Mengejar Purnama

208 Words
Hai Tuan, lama tidak menulis tentang mu lagi. Tuan, akhir-akhir ini aku sibuk menata alur hidup ku. Mengurutkan mana yang harus ku gapai 5 tahun ke depan. Tidak perlu takut tuan, kau ada di baris pertama untuk itu. Tuan... Aku terus mengejarmu, bagai mengejar purnama. Aku terus bertanya-tanya, sampai isi kepala tak pernah sunyi. Apakah tuan sudah jatuh cinta pada ku? Apakah di pagi yang cerah itu ada aku dalam ingatanmu? Atau apakah ada aku dalam doa malam mu? Tuan, meski ada banyak tanya, aku memilih untuk tetap kebingungan. Tuan... Kau tidak pernah memetik bunga untuk ku, tapi aku tetap jatuh pada indah mata mu. Kau tidak pernah berlari pada ku, tapi detak jantung hanya tentang mu. Kau juga tidak bertaruh dunia demi ku, tapi tetap saja lekuk tubuh mu dalam anganku. Ya tuan, menarilah aku dalam bayangan kesendirian, sambil menanti mu dengan lagu-lagu jatuh cinta. Tuan... Tersenyum aku, sepanjang rasa tak terbalas ini. Esok, bila ada ada hari dimana kau mencintai ku, maka akan ku taruhkan dunia untuk senyum mu. Namun, bila ada hari dimana kau dengan seseorang yang lain, maka aku siap berbesar hati. Karena bagi ku, mencintaimu saja sudah cukup. Aku jatuh cinta tuan, masih jatuh cinta. Tidak tau sampai kapan, mungkin sampai kehidupan kedua.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD