Bak akan pergi untuk menemui kekasih, Dewa berkali-kali melihat penampilannya di depan kaca cermin. Dia tertawa kecil, menyadari dirinya yang akan bertemu anak kecil perempuan lima tahun. Semalam dia sampai kesulitan tidur memikirkan bertemu Quinza. Masih terbayang di benaknya wajah polos Quinza yang takut-takut melihatnya saat masih berada di dalam kelas tempo hari. “Wah wah wah. Gini dong. Pasti Quinza senang dan bangga lihat papanya ganteng begini,” puji Felisha dengan mata binarnya. Dewa sejak pagi sudah datang berkunjung ke kantornya sambil menunggu Sander yang sedang dalam perjalanan menuju kampus. “Entah berapa kali aku ganti baju tadi, Feli.” “Hahaha, jadi kayak mau ketemu pacar.” “Nggak juga, dulu aku nggak begini.” “Anggi?” Dewa mencebikkan bibirnya. “Ya, aku memang mencint

