria yang kemudian Karina ketahui bernama Anwar. Dia sendiri kembali ke kamar hotelnya dan memilih untuk menghabiskan waktu untuk berpikir kembali. Sementara itu Tristan bisa tersenyum lebih lebar kini. Hatinya juga sudah tidak merasa resah lagi karena sudah mendapatkan jawaban pasti dari Karina. Setelah nanti kontrak sudah di tanda-tangani, dia akan membawa Karina kepada keluarga Briyan Sutoyo. Mereka memang masih belum tahu kalau dia sudah menentukan pilihan soal istri pada Karina Rosalind Sutoyo. “Anwar, bantuin gue bikinin surat kontraknya,” pinta Tristan pada Asistennya yang duduk di balik kemudi. “Siap, Bang! Ikut seneng gue akhirnya rencana berjalan lancar,” sahut Anwar yang kemudian menoleh pada Tristan yang duduk di sebelahnya. Mereka sama-sama merasa lega atas keberhasilan ini sebelum waktu yang ditentukan, yaitu selama 2 bulan habis. . . ///
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD