Malam ini Reyna dan Dewa duduk santai di ruang tengah, mereka membicarakan banyak hal, terutama tentang keadaan perusahaan di mana Dewa sedang mengelola sebuah proyek besar bekerja sama dengan salah satu kementrian di pemerintahan. “Ah untung saja aku pekerjakan kembali Igun, jadi dia yang faham dan hafal dokumentasi lama perusahaan. Hampir saja hilang kesempatan memenangkan tender proyek pemerintahan. Yang ini lumayan, meskipun birokrasinya agak bertele-tele.” Mendengar nama Igun membuat Reyna tersenyum, mengingat betapa cemburunya Dewa saat melihatnya berpelukan dengan Igun. Lucunya, Dewa menyadari gelagat Reyna. “Hei, aku tahu kenapa kamu senyum-senyum, Igun, ‘kan?” tebaknya. Reyna mengangguk tersenyum. “Aku tuh trauma, Reyna. Dulu aku juga pernah tidak sengaja liat kamu berpelukan

