Dengan langkah pelan dan hati-hati, Marvi melangkah masuk ke dalam kamar. Ia tidak ingin membangunkan Minzy yang sudah tertidur, pasalnya sekarang sudah menunjukan pukul 12 malam. Lagi-lagi Marvi salah menargetkan, janji pulang di bawah pukul sepuluh tidak dapat dirinya tepati. Marvi duduk di tepi tempat tidur, menatap wajah tenang Minzy yang tidur dengan posisi meringkuk di bawah selimut. "Maaf ya, pulangnya telat banget." Ucap Marvi menyesal sembari mengusap rambut Minzy, lalu mengecup kening istrinya itu untuk beberapa saat. Marvi kembali menatap wajah Minzy, ada rasa bersalah di dalam hatinya. Untuk bisa bersama suaminya sendiri, Minzy sampai harus memohon waktu seperti tadi. Sebagai suami, Marvi tidak bisa memberikan seluruh waktunya, ada pekerjaan yang menyangkut banyak pekerja ya

