Tulisan ketiga ku untuk tuan...
Ku beri judul mahakarya Tuhan sebab memang indah paras mu begitu bagus terpahat.
Tuan, pasir pantai itu tatap matamu.
Halus melekat di celah hati.
Tuan, biru langit itu garis senyummu.
Elok yang menenangkan hati.
Tak henti-henti aku memuji mu sebab begitu indah ada mu.
Senja di bibir pantai pun kalah elok dengan pesona mu.
Kau bak ombak yang menerjang di laut.
Memecah batu karang hatiku...
Menghempasnya tiada henti...
Hingga akhirnya aku takluk pada setiap jengkal dirimu.
Mahakarya Tuhan paling indah.
Kau hidup, berjalan, mendebarkan jantung setiap hawa.
Mahakarya Tuhan paling indah.
Kau ada, bernafas, membiaskan debur rindu dengan harmoni.
Insan mana yang tak jatuh hati?
Tuan...
Jejak kaki mu menata hamparan pasir.
Sentuhan jemari mu melukiskan punggung bukit.
Tatap mata mu menghangatkan tepi laut.
Senyum bibir mu membuyarkan lamunan ombak.
Kau mahakarya Tuhan paling indah.
Setiap ukiran wajah mu begitu rapi.
Setiap pahatan tubuh mu begitu elok.
Langkah kaki mu, tutur kata mu bahkan cara pandang mu sungguh melemahkan irama jantung.
Tuan...
Ku tuliskan sajak-sajak cinta yang begitu bebas sebab sudah ku bilang aku tak lagi hati-hati untuk jatuh cinta padamu.
Nanti, jika semesta menghadiahkan keberanian padaku maka akan ku bacakan setiap rangkaian kata di hadapan mu.
Tuan...
Tetaplah jadi dirimu sendiri yang begitu indah.
Aku mencintaimu dari sini, dari bibir pantai yang tak pernah kaki mu tapaki.