Kosong, Minzy melirik sebelah kanan tempat tidurnya sudah kosong. Ia pun mengecek jam di dinding yang ternyata sudah menunjukan pukul setengah 8 pagi. Minzy mendesah lemah, suaminya pasti sudah bangun. Kaki jenjangnya beringsut turun dari atas tempat tidur dengan tangan yang sibuk mengikat rambutnya asal. Ceklek. Seseorang masuk ke dalam kamar. Itu Marvi dengan segelas teh hijau hangat. "Pagi sayang, perut kamu gimana? Masih sakit?" Tanya Marvi seraya berjalan menghampiri Minzy yang berdiri di samping tempat tidur menunggu dirinya. "Kamu kok gak bangunin aku?" Minzy bertanya. Marvi memberikan segelah teh hangat yang dibawanya pada Minzy. "Minum dulu, biar perutnya anget." Minzy pun menerimanya, lalu meminumnya sedikit demi sedikit karena masih terlalu panas di lidahnya. Tangan Marv

